
Vanka mau bertemu dengan Ernes di mall. Karena dia juga kencan akan bertemu dengan Atta siang itu juga. Vanka berpikir jika sebaiknya dia menemui keduanya. Vanka belum tahu mengenai masalah Ernes dan Atta.
Dengan membawa Kiano dan Keysha, Vanka menemui Ernes di mall tempat biasa mereka kesana. Kiano dan Keysha segera berlari begitu melihat Ernes yang telah menunggu di food court.
"Paman..." seru kedua bocah kangen sekali dengan paman mereka. Keduanya berlari meninggalkan mamanya.
"Jangan lari-lari! Awas jatuh!" seru Ernes yang segera mendekat dan menangkap kedua anak adiknya tersebut.
"Paman, aku kangen sama paman.."
"Aku juga kangen sama paman.."
"Paman nggak sama papa? Aku kangen sama papa.." ucap Kiano dengan sedih. Bocah berusia hampir enam tahun itu sudah lebih dari tiga hari tidak bertemu dengan papanya. Tentunya dia merasa sangat merindukan papanya.
"Kata mama, papa kerja diluar kota. Kapan papa pulang?" imbuh Kiano yang membuat Ernes menatapnya dengan lekat.
Dia bisa merasakan jika Kiano sangat merindukan papanya. Sejak kecil, mereka tidak pernah terpisah sama sekali. Jika ada pekerjaan diluar kota, Gio akan mengajak anak dan istrinya.
"Kalian udah makan belum? Mau ayam goreng?" Ernes mengalihkan perhatian kedua bocah itu dengan makanan.
"Mau paman. Tapi, kenapa paman nggak jawab, kapan papa pulang?" Kiano sudah semakin besar, dia sudah agak tahu tentang permasalahan orang dewasa.
"Kamu mau ketemu papa kamu?" Kiano dan Keysha langsung menganggukan kepalanya.
"Kita makan dulu, habis itu kita temui papa kalian! Papa kalian sedang sakit.."
"Papa sakit apa, paman?" Kiano semakin khawatir mendengar papanya sakit.
"Makan dulu aja yuk!" Ernes mengajak mereka untuk makan terlebih dahulu. Tujuan dia datang untuk membujuk Vanka, bukan untuk membuat khawatir kedua bocah tersebut.
Ernes mengajak kedua keponakannya untuk memesan makanan terlebih dahulu. Setelah makanan tiba, kedua bocah tersebut fokus dengan makanan yang ada di depannya.
"Gio sakit apa kak?" tanya Vanka tiba-tiba. Sepertinya dia juga khawatir mendengar kondisi Gio.
"Gio dirawat di rumah sakit. Aku juga nggak tahu dia sakit apa. Tapi yang jelas dia seperti orang koma, hanya saja dia selalu manggil-manggil nama kamu. Dia bisa membuka mata, tapi tidak bisa diajak bicara." jelas Ernes.
"Van, aku tahu kalau kamu sedang marah sama Gio. Tapi, satu hal yang harus kamu tahu. Gio sangat mencintai kamu, dia bisa gila jika pisah dari kamu." imbuh Ernes mencoba membujuk Vanka untuk memikirkan ulang keputusannya.
Vanka menahan air matanya yang hampir menetes. Dia teringat pembicaraannya dengan Gio kemarin siang.
Siang itu, Gio bertemu dengan Vanka karena kangen dengan anak dan istrinya. Gio juga meminta Vanka untuk memikirkan lagi mengenai keputusannya untuk berpisah dari Gio. Tapi ternyata, hanya Vanka sendiri yang datang menemui Gio. Vanka tidak membawa anak-anaknya.
"Sampai kapanpun, aku nggak akan pernah mau pisah dari kamu. Aku cinta banget sama kamu.." ucap Gio sembari meraih tangan Vanka.
"Aku dijebak Van, aku nggak tahu apa-apa malam itu. Marisa kasih obat ke aku." jelas Gio.
"Tolong kasih aku kesempatan. Kita sudah lama bersama. Apa kamu rela lupain gitu aja kenangan kita?" imbuh Gio.
Vanka terdiam. Dia berusaha menahan air matanya. Hatinya masih sangat sakit waktu teringat malam itu. Dimana dengan mata kepalanya sendiri, Vanka melihat suaminya bersama wanita lain.
"Aku kira, setelah sekian lama bersama, kita akan hidup bersama selamanya. Tapi ternyata, lamanya bersama bukan jadi jaminan kita bisa bersama selamanya."
"Berjanji untuk tidak berpisah, juga tidak menjamin perasaan tidak bisa berubah. Selama ini Marisa kekeh ngejar kamu, dan akhirnya kamu luluh."
"Nggak Vanka. Perasaanku tetap sama, aku tidak pernah mencintai orang lain selain kamu, sayank." Gio menggenggam erat tangan Vanka.
"Please, jangan tinggalin aku! Aku nggak akan bisa hidup tanpa kamu!" Gio yang lebih dulu menangis.
"Setabah apapun memeluk, sekuat apapun menggenggam, dan sekuat apapun aku menjaga. Yang tidak ditakdirkan untukku, tidak akan pernah jadi milikku. Kamu, sudah dimiliki orang lain."
"Nggak.. Aku tetap milik kamu, dan milik aku. Takdir yang telah mempersatukan kita. Aku milik kamu, selamanya akan menjadi milik kamu.." sahut Gio dengan menangis.
Vanka juga menangis, tapi dia kemudian menarik tangannya dan berlari meninggalkan Gio.
...
Tiba-tiba air mata Vanka menetes. "Mama kenapa nangis?" tanya Kiano.
Vanka langsung tersadar dan kemudian menghapus air matanya. "Nggak kok, mama cuma kelilipan aja.. Udah makannya?" Vanka tidak mau membuat anaknya khawatir.
"Udah ma.."
"Mama, adik sama kak Kiano mau main sama paman.." Vanka menganggukan kepalanya pelan. Dia tahu jika kedua anaknya kangen dengan paman mereka.
Ernes segera mengajak kedua bocah cilik itu ke tempat permainan anak. Ketika anak-anaknya sedang asyik bermain dengan Ernes. Vanka membuka galeri diponselnya. Dia melihat beberapa video kebersamaannya dengan Gio dan anak-anaknya. Seketika air matanya menetes.
Namun, itu tak berlangsung lama. Ada seseorang yang memanggilnya dan membuyarkan lamunannya. Vanka pun seketika menghapus air matanya yang menetes dipipi.
"Vanka..."
Seorang wanita melambaikan tangannya dan segera mendekat ke mejanya. "Hai kak, aku kira kamu nggak jadi datang." ucap Vanka sembari memeluk wanita tersebut. Wanita itu adalah Atta, mereka juga janjian ketemu ditempat itu.
"Jadi dong. Kamu sendirian?" Atta mengerutkan keningnya, dia melihat beberapa sisa makanan dimeja, tapi hanya melihat Vanka seorang diri.
"Nggak, sama anak-anak."
"Kemana mereka?"
"Tuh main sama pamannya.." Vanka menunjuk kedua anaknya yang kembali mendekat bersama dengan pamannya.
Atta pun seketika menoleh. Dan saat itu, tanpa sengaja matanya bertemu mata dengan Ernes yang berjalan mendekat. Mereka bertatapan cukup lama. Rasa rindu menyelimuti dalam hati keduanya.
Tapi Atta langsung mengalihkan pandangannya. Dia tidak berani lagi menatap Ernes.
"Tante..." Kiano dan Keysha berlari mendekati Atta.
"Hallo Kiano, hallo Keysha..." Atta memeluk kedua bocah itu.
"Tante kangen banget sama kalian..." ucap Atta lagi.
"Tapi nggak kangen sama suami.." gumam Ernes ketika berjalan tepat disampingnya.
Atta membulatkan matanya, tapi dia tetap tidak membalas perkataan Ernes. Dia mengajak Kiano dan Keysha kembali duduk.
"Ya udah ya Van, kakak masih ada pekerjaan. Kakak mohon kamu pikirkan ulang keputusan kamu!" ucap Ernes sembari memakai kembali jas-nya.
"Paman balik ke kantor dulu ya, kapan-kapan kita main lagi!" Ernes menyentuh kepala Kiano dan Keysha yang sedang dipangku oleh Atta. Tanpa sengaja tangannya menyentuh dada Atta.
"Kakak nggak pakai dasi?" tanya Vanka yang melihat Ernes tidak memakai dasi seperti CEO-CEO yang lain.
"Udah nggak ada yang masangin dasi." jawab Ernes kemudian berjalan meninggalkan tempat tersebut.
Sementara Atta hanya terus terdiam. Vanka memicingkan matanya, dia merasa ada yang aneh dengan kakak iparnya dan juga istrinya. Mereka tidak saling sapa dan juga terlihat canggung dan dingin.
"Kak Atta lagi berantem dengan kak Ernes?" tanya Vanka to the point.
Atta menganggukan kepalanya. Kemudian dia memberi mainan kepada Kiano dan Keysha agar tidak fokus dengan percakapan mereka.
"Sebenarnya udah hampir dua minggu aku dan Ernes pisah."
"Ha? Kenapa kak?"
Atta menceritakan awal mula permasalahannya dengan Ernes. Sampai kepada Cintya yang mengakui perbuatannya yang telah membuat ibu Atta kaget dan sampai meninggal.
"Kak Cintya lakukan hal itu? Masa sih kak?"
"Aku tahu kamu pasti juga nggak percaya sama aku. Tapi aku berkata yang sebenarnya, Cintya sudah mengakuinya hanya saja aku tidak rekam perkataannya waktu itu." Atta tersenyum kecil.
"Bukan gitu kak maksud aku. Gini kak, kak Cintya sama kak Ernes tuh sudah lama temenan, Cintya sering diajak kak Ernes pulang, makanya dia deket dengan kita keluarga kak Ernes. Dan kak Cintya itu baik banget orangnya, jadi nggak nyangka aja jika kak Cintya bisa lakuin hal seperti itu." Vanka menjelaskan apa maksud perkataannya. Dia tidak mau membuat Atta jadi salah paham.
"Emang sih dulu, kak Cintya sempet suka sama kak Ernes. Tapi ditolak sama kak Ernes. Terus setelah lulus, kak Cintya menikah dengan orang lain. Lalu kita nggak pernah denger kabarnya lagi, terus beberapa waktu belakangan kak Cintya muncul lagi, dan katanya sudah pisah dengan suaminya." imbuh Vanka. Sebenarnya dia masih ragu dengan apa yang Atta katakan. Tapi, Atta juga bukan orang seperti itu.
"Udah nggak usah dibahas lagi. Dalam waktu dekat aku juga akan ajukan gugatan cerai kok. Mau kumpulin uangnya dulu." Atta tersenyum pahit mengingat sebuah perceraian. Tapi mungkin itu lebih baik.
"Oh ya Van, aku kesini karena mau jelasin sesuatu ke kamu mengenai Gio."
"Jangan bahas itu ya kak!"
"Van, aku tahu kamu pasti sakit sekali. Tapi kamu juga harus tahu kebenarannya. Gio di jebak Van, sama dua orang wanita di club malam itu." ucap Atta.