
"Aku juga cinta kamu." ucap Vanka sembari mempererat pelukannya.
Vanka tidak tahu apa yang dialami oleh suaminya. Tapi dia bisa merasakan jika tubuh suaminya gemetaran. Seperti dia sedang mengalami tekanan yang cukup berat. Entah apa yang terjadi yang jelas pasti sesuatu baru saja terjadi. Suaminya yang bertingkah aneh serta ruangannya berantakan.
Vanka kemudian meminta tim kebersihan untuk membersihkan ruangan Gio. Vanka sempat bertanya pula kepada karyawan yang bekerja di depan ruangan Gio. "Pak Gio tadi kenapa ya? Kenapa ruangannya berantakan?" tanya Vanka juga penasaran apa yang baru saja terjadi.
"Nggak tahu pasti sih bu, tapi tadi ada mbak Marisa bersama dengan temannya sebelum bapak teriak-teriak." jawab salah seorang karyawan Gio.
Di perusahaan Gio, nama Marisa cukup terkenal. Pasalnya, meskipun dia bukan karyawan Gio, tapi Marisa selalu membawa banyak orang untuk memakai jasa biro perjalanan milik Gio. Dia bahkan mlakukannya dengan tanpa syarat dan tidak meminta imbalan.
Namun, semua karyawan Gio juga tahu jika Marisa melakukan semua itu demi merebut hati bos mereka. Terlepas dari itu semua, Marisa tidak meminta gaji sepeserpun pada Gio.
"Marisa kesini?" Vanka kaget mendengar perkataan karyawannya.
Tak menyangka jika Marisa masih memiliki muka untuk datang ke perusahaan suaminya. "Nekad juga dia.." gumam Vanka.
"Ya udah, makasih ya informasinya." Vanka kembali ke ruangan Gio. Dia melihat Gio yang sedang ngelamun.
Vanka mendekat dan memeluknya dari belakang. "Kenapa? Kepikiran Marisa?" tanya Vanka tanpa basa basi.
"Tadi Marisa kesini kan?" tanyanya lagi.
"Itu nggak seperti yang kamu bayangkan.." Gio menarik Vanka ke dalam pelukannya.
"Emang apa yang aku bayangin?"
Gio menggelengkan kepalanya. Dia hanya menebak saja tadi, takutnya jika Vanka akan salah paham. Dia pasti sudah tahu mengenai kedatangan Marisa dari beberapa karyawannya.
"Gi, jujur sama aku! Apa kamu sudah mulai suka sama Marisa?" tanya Vanka yang tentunya membuat Gio terkejut.
"Itu nggak bener.. Aku hanya mencintai kamu dan selamanya hanya kamu." jawab Gio dengan cepat dan sangat yakin tentang perasaannya.
"Tapi aku pernah dengar kamu mengingau menyebut nama Marisa.." Vanka sebenarnya ingin menyembunyikan itu dari Gio. Tapi itu semakin membuatnya kepikiran dan tidak tenang.
"Aku? Mengingau manggil nama Marisa?" Gio tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Iya.." jawab Vanka dengan ekspresi datar. Dia tidak marah juga tidak senang.
Ekspresi Vanka tersebut justru membuat Gio menjadi bingung. Namun, pada akhirnya dia memilih untuk jujur kepada istrinya mengenai apa yang dia rasakan beberapa hari belakangan setelah kejadian malam itu.
Sebenarnya Gio sangat takut jika istrinya akan marah kembali. Tapi, dia merasa harus jujur masalah tersebut.
"Van, beberapa hari setelah kejadian malam itu, aku selalu berimpi bercinta dengan Marisa. Aku tidak tahu kenapa dengan diriku. Tapi yang jelas kejadian malam itu membuat aku trauma. Aku tidak pernah dekat atau bersentuhan dengan wanita lain selain kamu. Tapi waktu aku sama Marisa justru dekat banget." jelas Gio, dan Vanka hanya mendengarkan dengan seksama tanpa memotong penjelasan Gio.
"Mungkin kamu sudah mulai jatuh cinta sama Marisa." kata Vanka masih tanpa ekspresi.
"Nggak mungkin! Aku hanya cinta sama kamu.." ucap Gio dengan nada tinggi.
Gio langsung memeluk Vanka yang ada di depannya. Matanya berkaca-kaca, ada ketakutan yang dia rasakan. Takut akan ditinggal oleh wanita yang telah bersamanya cukup lama tersebut.
"Sejak aku memutuskan untuk mencintai kamu. Aku sudah siapin hatiku jika suatu saat kamu akan berpindah ke lain hati." lanjut Vanka yang membuat Gio meneteskan air matanya.
"Jika aku marah, kecewa, dan terluka itu sangat wajar karena kita sudah bersama sangat lama. Tapi, aku juga tidak boleh egois. Jika bersama orang lain kamu akan lebih bahagia, maka aku akan sangat rela." imbuh Vanka.
"Van.." pecahlah tangisan Gio. Dia semakin memeluk Vanka.
"Nggak sayank. Aku bahagia sama kamu, sangat bahagia. Tidak ada yang bisa membuat aku bahagia dan nyaman seperti kamu." ucap Gio dengan menangis.
"Maafin aku.. Maafin aku!" lirihnya.
"Kenapa minta maaf? Kamu nggak salah, karena kamu berhak bahagia." sejujurnya berat sekali untuk Vanka berkata seperti itu. Namun, jika dia itu yang terbaik untuk Gio, dia hanya bisa ikhlas dan rela.
"Aku bahagia sama kamu. Jika tidak sama kamu, aku tidak akan bisa hidup. Kamu kebahagiaan aku. Aku cinta sama kamu.."
Vanka tersenyum mendengar pernyataan cinta dari Gio. Dia tidak marah dengan kejujuran suaminya. Tapi, dia selalu berpikiran positif, mungkin saja apa yang Marisa lakukan itu telah melukai harga dirinya sehingga Gio tida bisa dengan mudah melupakannya. Bukan karena Gio telah jatuh cinta kepada Marisa. Vanka tetap berpikiran positif.
Kringgg!!
Kringgg!!
Ponsel Gio berbunyi. Setelah menghapus air matanya, Gio segera mengambil pomselnya. Dia memicingkan matanya melihat nomer baru yang masuk. Dia pun enggan menerima.
"Kenapa nggak diangkat?" tanya Vanka saat Gio hanya menatap ponselnya yang terus berbunyi.
"Nomer baru.." jawabnya masih belum mau menerima panggilan masuk tersebut.
Vanka segera merebut ponsel Gio. Dia ingin tahu siapa yang menghubungi suaminya. "Kayak kenal nih nomer.." Vanka ikut mengerutkan keningnya.
Vanka mengingat-ingat nomer telepon yang tidak asing baginya tersebut. "Ah, ini nomer kak Atta. Iya ini nomer kak Atta.." serunya dengan yakin.
"Tapi kenapa kak Atta telepon kamu? Biasanya dia akan hubungi aku.." gumam Vanka bingung.
"Eh, hape aku mati.. Oh makanya kak Atta hubungi kamu. Angkat aja siapa tahu penting!"
"Atau jangan-jangan ada apa-apa dengan mama?" mendengar perkataan Vanka terakhir membuat Gio jadi ikutan panik. Dengan segera Gio mengangkat telepon dari kakak iparnya tersebut.
"Iya kak?"
"Gio, kamu harus segera ke rumah sakit! Mama.. mama.. mama dibawa ke rumah sakit.." terdengar jelas sekali bahwa Atta sangatlah panik.
"Mama kenapa kak?" Gio tak kalah panik.
"Kamu cepat ke rumah sakit! Maaf... maaf.." Gio mendengar Atta mengucapkan maaf sembaei menangis. Sebenarnya apa yang telah terjadi.
Gio segera mematikan ponselnya kemudian dia segera bangkit dan bergegas ke rumah sakit untuk melihat langsung apa yang sebenarnya terjadi. "Kenapa? Ada apa dengan mama?" tanya Vanka yang ikutan panik dan penasaran.
"Mama dilarikan ke rumah sakit katanya. Nggak jelas apa yang terjadi. Kak Atta hanya nangis sembari meminta maaf. Yuk kita ke rumah sakit!" Vanka segera bangkit dan mengikuti langkah suaminya menuju rumah sakit. Dia juga penasaran apa yang terjadi dengan mama mertuanya.