Sudden Mariage

Sudden Mariage
26



"Apa sebaiknya pernikahan kita, kita tunda?" seketika Ernes menatap Atta dengan tajam.


"Maksud kamu apa? Kamu nggak mau nikah sama aku?" tanya Ernes dengan sengit.


"Kenapa? Karena aku jujur ke kamu tentang perasaanku ke Aiko? Kamu kan tahu pernikahan kita tidak ada hubungannya dengan itu semua." ucap Ernes dengan marah.


"Besok siang kita sudah bisa ambil surat nikah kita. Kenapa kamu bisa berubah pikiran seperti itu?" tanya Ernes lagi.


Entah kenapa Ernes merasa sangat kesal mendengar perkataan Atta tersebut. Dia menatap Atta tajam. Sedangkan Atta hanya diam dan tidak berani menatap Ernes.


"Aku mau kerja." ucap Atta.


Tapi Ernes tidak menjawab justru malah memalingkan wajahnya. Hatinya masih sangat kesal karena perkataan Atta yang tidak masuk akal, menurutnya.


Atta pun segera keluar dari ruangan Ernes. Di ruangannya, Lilis menunggu Atta dengan menatapnya tajam. "Darimana? Kenapa terlambat? jangan seenaknya sendiri kalau bekerja!" ucap Lilis dengan tegas.


"Aku dari-"


"Bu Atta, ini berkas yang anda minta tadi. Anda lupa tidak membawanya barusan." saat Atta sedang kebingungan menjawab pertanyaan ketua tim-nya. Tiba-tiba Ryan datang dengan membawa dokumen yang sejak beberapa lalu diserahkan oleh Lilis untuk ditanda tangani.


"Oh, iya, makasih pak Ryan.." jawab Atta dengan tersenyum lega.


Atta segera memberikan dokumen tersebut kepada Lilis. Akhirnya Lilis tidak jadi memarahi Atta karena terlambat masuk. Dia justru merasa senang karena pada akhirnya bos mereka setuju dengan proposal yang diajukan oleh Lilis.


"Terima kasih ya Atta." ucap Lilis.


"Pak Ernes pasti cinta banget sama kamu. Tahu nggak, aku sudah kasih proposal ini ke pak Ernes seminggu yang lalu." gerutu Lilis sekaligus merasa senang, akhirnya Ernes mau menandatangani proposalnya.


Cinta?


Mendengar kata cinta, Atta hanya tersenyum pahit. Dia sadar, bukan dirinya yang dicintai oleh Ernes. Dan pernikahan mereka juga bukan karena cinta.


"Kita kembali bekerja! Semangat!" seru Lilis menyemangati tim-nya.


"Semangat!" seru Sinta dan Bams bersamaan.


"Se..semangat!" ucap Atta dengan gugup karena Lilis terus menatapnya.


Tapi, ada satu hal yang menggangu pikiran Atta. Dia tahu jika Ernes sengaja melakukan itu agar dia tidak dimarahi oleh kepala tim-nya.


"Diam-diam perhatian juga.." gumam Atta seorang diri sembari tersenyum.


****


Rakha datang ke rumah mertuanya setelah Kimora mengiriminya pesan. Kimora sengaja meminta Rakha untuk datang karena dia ingin anaknya segera menyelesaikan masalah keluarganya. Bukan justru lari seperti ini.


"Ai..." ucap Rakha begitu masuk ke rumah mertuanya dan melihat Aiko.


"Papa..." Cio segera berlari menyongsong kedatangan papanya. Dia sangat merindukan papanya karena beberapa hari tidak bertemu dengan papanya.


Rakha segera menangkap anaknya dan memeluknya. Dia juga sangat merindukan anaknya. Air matanya tidak bisa ditahan. Dia menangis karena merasa bersalah kepada anak dan istrinya.


"Cio, papa kangen sama Cio.." gumam Rakha dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


"Cio juga kangen sama papa.." jawab Cio memeluk papanya dengan sangat erat.


Setelah cukup lama saling kangen-kangenan. Alfarezi memanggil Cio dan mengajaknya untuk ke kamar, istirahat. Sekaligus memberi ruang untuk Aiko dan Rakha ngobrol berdua.


"Kita ke kamar opa yuk! Opa punya game baru, Cio pasti suka.." ajak Alfarezi.


Rakha sangat paham maksud mertuanya. Setelah anak dan mertuanya pergi. Rakha segera mendekati istrinya yang hanya diam saja di ruang tamu.


"Yank, maafin aku!" ucap Rakha sembari berjongkok di depan Aiko.


"Maafin aku karena sudah mengkhianati kamu. Aku nyesel yank.." lanjutnya.


"Kha, aku udah memutuskan, sebaiknya kita akhiri rumah tangga kita. Aku nggak minta apa-apa, hanya hak asuk anak-anak saja." ucap Aiko yang sebenarnya berat mengatakan hal tersebut.


"Aku nggak mau, yank! Aku akan lakuin apa aja agar kamu bisa memaafkan aku, tapi aku tidak setuju dengan perpisahan." Rakha menolak ajakan Aiko yang ingin mengakhiri rumah tangga mereka.


"Aku cinta sama kamu. Kamu tahu itu.." imbuh Rakha masih memohon agar Aiko mau memaafkannya.


"Aku juga berpikiran seperti itu, dulu. Tapi, setelah kamu selingkuh, aku jadi ragu apakah cinta itu masih sama. Kalau iya, kenapa kamu berkhianat?"


Rakha menangis di depan Aiko sembari menggenggam tangan Aiko dengan erat. Rakha juga mencium perut Aiko yang besar. "Maafin aku, maafin papa sayank.." ucapnya dengan suara serak.


"Cinta itu masih tetap sama, bahkan bertambah. Tolong kasih aku kesempatan untuk menebus semua itu!" pinta Rakha.


"Mudah saja untuk memberi maaf. Tapi rasa sakit itu masih sangat terasa. Entah sampai kapan aku bisa melupakannya."


"Aku tahu aku sudah melukai kamu. Tapi, tolong beri aku kesempatan untuk menjadi obat dari luka kamu!" Rakha semakin menggenggam erat tangan Aiko. Air matanya juga semakin deras mengalir. Rasa bersalah telah membuatnya tersiksa. Dan sekarang dia ketakutan karena Aiko meminta pisah.


Aiko tidak bisa berkata, dia hanya terus menangis. Di dalam hatinya masih ada rasa cinta untuk suaminya. Namun, cinta tersebut telah ternoda oleh pengkhianatan Rakha.


"Please!!" Rakha terus memohon sambil berlutut di depan Aiko.


"Berdiri!" pinta Aiko yang tidak tega melihat keadaan suaminya.


"Tapi, maafin aku dulu!" ucap Rakha kembali.


"Iya.." Rakha pun melompat karena kegirangan.


Rakha langsung memeluk Aiko dengan sangat bahagia. Dia kembali meminta maaf dan mengucapkan terima kasih karena Aiko mau memaafkannya.


"Makasih sayank!" ucap Rakha dengan senang.


"Tapi aku harap ini pertama dan terakhir." sahut Defan yang sedari tadi menguping pembicaraan kakaknya dengan suaminya.


"Kalau kak Rakha sampai sakiti kak Aiko lagi, aku nggak akan segan-segan hajar kak Rakha dan melarang kalian untuk bersama lagi!" imbuh Defan.


"Dek, nggak sopan ah nguping pembicaraan orang!" Aiko menegur Defan yang telah menguping pembicaraan mereka.


"Maaf kak, tapi aku kesel banget sama suami kakak." jawab Defan dengan sengit. Dia terus menatap Rakha dengan tatapan tajam.


"Iya Def, aku janji.." jawab Rakha. Dia tahu betul seberapa sayangnya Defan kepada Aiko.


Setelah mendapat teguran dan wejangan dari Alfarezi dan Kimora juga Defan. Rakha meminta izin untuk membawa Aiko pulang ke rumah.


Aiko mau-mau saja karena dia juga masih mencintai Rakha. Dia memberi kesempatan Rakha sekali lagi untuk memperbaiki rumah tangga mereka.


"Aku janji tidak akan pernah melakukannya lagi!" ucap Rakha dengan perasaan menyesal dan bersalah.


"Aku pulang ya pa, ma, Def!"


Papa dan mama juga adiknya menganggukan kepalanya. Mereka tidak mau memaksa Aiko memilih. Tapi membiarkan Aiko menentukan keputusannya sendiri.


Di perjalanan, Aiko tidak lupa memberi kabar kepada Ernes. Melalui pesan singkat dia memberitahu Ernes jika dia dan Rakha akhirnya balikan. Aiko juga berterima kasih karena Ernes sudah menampungnya saat dia kabur dari rumah.