Sudden Mariage

Sudden Mariage
68



Beberapa hari Ernes terlihat begitu pendiam. Dia bahkan tidak secara frontal mendekati Atta, hanya memantaunya dari kejauhan. Atau hanya mendekati saat Atta dalam kesulitan.


Gio yang melihat kakaknya seperti itu menjadi kasihan. Sore itu, saat menjelang malam. Ernes pulang dengan wajah sedih. Entah apa yang terjadi dengannya.


Gio sengaja mengikuti Ernes sampai ke kamarnya. Sebelum kakaknya mengunci kamar, dia segera berlari dan main nyelonong masuk ke kamar Ernes.


"Lo ngapain sih Gi?" tanya Ernes dengan kaget.


"Nggak ngapa-ngapain, cuma pengen ngobrol aja sama lo.." jawab Gio yang segera melempar tubuhnya ke kasur milik Ernes.


"Kenapa, lo berantem lagi sama Vanka?" tanya Ernes sembari melepas dasinya kemudian ganti baju.


"Nggak. Cuma agak aneh lihat lo.." jawab Gio.


"Gue kenapa?" Ernes bertanya balik.


"Gue perhatiin beberapa hari ini lo kayak murung terus, kenapa emangnya? Kenapa lo nggak ajak kak Atta temui mama?" tanya Gio penasaran.


Ernes terdiam. Dia memang tidak bisa menyembunyikan apapun dari adiknya itu. Gio akan selalu merasa saat dia sedang sedih atau perasaannya tidak enak. Mungkin itu yang dinamakan ikatan batin.


Ernes menyalakan rokok, kemudian dia melempar rokok ke adiknya. Gio pun mengambil rokok tersebut kemudian menyalakannya juga.


"Shhhh.. huffff..." asap rokok membumbung diruangan tersebut. Untung saja mereka tidak lupa menyalakan pembersih udara terlebih dulu.


Gio sudah berpindah tempat ke sofa bersama kakaknya. "Sebenarnya gimana sih hubungan lo sama kak Atta?" tanya Gio.


"Tau lah Gi.." Ernes kembali menghisap rokok yang dia jepit dengan dua jarinya.


"Kok??" Gio menatap kakaknya.


"Dia masih bersikeras minta cerai, katanya rumah tangga harus didasari dengan cinta."


"Gue tanya lo harus jujur!" sahut Gio.


"Sebenarnya lo cinta nggak sama kak Atta?" tanya Gio.


Seketika Ernes terdiam. Dia masih belum tahu jawabannya. Masih belum bisa menjawab apakah dia mencintai Atta atau hanya karena dia tidak mau ditinggalkan saja.


"Kak, apa yang kak Atta katakan itu memang realistis. Dulu dia nikah sama lo karena ibunya. Sekarang ibunya udah nggak ada, dia merasa sudah tidak ada urusan lagi sama lo, makanya dia minta cerai."


"Jika kak Atta selalu bilang rumah tangga harus didasari cinta, itu artinya kak Atta nunggu lo ungkapin perasaan lo ke dia.." cerocos Gio menasehati kakaknya yang belum pengalaman mengenai cinta.


"Jadi, kalau lo emang nggak cinta ya lo lepasin kak Atta!" imbuh Gio.


Ernes nampak kaget dengan perkataan Gio. Dia menatap Gio dengan tajam. "Ngapain lihatin gue? Gue kan cuma kasih saran. Kalau lo emang cinta ya lo katakan! Kak Atta nunggu itu. Jangan sok gengsi deh." kata Gio lagi mengolok kakaknya.


"Anak kecil ceramahin orang tua.." gerutu Ernes.


"Tapi anak kecil ini udah jadi orang tua, tapi orang tua ini malah masih bingung dengan perasaannya, benar-benar labil.." ledek Gio.


"Kampret lo.." Ernes meninju pelan lengan Gio.


"Samperin kak Atta gih! Bilang kalau lo cinta sama dia." perintah Gio.


"Nanti aja.." Ernes melanjutkan menghisap rokoknya.


"Ini cuma kasih pesan aja kak. Kalau setelah lo ungkapin cinta lo ke kak Atta. Dan kak Atta masih cuekin lo, lo jangan marah. Itu biasa karena kak Atta ingin lihat keseriusan lo." ucap Gio.


Ernes pun tersenyum mendengar nasehat dari adiknya. "Paham bener lo.." ucapnya.


"Ya lah, Vanka dulu juga gitu. Meskipun dia cinta sama gue, tapi dia nggak segera terima gue karena dia ingin lihat keseriusan gue dulu. Wanita tuh jinak jinak merpati, jadi kalau lo beneran cinta sama dia, lo tunjukin dan perjuangan dia!"


"Iya gue tahu, lo kira kakak lo ini bodoh amat apa?" tanya Ernes masih dengan tersenyum geli mendengar nasehat adiknya.


"Lo emang pinter, tapi masalah cinta lo masih kalah jauh dari gue.." Gio menepuk dadanya dengan sombong.


Ernes semakin terbahak mendengar perkataan Gio. "Pakar cinta apanya, ditinggalin Vanka aja mewek lo.." giliran Ernes yang meledek adiknya.


"Nj*r malah ngeledek.." Gio yang kesal memukul lengan kakaknya.


"Buruan mandi! Lo bau.." Gio mendorong kakaknya.


"Kalau gitu lo keluar dari kamar gue gih! Gue mau mandi terus temuin calon anak gue." Ernes mengusir adiknya.


"Calon anak atau mamanya si anak?" tanya Gio menggoda.


"Ya dua-duanya.." Ernes terbahak kemudian mendorong adiknya agar keluar dari kamarnya.


"Eh ciee..."


"Buruan keluar, gue mau mandi..." ucap Ernes lagi.


Setelah adiknya keluar dari kamarnya. Ernes kembali menyalakan sebatang rokok. Sembari melihat story wa milik Atta. Tiba-tiba dia mendapat pesan masuk.


Melihat siapa yang mengiriminya pesan, Ernes langsung membuka pesan tersebut. "Kamu sibuk nggak? Aku jadwal periksa, kamu mau temenin aku nggak?" pesan dari Atta.


Ernes tersenyum kecil membaca pesan itu. Lalu segera membalas pesan tersebut. "Nggak, oke, aku mandi dulu, nanti aku jemput." balasnya.


Setelah itu Ernes segera mematikan rokoknya dan melompat dari sofa berlari ke kamar mandi. Dia segera mandi kemudian menjemput Atta ke rumahnya.


Setengah jam kemudian Ernes sampai di rumah Atta. Dia membenahi tatanan rambutnya lagi sebelum keluar dari mobil.


"Udah lama nunggu?" tanyanya.


"Nggak kok.."


"Hai nak, kangen nggak sama papa?" tanya Ernes sembari mengecup perut Atta.


"Udah makan?" Atta menganggukan kepalanya.


Ernes segera membukakan pintu mobil untuk Atta. Lalu mereka berangkat ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan rutin.


"Kenapa ajak aku periksa? Apa kamu udah berubah pikiran?" tanya Ernes sembari tersenyum.


"Kak dokter aku harus ajak papanya si kacang polong.. Kalau kamu keberatan, aku bisa berangkat sendiri kok.." jawab Atta.


"Aku nggak keberatan, aku justru seneng.. Tapi, kamu panggil anak kita apa tadi?" Ernes salah fokus pada panggilan Atta kepada anak mereka.


"Kacang polong?" Ernes mengkonfirmasi jika yang dia dengar tidak keliru.


"Iya.. Waktu usg kemarin kata dokter dia masih sebesar kacang polong.." jawab Atta sembari tersenyum.


"Ada-ada aja.." Ernes ikutan tersenyum.


"Ta, kenapa kita nggak balikan aja? Kita tinggal bareng!" ucap Ernes sembari meraih tangan Atta.


"Katanya ingin memberi kebahagiaan untuk kacang polong. Aku yakin yang dia ingin kedua orang tuanya bisa hidup bersama dan membesarkannya." imbuh Ernes.


"Kalau untuk besarin dia, nggak perlu balikan atau tinggal bareng. Kita hidup masing-masing juga bisa besarin dia.." Atta masih menolak ajakan Ernes untuk tinggal bareng.


"Nggak usah rayu aku lagi, Nes! Kamu tahu betul kenapa aku ingin bercerai, karena tidak ada alasan untukku mempertahankan rumah tangga ini." lanjut Atta.


"Kamu ingin hidup dengan orang kamu cintai dan mencintai kamu kan?" Atta langsung menganggukan kepalanya.


"Harusnya kamu peka, kenapa aku bersikeras buat tidak mau cerai, itu karena aku mencintai kamu, Lovata..." ucap Ernes.


Mendengar perkataan Ernes, seketika Atta membulatkan matanya. "Aku cinta kamu, istriku.." Ernes mengulangi lagi perkataannya agar Atta bisa mendengar dengan jelas pengakuan cintanya.