
Atta beneran keluar dari pekerjaannya. Dan dia bekerja di perusahaan Ernes sebagai staff di salah satu departemen di perusahaan Ernes. Namun kehadirannya juga tidak langsung diterima baik oleh rekan kerjanya. Apalagi telah menyebar berita jika Atta bisa bekerja di perusahaan itu karena telah merayu bos mereka.
Akan tetapi, Atta tidak mau memusingkan akan hal tersebut. Niat dia hanya ingin kerja mencari uang untuk ibunya. Meskipun Ernes telah berjanji akan membiayai semuanya. Tapi Atta tidak mau sepenuhnya bergantung kepada Ernes. Dia akan membuktikan dengan kinerjanya.
Tapi, tidak semua rekan kerjanya menolak kehadirannya. Ada beberapa juga yang wellcome dengan kehadirannya. Mereka justru malah mendekatinya terlebih dulu.
"Hallo, kamu pegawai baru? Kenalin aku Sinta.." ucap teman kerja Atta yang berusia muda, sepertinya sama dengan usianya.
"Kalau aku Lilis," sahut yang lebih tua.
"Kalau aku, Bambang, tapi orang-orang disini panggil aku pak Bams." ucap lelaki paruh baya yang merupakan rekan kerjanya.
"Aku Lovata, tapi lebih sering dipanggil Atta. Mohon bimbingannya semua.." sapa Atta dengan sopan.
"Kamu jangan dengerin ucapan mereka! Mereka sudah lama kerja disini dan cari perhatian pak Ernes, tapi tidak pernah digubris.." ucap Bams menenangkan Atta agar tidak tremor ketika mendengar gosip yang tidak mengenakan.
"Bener, mereka iri sama kamu karena bisa deket dengan pak Ernes, si gunung es berjalan." begitu para karyawan Ernes menjulukinya, karena kedinginannya selama ini.
"Gunung es berjalan?"
"Iya, itu julukan untuk bos kita yang sangat dingin bagai gunung es itu." sahut Sinta dengan manyun.
"Pak Ernes emang dingin kepada para karyawannya, tapi dia sangat lembut kepada keponakannya." timpal Lilis.
"Kiano sama Keysha? Mereka gemesin sih..." Atta juga senang dengan tingkah laku kedua bocah cilik itu.
Ketiga teman barunya pun saling berpandangan. Ah, mereka lupa jika Atta adalah pacarnya Ernes. Tentu saja Atta jauh lebih mengenal Ernes dibanding mereka.
"Aduh sampai lupa, kamu kan pacarnya pak Ernes. Tentunya kamu lebih kenal dia." Lilis terrsenyum canggung.
"Gimana sih caranya takhlukin pak Ernes? Secara dia tuh selain cuek, dinginnya minta ampun.." Atta hanya tersenyum saja mendengar pertanyaan-pertanyaan dari Sinta.
"Udah, udah, kerja jangan ngobrol terus!" ucap Bams mmperingati teman-temannya untuk bekerja.
Atta menatap teman-temannya yang masih saja bergosip sembari sesekali meliriknya. Tapi, Atta hanya tersenyum tanpa mau memperdulikan gosip miring tentangnya. Lagipula apa yang mau disanggah, dia memang sengaja mendrkati Ernes untuk ini semua bukan.
Awalnya dia meminta Erne untuk menyembunyikan hubungan mereka di kantor. Tapi dengan tegas Ernes menolak. "Akan ribet jika kita harus sembunyi-sembunyinpada akhirnya mereka juga akan tahu hubungan kita. Lebih baik kita jalani hidup kita tanpa mikirin omongan orang! Karena yang membantu kamu balas dendam itu aku bukan mereka. Jadi kamu hanya perlu dengerin perkataan aku!" ucap Ernes kemarin.
Dengan perkataan Ernes tersebut, akhirnya Atta pun setuju untuk menjalani hidup mereka seperti itu saja. Seperti apa kata Ernes.
"Pak, apa yang bisa aku kerjakan?" tanya Atta kepada Bams.
"Tanya bu Lilis aja, dia pemimpin di tim kita." jawab Bams.
Atta melirik Lilis yang sedang menerima telepon. Sepertinya dari atasan mereka. "Baik pak.." kata Lilis sebelum menutup teleponnya.
Setelah melihat Lilis yang menutup teleponnya. Atta pun mulai bertanya apa yang harus dia kerjakan. "Apa yang bisa aku kerjakan bu Lilis?" tanyanya.
"Em, kamu tolong pelajari ini aja dulu!" Lilis memberikan beberapa dokumen untuk Atta pelajari.
"Baik.."
Atta sangat senang bekerja di tempat barunya. Dia mengira akan sulit beradaptasi, tapi ternyata baru hari pertama kayaknya dia merasa betah bekerja disitu. Selain teman satu timnya baik, pekerjaan itu juga sesuai dengan jurusan kuliahnya.
"Ta, kita makan siang bareng yuk!" ajak Sinta mendekat ke meja kerja Atta.
"Di depan kantor kita ada rumah makan enak dan murah, kita kesana yuk!" imbuh Sinta.
"Maaf, aku udah bawa bekal dari rumah. Kapan-kapan aja ya?!" Atta menunjukan bekal yang dia bawa dari rumah.
Karena itu pertama kalinya Atta bekerja di tempat baru, dia masih belum tahu kemana dia harus beli makanan. Makanya Atta memutuskan untuk membawa bekal dari rumah. Lebih irit juga.
"Pacar pak bos bawa bekal sendiri dari rumah.." beberapa teman-teman Atta menertawakannya.
"Jangan-jangan sebenarnya dia bukan pacarnya pak bos, tapi pembantunya.." sahut yang lain juga menertawakan Atta.
"Emang kenapa kalau pacar bos bawa bekal makanan dari rumah? Itu kan lebih sehat.." Sinta yamg merasa kesal mendengar teman-temannya yang lain menertawakan Atta.
"Ya lucu aja. Sebenarnya aku juga nggak yakin kalau dia pacarnya pak bos, paling dia cuma kegeeran aja dengan kebaikan pak bos.." ucap Lisa, salah satu teman kerja Atta yang sedari tadi bersikap sengak kepada Atta.
"Yeee panas ya?? Kamu udah lama caper sama pak bos tapi nggak pernah digubris kan?" ledek Sinta yang membuat Lisa marah. Bukan karena hinaan Sinta, tapi karena dia merasa malu di depan teman-temannya.
"Jaga ya ucapan kamu!" seru Lisa dengan kesal.
"Siapa juga yang suka sama bos dingin dan norak kayak gitu.." selain kekayaan Ernes, Lisa tidak tertarik sama sekali dengan Ernes. Bagi Lisa, penampilan Ernes terlalu culun dan norak. Dia lebih suka dengan lelaki yang kelihatan badboy dalam penampilannya.
"Udah jangan berantem! nanti di denger bos jadi ribet.." teman Lisa menariknya agar tidak terjadi perselisihan antara Lisa dengan Sinta.
"Mana mungkin bos akan kesini." sahut Lisa.
Tapi...
Bersamaan dengan itu, Ernes muncul bersama dengan Ryan. Ernes sengaja mencari Atta untuk diajak makan siang bersama. "Ada apa?" tanya Ernes saat melihat ruangan itu ramai. Entah dia mendengar perkataan Lisa tadi atau tidak.
"Nggak apa-apa kok pak, kita mau ajak karyawan baru ini untuk makan siang bareng, tapi ternyata dia sudah bawa makanan sendiri dari rumah.." jawab Lisa bersikap sok manis di depan Ernes. Kelihatan sekali jika dia gemetar karena takut Ernes mendengar perkataannya.
Ernes memicingkan matanya sembari menatap Atta yang memegang sebuah kotak makan. "Oh, kalian makan aja sendiri, nggak usah pikirin Atta, biar aku aja yang mikirin dia!" ucap Ernes yang membuat Lisa dan teman-temannya membulatkan matanya. Tidak pernah menyangka jika bos mereka bisa seperti itu.
Bos yang selalu bersikap dan berwajah dingin, kali ini dia tersenyum dengan sangat manis. Dan senyuman itu sangatlah memukau.
"Ish, pak bos bisa kayak gitu juga ternyata.." bisik Sinta dengan tersenyum senang.
"Ya udah kalau gitu aku makan siang dulu ya..!" pamit Sinta.
"Iya, sampaiin maaf aku ke pak Bams dan bu Lilis ya, aku udah bawa bekal sendiri dari rumah!" Sinta hanya tersenyum sembari mengacungkan ibu jarinya.
"Permisi pak!" Ernes hanya menganggukan kepalanya saat para karyawan itu meninggalkan tempat tersebut.
"Kenapa bawa bekal?"
"Biar ngirit." jawab Atta dengan santai.
Ernes pun duduk bersama dengan Atta dan ikut menikmati bekal yang dibawa oleh Atta. Tentu saja itu membuat Atta melongo. "Jangan lihatin aku kaya gitu! Masa aku harus makan sendiri di kafe sementara calon istri aku makan disini. Nanti aku dibilang suami yang jahat dan nggak peka." ucap Ernes dengan cepat tanpa menunggu Atta untuk bertanya.
Atta pun tersenyum mendengar perkataan Ernes tersebut.