Sudden Mariage

Sudden Mariage
50



Jam kerja Atta telah usai. Dia keluar dari tempat hiburan malam tersebut tanpa merubah penampilannya terlebih dulu. Di parkiran, Rey masih setia menunggunya.


Rey melihat Atta keluar dari tempat tersebut, dia segera melambaikan tangannya. Atta yang melihatnya langsung tersenyum dan menghampirinya.


"Maaf lama.." ucap Atta berlari kecil mendekati Rey.


"Nggak apa.."


"Seharusnya nggak usah nungguin aku. Kamu kan besok juga harus kerja." Atta merasa tak enak hati karena Rey menunggunya kerja.


"Ini kan hari pertama kamu kerja, aku takutnya kalau kamu kenapa-napa."


"Tenang aja, pemilik tempat hiburan ini orang baik banget kok, dia akan lindungi semua karyawannya."


"Ya udah, besok aku nggak nungguin lagi. Tapi, kamu harus janji untuk jaga diri kamu." Atta menganggukan kepalanya.


Kemudian Atta membuka pintu mobil Rey. Namun, sebelum dia masuk, dia melihat seseorang yang dia kenal keluar dari mobil yang diparkir tidak jauh dari mobil Rey.


Atta memicingkan matanya. Dia melihat wanita itu seperti sedang terburu-buru. Atta kemudian memanggil wanita tersebut. "Vanka..."


Seketika wanita yang berlari itu menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke arah sumber suara. "Siapa?" gumam Vanka. Dia tidak mengenali Atta karena penampilan Atta yang tidak seperti biasa.


Atta kembali menutup pintu mobil Rey dan berlari mendekati Vanka. "Kamu mau kemana?" tanya Atta.


"Kamu... Siapa?" Vanka masih belum mengenali Atta.


Atta akhirnya sadar kalau dia masih menyamar. "Aku Atta.." ucapnya segera.


"Kak Atta?"


"Iya. Kamu mau kemana?" tanya Atta lagi.


Vanka teringat tujuannya datang ke tempat tersebut. "Anu kak, aku cari Gio.." Vanka segera berlari lagi.


Sebelumnya, Vanka menerima pesan dari seseorang yang tak di kenal. Orang itu mengatakan jika Gio mabuk berat dan tidak bisa pulang. Orang itu meminta Vanka menjemput Gio di tempat hiburan tersebut.


Tempat hiburan tersebut bukan hanya ada discotik, tapi juga ada kafe dan penginapan dilantai atas.


Atta yang khawatir Vanka akan dalam masalah segera berlari menyusul Vanka. Dia ingin memastikan jika Vanka baik-baik saja.


"Aku masuk bentar Rey, kamu tunggu disini atau pulang duluan juga nggak apa-apa." Atta berlari mengejar Vanka.


Sementara itu, di kamar lantai 3. Gio merasakan tubuhnya tidak nyaman. Dia merasa kepanasan padahal pendingin ruangannya nyala.


Tubuhnya menggeliat dan wajahnya memerah. Dia membuka kancing bajunya karena merasa kepanasan. Gio melihat sekitar, dia merasa aneh kenapa dia berada ditempat itu. Dia kembali mengingat apa yang terjadi sebelumnya.


Sebelumnya, Gio datang ke club malam tersebut bersama dengan Reza, teman sekolahnya dulu. Karena mereka sudah lama tidak bertemu, makanya mereka ingin bersenang-senang sejenak.


Gio dan Reza minum bersama. Sampai dua orang wanita mendekatinya. Mereka mengajak Gio dan Reza untuk kencan. Namun, Gio menolak meskipun Reza menerimanya.


"Ayolah Gi, kapan lagi kita bisa kayak gini? Mumpung kita diluar rumah.." ajak Reza.


"Nggak, gue masih ingin hidup lama dengan anak bini gue." jawab Gio. Dia sama sekali tidak tertarik dengan wanita lain selain istrinya.


"Dia nggak akan tahu."


"Sekali nggak tetap nggak. Gue nggak akan khianati istri gue.."


"Jangan sentuh aku, atau kamu akan kehilangan pekerjaan kamu disini!" Gio mendorong wanita yang berusaha merayunya.


Karena tidak mau ada keributan. Reza mengajak keduanya untuk meninggalkan Gio sendirian. "Udah tinggalin aja dia!"


Reza dan kedua wanita tadi meninggalkan Gio sendirian dimejanya. Dia datang karena permintaan Reza yang ingin bertemu. Sebenarnya bukan hanya Reza tapi Defan dan Dhanu juga. Tapi karena Defan dan Dhanu tidak bisa datang. Jadinya mereka hanya berdua saja.


Gio berniat untuk pulang saja setelah dia meminum segelas lagi. Tapi, saat dia berdiri, dia merasa sangat pusing. Gio pun segera ke toilet.


Aneh, kenapa dia bisa pusing. Padahal dia hanya minum tiga gelas minuman saja. Secara logika itu tidak akan membuat dia mabuk, karena dia termasuk orang yang kuat minum.


Gio segera bangun, dia masih merasa panas. Tiba-tiba dari kamar mandi, keluar seorang wanita yang hanya mengenakan pakaian dalam saja.


Tubuh indah wanita itu nampak di mata Gio. Dia semakin merasa tidak nyaman, karena tiba-tiba gairah ditubuhnya menjadi naik.


"Gio, aku cinta banget sama kamu.." ucap wanita tersebut sembari mendekat dan langsung memeluk Gio.


Wanita tersebut menyentuh wajah Gio yang memerah tapi tetap terlihat tampan. "Kamu yang bawa aku kesini?" tanya Gio menahan sekuat mungkin gairah ditubuhnya.


"Iya. Gi, ijinkan malam ini aku memiliki kamu. Jadikan aku selingkuhan kamu, aku rela Gio. Yang penting aku bisa memiliki kamu.."


"Kamu jangan gila, Marisa!! Sampai kapanpun itu tidak akan terjadi!" Gio mendorong wanita yang ternyata adalah Marisa. Wanita yang tergila-gila dengan Gio sejak lama.


Tapi , Marisa kembali mendekat dan dia bahkan membuka semua pakaian dalamnya. Tidak ada sehelai benangpun yang menempel ditubuhnya.


Lagi-lagi Gio harus berusaha keras menahan hawa napsunya. Marisa kembali mendekati Gio, dia mendorong Gio sampai Gio terjatuh ke atas kasur.


Marisa dengan segera duduk diatas tubuh Gio. Dia juga menyentuh sesuatu yang keras dibalik celana Gio. Marisa tahu Gio sedang bergairah karena dia telah menambahkan obat penguat diminuman Gio tadi.


Gio menggerakan tubuhnya. Dia berusaha menyingkirkan Marisa yang kini mulai mencumbuinya. Marisa menciumi Gio dengan penuh gairah. Lelaki itu yang dia cinta sejak lama. Dia juga meninggalkan bekas gig*tan di tubuh indah Gio.


Marisa terus membelai Gio sampai ke perut, kemudian dia membuka kancing celana Gio. Marisa mengecup sesuatu yang mengeras itu. Gio meronta tapi tubuhnya seperti ingin menerimanya. Mungkin itu efek dari obat yang Marisa berikan.


Saat Marisa memainkannya dengan lidah dan mulutnya. Gio sempat terlena, tapi dia kemudian teringat anak dan istrinya. Gio berusaha keras untuk bangun. Sampai akhirnya dia berhasil bangkit dan membuat posisi menjadi tertukar.


Marisa kini terlentang dibawahnya. Gio kembali bertarung dengan hawa napsunya ketika melihat tubuh Marisa tanpa sehelai benang pun. Apalagi melihat tubuh Marisa yang indah. Sepertinya Marisa menjaganya dengan baik.


Tiba-tiba Marisa mengangkat kakinya dan membuat Gio terperangkap dalam pelukannya. Karena celana Gio yang belum dibenarkan, sesuatu yang keras itu menyentuh milik Marisa.


Gio berusaha keras untuk lepas dan tidak boleh menekan tubuhnya. Karena jika dia menekan tubuhnya, sesuatu keras itu akan masuk. Dan itu akan membuat masalah yang lebih besar lagi.


"Gio, sekali aja. Biarkan aku menjadi milik kamu, dan kamu menjadi milikku!" Marisa menarik Gio supaya menekan tubuhnya. Tapi Gio terus melawan.


Dan tiba-tiba pintu kamar itu dibuka oleh seseorang. Pintu itu sengaja tidak dikunci oleh Marisa supaya ketika Vanka datang, dia akan melihat Gio dan Marisa sedang berhubungan.


Tapi ternyata rencananya tidak sesuai dengan kenyataannya. Gio masih terus melawan dan menolak bekerja sama meskipun obat perangsang itu semakin kuat menekan tubuhnya.


Vanka kaget melihat posisi Gio dan Marisa. Dimana Vanka melihat suaminya berada diatas tubuh telanj*ng Marisa dengan celana yang terbuka. Dia pun menjadi marah karenanya.


Bukankah dia pamit pergi untuk bertemu dengan Reza dan teman-temannya. Tapi kenapa dia malah hendak berhubungan dengan Marisa.


Apakah mungkin Gio telah luluh karena perjuangan Marisa setelah sekian lama. "Gio!!!!!" Vanka meraung dalam ruangan tersebut.


Seketika Gio menoleh karena kaget. Dia membulatkan matanya ketika melihat Vanka berdiri di depan pintu dengan wajah marah. Dan karena Gio lengah, Marisa pun menarik tubuh Gio lebih lagi. Sampai akhirnya sesuatu yang keras itu tanpa sengaja masuk ke dalam.


"Ah..." erang Marisa yang semakin membuat Vanka marah dan kecewa.


Sementara Gio yang kaget langsung menarik tubuhnya dengan kuat. Gio segera membenahi celananya yang terbuka. Tapi saat itu Vanka sudah keluar dan berlari.


"Vanka dengerin aku dulu!" serunya.


Gio segera mengejar istrinya. Tapi lagi-lagi Marisa menahannya. Marisa memeluk Gio dari belakang. "Kamu udah masukin punya kamu, kamu mau tinggalin aku gitu aja?" kata Marisa.


Gio yang murka pun langsung berbalik dan mendorong Marisa dengan kasar. "Jangan pernah temui aku lagi. Aku akan selamanya benci sama kamu!!!" ucap Gio sembari melotot. Dia marah karena apa yang dilakukan oleh Marisa. Dia juga marah karena dia lengah sampai tanpa sengaja di memasukannya ke Marisa.


Gio segera berlari mengejar istrinya yang saat ini pastinya sedang dan kecewa dengannya.


Atta yang menyusul Vanka, melihat Vanka keluar dari kamar itu dengan menangis. "Kamu kenapa Vanka?" tanyanya.


Tapi, Vanka tidak menghiraukan Atta. Dia terus berlari dengan menangis. Mungkin karena dia sedang emosi jadinya dia mengabaikan Atta begitu saja.


Selang beberapa saat, Gio yang keluar dari kamar tersebut. Atta jadi ingat obrolan kedua wanita di dekat toilet tadi. Dia kemudian tahu situasinya. Jika ada seseorang yang ingin menjebak Gio dan membuat Vanka datang untuk mempergoki secara langsung.


"Aku harus bantu mereka..." gumam Atta.