Sudden Mariage

Sudden Mariage
25



Drrrt! Drrrt!


Ponsel Atta bergetar. Pak Ernes nama yang muncul dilayar hapenya. Atta mengerutkan keningnya, karena Ernes bilang dia sedang mengantar Aiko. Tapi kenapa Ernes menghubunginya, apa mungkin ada masalah.


Atta pun dengan segera menerima panggilan tersebut. "Iya, kenapa?" tanyanya.


"Dimana?"


"Makan di depan rumah sakit.. Jadi nganter Aiko-nya?"


"Jadi. Sama siapa?"


"Emm.. temen.." Atta sengaja tidak menjawab dengan jelas. Dia tahu Ernes pasti akan rewel jika dia bilang sedang makan bersama lelaki lain.


"Cowok?"


"Eh,, i..ya." Atta tidak mau terus berbohong. Dia menjawab dengan jujur pertanyaan Ernes.


Ernes tidak lagi bertanya tapi langsung mematikan teleponnya. "Hallo..." seru Atta tapi ternyata telepon telah terputus.


"Siapa Ta?" tanya Rey.


"Ernes. Aku berangkat ke kantor dulu ya!" Atta buru-buru pergi ke kantor untuk menemui Ernes yang mungkin sedang marah saat ini.


"Kenapa buru-buru? Ada masalah?" tanya Rey lagi.


"Hem, sedikit. Aku duluan ya!" Atta segera berlari meninggalkan rumah makan tersebut.


Saat dia sedang berlari dengan tergesa-gesa, tiba-tiba mobil yang ada di sebelahnya membunyikan klakson dan membuatnya kaget. Atta melompat karena kaget.


"Ernes?" gumamnya saat Ernes membuka jendela mobilnya.


"Masuk!" pinta Ernes dengan nada agak marah. Entah apa yang membuatnya marah. Apa mungkin karena dia melihat Atta sedang makan bersama dengan Rey.


Atta tidak berani membantah perkataan Ernes. Dengan segera dia masuk ke dalam mobil Ernes. "Katanya nganterin Aiko ke rumah orang tuanya?" tanya Atta berusaha mencairkan suasana.


Namun, Ernes yang sedang marah tidak menjawab pertanyaan Atta. Sepanjang perjalanan ke kantor, Ernes hanya diam tanpa berkata sepatah kata pun.


"Tadi aku nggak sengaja ketemu Rey, dia mau check up.." Atta mencairkan suasana. Dia tahu Ernes pasti kesal karena melihat Atta bersama dengan lelaki lain.


"Untungnya aku datang. Kalau nggak mungkin kamu nggak akan berangkat ke kantor." ucap Ernes dengan marah.


"Berangkat dong.."


"Katanya nganter Aiko?"


"Udah." jawab Ernes dengan cepat dan ketus.


Atta pun kemudian menggunakan trik seperti biasa untuk merayu Ernes. Dia dengan segera mengecup pipi Ernes dengan agresif. "Maaf, aku beneran nggak sengaja bertemu dengan Rey.." ucapnya lagi.


Ternyata trik itu tidak berhasil. Ernes masih saja cemberut. Senyumannya terasa begitu sangat mahal. Atta pun akhirnya mengikuti Ernes, dia juga diam tanpa berkata sepatah katapun lagi.


Bahkan saat keduanya berjalan memasuki kantor. Mereka juga hanya diam saja. Atta malah justru memperlambat langkahnya supaya tertinggal oleh Ernes.


Dia bahkan mengendap-endap belok ke toilet. Tidak mau menjadi bahan pergunjingan di kantornya. Apalagi mood Ernes sedang tidak baik.


Sesampainya di toilet karyawan. Atta segera memperbaiki riasannya sembari mengomel. "Kenapa sih dia?" gumam Atta seorang diri.


"Kalau ada masalah dengan orang lain kenapa aku yang kena imbas?" gumamnya lagi dengan kesal.


Atta segera meninggalkan toilet dan menuju ke ruangannya. Tapi, begitu sampai diluar toilet. Berteriaklah dia karena kaget.


Ternyata Ernes menunggunya di depan toilet. "Kenapa sih bikin kaget?!" tanya Atta kesal.


"Kenapa pergi diam-diam? Kamu tidak mau jalan bareng aku?" tanya Ernes dengan kesal juga.


"Bukan gitu, tapi kamu sedang kesal kayaknya, makanya aku memilih untuk biarin kamu sendiri.." jawab Atta.


"Gimana nggak kesal. Semalam kamu agak aneh, nggak seperti biasa, terus pagi-pagi aku udah lihat istriku bersama lelaki lain.." seru Ernes semakin kesal karena Atta sangat tidak peka.


"Kalau ngomongin kesal aku juga sama, kesal. Tapi aku memilih untuk memaklumi kamu."


Atta seketika terdiam. Dia bingung bagaimana cara ngomongnya. Kemarin sore, secara tidak sengaja dia mendengar percakapan Ernes dengan Aiko.


Waktu itu Atta menerima panggilan dari Ernes. Tapi Ernes tidak bicara sama sekali, dan secara tidak sengaja Atta mendengar percakapan Ernes dan Aiko dan juga mendengar perasaan Ernes ke Aiko.


Atta ingin berpikiran positif setelah itu, tapi dia tetap tidak bisa. Apalagi saat melihat betapa perhatiaannya Ernes kepada Aiko.


Mungkin itu sebabnya Atta agak berbeda sikapnya tadi malam. Biasanya dia ceria, tapi semalam dia lebih pendiam.


"Aku kenapa?" tanya Ernes lebih keras.


"Lupakan! Aku mau kerja.." Atta meninggalkan Ernes di depan pintu toilet karyawan.


Tapi, karena saking kesalnya. Ernes pun menarik tangan Atta dan membawanya ke ruangannya. Dia berpesan kepada Ryan agar tidak membiarkan siapapun masuk ke ruangannya.


"Lepasin!" Atta menarik tangannya dengan kasar dari genggaman Ernes.


"Katakan! Aku kenapa?" tanya Ernes lagi.


"Kenapa kamu kesal sama aku? Apa yang telah aku lakukan?" desak Ernes yang penasaran apa yang membuat Atta berubah.


Atta terus menatap Ernes tanpa berkata. Dia masih mempertimbangkan antara akan bertanya atau tidak. Tapi Aiko saudaranya Ernes, mana mungkin mereka saling suka diluar rasa sayang kepada saudara.


"Nggak kenapa-napa." jawab Atta tapi jawaban itu tidak membuat Ernes puas.


Ernes membuka ikat pinggangnya. Dia memaksa Atta untuk melakukan suatu hal. "Kamu ngomong, atau aku hukum!" dengan paksa Ernes menggerakan tubuhnya.


Sedangkan Atta tidak bisa melawan kekuatan Ernes. Dia melakukan apa yang Ernes mau.


Selang beberapa lama, Ernes berteriak puas sembari menekan kepala Atta. Setelah melepaskan semua, Ernes kembali mengenakan celananya. Lalu Atta mengusap bibirnya menggunakan tissue.


"Cepat katakan aku kenapa! Atau kamu nggak akan bisa keluar dari ruangan aku!" Ernes masih saja penasaran.


"Buruan bilang!" Ernes membalik tubuh Atta. Secara kejam menampar bagian belakang Atta.


"Apa hubungan kamu dengan Aiko?" tanya Atta.


"Kamu tahu sendiri, dia sepupu aku.." jawab Ernes.


"Kemarin aku dengar percakapan kalian. Aku menyimpul jika kamu memiliki perasaan lebih kepada Aiko."


"Maksud kamu gimana?"


"Kamu cinta sama Aiko kan? Cinta sebagai pasangan bukan sebagai saudara?" tanya Atta dengan cepat.


"Kemarin kamu di apartemen?"


"Nggak. Kamu telepon aku, waktu aku angkat, aku dengar percakapan kalian secara tidak sengaja.." Ernes segera mengecek log panggilannya.


Dan ternyata benar, kemarin sore dia menelepon Atta. Tapi Ernes merasa tidak melakukannya. Apa mungkin tidak sengaja terpencet.


Ah, itu tidaklah penting sekarang. Yang terpenting bagaimana cara menjelaskannya kepadanya Atta. Karena Atta sudah terlanjur mengetahuinya.


"Kamu benar, aku memang mencintai Aiko sebagai pasangan bukan sebagai saudara.." Ernes memilih untuk jujur kepada Atta.


"Jadi kamu cemburu karena aku nganterin Aiko pagi ini?" tanya Ernes.


"Aku nggak cemburu, hanya berpikir saja, bagaimana bisa kamu mencintai sepupu kamu sendiri?" tanya Atta sangat penasaran.


"Ceritanya panjang.."


Ernes menceritakan awal mula dia bisa suka dengan Aiko yang notabene-nya adalah sepupu Ernes sendiri.


Atta pun sempat terkejut jika ternyata Ernes sudah sangat lama menyimpan perasaan tersebut. Bahkan saat ini Ernes mungkin masih menyimpan perasaan kepada Aiko.


"Itu sebabnya kamu menolak semua wanita yang suka sama kamu?" Ernes menganggukan kepalanya pelan.


Atta masih tidak mengerti dengan apa yang Ernes pikirkan. Ernes tahu jika dia salah. Tapi dia juga tidak bisa melepaskan perasaannya.