Sudden Mariage

Sudden Mariage
74



Suami Cintya menatap Atta yang sedang memohon kepadanya. Sementara Ernes masih berusaha untuk sadar meskipun dia sudah terluka parah. Ernes memohon agar Atta tidak meninggalkannya. "Aku akan tahan rasa sakit ini asalkan kamu nggak tinggalk aku!!" ucap Ernes.


Tetapi itu justru membuat Atta menjadi sedih dan menangis. Dia tidak tega melihat Ernes babak belur seperti itu. "Aku cinta sama kamu Atta." lirih Ernes.


"Aku akan tanda tangan tapi aku mohon jangan ambil Atta dari aku." akhirnya Ernes menyerah, dia terlalu takut ditinggal oleh Atta. Baginya, harta bisa dicari lagi, tapi istri dan cintanya tidak bisa.


Suami Cintya tersenyum penuh kemenangan, akhirnya Ernes menyerah juga. Akan tetapi ada satu hal yang membuatnya ragu, karena itu artinya dia harus melepaskan Atta. "Itu terserah Atta mau sama kamu lagi atau tidak.." ucap suami Cintya.


"Dia istriku, sudah tentu dia mau sama aku." jawab Ernes dengan yakin. Meskipun Atta tidak bilang tapi Ernes yakin jika Atta mencintainya.


"Sekarang kamu milih! Kamu mau kembali sama dia untuk terluka lagi, atau menjalani hidup baru dengan aku?" tanya suami Cintya.


Atta bingun untuk memilih. Jika dia kembali dengan Ernes itu artinya dia telah merugikan Ernes karena Ernes harus mengembalikan perusahaan milik mertua Cintya. Tapi, jika dia memilih suaminya Cintya, dia harus rela dibenci Cintya dan Ernes untuk selamanya.


"Aku tak masalah kehilangan sebagian hartaku, asalkan kita bisa bersama. Bisa bahagia bersama dengan anak kita. Bahkan aku rela kehilangan semuanya, demi kalian.." ucap Ernes. Dia tahu apa yang Atta pikirkan jadi dia segera meyakinkan Atta untuk kembali bersama dengannya.


Atta menatap Ernes yang hampir terkapar lemah. Tidak pernah menyangka jika Ernes akan berkata seperti itu. Apakah itu artinya Ernes memang mencintainya. Dan ingin memmbuktikan ketulusannya.


"Kalau aku memilih kamu, apakah kamu akan lepasin Ernes dan tidak merelakan perusahaan papa kamu?" tanya Atta yang membuat suaminya Cintya menjadi terkejut.


"Kamu akan milih aku atau harta perusahaan papa kamu?" lanjut Atta, tetapi dia hanya mendapat kebisuan dari suaminya Cintya.


"Kamu gila.." justru malah Cintya yang tidak terima dengan pertanyaan Atta kepada suaminya. Dia bahkan tidak pernah berani menanyakan hal semacam itu kepada suaminya. Bisa-bisanya Atta menanyakan hal seperti itu.


"Jadi cinta suamiku lebih besar dari kamu. Aku memilih menderita bersama lelaki yang memang mencintai aku dengan tulus." ucap Atta.


Suami Cintya membulatkan matanya. Dia memang suka dengan Atta tapi sepertinya dia lebih memilih perusahaan papanya dibnading dengan rasa sukanya.


Sementara Ernes tersenyum senang mendengar perkataan Atta. Dia merasa sangat lega karena akhirnya Atta memilihnya dan tidak meninggalkannya. "Kasih dokumen itu!" pintanya.


Akan tetapi, suami Cintya masih terpaku. Dia masih termenung sampai tak fokus. "Agra, kasih dokumen itu ke Ernes!!" seru Cintya menyadarkan suaminya dari lamunannya.


"Woii Agra..." seru Cintya lagi karena suaminya masih saja terdiam.


"Kamu yakin milih dia? Kamu nggak takut dia akan lukai kamu lagi?" tanya suami Cintya kepada Atta yang masih berdiri di depannya.


"Ya, aku yakin dia mencintai aku dan tidak akan pernah sakiti aku lagi." jawab Atta dengan dingin.


"Aku bisa jadikan kamu ratu.."


"Kalau gitu lepasin dia dan lupakan perusahaan papa kamu!" sahut Atta dengan cepat.


Agra, ata suaminya Cintya terdiam. Dia tidak bisa melepaskan keduanya. Maka satu-satunya jalan dia harus menghabisi Ernes sekarang juga. "Habisi dia!" ucapnya.


Baik Atta dan Cintya menjadi kaget karena perkataan Agra. Atta kembali memohon agar Agra tidak melakukan itu kepada Ernes. "Agra hentikan!" pinta Atta.


"Aw.." tiba-tiba Atta memegangi perutnya.


"Perut aku sakit banget.." jawab Atta dengan meringis sepertinya dia terlalu banyak pikiran dan berdampak kepada kandungannya.


"Panggil dokter!" seru Agra.


"Atta kamu kenapa?" tanya Ernes dengan lemah dia sudah tidak memiliki kekuatan lagi, darahnya juga terlalu banyak keluar.


"Cepat panggil dokter!" seru Agra sambil memapah Atta yang tidak bisa berdiri lagi.


"Dokter datang!" Refan masuk bersama dengan Alfarezi dan yang lainnya.


"Bawa Atta dan Ernes pergi, kita habisi mereka semua!" perintah Alfarezi kepada anak buahnya.


"Om tidak menyangka kalau kamu dalang dari semua ini.." ucap Sakha dengan marah kepada Cintya.


"Maafin aku om, aku terpaksa lakuin ini demi selamatin mama aku.." jawab Cintya.


"Berani usik keluarga ku, apa kalian bosan hidup?" tanya Alfarezi dengan marah.


"Kalian berada di wilayah paman aku, jadi jangan macam-macam!" ucap Agra yang sebenarnya juga kaget jika Alfarezi bisa menembus ke dalam wilayah pamannya.


Alfarezi mengisyaratkan anak buahnya untuk membawa orang ynag dia tahan untuk masuk. "Pamanmu yang ini?" Alfarezi mendorong pamannya Agra sampai terjatuh.


"Paman, kenapa paman kayak gini? Mana mister X yang paman bayar mahal itu? Kenapa dia tidak menolong kita?" tanya Agra.


Alfarezi tersenyum sinis mendengar perkataan Agra. Dia tahu betul siapa mister X yang dimsud oleh Agra. Ya, dia adalah Boy. Hantu di dunia hitam, julukannya. Alfarezi tahu identitas lain dari Boy. Tapi orang-orang tidak tahu siapa sebenarnya hantu dunia hitam tersebut. Karena dia tidak pernah menampakkan wajahnya. Dia selalu memakai penutup kepala. Tapi masalah kekuatan, tidak perlu diragukan lagi. Itu sebabnya dia selalu dibayar mahal untuk melindungi suatu golongan.


"Kamu tahu aku orangnya dendaman kan? Bisa-bisanya kamu celakai keponakan aku dan istrinya. Kamu tidak bisa lolos dari amarahku.." Alfarezi meminta anak buahnya untuk menghajar semua yang ada di tempat tersebut, kecuali Cintya karena mereka tidak memukul wanita.


"Bawa dia dan penjarain ditempat Boy!" perintah Alfarezi.


"Om maafin aku! Maafin aku!" ucap Cintya meminta bantuan kepada Sakha.


"Kamu harus menerima hukuman karena telah menyakiti Ernes dan Atta." Sakha tidak memiliki perasaan sama sekali. Dia tidak mempedulikan penyesalan Cintya.


"Fa, jangan habisi mereka disini, itu akan menimbulkan masalah. Bawa mereka semua ke wilayah kita, aku juga tidak sabar membuat perhitungan karena telah menyakiti anakku." ucap Sakha.


Apa yang Sakha katakan memang benar. Alfarezi kemudian membawa mereka ke wilayahnya. Disana dia bisa bebas lakukan apapun yang dia mau.


Alfarezi tahu rasa sakit kakaknya. Sebelumnya, dia belum pernah melihat kakaknya marah seperti ini. Karena Sakha tipe orang yang dingin tapi juga bisa kendalikan amarahnya.


Wajar saja jika Sakha marah. Ayah mana yang rela melihat anaknya terluka seperti itu bahkan hampir tidak sadar. Sakha berharap anak dan menantunya juga bisa selamat dan bisa sehat seperti sedia kala.


"Kak, biar aku saja yang urus mereka. Tangan kakak terlalu besih untuk melakukan itu semua." ucap Alfarezi berusaha menenangkan kakaknya.