Sudden Mariage

Sudden Mariage
36



"Yan, akhir pekan kamu dan Ulfa mau kemana? Kita double date yuk!" ajak Ernes.


Ryan pun secara refleks tertawa tapi untung saja masih bisa ditahan. Baru kali ini dia menerima ajakan seperti itu dari bos-nya. Mungkin karena selama ini Ernes memang tidak pernah dekat dengan siapapun.


"Weekend, aku sama Ulfa mau camping pak." jawab Ryan.


"Camping?"


"Iya pak."


Ernes terdiam. Dia berpikir sejenak, yang menjadi pertimbangan Ernes adalah ibunya Atta. Apa mereka akan meninggalkan ibunya Atta di apartemen sendirian.


Tapi kan ada mbak perawat dan juga assisten rumah tangga di rumah. Ernes mulai bingung. Dengan menopang dagu Ernes berpikir keras. Apa Atta juga akan setuju.


"Nggak bisa ganti acara aja?" tanya Ernes ke Ryan.


"Ng..nggak bos, Ulfa yang minta, ntar kalau nggak diturutin ngambek." Ryan sebenarnya takut membantah Ernes tapi dia juga tidak mau membuat kecewa pacarnya.


"Ternyata cewek tuh sama aja ya.." gumam Ernes pelan.


"Yaudah, nanti aku tanya Atta dulu mau ikut atau nggak. Nanti aku kabarin." ucap Ernes lagi.


"Hari ini aku ada meeting?"


"Ada bos, jam 2 siang di restaurant Jepang seberang jalan." Ernes menganggukan kepalanya pelan.


Saat jam makan siang, Ernes dengan sengaja mencari Atta di ruangannya. Namun, dia tidak langsung masuk ke ruangan. Dia lebih memilih untuk menunggu diluar.


"Ta, kamu mau makan siang bareng pak Ernes?" tanya Sinta sembari mendekat ke meja Atta.


"He em.." Atta menganggukan kepalanya.


"Yah, padahal aku pengen ajak kamu. Kan siang ini aku mau ketemuan sama temen chat aku di dunia maya." nampak raut sedih dari wajah Sinta.


"Kok ngajak aku?"


"Aku nggak percaya diri soalnya.." jawab Sinta.


"Apa aku batalin aja ya. Tunggu sampai kamu ada waktu dan bisa temenin aku." gumam Sinta.


"Emang kenapa sih kalau sendiri?" tanya Atta lagi.


"Aku nggak percaya diri, Ta."


"Sin, kamu tuh cantik dan pinter. Jadi nggak perlu insecure!" Atta memeluk Sinta untuk memberinya semangat.


"Tetap aja aku nggak percaya diri. Nungguin kamu ada waktu aja ya?!" ucap Sinta lagi.


"Iya, terserah kamu aja. Kalau aku ada waktu, nanti aku kabari.."


"Kalau gitu aku duluan yak!" Atta menepuk pundak Sinta sebelum dia keluar dari ruangan tersebut.


Atta berjalan dengan penuh semangat. Senyuman dibibirnya tidak pernah hilang darinya. Tapi, Atta tidak sadar jika suaminya telah menunggu di depan ruangannya. Begitu dia melangkah keluar. Tiba-tiba Ernes muncul di depannya membuatnya berteriak kaget.


"Ba..." ucap Ernes mengagetkan Atta.


"Ah..." teriak Atta karena terkejut.


"Ernes!!!" Atta yang kesal langsung memukul lengan Ernes dengan cukup keras.


"Ngapain sih bikin kaget?" tanya Atta dengan kesal. Nafasnya juga masih ngos-ngosan karena terkejut.


Sementara Ernes malah terbahak seolah tak merasa salah sama sekali. Tapi Atta justru semakin kesal, dia kembali memukul Ernes.


Begitu juga Sinta yang kaget karena mendengar teriakan Atta. Dia segera berlari keluar untuk melihat apa yang terjadi. Tapi, Sinta jadi canggung sendiri saat melihat Ernes sedang memegang tangan Atta dan menatapnya.


"Ada apa Ta? Kenapa teri....ak te..ri..ak?" Sinta segera menghentikan pertanyaannya.


"Maaf.." Sinta pun segera berlari kembali ke ruangan.


Atta ingin mengejar Sinta tapi dia ditahan oleh Ernes. "Gara-gara kamu Sinta jadi salah paham kan?" omel Atta.


"Salah paham gimana? Itu artinya teman kamu itu pinter, dia tahu dengan jelas hubungan kita."


"Udah yuk! Aku udah laper!" Ernes menarik tangan Atta. Dia terus menggandeng Atta seperti pagi tadi. Tidak peduli dengan pandangan orang terhadapnya.


Seolah dia ingin mengatakan, 'mau apa orang dia istri aku sendiri'. Akan tetapi, Atta masih mempedulikan gunjingan orang, dia terus menundukan kepalanya saat Ernes tidak mau melepaskan tangannya.


"Lepasin!" ucap Atta.


"Diem. Kamu istri aku, apa salahnya aku gandeng kamu.." jawab Ernes dan tetap tidak mau melepaskan genggamannya.


Sambil makan siang, Ernes memberitahu rencana Ryan dan Ulfa yang akan camping di akhir pekan nanti. Ernes bertanya apakah Atta mau ikut camping juga.


"Camping? Asyik tuh, aku udah lama nggak camping." sahut Atta dengan antusias.


"Kamu mau ikut?" Atta dengan segera menganggukan kepalanya.


"Tapi ibu?"


"Kan ada mbak perawat yang jagain ibu. Ibu pasti juga ngizinin kita kok. Aku udah lama banget nggak camping.." jawab Atta dengan sangat antusias.


"Ternyata segampang ini, terus kenapa aku mikir keras tadi.." gumam Ernes seorang diri.


"Kenapa ngedumel gitu? Nggak mau ikut camping? Oh jelas nggak mau, kamu pasti takut masuk angin kan?" ejek Atta.


"Enak aja, nggaklah.. Cuma camping doang, siapa takut.." jawab Ernes dengan yakin.


"Aku nanti ada meeting jam 2. Kayaknya kita jengukin Aikonya besok aja ya?"


"Emang meeting selama itu?" Atta kembali kesal karena tidak jadi menjenguk Aiko.


"Ya nggak lama banget sih, tapi klien aku ini agak sulit orangnya. Dia detail banget masalah pekerjaan. Aku nggak yakin bisa kelar cepet. Paling lambat sih 3 jam-an. Karena mau survey ke lapangan sekalian." jelas Ernes.


"3 jam, berarti jam 5 udah kelar. Kita bisa ke rumah sakit malamnya kan?"


"Aku nggak berani janji. Nanti kalau lebih lama dan nggak jadi kamu ngambek lagi sama aku.." Ernes merayu Atta agar tidak kecewa apalagi marah.


"Kita kan masih punya banyak waktu jengukin Aiko. Kalau dia sudah pulang ya kita ke rumahnya. Jangan ngambek!" pinta Ernes.


"Terserah kamu.." Atta mulai kesel.


"Jangan ngambek dong! Nanti aku pulang dari survey lapangan, aku beliin hadiah deh.." bujuk Ernes.


"Hei, jangan ngambek dong!" Ernes meraih tangan Atta karena Atta sudah mulai kesal dan tidak mau ngomong sama dia.


"Atau aku batalin aja meeting aku?" tanya Ernes.


Seketika Atta menatap Ernes dengan wajah antara kesal dan kasihan. "Nggak perlu, maaf kalau aku kekanak-kanakan." ucap Atta pelan.


Atta tidak mau mengganggu pekerjaan suaminya.


Ernes meraih wajah Atta dengan lembut. "Aku yang nggak perhatiin jadwal aku. Maafin aku ya!" serius, Atta baru sekali ini melihat Ernes berkata dengan sangat lembut.


Benar-benar berbeda dengan Ernes yang banyak diceritain orang-orang. Yang katanya sombong, dingin dan tak kenal ampun.


Di depan Atta, Ernes justru lebih lembut apalagi setelah mereka menikah. Ernes bahkan tidak segan bertingkah kekanakan di depan Atta.


"Kalau gitu aku nanti boleh dong temenin Sinta jalan?" tanya Atta. Kesempatan Atta untuk menemani Sinta.


"Kemana?"


"Nggak tahu, katanya mau ketemu sama teman chat-nya di dunia maya."


"Cowok?"


"Kayaknya.."


"Nggak boleh." sahut Ernes dengan cepat.


"Kenapa sih kamu gitu. Ah, terserah.." Atta kembali kesal dengan suaminya.


Ernes menatap Atta yang memalingkan wajahnya. "Janji jaga mata dan hati kamu!" ucap Ernes pada akhirnya mengalah dan mengizinkan Atta menemani Sinta.


"Emang kenapa? Siapa tahu dia bawa temen, dan ganteng juga.."


"Kalau gitu nggak boleh!!" seru Ernes dengan kesal.


Atta tertawa melihat wajah kesal Ernes. "Bercanda doang.. Iya, aku tahu kok kalau aku sudah punya suami." ucap Atta.


"Janji?"


"Ya nggak tahu juga sih.."


"Iya, janji.." Atta langsung berubah karena Ernes menatapnya dengan tajam.


"Kita kayak suami istri beneran yak?" tanya Atta.


"Emang suami istri sungguhan. Kamu aja yang nggak mau anggap aku.."


"Aku aja nggak malu ngakuin kamu, bahkan di depan karyawanku juga.." gerutu Ernes.


Sementara Atta malah tersenyum mendengar perkataan Ernes.