
Tanti mendatangi rumah Ernes setelah mencari informasi dimana rumahnya Ernes. Maksud dia datang ke rumah Ernes tentunya untuk menjelekan Atta di depan keluarga Ernes. Sebab, dirinya masih belum percaya jika Atta akan menikah dengan Ernes.
Kebetulan Ines sendiri yang menerima tamu saat dia sedang main dengan cucu perempuannya di halaman depan. Ines sempat mengerutkan kening ketika melihat Tanti. Dia merasa tidak mengenal Tanti.
"Selamat pagi jeng.." sapa Tanti sok akrab dengan Ines.
"Iya, siapa ya?" tanya Ines masih bingung.
"Saya kerabatnya Lovata, menantu jeng." Ines semakin bingung, kenapa kerabat Atta bisa sampai menemuinya.
"Oh, kenapa kesini? Ada kabar apa dari ibunya Atta?" sesaat kemudian Ines justru merasa khawatir. Dia menyangka jika kedatangan Tanti tersebut ingin menyampaikan kabar tentang ibunya Atta yang sedang sakit parah saat ini.
"Bu..bukan. Bukan kabar tentang pelakor itu.." Ines tambah bingung dengan perkataan Tanti.
"Pelakor?" Ines benar-benar tidak mengerti apa tujuan wanita itu datang ke rumahnya.
"Boleh minta waktunya sebentar?" Ines pun menganggukan kepalanya.
Kemudian dia mengajak Tanti untuk masuk ke dalam rumahnya. Sementara Keysha, dia berikan kepada pengasuhnya.
"Silahkan!"
"Em, gini jeng. Saya istrinya ayah Lovata, ya bisa dibilang saya ibu tirinya lah."
"Iya terus?"
"Saya dengar Lovata akan menikahi anak jeng kan, pak Ernes?" Ines menganggukan kepalanya saja.
"Ya, saya cuma ngingetin aja jeng, Lovata itu anak diluar nikah. Ibunya Lovata menggoda suami saya sampai hamil dan melahirkan Lovata." Ines menatap Tanti dengan tajam.
"Gini maksud aku jeng. Apa jeng nggak malu punya menantu anak diluar nikah? Apa itu tidak mempengaruhi penilaian orang kepada pak Ernes terkhususnya?"
"Intinya aja!" Ines tidak ingin basa basi. Meskipun dia juga terkejut dengan apa yang dia dengar barusan. Tapi Ines lebih yakin jika wanita itu datang bukan hanya sekedar memberitahu informasi itu.
"Gini jeng, gimana kalau jeng batalin pernikahan pak Ernes, kemudian kita jodohin dengan anak saya. Anak saya juga nggak kalah cantik dari Lovata, dia juga baik, sopan dan masih polos. Saya yakin Lovata itu hanya mengincar harta kalian." Tanti langsung mengutarakan maksud dan tujuannya mendatangi rumah Ernes.
Ines pun hanya tersenyum. Dan dia masih berpikiran positif, bahwa apa yang dikatakan Tanti itu tidaklah benar. Ernes tidak akan sembarangan memilih calon istri. Dia tahu menikah itu hanya sekali, dan dia tidak akan sembarangan memilih.
"Udah gitu aja?" tanya Ines.
Tanti pun terbelalak melihat reaksi Ines yang biasa saja setelah dia mengungkapkan identitas Atta yang sebenarnya. "I...iya gitu aja.. Saya harap sih jeng tidak salah memilih menantu.." ucap Tanti lagi.
"Ini anak saya.." Tanti juga berusaha menunjukan foto Angel kepada Ines.
Ines pun membulatkan matanya. "Ini anak jeng?" tanyanya.
"Iya, cantik dan polos kan? Selain itu dia juga baik dan sopan.." Tanti merasa bangga dengan anak semata wayangnya.
Ines tersenyum sinis sembari mengangguk-anggukan kepalanya. "Iya, baik dan sopan.." gumamnya.
Ines teringat kejadian kemarin malam waktu dia dan Vanka sedang belanja ke supermarket. Setelah belanja mereka berdua nongkrong sembari minum kopi di starbucks. Tanpa sengaja Ines menabrak seseorang.
"Maaf.. maaf, saya tidak sengaja," ucap Ines meminta maaf.
"Punya mata nggak sih? Kalau nggak bisa jalan yang bener bawa tongkat, lagian ngapain sih orang tua kesini?" ucap seorang gadis dengan marah.
Vanka yang berada di belakang Ines pun menjadi marah karena mama mertuanya dihina oleh anak yang baru gede. "Bisa sopan nggak kalau ngomong sama orang tua?" tanya Vanka sembari melotot.
"Nggak bisa kenapa? Nggak suka?"
"Iya." jawab Vanka cepat masih dengan melotot.
"Terus mau lo apa? Lo bukan orang tua gue jangan sok ngatur gue!"
"Njel, jangan kayak gitu ah!" bisik salah satu teman wanita itu karena malu dilihatin banyak orang.
"Nama aja yang malaikat, tapi orangnya iblis.." ucap Vanka dengan sengit.
"Kenapa nggak terima?" tanya Vanka menatap Angel tajam.
"Iya gue nggak terima. Siapa lo berani atur-atur gue?" Angel mendorong Vanka dengan marah.
"Aku nggak akan atur kamu kalau kamu bisa sopan ke mama aku! Kamu boleh kurang ajar ke siapa aja, tapi kalau kamu kurang ajar ke mama aku, aku pastiin kamu akan nyesel!" emosi Vanka sudah sangat susah terkontrol. Bahkan Ines sendiri pun tidak bisa menenangkan amarah Vanka.
"Terus lo mau apa?" Angel tersenyum geli mendengar ancaman Vanka. Dia berpikir bahwa Vanka hanya berani menggertak saja.
"Aku mau ini.." Vanka langsung menyiram Angel dengan minuman yang ada di tangannya.
Angel berteriak-teriak karena kopi yang disiram ke Angel itu kopi panas. Dan keributan pun tidak bisa terhindari sampai akhirnya Vanka dan Angel di bawa ke kantor untuk mempertanggung jawabkan kerugian karena perkelahian mereka.
Akhirnya Vanka yang mengganti semua kerugian yang terjadi. Karena Angel dan teman-temannya mengaku menjadi korban dan bersikeras tidak mau membayar ganti rugi.
"Kalau nggak punya uang, setidaknya punya sopan!" ucap Vanka dengan sengit.
Vanka juga melempar beberapa uang kertas ke Angel untuk berobat. Kemudian dia pergi dengan menggandeng tangan mama mertuanya. **
Tanti tersenyum senang melihat Ines yang terpaku menatap foto Angel yang dia perlihatkan. Dia mengira jika Ines tertarik dengan anaknya.
"Jadi gimana kalau kita jodohkan anak-anak kita?" tanya Tanti lagi.
"Maaf, saya tidak mau mencampuri urusan anak-anak saya. Biarkan saja mereka memilih, kalau anak jeng dan anak saya berjodoh, pasti akan dipertemukan kok." Ines menolak secara halus ide perjodohan tersebut.
Selain dia tidak suka dengan Angel. Juga karena Ernes bukan orang yang mudah. Sudah berapa kali dia mengatur kencan buta untuk anaknya, tapi tetap saja tidak berhasil. Ines senang sekali karena akhirnya Ernes mau menikah.
Jadi Ines tidak mau memaksa anaknya lagi. Karena dia pikir Ernes tidak mau menikah karena suka dengan sesama jenis. Makanya Ines takut dan beberapa kali mengatur kencan buta untuknya.
Pengalaman masa muda Gio dulu menjadi tamparan yang keras untuknya. Dia pernah hampir kehilangan anaknya karena keegoisannya. Dan sekarang, Ines tidak mau itu terjadi lagi. Bagi Ines, kebahagiaan anak-anaknya yang utama.
****
Sinta mengajak Atta untuk makan bersama setelah pulang kerja. "Anggap aja ini untuk menyambut kamu.." ucap Sinta.
"Tapi aku nggak bisa, aku ada janji. Lain kali aja ya!"
"Oh, ya udah kalau gitu aku pulang duluan ya, sampai besuk Atta.." ucap Sinta.
"Sampai besuk Sinta."
Setelah membereskan meja kerjanya, Atta ke ruangan Ernes terlebih dahulu. Dia melihat Ryan yang sedang ngobrol dengan sekretaris Ernes. "Em, pak Ernes udah pulang?" tanyanya.
"Belum, masih di dalam. Nona langsung masuk aja!" ucap Ryan.
Atta pun masuk karena sudah mendapat ijin dari Ryan. Dia melihat Ernes yang masih serius dengan pekerjaannya. Atta tersenyum kecil, menurutnya Ernes terlihat lebih ganteng saat dia sedang serius.
"Pak, masih sibuk?" tanya Atta.
"Eh, nggak kok ini udah selesai." Ernes buru-buru menutup laptopnya. Dia baru ingat kalau dia punya janji dengan Atta untuk mencari apartemen baru buat Atta dan ibunya.
"Kalau masih sibuk kita pergi kapan-kapan aja!" ucap Atta.
Ernes mengisyaratkan supaya Atta mendekat. Dan begitu sudah dekat, Ernes langsung menarik Atta kedalam pangkuannya. "Aku nggak sibuk kok. Kamu yang lebih penting." ucap Ernes.
Ernes mencium pipi Atta dengan lembut. Atta sedikit menggerakan tubuhnya karena merasa geli. Dia tidak terbiasa dekat dengan lelaki seperti itu.
"Jangan banyak gerak kalau nggak mau kecapekan.." bisik Ernes. Seketika Atta pun terdiam tidak berani gerak sama sekali.
Dia hanya menahan rasa gelinya saat Ernes menciumi pipi dan telingannya.