Sudden Mariage

Sudden Mariage
38



Saat Ernes sampai di rumah. Dia langsung menuju kamar dan hendak memberi pelajaran Atta. Akan tetapi, dia tidak menemukan Atta ada di dalam kamar.


Ernes pun segera bertanya kepada pembantunya yang masih di dapur. "Nyonya belum pulang?" tanya Ernes.


"Sudah tuan, nyonya kayaknya tidur di kamar ibuk. Sepertinya ibuk sakit, tadi mengeluh sesak nafas." jawab pembantunya.


Ernes pun segera berlari ke kamar mertuanya. Dia melihat Atta berbaring disamping ibunya. Ernes hanya melihat dari depan pintu saja. Kemudian dia menutup kembali pintu kamar mertuanya.


Karena tidak mau mengganggu mertuanya. Ernes memutuskan untuk kembali ke kamar dan menunggu Atta kembali ke kamar saja.


Setelah mandi, Ernes masih menunggu Atta kembali ke kamar. Tapi ternyata sampai pagi, Atta tidak kembali ke kamar. Pada saat yang sama ternyata Ernes ketiduran saat menunggu Atta semalam.


Melihat jam yang ternyata juga sudah siang. Ernes segera bersiap ke kantor. Tapi dia terlebih dulu mencari Atta.


Dia pun segera berlari ke kamar mertuanya lagi. Dia melihat Atta yang menyuapi ibunya yang nampak lemas sekali.


"Kita ke rumah sakit aja.." ucapnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Kalau mau masuk tuh ketuk pintu dulu!" ucap Atta kesal.


Tokk!


Tokk!


Tokk!


Ernes dengan segera mengetuk pintu membuat Atta semakin kesal. "Telat." ucapnya dengan sengit.


"Siapa yang telat? Kamu telat? Sudah berapa bulan?" tanya Ernes yang semakin membuat Atta kesal lagi. Apalagi ibunya juga percaya dengan apa yang Ernes katakan.


"Kamu hamil nak?" tanya Susi dengan suara lemas.


"Nggak buk, jangan dengerin dia!"


"Kalian kan sudah menikah, sudah sewajarnya jika kamu hamil. Ibu juga ingin menimang cucu sebelum ibu pergi." ucap Susi.


"Yang terpenting sekarang ibu sehat dulu." sahut Atta merasa sedih mendengar perkataan konyol ibunya.


Pergi.


Pergi kemana. Apakah ibunya tidak betah tinggal bersama dengan Ernes. Kenapa ibunya selalu mengatakan jika dia akan pergi.


"Kita ke rumah sakit aja!" ucap Ernes lagi.


"Nggak usah, setelah minum obat pasti ibu sembuh kok." Susi menolak dibawa ke rumah sakit.


"Kalian nggak kerja?"


"Kerja buk, ini sudah siap-siap cari Atta buat pasangin dasi." jawab Ernes.


"Pasang aja sendiri, aku masih sibuk.." Atta yang masih kesal dengan Ernes, menolak memasangkan dasi untuk suaminya.


"Pasangin dulu Atta! Itu kewajiban kamu sebagai istri!" pinta Susi.


Terpaksa Atta bangkit dan memasangkan dasi untuk Ernes. "Kamu berangkat duluan, aku masih mau nyuapin ibuk!" ucap Atta.


"Ibuk sudah kenyang. Kamu berangkat kerja aja nanti telat."


"Tapi-"


"Udah berangkat aja, ibu sudah kenyang. Lagi pula kan ada mbak juga."


Atta pun akhirnya berangkat kerja bareng Ernes. Tapi dia tidak mau bicara sama sekali dengan Ernes. Saat Ernes meraih tangannya, dengan segera Atta menghindar.


Ernes pun menjadi kesal. Dia yang seharusnya marah karena story wa Atta semalam. Tapi kenapa malah Atta yang marah. "Bisa jelasin apa maksud story kamu semalam?" tanya Ernes.


"Captionnya kan udah sangat jelas." jawab Atta dengan dingin.


"Kamu lupa janji kamu."


"Katanya mau jaga mata dan hati." ucap Ernes yang merasa kecewa dengan Atta.


"Terus kenapa kamu marah?" tanya Ernes.


"Aku nggak marah." jawab Atta dengan cepat.


"Dari tadi kamu cuekin aku, kamu bersikap dingin ke aku, apa itu bukan marah?" kata Ernes dengan nada agak naik.


"Aku tanya ke kamu, apa kamu mulai tertarik dengan pria lain?" tanya Ernes.


Atta masih saja diam.


"Aku tahu kita nikah bukan karena cinta, tapi pernikahan kita sah. Aku berhak marah ketika tahu kamu mulai suka dengan pria lain." imbuh Ernes yang membuat Atta menatqpnya.


"Jadi, aku juga berhak marah saat suamiku peluk-pelukan dengan wanita lain.." tutur Atta yang membuat Ernes kaget, dan tanpa sengaja dia menginjak rem.


Rentetan mobil di belakangnya menjadi kaget karena ulah Ernes. Mereka menyalakan klakson dan mengumpat Ernes yang tiba-tiba menginjak rem secara mendadak.


Karena tahu jika dia bersalah. Ernes segera menepikan mobilnya. "Apa maksud kamu?" tanya Ernes yang masih belum tahu apa maksud dari perkataan Atta.


"Semalam kamu pergi dengan siapa di taman? Apa kamu ingat jika punya istri?" tanya Atta dengan sengit.


Ernes pun akhirnya tahu apa yang membuat Atta marah kepadanya. Namun, darimana Atta tahu jika dia pergi ke taman bersama dengan Cintya. Apa mungkin Ulfa yang memberitahu. Tapi tidak mungkin. Ulfa dan Ryan pergi sebelum mereka pulang dari restoran.


"Kenapa diam? Kamu minta aku buat jaga mata dan hati bahkan harus ingat jika aku sudah bersuami, tapi apa yang kamu lakukan? Mesra-mesraan dengan wanita lain seenaknya. Aku tahu kamu banyak uang, tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya seperti itu." ucap Atta mengungkapkan kekesalannya.


"Kamu bisa, aku juga bisa berkencan dengan lelaki lain." imbuh Atta.


Ernes menatap Atta kembali. Terlihat jika Atta sedang marah dari raut wajahnya yang sengit. Ernes lebih bisa mengendalikan emosinya. Dia meraih tangan Atta kembali.


"Darimana kamu tahu aku di taman?" tanyanya dengan lembut. Ernes tidak ingin menyelesaikan permasalahan dengan amarah.


"Jadi bener itu kamu?" Atta yang justru tidak bisa mengendalikan emosinya.


"Iya. Aku nggak mau bohong. Iya, aku ditaman tadi malam bersama wanita. Tapi, dia hanya kenalan lama aku. Kita hanya berteman." Ernes mengakuinya sekalian menjelaskan hubungannya dengan Cintya.


"Teman tapi pelukan.." Atta masih belum percaya dengan penjelasan Ernes.


"Sebenarnya kamu tahu dari siapa sih?" Ernes masih dengan begitu lembut.


"Kamu salah paham, itu teman aku sedang cerita sedih, aku cuma ingin menghiburnya saja." Ernes kembali menjelaskan.


"Tapi apa harus dengan peluk-pelukan? Sedangkan aku hanya foto saja kamu marah.."


"Di foto, kamu kayaknya bahagia banget."


"Divideo, kamu juga kelihatan bahagia berpelukan dengan wanita itu."


"Video? Coba lihat!" Atta menunjukan video tersebut ke Ernes.


Ernes pun terbelalak. Ternyata Atta memang benar mendapat video dirinya yang sedang memeluk Cintya tadi malam.


"Maaf mau ngelak?"


"Nggak. Itu memang aku. Aku minta maaf." Ernes tidak mau memperpanjang masalah. Dengan besar hati dia mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada istrinya.


"Sebenarnya aku nggak mempermasalahkan kamu foto sih, hanya caption kamu itu yang bikin kesel." tutur Ernes.


"Faktanya emang gitu."


"Gitu gimana? Jadi, pertemuan kita malam itu bukan yang terindah untuk kamu?" tanya Ernes masih bisa mengendalikan amarahnya.


"Buruan jalan! Kita udah terlambat!" Atta mengalihkan pembicaraan.


Ernes sempat melirik jam tangannya. Dia pun segera menjalankan mobilnya kembali. "Jangan cemburu lagi! Kapan-kapan aku kenalin sama teman aku itu." ucap Ernes dengan tersenyum kecil.


"Siapa juga yang cemburu." Atta tetap saja mengelak dan mengatakan jika dia tidak cemburu.


"Akui aja!" Ernes menarik pipi Atta dengan gemas.


"Sakit ah..." seru Atta dengan manja. Sepertinya Atta sudah tidak marah lagi karena Ernes sudah menjelaskan semuanya.