
Rey kemudian mengantar Atta pulang ke rumah kontrakannya. Sebelumnya dia telah mendengar cerita Atta yang membuat Atta menangis begitu menyedihkan dibalik punggungnya.
"Makasih ya Rey, kamu selalu ada untuk aku saat aku terpuruk." ucap Atta tersenyum kecil.
Setelah berbagi beban dengan Rey, Atta mulai merasa agak lega. "Makasih juga udah anterin aku pulang.." imbuhnya.
"Ya." Rey menganggukan kepalanya.
"Kalau gitu aku istirahat dulu, nanti aku harus kerja.." pamit Atta, kemudian berjalan ke rumahnya.
"Ta.." panggil Rey.
"Ya.." Atta berbalik badan karena Rey memanggilnya.
"Apa rencana kamu selanjutnya?" tanya Rey.
"Rencana aku?"
"Yang pasti aku harus terus jalani hidup dan bekerja agar cepat dapat uang untuk mengurus perceraian aku.." jawab Atta dengan tersenyum kecil.
Akan tetapi, meskipun dia tersenyum, raut wajah Atta tidak bisa bohong. Dia terlihat begitu sangat sedih. "Harus cerai?"
"Ya." jawab Atta dengan cepat.
"Rumah tangga itu harus didasari dengan kepercayaan. Lagipula aku nikah kan karena perjanjian, dia akan membiayai pengobatan ibu aku. Sekarang ibu udah nggak ada. Jadi nggak ada alasan untuk mempertahankan rumah tanggaku." tiba-tiba air mata Att menetes tanpa diduga.
"Kamu jatuh cinta sama dia?" tanya Rey lagi.
Atta segera menghapus air matanya. "Nggak. Aku hanya demi ibu aku aja." jawab Atta dengan cepat. Tapi sayangnya, raut wajah Atta sama sekali tidak bisa bohong. Dia terlihat sangat sedih sekali membahas tentang perceraian.
"Kalau mau nangis, nangis saja jangan ditahan! Tapi ingat, setelah itu kamu harus segera bangkit!" Atta menganggukan kepalanya pelan.
Rey maju dan menyentuh rambut Atta dengan lembut. Rey menyelipkan rambut Atta ke belakang telinganya. "Kamu memiliki hak yang sama dengan orang lain. Kamu berhak untuk bahagia!" ucap Rey dengan lembut.
Atta kembali menganggukan kepalanya. Atta sangat tersentuh dengan perkataan Rey. "Iya. makasih ya Rey untuk semuanya. Jika tidak ada kamu, mungkin aku akan terus terpuruk." Atta memeluk Rey.
"Jangan pernah merasa sendiri! Ada aku.." Atta mempererat pelukannya sembari menganggukan kepalanya.
Yang Atta butuhkan saat ini memang pelukan dan dukungan. Dia tidak memiliki dukungan lagi setelah ibunya meninggal. Ayahnya bahkan juga sudah tidak bertemu setelah kematian ibunya. Beruntung masih ada Rey dan Ulfa yang silih berganti memberi support untuk Atta.
Rey juga memeluk Atta dengan erat. Sejujurnya, selama ini Rey memiliki perasaan khusus untuk Atta. Dia menyukai Atta sejak lama. Hanya saja dia selalu keduluan oleh orang lain. Dulu, dia keduluan oleh pacar Atta. Dan sekarang, dia keduluan oleh Ernes.
Apakah kali ini adalah kesempatan untuknya. Tapi, Rey tidak ingin terburu-buru. Hanya melihat Atta bahagia, dia juga sudah merasa bahagia.
****
Gio dan papanya memarahi Ernes yang sembarangan menuduh Atta. Tapi, baik Gio maupun Sakha juga tidak bisa membela Atta karena bukti memang mengarah ke Atta.
"Aku nggak yakin kak Atta sengaja celakai mama." ucap Gio.
"Papa juga nggak yakin. Tapi obat itu memang ada di Atta." sahut Sakha.
Sementara Ernes hanya diam dengan wajah dinginnya. Antara menyesal telah memarahi Atta atau marah karena mamanya hampir celaka karena kecerobohan Atta.
"Kenapa tidak om?" Cintya mulai berani membuka suara setelah cukup lama terdiam.
"Atta selalu nyalahin Ernes karena kematian ibunya. Itu sebabnya mereka pisah beberapa waktu lalu. Kita kan nggak tahu isi hati seseorang. Siapa tahu Atta emang sengaja, kan dia yang seharian ini bersama tante Ines." imbuhnya.
"Kak Atta bukan orang seperti itu! Kalau nggak tahu apa-apa mending diem deh!" sahut Vanka dengan kesal.
"Kak Cintya mending pulang deh! Kakak nggak ada urusan disini!" imbuh Vanka yang kesal karena Cintya sengaja memprovokasi kakak ipar dan papa mertuanya untuk membenci Atta.
"Van.." Gio menenangkan istrinya agar tidak emosi.
Ernes sebenarnya tidak suka dengan perlakuan Vanka yang tidak sopan dengan Cintya. Tapi, apa yang Vanka katakan memang benar. Cintya hanya akan memperkeruh suasana.
"Van jangan tidak sopan sama yang lebih tua.." Ernes memperingati dengan lembut adik iparnya.
"Ya udah kalau gitu biar aku aja yang pergi dari sini.." ucap Vanka dengan kesal.
Meskipun Vanka hanya adik iparnya. Tapi Ernes sudah menganggap Vanka seperti adiknya sendiri. Jadi dia lebih memilih untuk mempertahankan Vanka diruangan tersebut dibanding membela Cintya.
Cintya segera pergi dengan kesal. Tapi, dia bisa tersenyum karena Ernes dan Atta kembali berkonflik.
"Aku juga pamit dulu, bos.." ucap Ryan.
Saat Ryan berjalan menuju mobilnya. Secara tidak sengaja dia melihat Cintya masuk ke dalam mobil seseorang dengan memakai kacamata dan penutup kepala seperti orang menyamar. Ryan segera membuntuti mobil tersebut dan mencatat nomer kendaraan mobil tersebut. Dan mencocokan dengan plat mobil yang pernah dia foto sebelumnya. Dan ternyata sama.
Pasalnya, bukan sekali ini aja Ryan melihat Cintya masuk ke dalam mobil tersebut. Sebelumnya Ryan juga melihat Cintya masuk ke mobil tersebut dan juga memakai penutup kepala.
Ryan terus membuntuti mobil tersebut sampai ke sebuah rumah yang agak jauh dipinggiran kota. Rumah tersebut cukup mewah tapi banyak sekali penjaga.
"Apa yang dia lakuin disini?" gumam Ryan.
"Rumah siapa ini?" gumamnya lagi.
Namun, agar tidak mencurigakan, Ryan hanya memfoto rumah itu dari kejauhan kemudian hanya melewati saja. Dia akan cari tahu setelah melaporkannya kepada Ernes.
....
Ernes menerima pesan singkat dari Ryan. Dia memicingkan matanya, lalu meminta Ryan untuk menyelidiki lebih lanjut.
Ernes kemudian menelepon Ryan. "Selidiki rumah siapa itu. Apa hubungannya dengan Cintya!" perintah Ernes.
"Laksanakan bos.."
"Selidiki juga siapa mantan suami Cintya!" ucap Ernes.
Selama ini Cintya tidak pernah menjawab saat Ernes bertanya siapa mantan suaminya. Cintya hanya bilang jika lelaki itu lelaki brengs*k.
"Coba kamu cari cara untuk bisa masuk ke rumah itu! Aku mau informasi secepatnya!" imbuh Ernes.
"Iya bos.." jawab Ryan.
Saat Ernes hendak memasukan ponselnya ke dalam saku celana. Tiba-tiba dia mendapat sebuah pesan dari Rey. Rey ingin bertemu dengan Ernes untuk berbicara mengenai Atta.
Setengah jam kemudian Ernes dan Rey bertemu di sebuah kafe yang tidak jauh dari rumah sakit. "Apa yang ingin kamu bahas mengenai Atta?" tanya Ernes tanpa basa basi.
"Aku hanya berharap jika kamu memang tidak menyukai Atta, tolong lepasin dia! Jangan buat dia sedih seperti ini!" ucap Rey juga tanpa basa basi.
"Kamu siapanya Atta?"
"Aku memang bukan siapa-siapanya Atta. Tapi, aku orang yang akan berdiri paling depan saat ada orang yang menyakiti dia, dan itu termasuk kamu, tuan Ernes Rajendra." ucap Rey dengan menatap Ernes tajam.
"Aku sudah duga jika kamu suka sama Atta."
"Iya, aku memang suka sama Atta. Sudah dari dulu aku suka sama dia. Jadi aku tidak akan biarkan orang seperti kamu menyakiti dia!"
"Orang seperti aku?" Ernes tersenyum sinis.
"Emang orang seperti apa aku?" tanya Ernes dengan sengit.
"Orang seperti apa kamu, kamu sendiri yang tahu. Aku cuma peringatin jangan deketin Atta lagi, biarkan dia bahagia!" ucap Rey.
"Aku suaminya, aku yang akan bahagiain dia." Ernes menatap Rey dengan tajam.
"Suami?" giliran Rey yang tersenyum sinis.
"Suami yang menuduh istrinya dengan kejam?"
Brakkk!
Ernes tidak bisa menahan amarahnya. Dia menggebrak meja di depannya. "Jangan ikut campur masalah rumah tanggaku. Jangan pikir ini adalah kesempatan kamu buat deketin Atta!" ucapnya Ernes.
"Kalau itu tentang Atta, aku akan selalu ikut campur.." Rey tidak takut sama sekali menghadapi kemarahan Ernes.
"Terima kasih sudah mau datang! Dan silahkan tunggu surat gugutan Atta datang! Kamu gagal jadi suami yang baik, dan aku mohon jangan temui Atta lagi! Jangan pernah bikin dia nangis lagi! Kalau nggak, aku tidak peduli siapa kamu, seberapa kuat kamu, aku pasti akan balas dendam untuk Atta." Rey bangkit dan langsung meninggalkan kafe tersebut.