Sudden Mariage

Sudden Mariage
75 {Bonus Chapter}



Refan dan teman-teman seprofesinya berusaha menyelamatkan Ernes dari masa kritis. Ernes kehilangan banyak darah dan dia terluka begitu parah akibat pengeroyokan itu.


Sementara Atta dan anaknya berhasil diselamatkan juga. Tetapi, Atta masih belum sadarkan diri.


"Mama istirahat aja, biar aku yang jagain kak Atta!" ucap Vanka yang tidak tega mlihat kondisi mama mertuanya.


"Nggak Van, mama mau disini aja." jawab Ines sembari mengelus tangan Vank dengan lembut.


"Kalau gitu mama makan dulu!" Ines menganggukan kepalanya.


Vanka segera menyiapkan makan untuk mama mertuanya. Dengan sabar Vanka menyuapi Ines. "Mama jangan smpai sakit!" ucap Vanka.


"Mama masih nggak nyangka jika Cintya bisa lakuin hal semacam ini." gumam Ines yang sangat kecewa dengan Cintya.


"Sama, aku juga nggak nyangka." Vanka juga masih kaget jika dlang dari semua ini adalah Cintya. Sosok wanita yang baik dulunya, tapi sekarang dia berubah drastis.


"Ernes belum sadar?" tanya Ines.


"Om Refan lagi berusaha ma, kita berdoa aja supaya kak Ernes segera melewati masa kritisnya." jawab Vanka dengan sedih.


Tak selang beberapa lama. Atta pun membuka matanya. Pertama kali terbangun yang dia cari adalah suaminya "Ma, Ernes gimana? Dimana dia?" tanyanya dengan panik. Sepertinya Atta mengalami traumatic karena kejadian yang mengerikan itu.


"Kamu sadar na? syukurlah, mama udah takut aja." Ines segera memeluk Atta dengan erat.


"Ernes gimana ma?" tanyanya lagi tapi sudah jauh lebih tenang setelah dipeluk oleh Ines.


"Om Refan masih berusaha kak, tapi jangan khawatir, kak Ernes orang yang kuat kok." Vanka membantu menenangkan kakak iparnya.


Tetapi Atta malah justru menangis, dia memaksa ingin melihat Ernes. "Aku ingin lihat Ernes ma, Van.." pintanya.


"Tapi Ta, kamu juga harus banyak istirahat.." ucap Ines.


"Biar aku yang bawa kak Atta, ma.." sahut Vanka membantu Atta berdiri dan berjalan.


"Pelan-pelan.." Ines juga khawatir, dia mengikuti kedua menantu ke ruangan ICCU.


Tetapi mereka tidak diizinkan masuk karena dokter masih melakukan tindakan terhadap pasien. Akhirnya mereka menunggu di depan ruangan tersebut untuk menunggu kabar Ernes.


Atta dan Ines terus menangis dan Vanka yang menyemangati mereka. Vanka juga sedih dan cemas, tapi dia tetap brusaha tenang dan tegar.


Cukup lama mereka menunggu di depan ruangan tersebut karena Atta menolak untuk kembali ke kamar. "Kamu harus kuat demi anak kita." lirih Atta dalam sela-sela tangisnya.


Sampai Gio dan papanya datang, Attamasih saja tidak mau kembali ke kamarnya. "Ta, kamu harus istirahat, karena kamu juga harus mikirin anak kamu!" pinta Sakha. Dia juga mengkhawatirkan anaknya yang masih kritis, tapi Sakha juga harus memikirkan kesehatan cucunya.


"Bener kak, nanti kalau kak Ernes sadar dia pasti akan nyariin kakak kok.. Sekarang kakak istirahat dulu ya!" sahut Gio.


Setelah cukup berpikir, Atta akhirnya nurut juga apa kata adik ipar dan papa mertuanya. Karena mereka semua memang benar. Dia terlalu mengkhawatirkan Ernes sehingga melupakan kesehatan anak yang masih ada dalam kandungannya.


Atta segera kembali ke ruangannya ditemani oleh Ines dan juga Vanka. Sementara yang laki menunggu Ernes di depan ruang ICCU.


Sampai keesokan harinya, Ernes masih belum sadarkan diri juga. Tapi kondisinya telah ada kemajuan, dia berhasil melewati masa kritisnya. Tentu saja itu membuat keluarganya terutama Atta menjadi sangat bahagia, meskipun belum sadar tapi setidaknya Ernes telah berusaha untuk melewati semuanya.


Atta didorong oleh Vanka memasuki ruangan dimana Ernes masih terbaring belum sadarkan diri. Beberapa alat medis masih terpasang ditubuh Ernes untuk membantunya tetap bertahan. Air mata Atta jatuh tanpa terkendali. Dia melihat lelaki yang dia cintai sedang berjuang untuk melewati semuanya.


Atta meraih tangan Ernes. Dia menggenggam tangan yang lemah itu dengan air mata berlinang. Harapannya agar suaminya segera sadar dan sehat kembali. Begitu banyak masalah demi masalah yang mereka lalui. Pertengkaran, kasih sayang, saling curiga dan cemburu.


"Nes, kapan kamu sadar? Aku udah kangen berantem sama kamu hanya karena masalah sepele. Kangen melihat kamu yang cemburu, kangen ngambek sama kamu." ucapnya pelan dengan air mata yang tak berhenti menetes.


Setiap kali dia teringat kebersamaannya dengan Ernes, air mata Atta jatuh tanpa kendali. Apalagi saat dia teringat pengakuan cinta Ernes beberapa hari yang lalu, air matanya semakin deras menangis.


"Katanya kamu cinta sama aku, katanya mau kita kembali bersama, katanya kamu akan jagain aku. Ayo bangun dong Nes, apa kamu nggak kangen aku? Nggak kangen kacang polong?" Atta mengelus perutnya dengan lembut.


"Bilang ke papa, nak, kalau kamu kangen papa kamu. 'Papa cepat bangun ya, kacang polong kangen, pengen dielus papa lagi' ."


Vanka yang berada dibelakang Atta juga tak kuasa menahan air matanya. Dia menangis tanpa suara, dan hanya bisa mengelus pundak Atta untuk memberinya dukungan.


Tiba-tiba tangan Ernes bergerak, dia juga membuka matanya. Melihat Atta yang ada disebelahnya dengan menggenggam tangannya, Ernes pun tersenyum senang. "Ta.." lirihnya.


Atta dan Vanka pun merasa senang saat melihat Ernes yang telah sadarkan diri. "Nes, kamu akhirnya sadar, kau khawatir banget.." ucap Atta dengan senang.


Sementara itu Vanka segera berlari mencari dokter dan mengabarkan jika kakak iparnya telah sadar.


Ernes tersenyum menatap Atta. "Kamu takut kehilangan aku? Itu artinya kamu cinta kan sama aku?" tanya Ernes.


"Baru aja sadar sudah mikirin cinta-cintaan.." gerutu Atta. Sebenarnya dia merasa malu karena Ernes bisa dengan mudah menebak perasaannya.


"Aku tadi juga denger ada yang bilang kangen.."


"Itu.. itu kacang polong yang bilang sama kamu.." Atta menyangkal, tetapi wajahnya berubah menjadi merah.


Ernes kembali tersenyum. "Ta, makasih ya karena kamu sudah berusaha untuk melindungi kacang polong. Sebagai imbalannya, biarkan aku menjaga kamu dan mencintai seumur hidupku, aku akan memberikan seluruh jiwa dan ragaku." ucap Ernes.


"Kita mulai rumah tangga kita dari awal, tapi kali ini bukan karena hubungan yang saling menguntungkan, tetapi hubungan yang didasari oleh rasa cinta." imbuh Ernes.


Pada saat yang sama, mama dan papanya Ernes, juga Vanka dan Gio masuk ke dalam ruangan itu. Mereka mendengar perkataan Ernes yang menyatakan perasaannya.


"Pa, ma, aku akan kembali bersama Atta, aku minta restunya!" ucap Ernes saat melihat ppa dan mamanya masuk.


"Papa dan mama akan restui apapun yang membuat kamu bahagia. Semoga hubungan kalian langgeng. Papa dan mama hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kamu." jawab Sakha.


"Van, aku juga minta restu kamu. Jika kamu nggak restui aku, aku tetap akan dengan Atta. Maaf kalau aku bukan kakak yang baik untuk kamu.." ucap Ernes.


"Aku akan restui kakak, aku nggak berhak ikut campur urusan pribadi kakak. Kamu kakak dan paman yang baik untuk aku dan anak-anak. Apapun yang memuat kakak bahagia, aku pasti akan selalu dukung. Lagipula aku suka kok sama kak Atta. Tenang saja, kita akan jadi ipar yang kompak kok.." jawab Vanka. Dia tahu da sangat dekat dengan kakak dari suaminya itu. Tapi, Vanka juga sadar jika dia tidak boleh ikut campur maslah pribadi kakak iparnya, apalagi menyangkut perasaan. Dia sudah sangat bersyukur sudah diperlakukan baik oleh kaka iparnya tersebut, bahkan dianggap adik sendiri.


"Iya kak, apapun yang buat lo bahagia, kita keluarga lo akan selalu dukung." sahut Gio.


"Ngomong-ngomong, lo minta restu ke kita, emang kak Atta udah pasti mau balikan sama lo?" imbuh Gio yang membuat tawa diruangan tersebut termasuk Refan.


"Gimana kak, mau nggak balik sama kak Ernes?" tanya Gio.


"Kayaknya enggak deh Gi,"


"Lovata..." seru Ernes dengan kesal. Dan itu kembali membuat tawa di ruangan tersebut.


"Pokoknya kamu nggak boleh nolak!" ucap Ernes dengan kesal.


"Idih kok maksa.."


"Biarin aja.."


"Yee maksa..."


Ernes yang kesal pun berusaha untuk bangkit, tapi dia tidak bisa karena lukanya masih belum sembuh. "Akh..." erangnya.


"Ernes kamu mau kemana? Kamu masih belum sembuh.." Atta menjadi panik.


"Iya aku mau balikan sama kamu, karena aku juga cinta sama kamu.." ucap Atta yang membuat Ernes tersenyum senang.


"Yeyyyy..." seru Vanka dan Gio dengan bahagia.


Semoga kebahagiaan selalu menaungi keluarga Atta dan Ernes.


{Akhirnya, ini benar-benar udah end ya. Terima kasih untuk support kalian. Tetap dukung author ya, karena dukungan kalian semangat untuk author berkarya. Eits, jangan lupa mampir ke karya baru author yak, udah rilis loh. Klik aja profil author, judulnya "Rebirth Dewi Perang: Balas Dendam". Terima kasih semuanya. Salam sehat dan sukses selalu. Love, Author.}