Sudden Mariage

Sudden Mariage
27



Ernes dan Atta mengambil surat nikah mereka sebelum berangkat ke kantor. Ata menatap buku kecil tersebut dengan pikiran kosong. Dia masih tidak menyangka jika kini dirinya telah menjadi seorang istri. Sayangnya, dia menikah dengan lelaki yang tidak dia duga sebelumnya.


Pertemuan Atta dan Ernes sangatlah singkat. Berawal dari insiden yang tak terduga malam itu. Pada akhirnya mereka harus mendadak menikah. Ernes ingin menebus kesalahan, sementara Atta ingin hidup yang lebih layak, serta dukungan untuk melindungi ibunya.


Atta menghela nafas berkali-kali sambil terus menatap buku nikahnya. Tiba-tiba air matanya menetes tanpa diinginkan.


"Kalau mau nyesel sekarang sudah tidak ada gunanya.." gumam Ernes yang memperhatikan Atta sedari tadi.


"Aku nggak nyesel. Hanya masih belum percaya aja jika aku sudah bersuami sekarang.." jawab Atta membantah tuduhan Ernes.


"Karena kamu sudah bersuami. Mulai sekarang kamu dilarang pergi dengan lelaki lain tanpa izin dari aku!" Ernes mempertegas statusnya sebagai suami.


Atta tidak ingin merusak moment tersebut dengan berdebat sama Ernes. Makanya, dia memilih untuk diam tanpa menjawab perkataan Ernes.


"Denger nggak sih?" seru Ernes kesal karena Atta diam saja, terkesan cuek dengannya.


"Iya.." barulah Atta menjawab pertanyaan Ernes setelah Ernes marah.


"Nanti malam mama adain pesta kecil-kecilan di rumah, kamu ajak ayah kamu sebagai wali kamu!" pinta Ernes.


Karena ibunya jelas tidak bisa pergi. Ernes ingin ayah Atta untuk datang ke acara tersebut sebagai wali Atta. Biar bagaimanapun, dia tetaplah ayah Atta. Dan berhak ikut bahagia untuk Atta juga.


"Ayah?" Ernes menganggukan kepalanya.


"Nanti pulang kerja kita ke rumah ayah kamu! Biar aku sendiri yang minta dia supaya mau datang ke acara kita. Dia kan juga mertua aku.." Atta menganggukan kepalanya.


Setidaknya biar ayahnya lihat jika kini dia telah memiliki suami yang berjanji akan membantunya agar tidak lagi dihina dan ditindas orang. Setidaknya posisi Atta menjadi lebih baik setelah menjadi Nyonya Ernes Rajendra.


"Sebaiknya kita nggak usah ke kantor. Ini kan hari pertama kita resmi jadi suami istri, harusnya kita melakukan hal lain.." ucap Ernes dengan tatapan nakal nan genit.


"Jangan ngaco! Ini masih pagi.." jawab Atta dengan wajah yang merah. Dia seorang wanita dewasa. Dia tahu apa yang dilakukan oleh pasangan suami istri yang baru saja menikah.


Tapi, dia dan Ernes bukanlah pertama kalinya lagi. Tetap saja Atta merasa malu setiap Ernes membahas hal tersebut.


"Aiko gimana sama suaminya?" tanya Atta mengalihkan topik pembicaraan.


"Aiko memberi kesempatan untuk suaminya."


"Kalau aku sih nggak akan kasih kesempatan buat suamiku jika dia selingkuh.. Karena penyakit itu sangat sulit untuk diobati.." Ernes menatap Atta setelah mendengar perkataan Atta tersebut.


"Dia memang berbeda dengan wanita lain.." gumam Ernes.


Deg!


Hati Atta merasa gimana saat mendengar perkataan Ernes. Apakah sebegitu berharganya Aiko dimata Ernes. Atta bertanya-tanya. Tapi, dia hanya bisa memendam pertanyaannya sendiri tanpa berani bertanya.


"Kita ke rumah sakit atau langsung ke kantor?" tanga Ernes.


"Ke kantor aja!"


"Ibu nanya, kapan dia bisa pulang? Ibu bosan di rumah sakit terus, katanya.." tanya Atta.


"Nunggu perintah dokter dulu dong.. Nanti aku bicarain dengan dokter." jawab Ernes yang tidak bisa memutuskan kapan Susi bisa keluar dari rumah sakit.


....


"Ayah sibuk nggak nanti malam?" tanya Atta.


"Enggak. Emang ada apa nak?" tanya Dika balik. Tumben-tumbenan Atta menanyakan hal seperti itu.


"Hari ini aku dan Ernes mengambil buku nikah, orang tua Ernes mengundang ayah untuk makan malam sebagai wali aku." jawab Atta menjelaskan semuanya.


Dika membulatkan matanya mendengar jika Atta dan Ernes telah resmi menikah. "Kalian nikah? Tapi kok nggak kasih tahu ayah?" tanya Dika terkejut.


Sebenarnya Atta juga masih tidak percaya dia telah memiliki suami sekarang. Karena semua urusan tersebut Ernes yang mengaturnya. Entah apa yang Ernes lakukan sehingga mereka bisa dengan cepat mendapat buku nikah.


"Kita kesini kan untuk kasih tahu ayah.." sahut Ernes.


"Bener juga.. Iya nanti malam ayah datang, kasih tahu alamatnya saja!" pinta Dika.


Ernes menuliskan alamat rumahnya di sebuah kertas kemudian menyerahkannya kepada ayahnya Atta. Namun, entah datang darimana. Tiba-tiba Tanti merebut kertas tersebut.


"Nggak perlu pakai ini. Aku tahu kok rumah Ernes.." sahut Tanti yang membuat Dika menjadi kesal karena telah lancang.


"Tapi tante tidak diundang!" ucap Atta yang tentunya menolak Tanti untuk datang ke rumah Ernes. Takutnya dia akan membuat masalah.


"Bawa sini kertasnya!" pinta Dika merebut kertas tersebut dari tangan Tanti.


"Pa, aku pokoknya ikut!" Tanti terus memaksa untuk ikut datang ke rumah Ernes.


"Maaf tante, acara ini adalah acara keluarga. Jadi yang bukan keluarganya Atta, tidak diperkenankan datang.." kata-kata Ernes membuat Tanti menjadi kesal.


Tanti tidak menduga jika suami Atta juga sama seperti Atta. Kata-katanya sangat menohok. Savage.


"Kamu dirumah saja! Jangan bikin masalah!" ucap Dika.


Kali ini, Dika ingin menjadi seorang ayah yang baik untuk putrinya. Dia tahu kenapa Atta memintanya pergi. Karena ibunya tidak bisa menghadiri acara tersebut dikarenakan masih terbaring sakit.


"Iya, nanti ayah pasti datang.." ucap Dika lagi.


"Kalau gitu kita pulang dulu ya, yah!" pamit Atta.


Atta juga pamit kepada Tanti dan Angel yang kebetulan ada di rumah juga. Tanti tetap memasang wajah kecut kepada Atta. Tapi menjadi ramah kepada Ernes.


Angel juga sama seperti ibunya. Dia memasang wajah tak suka kepada Atta. Tapi kecentilan dengan Ernes. Apalagi melihat penampilan Ernes yang trendy tidak culun.


Setelah Atta dan Ernes pergi. Dika memperingati istrinya agar tidak berbuat macam-macam. "Biarkan aku menjadi ayah yang baik untuk Atta. Aku mohon!" ucap Dika sebelum dia kembali ke kamar.


Sedangkan Angel masih terpesona dengan ketampanan Ernes. Ternyata rumor yang mengatakan jika Ernes lebih tampan jika di luar kantor itu memang benar adanya.


Penampilan yang gaul dan juga ketampanan Ernes membuat Angel terngiang-ngiang. Tapi sayangnya, kenapa lelaki setampan Ernes bisa menikahi Atta yang biasa-biasa saja.


"Ma, kenapa Atta bisa menikahi Ernes? Harusnya aku yang jadi istrinya.." gerutu Angel merasa iri dengan Atta.


"Apa sih hebatnya dia?" tanya Angel dengan kesal. Kenapa dia bisa kalah dengan kakak tirinya itu.


"Dia sama seperti ibunya, pandai menggoda.." gumam Tanti dengan kesal juga. Bukan hanya karena Atta telah menikah dengan Ernes. Tapi juga karena dia tidak izinkan untuk ikut makan malam bersama dengan keluarga Ernes.


"Tenang saja, mama akan pikirkan cara!"