
Atta menjauhkan wajahnya saat Ernes ingin menciumnya. "Kenapa? Kamu nggak mau dicium suami kamu?" tanya Ernes agak kesal.
"Bu..bukan gitu, tapi kita kan hanya pura-pura nikah kan.." ucap Atta masih canggung dengan Ernes.
"Hmm, tapi kamu tahu kewajiban suami istri kan? Aku nggak mau bantuin kamu kalau aku nggak dapat imbalan." ucap Ernes. Entah perkataan itu sebagai ancaman atau memang Ernes ingin haknya.
"Jalani hidup kita seperti selayaknya suami istri!" imbuh Ernes.
"Tapi kan kita nggak saling cinta."
"Emang saat ini kita butuh cinta? Kamu butuh aku dan aku bisa bantu kamu, udah beres. Ngapain pakai cinta?" ucap Ernes yang sempat membuat Atta terbelalak.
Benar, dia menikahi lelaki itu hanya mengubah hidupnya agar dia dan ibunya tidak lagi dihina orang. Perkataan Ernes memang masuk akal.
Atta pun tersenyum kecil sembari menatap Ernes. Ia kemudian mencium Ernes duluan. Dan kepulangan mereka harus tertunda beberapa saat karena mereka harus menyelesaikan urusan mereka berdua.
Sejam kemudian.
"Kita jadi cari tempat tinggal?" tanya Atta yang masih terbaring lemas sembari memegangi selimut.
"Hmm, kalau ibu udah boleh pulang dari rumah sakit kan kalian bisa langsung tinggali.." jawab Ernes yang sepertinya sudah mandi. Dia berdiri di depan cermin sembari menyisir rambutnya.
"Makasih ya?" ucap Atta setelah menatap Ernes cukup lama.
"Aku tidak terima ucapan terima kasih hanya dengan perkataan.."
Atta yang paham apa maksud Ernes pun kemudian berdiri dan mengecup pipi Ernes dengan lembut.
Cup!
Setelah meninggalkan sebuah kecupan dipipi Ernes. Atta segera berlari ke kamar mandi.
Ernes tersenyum mendapat sebuah kecupan manis dipipinya. "Aku tunggu di depan!" ucapnya saat Atta sedang mandi.
Di dalam kamar mandi. Atta membasuh tubuhnya dengan menangis. Selama ini dia menentang hinaan Tanti sebagai seorang simpanan. Tapi ternyata dia malah menjual dirinya demi kehidupan yang lebih baik.
Setiap apa yang kita lakukan, memang perlu adanya pengorbanan. Atta, telah mengorbankan dirinya demi kesembuhan ibunya dan kehidupan yang lebih layak.
Dulu, dia selalu memimpikan hal indah dalam hidup. Dimana dia akan menikah dengan lelaki yang dia cintai dan akan hidup bahagia bersama dengan anak-anak mereka.
Namun, kerasnya hidup membuatnya harus mengubur impian tersebut. Karena terkadang khayalan tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi.
"Kamu sudah memilih jalan ini, dan kamu harus jalani!" gumam Atta di depan cermin.
Tidak ada gunanya menyesal. Atta harus jalani hidup dia tanpa mengeluh. Jalan masih panjang, demi ibunya dan kehidupan yang layak.
Keluar dari kamar mandi, Atta sudah bisa tersenyum ceria seperti biasa. Sembari bercermin, dia memantapkan hatinya untuk menjalani pilihan hidupnya sekarang.
"Udah selesai?" tanya Ernes yang kembali mengambil kaca matanya.
"Udah. Cantik nggak?" tanyanya dengan riang.
Ernes menatapnya dengan tersenyum tipis. "Jangan mancing-mancing deh! Kita harus segera cari tempat tinggal untuk kamu." ucapnya.
Atta tersenyum kecil kemudian mengalungkan tangannya dileher Ernes. Dengan manja dia bergelendotan sembari mengecup pipi Ernes lagi.
"Nyarinya kan bisa besok.." bisik Atta sembari tersenyum manis.
Matanya dan mata Ernes saling beradu. Tiba-tiba hatinya berdebar tidak karuan tapi Atta mencoba untuk biasa saja. Detak jantungnya terdengar keras, mungkin Ernes juga mendengarnya.
Atta menganggukan kepalanya dan bersiap menerima serangan dari Ernes untuk kedua kalinya.
****
Ernes pulang ke rumah sudah sangat larut. Setelah dari kantor, dia makan malam dengan Atta terlebih dulu, lalu kemudian mengantar Atta ke rumah sakit sembari menyapa ibunya Atta sebentar.
"Nes, mama mau ngomong!"
"Astaga,, mama ngagetin aja.." Ernes melompat karena terkejut. Tiba-tiba mamanya bersuara, dipikir Ernes semua orang rumah sudah tidur. Dan lagi, mamanya menunggu dia dengan lampu mati.
Ernes kemudian menyalakan lampu ruang tamu. "Kenapa ma? Kok gelap-gelapan? Papa belum pulang juga?" tanyanya sambil duduk di sebelah mamanya.
"Papa udah tidur. Mama yang nggak bisa tidur." jawab Ines. Dia masih kepikiran masalah perkataan Tanti tadi siang.
"Kenapa ma? Mama sakit?" tanya Ernes khawatir.
Ines menggelengkan kepalanya. "Tadi siang, ada wanita yang datang kesini. Dia mengaku sebagai ibu tirinya Atta. Wanita itu cerita semua ke mama masalah Atta dan ibunya." ucap Ines.
"Cerita apa?" tanya Ernes. Sebenarnya Ernes sudah menebak apa yang wanita itu ceritakan. Tapi Ernes ingin mengkonfirmasi saja. Apakah tebakannya itu benar atau tidak.
"...Dia cerita kalau sebenarnya Atta itu anak diluar nikah.." Ines menatap Ernes, dia ingin melihat reaksi Ernes setelah mendengar berita tersebut.
"Oh, ya benar.." jawab Ernes tidak menyangkal.
"Ha? Jadi... jadi.. jadi.. kamu?" Ines terkejut mengetahui ternyata Ernes sudah tahu masalah tersebut.
"Iya aku tahu. Atta sudah cerita semua ke aku." jawab Ernes.
"Tapi kenapa kamu mau nikahin dia? Kamu nggak takut reputasi kamu hancur kalau orang tahu masalah ini?" Ines tahu anaknya sudah dewasa, jadi dia lebih memilih mengajukan pertanyaan daripada melarangnya. Ines ingin tahu apa alasan Ernes menikahi Atta.
"Jadi sebenarnya ibunya Atta itu memang tidak mau menikah dengan ayahnya Atta karena dia tahu ayahnya Atta telah mempunyai istri."
"Kalau tahu kenapa dia mau dengan ayahnya Atta sampai hamil?"
"Awalnya nggak tahu ma, itu ayahnya Atta ngakunya masih single. Tapi begitu dia tahu kalau lelaki itu sudah punya istri, ibunya Atta nggak mau dinikahin meskipun dia sedang hamil." Ernes menjelaskan semuanya kepada mamanya agar mamanya tidak kepikiran terus.
"Alasannya karena dia tidak mau merusak rumah tangga orang, dan dia menanggung semua penderitaan sendirian." imbuh Ernes yang sebenarnya salut sekali dengan ibunya Atta.
"Tapi tetap saja Atta anak diluar nikah kan." Ernes menghela nafasnya dalam.
"Mama hanya takut reputasi kamu akan jelek dimata orang.." imbuh Ines.
"Ma, mama takut reputasi aku jelek karena nikahin Atta yang lahir diluar nikah?" Ines menganggukan kepalanya pelan.
"Lalu apa reputasiku nggak jelek karena aku hanya tidurin Atta dan tidak mau tanggung jawab, apa bedanya aku dengan lelaki brengs*k lainnya?" tanya Ernes dengan sengit.
"Atta yang bantuin aku waktu aku hampir mati karena obat bius itu. Aku maksa dia untuk menjadi penawarnya, lalu aku harus biarin dia menanggung itu sendiri?" imbuh Ernes sembari menatap Ines.
"Bukan keinginan Atta untuk lahir diluar nikah. Meskipun begitu, Atta juga berhak mendapat keadilan kan ma? Aku udah rusak dia dan masa depannya, apa pantas aku pergi gitu aja tanpa tanggung jawab?" lanjut Ernes.
"Iya nak, maafin mama ya!" Ines yang sekarang sangatlah berbeda dengan Ines yang dulu. Sekarang dia lebih mementingkan kebahagiaan anaknya dibanding keegoisannya. Mungkin Ines tidak mau anaknya menjadi korban keegoisannya lagi.
Sejauh ini, dia melihat Gio sudah bahagia dengan wanita pilihannya. Dan dia juga semakin menyayangi wanita itu.
Jadi, jika memang Atta bisa membuat Ernes bahagia. Ines tentunya akan mengalah demi anaknya.
"Iya ma. Tidur yuk udah malem!"