
Atta merasa gugup selama perjalanan menuju rumah Ernes. Dia bahkan berpikir bahwa dirinya sudah gila, karena secara terang-terangan mendatangi rumah Ernes dimana disana ada anak dan istrinya.
"Apa kita yakin akan ke rumah kamu?" tanya Atta sekali lagi.
"Hmm, kita udah sampai." jawab Ernes menghentikan mobilnya tepat di depan rumahnya yang mewah dan megah.
"Apa mamanya anak-anak kamu nggak akan jambak rambutku?" tanya Atta ketakutan.
"Wow, seru tuh.." ucap Ernes dengan tersenyum semangat.
Atta yang kesal kemudian memukul lengan Ernes dengan cukup keras. Kemudian Atta melipat kedua tangannya di dadanya, dan bersikeras tidak mau keluar dari mobil.
"Turun atau aku bilang ke ibu kalau kamu maksa aku dan manfaatin aku!" ancam Ernes lagi. Dan ternyata ancaman tersebut cukup efektif. Atta bukan hanya tidak berani membantah, tapi dia juga langsung nurut apa kata Ernes.
Dengan perasaan takut Atta turun dari mobil dan berjalan mengikuti Ernes memasuki rumah mewah tersebut. Langkahnya terasa berat tapi mau gimana lagi, dia sendiri yang cari penyakit.
Begitu Ernes melangkahkan kakinya memasuki rumahnya. Dia disambut meriah oleh kedua keponakannya, Kiano dan keysha. Mereka berebut minta gendong Ernes.
Kiano dan keysha memang sangat dekat dengan Ernes. Dan Ernes juga sangat memanjakan keduanya. Maka dari itu kedua bocah cilik tersebut begitu lengket dengan pamannya.
"Kiano ngalah dong sama adik!" seru Vanka karena melihat anak sulungnya enggan mengalah dari adiknya yang baru berusia 3 tahun.
Namun anak berusia 5 tahun tersebut tetap tidak mau mengalah. "Kalau gitu aku gendong belakang, adik gendong depan." usulnya.
Ernes pun tersenyum mendengarnya. "Bagus tuh idenya. Keysha gendong depan, terus kak Kiano gendong belakang." Ernes memberikan punggungnya untuk Kiano naik.
Ernes pun membawa kedua bocah tersebut ke meja makan. Sementara Atta tersenyum melihat keimutan kedua bocah tersebut. Sampai dia hanya mematung di tempat saja.
Vanka yang melihat Atta terdiam kemudian mendekat dan menarik tangan calon kakak iparnya tersebut. "Kenapa diam aja disini, yuk kita makan bareng!" ucap Vanka sembari menarik tangan Atta.
"Kenalin mamanya Ernes.." ucap Ines merasa sangat gembira karena akhirnya anak sulungnya mau menikah juga.
"A.. aku Atta tante..." jawab Atta dengan agak gugup.
"Aku Vanka, mamanya Kiano dan Keysha." sahut Vanka juga memperkenalkan dirinya.
Atta menganggukan kepalanya sembari menatap Vanka diam-diam. Atta masih bingung kenapa Ernes mau menikah lagi, padahal istrinya menurut Atta sudah sangat cantik.
Atta kembali melirik Ernes yang sedang menyuapi Kiano dan Keysha. Begitulah setiap harinya, kedua anak itu akan lengket dengan pamannya jika papanya tidak dirumah.
"Kiano sama Keysha main sama mbak dulu ya!" ucap Vanka merasa tidak enak karena Ernes malah mengabaikan Atta karena anak-anaknya.
"Biarin aja Van, mereka baru makan." ucap Ernes.
"Nanti jalan-jalan yuk sambil beli es krim!" ucap Ernes yang membuat kedua bocah itu melompat kegirangan.
Vanka pun kemudian mengajak anak-anaknya meninggalkan meja makan dan menyambut papa mereka yang baru saja tiba. "Tuh papa pulang, kita kesana yuk!" ajak Vanka yang mendengar suara mobil berhenti di depan rumah.
"Papa...." kedua bocah itu langsung melompat dari kursi dan berlari menyambut kedatangan papanya.
Papa?
Atta mengerutkan keningnya. Dia benar-benar bingung dengan apa yang terjadi. Sampai akhirnya Ernes mendekatinya dan bertanya, "kenapa bengong?"
"Eh, nggak kok. Cuma,, e,, lucu aja anak-anak kamu.." jawab Atta yang masih kebingungan.
"Istri kamu cantik ya?" ucap Atta sembari melirik Vanka yang berjalan menggandeng Kiano dan Keysha.
Ernes tersenyum kecil. "Dia istri adikku. Kedua anak itu juga anak adikku, hanya saja mereka sangat dekat dengan aku." kata Ernes.
Atta seketika menatap Ernes yang berada di sebelahnya. Jarak mereka juga sangat dekat membuat Atta kaget begitu beradu pandang dengan Ernes. Buru-buru Atta membuang wajahnya.
"Jadi??"
"Jadi apa prokk prokk prokk.." ucap Ernes menirukan salah satu jargon dari pesulap terkenal.
Atta pun tersenyum mendengar perkataan Ernes yang konyol itu. "Apaan sih.." Atta memukul pelan lengan Ernes.
"Seneng banget yak, tahu kalau ternyata aku masih single?" tanya Ernes sembari menatap Atta dan menaik turunkan alisnya.
"Nggak," jawab Atta dengan cepat dan berusaha menyembunyikan kegugupannya.
"Ehem..." Ines berdehem karena sejoli tersebut mengabaikan keberadaannya.
Atta dan Ernes pun kaget bukan main dan sadar jika di meja makan itu masih ada Ines yang terus memperhatikan keduanya. "Mama sakit? Minum obat gih!" ucap Ernes berusaha menutupi kegugupan Atta dari mamanya.
"Emang dasar ya, kalian pikir dunia ini milik kalian berdua?" tanya Ines dengan sengit.
Awalnya Atta sempat takut. Takut jika Ines akan marah. Tapi perkataan Ines selanjutnya justru membuatnya tertawa kecil. Ternyata mamanya Ernes tidak sekaku seperti ibu suri di sinetron-sinetron.
"Itu adiknya Ernes, namanya Gio.." ucap Ines ketika Gio masuk bersama anak dan istrinya.
"Kamu lihat kan, adiknya aja udah punya anak, masa kakaknya masih belum apa-apa." lanjut Ines yang membuat Ernes membulatkan matanya.
"Kalau mama mau cucu banyak, suruh aja di Gio dan Vanka bikin anak yang banyak!" sahut Ernes.
Bukkk!
Ines meninju lengan Ernes dengan cukup keras. "Kamu pikir adik dan adik ipar kamu apaan? Kamu suruh bikin anak yang banyak. Terus kenapa nggak kamu aja bikin anak yang banyak?" cerocos Ines memarahi Ernes yang selalu saja seperti itu membuat Ines darah tinggi.
"Tumben makan siang di rumah?" tanya Ernes begitu Gio mendekat.
"Mama yang minta. Katanya, lo mau ajak calon istri lo makan siang di rumah. Mana calon istri lo?" tanya Gio yang tidak tahu jika calon istri kakaknya ada di dekatnya.
"Kenalin ini Atta."
"Ini adik aku yang paling nyebelin." Ernes memperkenalkan Atta dengan adiknya.
"Yang paling nyebelin katanya, emang adik berapa?"
"Jadi ini calon lo? Katanya dia penampilannya norak dan kuno? Kok cantik?"
"Kamu nggak sedang dipaksa kak Ernes kan, kak?" tanya Gio ke Atta yang membuat Atta tersenyum.
Tapi sebelumnya dia sempat melotot kepada Ernes yang mengatai dirinya norak dan kuno.
"Tuh kan mulutnya.." gerutu Ernes sembari mendorong kepala Gio pelan.
"Kenalin aku Gio, kak.. Dan ini istri tercintaku namanya Vanka. Dan itu malaikat kita, Kiano dan Keysha.." ucap Gio.
"Aku Lovata sering dipanggil Atta." Atta juga memperkenalkan dirinya.
Tak lama kemudian Sakha juga pulang. Dia diminta oleh istrinya untuk makan siang di rumah karena Ernes akan membawa calon istrinya. Ines yang melihat suaminya langsung berlari kecil mendekat ke suaminya.
"Tuh papa kalian pulang." ucapnya.
"Kakek...." Kiano dan Keysha pun bergegas berlari menghampiri kakek mereka.
"Haduh cucu kakek, cium dulu!"
Cup!
Bukan hanya Kiano dan Keysha yang mencium Sakha. Tapi Ines juga tak mau kalah. Dia dengan semangat mengecup pipi suaminya.
"Idih nggak mau kalah.." ledek Gio.
"Iya dong.." jawab Ines sembari bermanja kepada suaminya.
Sakha kemudian berkenalan dengan Atta, calon menantunya. Dan, Atta pun sempat tercengang dengan ketampanan keluarga tersebut. Harus diakui jika ketiga lelaki dewasa di keluarga Ernes memang sangat tampan. Begitu juga mama dan adik ipar Ernes.
"Benar-benar keluarga malaikat, tampan dan semua.." gumam Atta seorang diri. Belum lagi sikap baik dari keluarga tersebut yang tidak memandang rendah meskipun Atta dari keluarga biasa saja, dibandingkan mereka yang sultan. Bahkan kekayaan papanya tidak ada apa-apa dibanding keluarga tersebut. Tapi mereka tidak memandang Atta sebelah mata.
Selesai makan siang Atta pamit kembali ke rumah sakit. Tidak lupa dia mengucapkan terima kasih kepada orang tua dan adiknya Ernes. "Terima kasih tante untuk makan siangnya. Aku pamit dulu!" ucapnya.
"Iya, salam buat ibu kamu ya. Nanti kapan-kapan tante dan om sempatin jengukin ibu kamu!" ucap Ines merasa senang dengan Atta.
"Iya tante.." Atta pun kemudian pamit dengan diantar oleh Ernes.
Di dalam mobil Atta mengutarakan perasaannya yang senang karena bisa makan bareng dengan keluarga Ernes yang menyenangkan. "Papa dan mama kamu dulu pasti ganteng dan cantik. Sudah tua aja masih ganteng dan cantik." ucap Atta dengan tersenyum.
"Kalau kamu lihat aku, ya begitulah masa muda papaku." jawaban Ernes tersebut membuat Atta terbahak. Tak menyangka jika wajahnya saja yang dingin, tapi sebenarnya Ernes sangat suka ngelucu.
"Kenapa ketawa? Jujur, aku ganteng nggak?" tanya Ernes yang membuat Atta kembali tertawa.
"Jawab!"
"...Iya, tapi dikit.." jawab Atta dengan tersenyum sembari melirik Ernes.
"Kalau nggak ganteng, masa iya kamu baru ketemu minta dinikahi.."
"Aku minta dinikahin karena kamu bilang mau tanggung jawab.." Atta menjadi kesal kemudian memukul lengan Ernes beberapa kali.
Ernes bukannya marah tapi malah tersenyum melihat wajah Atta yang memerah.