
"Gio dijebak oleh dua orang wanita malam itu.."
"Kamu tahu kan aku kerja di tempat hiburan itu. Aku nggak sengaja dengar dua wanita merencanakan hal buruk kepada Gio. Awalnya aku pikir itu bukan Gio suami kamu, tapi setelah kejadian di kamar lantai 3 itu, aku baru sadar jika yang mereka maksud itu suami kamu." Atta menjelaskan terlebih dulu sebelum Vanka menolak penjelasannya.
"Salah satu wanita itu kalau nggak salah namanya, Merisa atau Marisa gitu..." imbuh Atta yang samar-samar mendengar seseorang memanggil salah satu dari kedua wanita itu.
"Marisa kak. Iya benar, dia yang berada dikamar itu. Dia sudah lama suka sama Gio. Dia sangat terobsesi sama Gio." jawab Vanka.
"Nah, berarti bener. Van, aku berani bersumpah jika memang dia yang sudah merencanakan semua. Gio hanya dijebak." Atta mengingatkan lagi.
Vanka pun menjadi menangis kembali. Bahkan dia tidak peduli jika menangis di depan anak-anaknya. Entah apa yang Vanka rasakan saat ini. Dia hanya ingin menangis saja.
"Aku tidak akan meminta kamu untuk bersabar. Kalau ingin menangis, menangislah!" Atta menepuk pelan pundak Vanka.
Cukup lama Vanka menangis sampai membuat Kiano dan Keysha menjadi khawatir. Mereka lalu memeluk mama mereka dengan ikut sedih.
"Kak, dik, kalian kangen papa nggak?"
"Kangen ma.." jawab Kiano dan Keysha bersamaan.
"Kita temuin papa yuk!" Vanka percaya dengan apa yang Atta katakan. Itu juga sama dengan penjelasan Gio yang mengatakan jika dia dijebak.
Atta tersenyum senang. Ternyata dia bisa membuat Vanka tersadar dan mengurungkan niatnya berpisah dari Gio. "Van," gumam Atta.
"Makasih ya kak, karena kakak udah yakinin aku jika Gio tidak bersalah. Sebenarnya aku juga masih mikirin mengenai perceraian. Karena aku juga harus mikirin mereka.." Vanka menatap anak-anaknya yang sedang memeluknya.
"Sama-sama, Vanka. Aku hanya akan merasa bersalah jika kalian harus berpisah sementara aku tahu kebenerannya tapi tidak memberitahu kamu." jawab Atta.
"Mama juga sakit ini kak. Kalau kak Atta punya waktu, jengukin mama ya!" Atta menganggukan kepalanya dengan berat.
Bukannya dia tidak mau menjenguk mama mertuanya. Hanya saja dia dan Ernes sedang berkonflik, dia tidak mau disangka mengambil hati orang tua Ernes dan dikira memanfaatkannya.
Vanka dan anak-anaknya beserta Atta ke rumah sakit dimana Gio dirawat. Vanka segera ke ruang rawat Gio. Dia melihat suaminya yang sedang menangis dan terus memanggil namanya. Tapi, tidak membuka matanya.
"Vanka.. Vanka.." seperti itu terus yang dilakukan Gio.
Vanka mendekat dan meraih tangan Gio. "Iya, aku disini.." ucapnya pelan.
Pada saat itu, dengan matanya sendiri Atta melihat keajaiban dari cinta. Seketika Gio membuka matanya, dia menatap Vanka dengan air mata yang terus mengalir.
"Vanka.."
"Iya sayank.." jawab Vanka sembari menggenggam tangan Gio dan menciumnya.
Perlahan-lahan tangan Gio terangkat. Dia menyentuh wajah Vanka. Seperti ingin memastikan jika dia tidaklah bermimpi.
Begitu yakin dia tidaklah bermimpi, Gio segera menarik Vanka dalam pelukannya. "Vanka, aku kangen sama kamu.." ucap Gio sembari menangis.
Saat Ernes datang ke kamar rawat Gio. Dia melihat pemandangan tersebut dengan bahagia. Dia juga menatap Atta yang sedang memegangi Kiano dan Keysha.
Gio akhirnya bangun dan sadar. Saat melihat Kiano dan Keysha, dia meminta anak-anaknya segera mendekat. Dia kangen banget dengan kedua anaknya.
"Kiano, Keysha, sini nak!" panggil Gio.
"Papa..." seketika tangisan kedua bocah yang merindukan papanya tersebut pecah. Mereka memeluk papa dengan erat.
Gio merasa sangat bahagia karena dia bisa kembali memeluk anak dan istrinya. Bahkan dia tak henti-hentinya memeluk dan menciumi anak dan juga istrinya.
"Kamu nggak kangen sama aku?" tanya Ernes sambil menahan tangan Atta.
"Lihat kamu sehat aja aku udah tenang." jawab Atta tidak berani menatap mata Ernes.
"Apa kamu sangat senang jauh dari aku? Apa karena udah ada orang yang gantiin aku?" tanya Ernes dengan sengit. Dia selalu marah jika teringat Rey yang selalu bersama dengan Atta.
"Kenapa nggak tinggal di apartemen? Kenapa balik kerja di tempat hiburan itu?" pertanyaan Ernes yang tidak bisa Atta jawab satupun. Mulutnya secara terkunci, berat untuk berkata.
Ernes segera memeluk Atta. Dia tidak bisa mengendalikan rasa kangennya sejak bertemu Atta di mall tadi.
Atta mengangkat tangannya hendak memeluk Ernes. Tapi tiba-tiba dia tersadar jika dia tidak bisa seperti ini. Karena itu akan memberatkan langkahnya untuk menjauhi Ernes.
Tidak ada lagi harapan yang dia gantungkan kepada Ernes. Jadi, dia memilih untuk sadar diri jika lelaki itu tidak mungkin bisa dia gapai.
"Ernes..." dari kejauhan ada seseorang memanggil nama Ernes.
Ernes dan Atta pun seketika menoleh ke arah sumber suara. Ternyata Cintya datang dan melambaikan tangannya. Melihat Cintya mendekat, rasa sakit dihati Atta kembali tersayat. Dengan segera dia mendorong Ernes dan meninggalkan tempat tersebut tanpa menoleh kebelakang lagi.
"Ta.." Ernes hendak mengejar Atta. Tapi Cintya lebih cepat menahannya.
"Nes, gimana keadaan Gio? Temenin aku jenguk dia!" pinta Cintya.
Ernes pun mengurungkan niat untuk mengejar Atta. Dia mengajak Cintya untuk masuk ke dalam ruang rawat Gio. Sementara, Cintya melirik Atta yang menjauh dengan tersenyum sinis.
Setelah menjenguk Gio. Cintya pulang tapi tidak dengan diantar oleh Ernes. Karena Ernes masih ada pekerjaan.
Ketika Cintya berjalan di halaman rumah sakit hendak mencari taksi. Tetiba seseorang membunyikan klakson tepat saat Cintya berjalan disebelah mobil tersebut.
Seorang lelaki berambut gondrong dan mengenakan kacamata mengangkat tangannya, menyapa Cintya. Seketika Cintya membulatkan matanya. Dia segera berlari ke mobil tersebut dan masuk ke dalam mobil tersebut.
"Kenapa kamu disini?" tanya Cintya dengan panik.
"Aku kangen sama istri aku dong.." jawab lelaki tersebut.
"Kamu jangan gila!!" Cintya memarahi lelaki tersebut.
Lelaki itu segera melajukan mobilnya. Cintya pun segera memakai kacamata hitam dan menutupi kepalanya dengan kain yang ada dimobil tersebut.
"Gimana? Kamu udah berhasil deketin Ernes?" tanya lelaki itu.
"Sedikit lagi, kalau kamu nggak kacaukan semuanya!" jawab Cintya dengan kesal.
"Aku sudah tidak sabar ingin melihat dia hancur, seperti dia hancurkan perusahaan papaku!" ucap lelaki yang seperti memiliko dendam pribadi kepada Ernes.
"Ingat! Jangan terbawa perasaan. Aku tidak peduli dengan perasaan kamu ke dia dulu. Yang harus kamu ingat, ibu kamu masih ada ditanganku." lelaki itu mengancam Cintya menggunakan ibunya.
"Jangan pernah sentuh ibu aku!" ucap Cintya dengan geram.
"Tenang saja. Biar bagaimanapun dia tetap ibu mertua aku. Aku pasti akan perlakukan dia dengan baik. Asalkan kamu bisa lakukan apa yang aku perintahkan!" ucap lelaki itu dengan tersenyum kecil.
Lelaki itu kemudian menurunkan Cintya di jalan dekat apartemen Cintya. Setelah itu dia pergi begitu saja.
"Ah.. sial.." seru Cintya dengan kesal.