
Atta memutuskan menjenguk Ines, sekalian meminta maaf atas kecerobahannya. Tapi, terlebih dulu dia pergi ke rumah sakit. Sejak kemarin dia merasa tubuhnya meriang. Mungkin efek dari banyaknya pikiran yang membuat napsu makannya berkurang drastis.
"Silahkan tunggu hasilnya sebentar!" kata sang dokter.
"Iya dok.." sembari mainan ponselnya, Atta menunggu dengan sabar hasil pemeriksaannya.
Berharap jika dia tidak kenapa-napa. Karena Atta sadar, dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Jadi saat dia sakit, pasti tidak ada yang mengurusnya. Harap-harap cemas menunggu hasil pemeriksaannya.
Tak berselang lama, dokter menyerahkan kertas hasil pemeriksaannya. Atta membuka perlahan hasil tersebut. Dengan perasaan berdebar Atta mulai mengintip hasil pemeriksaannya.
Ia mengerutkan keningnya setelah membaca hasil pemeriksaan tersebut. Sepertinya Atta tidak paham dengan istilah kedokteran. Makanya dia nampak kaget dan bingung.
"Ini.. ini maksudnya gimana ya dok?" ia memberanikan dirinya bertanya karena dia memang betul tidak tahu istilah dalam kedokteran.
"Selamat ibu, anda hamil." Atta membulatkan matanya mendengar ucapan selamat dari dokter.
"Hamil, dok?" sang dokter hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya.
"Iya bu, anda hamil, dan sudah memasuki pekan ke 10.." kata dokter lagi.
Perasaan Atta campur aduk saat itu. Antara bahagia dan sedih. Bahagia karena dia akan menjadi seorang ibu. Dan sedih karena rumah tangganya berada diujung tanduk sekarang.
Atta bingung, apakah dia akan memberitahu Ernes mengenai kehamilannya, atau dia menyembunyikan fakta dan merawat anak itu sendiri.
Sebuah dilema besar untuknya. Iya kalau Ernes mau anak itu, kalau tidak. Maka dari itu Atta akan menyembunyikan dulu fakta tersebut sampai masalahnya dengan Ernes selesai. Atau lebih tepatnya sampai mereka bercerai.
"Mana lihat perkembangannya dari ultrasonografi?" tanya dokter. Atta pun langsung menganggukan kepalanya.
Dokter kemudian menunjukan perkembangan anak Atta dan Ernes. "Ini masih sangat kecil, masih sebesar kacang polong.. Tapi hasilnya sehat semua.." ucap dokter.
"Jaga kesehatan, jangan banyak pikiran dan jangan capek-capek! Minum vitamin dengan rutin!" pesan dokter sembari meresepkan vitamin untuk Atta.
"Usahakan pemeriksaan selanjutnya sama suami ya! Karena kalian berdua harus tahu perkembangan anak kalian." imbuh sang dokter, yang langsung membuat Atta seketika menjadi sedih. Tetapi dia tetap menganggukan kepalanya.
"Iya dok.."
Atta menggengam erat kertas itu sembari salah satu tangannya menngelus lembut perutnya. Atta merasa sangat bahagia, dia merasakan ada kehidupan baru di dalam sana. Matanya berkaca-kaca.
Setelah mengambil vitamin. Dia segera pergi ke rumah Ernes untuk menemui Ines dan mengucapkan selamat tinggal. Atta telah memutuskan untuk merawat anak itu sendiri.
Seperti ibunya dulu, dia pasti juga akan sekuat itu. Merawat dan membesarkan anaknya sendiri. Dan yang pasti akan memberikan cinta dan kasih sayang sepenuhnya untuk anaknya.
"Sehat ya nak!" gumamnya.
....
Kehadiran Atta membawa kebahagiaan bagi Ines. Dia membuat Ines kembali bersemangat. "Atta, mama kangen banget sama kamu.." Ines mengisyaratkan supaya Atta mendekat sehingga Ines bisa memeluknya.
"Atta juga. Maafin aku ya tante, aku sangat ceroboh sehingga membuat tante hampir celaka." ucap Atta dengan sedih.
Ines menata Atta dengan mata berkaca-kaca. Fokusnya bukan kepada permintaan maaf Atta, melainkan kepada panggilan Atta yang berubah dari mama ke tante.
Ines merasa sedih karenanya. Pasti Atta benar-benar marah kali ini dan perpisahan anaknya tidak terhindarkan lagi. "Mama nggak nyalahin kamu. Mama yakin kamu nggak akan pernah sakiti mama. Mama bisa merasakan kalau kamu sayang sama mama." ucap Ines.
Meskipun Atta mengubah panggilannya. Tapi Ines tetap menyebut dirinya sebagai mama bagi Atta. "Seperti kamu sayang sama mama, seperti itu juga mama sayang kamu, nak.." lanjut Ines yang membuat Atta juga berkaca-kaca.
Tetapi, Atta tetap pada pendiriannya untuk berpisah dengan Ernes. Sebaik apapun orang tua Ernes kepadanya, jika Ernes tidak mencintai Atta, untuk apa.
"Tan, aku minta maaf jika aku punya banyak salah. Mungkin ini terakhir kalinya aku kesini. Aku mau beresin dulu urusan aku dengan Ernes." ucap Atta sembari menahan air mata dan kesedihannya.
"Kiita masih bisa ketemu kok Tan, tapi nanti setelah permasalahanku dengan Ernes selesai. Karena aku nggak mau dianggap memanfaatin tante." imbuh Atta.
"Apa harus berpisah?" tanya Ines berharap masih ada jalan mediasi antara Atta dan Ernes.
Atta dengan cepat menganggukan kepalanya. "Sebenarnya, awal aku nikah sama Ernes karena aku memanfaatkan dia untuk membiayai pengobatan ibu aku.." Atta mengakui tujuan awalnya menikah dengan Ernes.
Ines terdiam mendengar pengakuan Atta. Tapi dia sudah tidak peduli dengan alasan itu. Dia sudah sangat menyayangi Atta, dan tetap ingin Atta menjadi menantunya.
"Ta, Ernes itu bukan orang yang mudah dekat dengan wanita. Itu sebabnya mama selalu jodohin dia karena dia masih kekeh belum mau menikah.." ucap Ines.
"Jadi seharusnya kamu paham, dia bukan semata-mata ingin menolong kamu membiayai pengobatan ibu kamu. Tapi itu karena dari awal dia sudah tertarik sama kamu.." lanjut Ines.
Sementara Atta mendengarkan perkataan Ines tersebut dengan terkejut. Ernes tertarik dengan dia?
Atta tersenyum kecil. Mungkin karena mamanya Ernes tidak tahu aja alasan Ernes menolak dijodohkan, karena mencintai sepupunya sendiri. Dan Ernes setuju menikahi Atta karena Ernes telah merenggut kesucian Atta. Dia hanya ingin tanggung jawab bukan tertarik.
Atta ingin sekali mengatakan hal tersebut. Tetapi masih dia tahan agar tidak menyakiti perasaan Ines.
Atta dirumah Ernes dari siang sampai menjelang malam. Karena Ines selalu memohon supaya dia tidak pergi. Dia menemani Ines mengobrol sampai lupa waktu.
Saat Ernes pulang, dia terkejut melihat Atta yang sudah berada di kamar mamanya. Ernes melihat dari pintu kamar mama jika mamanya bisa tertawa saat ngobrol dengan Atta. Kelihatan banget jika Ines sangat cocok dengan Atta. Sama seperti Ines dengan Vanka.
Tanpa diduga, senyuman mengembang diwajah Ernes. "Ehem.." Ernes masuk ke ruangan mamanya dengan berdehem terlebih dahulu. Dia ingin mengatakan mengenai keberadaannya.
"Nes, kamu udah pulang?" tanya Ines saat melihat Ernes masuk.
"Udah ma, aku agak meriang jadi pulang cepet.." jawab Ernes berjalan mendekat ke ranjang mamanya.
"Ya udah ya tante, kalau gitu aku pulang dulu, mau kerja soalnya.." Atta segera bangkit.
Lalu dengan cepat Ines menahan tangannya. "Janji ya kita akan ketemu lagi setelah masalah kamu selesai!" Ines menatap Atta dengan lembut.
"Iya tante, aku janji.." Atta menyentuh tangan Ines dan tersenyum kecil.
Setelah berpamitan, Atta segera meninggalkan tempat itu dengan masih mengabaikan Ernes. Dia seolah tidak melihat Ernes ada ditempat itu. Meskipun begitu, hati Atta tetap khawatir ketika melihat wajah Ernes yang sedikit pucat. Ernes juga terlihat agak kurusan.
Sedangkan Ernes merasa tidak terima dicuekin oleh Atta. Dia mengejar Atta sampai ke halaman rumahnya. Ernes menahan tangan Atta. "Senang bisa cuekin aku?" tanya Ernes dengan mata membesar.
"Lepasin!" pinta Atta dengan begitu dingin.
"Kalau aku nggak mau kamu bisa apa?"
Atta menjadi marah, dia langsung menarik tangannya dengan paksa. Ernes sempat kaget karena tindakan Atta tersebut. Dia membulatkan matanya setelah Atta menarik paksa tangannya.
"Jadi apa mau kamu?" tanya Ernes dengan sengit. Dia marah dan kesal.
"Jangan ganggu aku lagi!" ucap Atta tetap dengan nada dingin.
"Kenapa? Apa karena kamu sudah punya pacar lagi sekarang? Ingat, kamu masih istriku.." kata Ernes.
"Aku selalu ingat kok. Aku seorang istri yang diperlakukan tidak adil oleh suaminya, seorang istri yang tidak pernah dianggap, seorang istri yang diperlakukan seenaknya. Aku ingat kok, dan masih teringat jelas.." ucap Atta dengan amarah yang sengaja ditahan. Dan itu rasanya sakit sekali.
"Tenang saja, aku datang bukan untuk menyakiti mama kamu. Aku datang untuk mengatakan terima kasih karena telah menyayangi aku tanpa syarat. Juga mengatakan selamat tinggal.." imbuh Atta.
"Tunggu sebentar lagi, bulan depan aku pasti urus perceraian kita, tunggu sampai aku gajian. Atau gimana kalau kamu yang ajukan perceraian itu, kamu kan punya banyak uang jadi perceraian kita bisa dipercepat.." lanjut Atta.
Ernes terdiam, tapi dia menatap Atta dengan sangat tajam. "Apa kamu begitu ingin bercerai?" tanyanya.
"Ya." Atta menjawab dengan cepat.
"Kenapa? Karena kamu sudah punya pacar, jadi ingin kita segera bercerai? Kalau itu alasannya. Kamu harus ingat! Aku nggak akan cerain kamu! Kamu bisa minta nikah dengan aku, tapi untuk bercerai, kamu harus minta persetujuan aku!" ucap Ernes menahan amarahnya.
Atta menjadi marah karena perkataan Ernes. "Tolong jangan egois! Apa yang perlu dipertahanin dari rumah tangga yang rapuh ini? Biarkan kita jalani hidup masing-masing, karena kita berhak untuk bahagia!" ucap Atta dengan marah.
Ernes tersenyum sinis mendengar perkataan Atta. "Seperti yang kamu bilang, aku punya banyak uang, aku bisa lakuin apa yang aku inginkan. Dan kamu juga harus ingat! Pernikahan ini atas permintaan kamu, tapi untuk perceraian, itu tergantung aku.." ucapnya.
"Ingat, aku bisa lakuin apapun yang aku mau! Bahkan Rey pun tidak akan bisa bantuin kamu, karena aku akan hancurin siapapun yang melawan aku!" lanjut Ernes menatap Atta dengan tajam. Ernes segera balik badan, dia meninggalkan Atta yang merasa kecewa dan marah.
"Jangan keterlaluan!" seru Atta. Tapi Ernes terus saja berjalan masuk ke rumahnya.