Sudden Mariage

Sudden Mariage
19



Atta mengajak Ernes berbelanja untuk kebutuhan Aiko dan anaknya. Karena pergi mendadak pasti Aiko tidak menyiapkan bekal sebelumnya. Lagipula Atta juga ingin kenal dengan sepupu Ernes tersebut.


"Kita belanja kebutuhan untuk sepupu kamu yuk!" ucap Atta saat dia sedang menunggu Ernes menyelesaikan pekerjaannya.


Ernes menatap Atta dengan tersebut senang. Dia pikir Atta akan marah saat dia bilang apartemen baru mereka ditempati orang lain. Tapi ternyata Atta tidak sepicik itu.


"Boleh, aku selesaiin pekerjaanku bentar!" jawab Ernes dengan senang hati.


Tak lama kemudian, sekitar setengah jam. Ernes telah menyelesaikan pekerjaannya. Segera dirinya dan Atta pergi ke supermarket untuk belanja bahan-bahan pokok dan kebutuhan untuk Aiko dan anaknya.


"Kita nggak makan dulu?" tanya Ernes yang sepertinya sudah mulai lapar.


"Makan nanti aja bareng sama sepupu kamu, nanti biar aku yang masak.." jawab Atta masih sibuk memilah-milah sayuran yang akan dia beli.


"Emang bisa?" tanya Ernes meragukan Atta.


"Bisa dong, aku dari kecil sudah dilatih mandiri oleh ibu. Cuma masak mah kecil.." masak memasak adalah kegiatan Atta sehari-hari. Ibunya sudah lama sakit-sakitan, jadi mau tidak mau Atta yang menggantikan peran ibunya sebagai ibu rumah tangga, termasuk memasak.


"Masa?"


"Hmm, aku paling pintar masak cumi asam pedas. Kamu pasti akan ketagihan.." kata Atta dengan sombong.


"Cumi???"


Atta menganggukan kepalanya. "Hmm, kamu pasti ketagihan deh aku yakin.." ucapnya.


Ernes hanya tersenyum kecil. Dia masih setia mengikuti kemana Atta pergi. Selain sayuran, Atta juga membeli beberapa buah-buahan. Dia tahu jika wanita hamil harus banyak makan makanan yang mengandung vitamin.


"Banyak banget.." ucap Ernes.


"Kita kan nggak tahu sampai kapan sepupu kamu akan bersembunyi, jadi kita sediain makanan yang cukup untuk dia dan anaknya." jawab Atta yang membuat Ernes senyum lagi.


"Paling besok dia udah pulang. Aku tahu dia masih sangat mencintai suaminya." ucap Ernes.


"Dia mungkin perlu menenangkan diri dan pikiran sebelum menyelesaikan masalahnya. Karena jika menyelesaikan masalah dengan emosi, tidak akan pernah menemui jalan keluar.." Ernes setuju dengan perkataan Atta. Karena dia tahu betul seperti apa perjalanan cinta Aiko dan Rakha.


"Tapi aku masih nggak nyangka jika Rakha bisa lakuin hal itu.." Ernes belum percaya sepenuhnya jika Rakha mengkhianati pernikahannya dengan Aiko.


"Setiap orang bisa berubah, entah itu menjadi lebih baik atau justru menjadi buruk. Dan kita tidak bisa menebak isi hati seseorang hanya dari penampilan luar.." kata Atta.


"Iya juga sih.."


Keduanya kemudian pergi ke apartemen mereka yang saat ini dipakai oleh Aiko dan Cio.


Ting tong!


Ting tong!


Dua kali mereka memencet bel sampai akhirnya Aiko membuka pintu untuk mereka. "Hai, Nes.." sapa Aiko dengan senang.


"Hai.." Aiko juga menyapa Atta yang datang bersama dengan Ernes. Aiko menebak jika wanita disebelah Ernes tersebut pasti calon istri Ernes.


"Hai,, kenalin aku Atta..." Atta menyambut baik sapaan Aiko. Dia pun langsung memperkenalkan diri.


"Aku Aiko, sepupunya Ernes.."


"Pinter juga si Ernes cari istri.." ucap Aiko dengan tersenyum senang.


Mereka kemudian masuk untuk mengobrol agar bisa lebih mengenal satu sama lain, karena mereka segera akan menjadi saudara.


Aiko menceritakan masa kecil Ernes kepada Atta. "Dia tuh orangnya bukan dingin ya sebenarnya, tapi pemalu. Saking pemalunya, dia tuh jarang sekali berbaur dengan orang lain, makanya banyak menganggap jika karakter dia tuh dingin, padahal nggak tuh." kata Aiko.


Awalnya Atta juga mengira demikian. Tetapi setelah mengenal Ernes lebih dekat, Atta memiliki penilaian yang sama dengan Aiko.


"Dulu dia sering banget di bully karena sikap pemalu itu. Aku yang selalu belain dia saat diganggu, sampai suatu ketika, giliran aku yang diganggu sama teman-teman yang lain, dia marah dan menghajar mereka sampai babak belur.." Aiko tertawa bahagia saat menceritakan kenangan masa kecil mereka.


Ernes pun hanya tersenyum kecil mengingat kenangan masa kecilnya bersama dengan Aiko. Bagi Ernes, kenangan itu kenangan paling indah dalam hidupnya.


"Tapi, aku nggak nyangka sih kalau dia bisa jadi pebinis yang disegani, dan rumornya dia cukup kejam.." imbuh Aiko.


"Nggak juga, mereka yang berlebihan. Aku tetap sama, Ernes yang lembut dan penyayang." jawab Ernes menyangkal rumor yang beredar.


Setelah lama mengobrol. Atta meminta Aiko dan Ernes melanjutkan obrolan mereka, sementara Atta akan memasak makan malam untuk mereka semua.


Atta mulai sibuk di dapur menyiapkan makan malam. Dia ingin menunjukan keahliannya kepada Ernes. Dan menunjukan jika dia bisa menjadi istri yang baik.


"Hmm dari baunya aja enak banget.." ucap Aiko.


"Ini cumi?" tanya Aiko lagi dengan terkejut.


"Hmm, cobain deh!"


"Kamu masak seafood semua?" tanya Aiko lagi dengan membulatkan matanya.


"Iya..."


"Tapi Ernes kan a-"


"Hemm baunya enak sekali, yuk kita makan!" Ernes segera mengambil nasi dan siap makan.


Atta melayani Ernes selayaknya seorang istri melayani suami. Dia mengambilkan nasi serta lauk pauk untuk Ernes serta menyiapkan minuman untuk Ernes.


"Makan Ai!" ucap Ernes kepada Aiko yang terus menatapnya dengan khawatir.


"Eh iya.." jawab Aiko kaget.


"Cio mau makan ini?" Aiko menyiapkan makan untuk putranya.


Tapi anehnya, sepanjang makan malam. Aiko terus menatap Ernes dengan khawatir. Apalagi saat melihat wajah Ernes yang mulai memerah.


"Nes,," gumam Aiko semakin khawatir.


Ernes hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya saja. Dan Aiko pun paham, dia lali menganggukan kepalanya pelan.


"Kenapa wajah kamu merah?" tanya Atta yang kaget melihat wajah Ernes tiba-tiba menjadi merah.


"Kamu kenapa?" tanya Atta semakin bingung karena nafas Ernes sudah tersengal-sengal.


"Aku nggak... nggak-" Ernes pun pingsan membuat Atta menjadi bingung.


"Ernes...." Atta menggoyang-goyangkan tubuh Ernes yang sudah tak sadarkan diri.


"Panggil dokter Ai, tolong panggil dokter!" seru Atta kepada Aiko.


Aiko segera memanggil dokter untuk datang ke apartemen tersebut. Tak lama dokter pun datang dan memeriksa Ernes. Dari hasil pemeriksaan, Ernes alergi terhadap makanan-makanan laut.


Atta pun menjadi menangis tersedu dan merasa sangat bersalah karena memaksa Ernes untuk memakan masakannya yang semuanya seafood.


Dokter mengatakan agar mereka tidak usah terlalu khawatir. Ernes sudah diberi obat dan akan bangun pada esok hari akibat pengaruh obat.


Atta yang merasa bersalah pun terus menjaga Ernes di sampingnya. Aiko mendekatinya setelah menidurkan anaknya. "Ernes tuh alergi sama makanan laut, tapi dia keren loh, demi tidak mengecewakan kamu, dia sampai berbuat sejauh ini. Itu artinya dia beneran suka sama kamu." ucapnya sambil memberi Atta minum. Sedari tadi Atta belum minum atau makan apapun sama sekali.


"Aku bener-bener nggak tahu." lirih Atta dengan sedih.


Aiko tersenyum kecil sambil mengelus punggung Atta. "Tolong jagain dia ya! Dia orang yang masih polos, dia memang kelihatan dingin tapi sebenarnya dia tuh baik dan lembut banget." ucap Aiko lagi.


"Kayaknya kalian deket banget ya?" tanya Atta.


"Hmm, saking deketnya banyak yang mengira jika kita tuh pacaran. Kan nggak mungkin, kita kan saudaraan." jawab Aiko sembari tersenyum.


"Tapi dia kelihatan perhatian banget sama kamu."


Aiko tertawa mendengar perkataan Atta. "Jadi tuh papaku dan papanya Ernes tuh kakak beradik, anak papaku itu dua, aku sama adik aku, anak pamanku itu ya Ernes sama adiknya, jadi dari keempat saudara ini aku cewek sendiri, jadi wajar kalau dia perhatian sama aku, bukan dia aja, si Gio juga perhatian sama aku." Aiko menjelaskan statusnya agar Atta tidak berpikiran berlebih.


"Boleh nanya nggak?" Aiko menganggukan kepalanya.


"Emang bener Ernes belum pernah pacaran sama sekali. Dia kan ganteng dan juga kaya, masa tidak ada yang mau sama dia?" Atta ingin mengenal Ernes lebih dalam lagi.


"Atau dia pernah suka nggak sama cewek gitu?"


"Sebenarnya banyak yang suka sama dia, hanya dianya aja nggak mau, nggak tahu karena apa.." Aiko menatap Ernes yang masih belum sadarkan diri.


"Ai, jangan nangis! Kamu tenang aja, aku nggak akan biarin siapapun sakitin kamu. Tahu kamu akan terluka, aku nggak akan pernah lepasin kamu!" tiba-tiba Ernes berbicara dalam keadaan mata tertutup.


Atta yang mendengar itu pun membulatkan matanya. Dia nggak salah dengar, dia mendengar jelas jika Ernes memanggil nama Aiko. Seketika Atta pun menoleh dan menatap Aiko.


"Dia... dia cuma ngingau aja.. nggak usah di dengerin! Kalau gitu aku istirahat dulu ya!" Aiko segera keluar dari kamar tersebut. Dia tidak mau semakin membuat Atta curiga.


Sementara Atta masih menatap Ernes yang kembali tak sadarkan diri dengan wajah bingung. "Aku yakin nggak salah dengar, aku jelas mendengar Ernes manggil Aiko. Kok aku jadi curiga ya sama hubungan mereka?" Atta terus menduga-duga.