
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
POV Arya.
Hari ini ada meeting bulanan para pemegang saham di perusahan Cakra Media Utama. Sudah setahun lebih saya bergabung di perusahaan itu. Tepatnya ketika Surya Airlangga Utama sebagai ayah Rasya hampir bangkrut dan meminta pada saya untuk membantu memulihkan kembali perusahaannya. Karena om Surya tak rela jika perusahannya yang ia bangun sejak lama ini gulung tikar. Ia ingin mewariskannya kepada anak tunggalnya. Rasya. Akhirnya semua berjalan lancar kembali. Bahkan laba setiap bulannya selalu meningkat.
Pagi ini saya bergegas menuju kantor itu. Awalnya saya memang tidak ada rencana untuk memberi tahu Rachel perihal ini. Biarlah ia tahu dengan sendirinya. Setidaknya sekarang saya jadi lebih mudah untuk terus bisa bertemu dengannya.
Memasuki ruangan kantor pagi hari ini membuat saya lebih bersemangat. Entah karena apa.
" Pagi pak Arya " sapa salah satu Receptionis kantor.
" Pagi " saya membalas sapaannya. " Eh bro tunggu" saya melihat Rasya datang menuju Receptionis.
" Nanti kalau lihat Pak Darma suruh langsung keruang meeting aja ya " suruh Rasya pada salah satu wanita yang duduk dibelakang meja Receptionis itu. " Kenapa Ar" tanya nya.
" Rachel udah datang? "
" Kan gue juga baru Dateng, belum naik keatas" jawab Rasya.
Kami berjalan menuju lantai dua tempat ruangan kerja kami. Terlihat Rachel berjalan agak tergesa-gesa.
" Rachel, ko telat? " tanya Rasya padanya.
Rachel membalik badannya dan terlihat gugup. Mungkin dia bingung kenapa saya bisa ada di kantor sepagi ini.
" Ko jadi kaget ngeliat Arya? Bukannya kalian sering ketemu?" Tanya Rasya.
" Oh jangan-jangan kamu ga tau ya hel, kalo Arya ini pemilik saham juga disini" lanjutnya. Rupanya benar, sekarang ia terlihat makin gugup.
" Pagi ini ada meeting bulanan, dan bos kita yang satu ini datang kekantor kalau ada meeting doang" ujar Rasya sambil menepuk pundak saya. Saya hanya bisa tersenyum puas melihat Rachel kebingungan.
"Nanti kamu handle kerjaan saya untuk hari ini ya" jelas Rasya lagi. Saya dan Rasya berlalu meninggalkannya menuju ruangan kerja.
Hampir lupa, saya membawa beberapa bungkus roti coklat kesukaan Rachel. Saya tahu pasti dia ga sempat sarapan tadi. Kembali saya menemui Rachel dimeja kerjanya yang terlihat masih kebingungan.
" Sarapan dulu, nanti sakit. Cuma sarapan senyum saya aja ma ga cukup, jam 9 juga udah laper lagi" rupanya kehadiran saya cukup mengagetkannya.
" Ah i..iya pak " jawabnya gugup. " Pak,..."
" Jangan lupa dhuha nya nanti, kalo mau bilang makasih nanti aja" sayapun berlalu meninggalkannya.
Jam menunjukan pukul dua belas lebih tiga puluh menit. Rachel masih terlihat sibuk dengan kerjaannya.
[ Istirahat makan siang dulu, kerjanya lanjut nanti lagi. Nanti kalau sakit saya yang repot] satu pesan terkirim untuk Rachel.
Bukannya segera dia keluar ruangannya untuk makan siang malah terlihat senyam-senyum sendirian.
' dasar wanita aneh'
[ Malah senyum-senyum sendiri, buruan makan siang] satu pesan terkirim lagi untuknya.
Sudah hampir lima jam saya berada diruang meeting ini. Dan rapatnya pun masih belum selesai. Bosan. Saya bergegas keluar untuk kembali keruangan.
Terlihat seorang wanita berada didalam ruangan kerja saya.
Wanita itu mengenakan dress selutut warna merah dan setengah terbuka bagian atas. Ditambah rambut panjang hitam bergelombang yang dibiarkan terurai. Iris matanya berwarna coklat, hidung mancung, berkulit putih bersih serta tubuh ramping dan mulus menambah keelokan wanita tersebut.
Ia Ruby Kheswari, wanita turunan Indonesia-Belanda itu sudah menunggu sejak tadi.
"Hey, Ar. Lama banget sih meetingnya" sapanya ketika melihat saya masuk ruangan.
"Lumayan"
"Ya ampun bujangan ini kalau pakai dasi suka asal deh, sini aku benerin"
Tak sempat menolaknya, Ruby mendekat sambil mengencangkan dasi yang melingkar dileher. Terlihat Rachel lewat depan ruangan. Saya tak ingin dia punya fikiran yang aneh, dengan segera saya menjauh dari Ruby.
" Maaf, saya bisa sendiri "
Seketika Ruby kembali ke kursinya. Ruby datang untuk menanyakan kontrak kerja yang telah kami sepakati sebelumnya.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
" Sya, kenapa dari awal ga bilang kalo Arya punya saham disini? " Tanyaku pada Rasya yang sejak tadi masih sibuk dengan komputernya.
" Hmmm.. "
Astaga pertanyaanku tak dijawab. Salahku memang ngajak ngobrol orang yang lagi sibuk dengan pekerjaannya.
" Sebentar " lanjutnya.
Aku men-minimize semua program dikomputerku dan bersiap keruang pantri untuk membuat secangkir coffe latte.
Sepertinya hari ini aku akan over time, karena masih ada setumpuk kerjaan yang belum terselesaikan. Sambil meletakkan secangkir coffe latte aku kembali duduk menghadap komputer di meja kerjaku.
" Alhamdulillah Ya Allah, berhasil Hel " teriak Rasya dari depan komputernya.
" Apa si Sya?" Tanyaku kebingungan.
" Kita menang tender. Nilainya ratusan M" jelasnya. " Berkat Arya, dia yang maju sendiri ketemu pemiliknya langsung. Tahu kan Kheswar Aditama Grup? "
" Engga " jawabku lugu. Ya emang ga tahu. Terlihat Rasya tertawa mendengar jawabanku. Aku masuk dunia kerja baru beberapa Minggu. Jangankan perusahaan lain, pimpinan perusahan ini aja aku baru tahu hari ini. Payah memang.
" Ya udah nanti aja jelasinnya, eeh tadi kamu nanya apa soal Arya? "
" Sudahlah ga usah di bahas " tiba-tiba hilang mood ku untuk membahas Arya.
Mendadak aku kesal ketika mengingat kejadian siang tadi. Arya bersama wanita lain. Jangan kalian kira kalau aku kesal karena cemburu. Aku kesal karena terlalu banyak wanita yang dia dekati. Dan terlihat terlalu sering berkencan dengan banyak wanita.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Aku tiba dirumah sekitar pukul sembilan malam. Sebenarnya perjalanan kantor-rumah bisa ditempuh hanya dua puluh menit, tapi karena padatnya jalanan pada malam hari membuat ku terjebak kemacetan. Sungguh melelahkan.
Malam ini ku putuskan untuk tetap mandi. Tak peduli untuk semua petuah atau mitos tentang larangan mandi malam. Karena aku tidak akan bisa tidur dengan keadaan badan yang lengket karena berkeringat seharian.
Setelah itu aku kembali ke kamar, rasanya ingin langsung rebahan di kasur melepas penat setelah seharian bergelut dengan tumpukan kertas tadi. Tiba-tiba mataku menangkap sebuah tulisan yang memang sengaja aku tulis di kertas dan ku selipkan di frame cermin kamarku. " Jangan lupa baca Alquran". Aku pun hampir lupa, kapan terakhir kali aku menyentuh mushaf Alquran itu.
Akhirnya aku bangkit dan melawan rasa lelah sebentar saja untuk membaca surat cinta dari sang pencipta itu.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Anggaplah patah hatimu kemarin sebagai bentuk keriduan-Nya. Bahwa Allah lebih mencintaimu dari dia yang kamu cintai.
🌷 Jazakumullah Khair 🌷
🌷 Terimakasih sudah menyempatkan membaca 🌷
🌷 Jangan lupa votenya 🌷
Jadikanlah Alquran sebagai bacaan utama.