SOULMATES

SOULMATES
Menata Hati



بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


Kau pandai membuatku jatuh hati, dan aku sangat bodohdalam mengendalikan hati


🌷🌷🌷🌷🌷


Aku melangkahkan kaki kedalam kantor setelah memarkirkan motor ku ditempat parkir. Entahlah kenapa aku merasa Senin ini akan menjadi hari yang berat, belum lagi sebelumnya aku harus mengantar Luna kesekolahnya terlebih dahulu sehingga membuat ku harus terburu-buru berangkat kerja kali ini. Walaupun agak sedikit telat semoga aku tidak sampai membenci hari Senin.


Karena yang aku tahu, pintu surga itu dibuka setiap hari Senin, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam juga lahir pada hari Senin. Dan konsep I hate Monday itu tak pernah ada dalam Islam.


Aku menaiki tangga menuju lantai dua tempat ruangan kerjaku.


" Rachel, ko telat? " terdengar suara yang familiar dari belakang ketika aku berjalan menuju meja kerjaku. Aku gugup dan berbalik badan. Aku mematung bingung. Astaga, kenapa ada pak Arya disini. Ya, sedang berjejer dengan Rasya.


Setelan jas hitam dengan kemeja navy dan celana hitam serta dasi yang membuat penampilan nya semakin stylish. Belum lagi aksesoris jam tangan merek Casio Edifice dan sepatu hitam mengkilap. Mungkin cocok jika dijadikan karakter CEO dingin berwajah karismatik yang suka muncul dalam novel-novel romance. He's getting a very perfect look!.


" Ko jadi kaget ngeliat Arya? Bukannya kalian sering ketemu?" Tanya Rasya.


" Oh jangan-jangan kamu ga tau ya hel, kalo Arya ini pemilik saham juga disini" lanjutnya.


Apa? Pantas saja dengan mudahnya aku bisa kerja ditempat ini. Rupanya ada campur tangan makhluk itu. Kata-kata Rasya barusan semakin membuat aku tak karuan. Ini seperti olah raga jantung pagi-pagi.


" Pagi ini ada meeting bulanan, dan bos kita yang satu ini datang kekantor kalau ada meeting doang" ujar Rasya sambil menepuk pundak Arya yang sedari tadi hanya senyum senyum menatap kebingunganku.


"Nanti kamu hendle kerjaan saya untuk hari ini ya" jelas Rasya lagi. Aku hanya bisa manggut-manggut dan seketika kedua lelaki itu pergi berlalu meninggalkanku.


Aku kembali ke meja kerja ku, rasanya mau ngacak - ngacak rambut ku yang tertutup hijab ini. Di kampus ada Arya, di kantor ada Arya. Rupanya dia yang mengatur semuanya supaya aku tetap dalam pandangannya. Aku menghela nafas panjang.


Aku langsung menyalakan komputer di meja kerjaku dan mulai mengerjakan laporan keuangan yang sudah tertumpuk dari Sabtu.


" Sarapan dulu, nanti sakit. Cuma sarapan senyum saya aja ma ga cukup, jam 9 juga udah laper lagi" ujar seseorang yang tiba-tiba datang ke mejaku sambil meletakkan sekantung plastik berisi roti isi coklat kesukaanku.


Astaghfirullah, dia datang kembali membuyarkan lamunanku.


" Ah i..iya pak " jawabku gugup. " Pak," belum sempat aku mengucapkan terimakasih, ia sudah berlalu begitu saja.


" Jangan lupa dhuha nya nanti, kalo mau bilang makasih nanti aja" ucapnya sambil berlalu.


Kau pandai membuatku jatuh hati, dan aku sangat bodoh dalam mengendalikan hati.


Kuakui dari dulu dia memang pandai mengambil hati ku. Apapun akan dia lakukan untuk membuatku senang. Itulah kenapa saat ia menikah dengan Sasya, aku sangat-sangat kehilangannya.


Bisa dibayangkan, saat lagi sayang-sayangnya ditinggalkan begitu saja. Ditinggal nikah pula. Hampir dua tahun aku mencoba menata hati kembali.


Dan sekarang, dia kembali masih dengan cinta yang sama. Lalu bagaimana dengan mas Tira? Yang katanya mau datang ke Jakarta untuk menemui ku? Aah biarkan saja seperti ini dulu. Setidaknya sampai Mas Tira menepati janjinya.


Jika salah satu dari mereka bukan yang terbaik, pasti perlahan akan hilang dengan sendirinya. Atau mungkin dua-duanya yang akan menghilang.


Entahlah, biar ku serahkan semuanya pada yang mempunyai rencana.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Triingg..


[ Istirahat makan siang dulu, kerjanya lanjut nanti lagi. Nanti kalau sakit saya yang repot] satu pesan dari Arya.


Astaga, perhatian kecil ini yang kadang membuat aku senyum-senyum sendiri.


[ Malah senyum-senyum sendiri, buruan makan siang] pesan berikutnya masih dari Arya. Rupanya dia memperhatikanku dari ruangan sebelah. Karena semua ruangan terbuat dari kaca, sehingga dengan mudahnya ia memperhatikanku dari dalam ruang meeting itu.


'Dia yang repot katanya? memang dia siapa? ' fikirku.


Dengan segera aku keluar ruangan menuju food court dekat kantor sebelum dia keluar dari ruang meeting itu.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷


" Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk wanita yang keji pula. Dan wanita yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk wanita yang baik pula." (QS. Annur:26).


Dalam firman Allah SWT menjelaskan bahwa Allah memberikan jodoh berdasarkan akhlak hambaNya. Karena itulah kita harus memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu agar kelak mendapatkan jodoh yang baik sesuai pilihanNya.


Jodoh dalam Islam adalah cerminan diri. Jika orang itu baik, insyaallah akan mendapatkan jodoh yang baik pula. Begitu pun berlaku sebaliknya.


Jika seseorang itu baik tapi mendapatkan jodoh yang belum sebaik dirinya, mungkin itu merupakan salah satu ujian dari Allah SWT untuk menguji seberapa besar iman kita kepadaNya. Hanya Allah yang maha mengetahui.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Istirahat makan siang ku telah usai. Shalat Dzuhur di mushola kantor pun sudah aku tunaikan. Waktunya kembali ke tumpukan kertas yang masih setia di meja kerjaku.


Aku berjalan di koridor menuju ruanganku. Ruang kerja ku terletak diujung dekat ruang meeting dan pantri. Sehingga untuk sampai kesana melewati beberapa ruangan lainnya, termasuk ruangan Arya sebagai bos besar disana.


Terlihat ruangannya sudah kembali terang, tandanya meeting nya pun sudah selesai dan ia sudah kembali ke ruangannya. Tapi, ia tidak sendiri. Terlihat dia sedang berdiri berhadapan dengan seorang wanita. Seperti sedang ada yang dibicarakan serius. Sesekali wanita itu merapihkan dasi yang dikenakan Arya. Dan bisa ku pasti kan wanita itu bukan salah satu kariyawan perusahaan ini. Mungkin tamunya.


Sadar akan kedatanganku, Arya pun terlihat canggung dan segera menjauh darinya.


'kalau mau romantis-romantisan jangan dikantor coba, ga sadar apa setiap ruangan disini terbuat dari kaca. Mau ngapain juga pasti kelihatan dari luar ' dengus ku kesal sambil berlalu meninggalkan ruangan itu.


'Astagfirullah' sambil mengusap dada jangan kubiarkan setan menguasai hati dan fikiranku.


Dengan cepat aku berjalan menuju ruangan kerjaku sebelum aku kembali melihat hal yang tidak ingin aku lihat.


Harusnya aku tak bekerja di perusahaan ini. Jika saja aku tahu kalau perusahaan ini miliknya juga, aku akan menolak tawaran Rasya saat ia meminta ku untuk bekerja disini.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷


🌷Jazakumullah khair 🌷


Terima kasih sudah menyempatkan membaca


🌷Ditunggu part selanjutnya ya 🌷