
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Akan selalu ada alasan kenapa rasa bisa hinggap, tanpa permisi. Sekalipun hanya dengan tatapan dan senyum di pertemuan pertama.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Cuaca siang ini agak terik. Aku mengendarai motor Scoopy warna merah dengan cepat. Rasanya sudah tak sabar untuk memberi tahu Arya tentang kabar gembira ini. Mulai besok aku sudah bisa mulai kerja di perusahan itu sebagai admin Accounting dan Rasya sendirilah yang menjadi Accounting Manager nya . Selepas lulus SMA, Rasya melanjutkan kuliahnya sambil belajar memegang jabatan itu. Orang tua nya sendiri yang meminta ia untuk mengurus keuangan perusahaannya. Semoga ini awal yang baik untuk ku. Lumayan untuk tambahan uang jajan dan pengalaman di dunia kerja.
Selesai interview ini Arya memintaku untuk menemuinya disalah satu cafe dekat kampus. Tak butuh waktu lama untuk menyelusuri jalan menuju cafe itu.
Mata ku berkeliling menjelajah setiap sudut cafe untuk mencari Arya. Dan aku menemukannya di kursi pojok dekat jendela. Lelaki yang tengah mengenakan kaos polos ditambah dengan balutan kemeja flanel yang sengaja tak di kancingi dan celana jeans yang sobek dibagikan lututnya. Astaga, bagaimana tidak menjadi incaran para mahasiswi nya kalau style dosennya seperti itu.
" Astaghfirullah pak dosen, ingat umur lah " ucapku yang agak mengejutkannya. Lelaki itu mengangkat kepalanya dan tersenyum kepadaku. Bohong kalau aku tidak terpesona dengannya setiap kali dia melempar senyum termanisnya.
"Apa si hel, ada yang salah sama pakaian saya? " Tanyanya kebingungan. " Datang-datang bukanya ucap salam, malah nyebut kayak abis liat hantu " omelnya.
"Oiya, Assalamualaikum pak dosen" aku sedikit menghela nafas . "Ni ya pak, Bisa aku Pastikan kalau bapak ke kampus dengan pakaian seperti ini pasti hampir semua mahasiswi mengejar sambil teriak manggil-manggil nama bapak"
" Waalaikumsalam cantik " jawabnya sambil menggeser kursi disebelahnya dan mempersilahkan ku untuk duduk.
" Bagus donk, berarti mereka semua mengakui kalau saya itu dosen tampan. Dan kamu menjadi salah satu mahasiswi yang paling beruntung karena bisa dekat dengan saya" jawabnya sambil mencoba menarik hidungku , tapi segera ku tepis.
Kalau ada penghargaan atas nominasi dosen paling narsis, mungkin dialah pemenangnya. Dari awal aku mengenal sifatnya memang sudah seperti itu. Narsis dan senang memuji diri sendiri.
" Bagaimana interview nya non? " Tanya nya lagi.
" Alhamdulillah besok udah bisa mulai kerja pak " jawabku sambil membaca lembaran menu di cafe ini.
" Rachel, dengerin saya ya. Berhenti manggil saya dengan sebutan pak atau bapak "
" Ga bisa, kan sekarang udah jadi dosen. Sebagai mahasiswi yang baik, saya harus menghormati bapak sebagai dosen disini" sengaja aku meledeknya. " Mas " lanjut ku memanggil salah satu pelayan cafe. " Mau coffe latte pake es ya " pesanku.
" Hel, nikah yuk " ucapannya mengagetkan ku.
Aku terdiam. Untung tak lama pelayan cafe datang membawa coffe latte pesanan ku.
" Hel, saya serius " lanjutnya dan kemudian terdiam beberapa saat. " Masa kamu tega nganggurin lelaki matang mapan tampan seperti saya ini"
Nikah??? Umurku baru 21 tahun udah ada yang ngajak nikah. Dua orang sekaligus lagi. Mimpi apa aku semalam.
" Duh pak, kalau saya nikah sama bapak nanti setiap hari kepala saya bisa ngebul karena kebanyakan cemburu sama para mahasiswi yang ngejar-ngejar bapak nanti" jelas ku sambil memainkan handphone.
" Ayolah hel, tahun depan umur saya udah 31. Kamu mau saya nunggu kamu berapa tahun lagi? " Sambil menatapku. Bagaimana bisa lelaki itu dengan entengnya mengatakan hal yang sama sekali tidak pernah terbayangkan olehku. Ngajak nikah kok kayak ngajak ngopi bareng.
Aku tahu kamu laki-laki yang keras kepala. Namun ada satu waktu aku begitu mengagumimu caramu memperlakukan ku. Membuat ku merasa, ya aku ini besar di hati kecil mu.
Terdengar suara ponselnya berbunyi. Tak lama dia minta ijin untuk mengangkat panggilan dari ponselnya dan kemudian menjauh dari ku.
Astaga aku lupa memberi kabar mas Tira. Dan tidak seperti biasanya, dari pagi sampai sesiang ini belum ada kabar dari nya. Aku mengeluarkan ponselku dari dalam saku dan membuka profil dari sosial medianya. Tak terlihat insta story' dan WA story' terbaru dari nya. ' mungkin dia sibuk hari ini' fikir ku.
Aku hanya bisa menatap nanar punggungnya dari kejauhan. Sejujurnya ada yang ingin ku ceritakan perihal Mas Tira kepadanya, tapi bisa ku pastikan dia akan menolak keras dan memintaku untuk menjauhi mas Tira. Ya aku tahu betul bagaimana sifatnya. Baiknya ku urungkan niat ku untuk menceritakan kepadanya.
Ku serahkan semuanya pada waktu. Kepada siapa nantinya aku akan melabuhkan cinta ini.
Apakah aku jahat membiarkan Arya tetap berada di sisiku sementara aku sendiri sedang menunggu kepastian dari mas Tira. Apa sebenarnya aku masih mencintai Arya?
" Ko melamun? " Ucap Arya yang tiba-tiba menepuk pundak ku dari belakang. "Kayaknya saya harus pergi duluan. Pak Diar meminta saya menggantikannya mengajar dikelasnya nanti jam dua. Dia lagi ada perlu katanya " lanjutnya sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Aku tersenyum lalu mengangguk. " Baiklah, setelah ini juga aku mau pulang "
" Kamu hati-hati ya, kabari saya nanti. Besok kita lanjutkan obrolan yang tadi " Tak lama kemudian dia menghilang dari pandanganku.
Sepuluh menit setelah Arya pergi aku memutuskan untuk beranjak dari tempat ini dan pulang kerumah. Semakin siang cuaca semakin tambah terik, ini membuat aku memacu sepeda motor dengan cepat. Tak sengaja aku melihat Arya keluar dari sebuah mini market seberang kampus dengan seorang wanita cantik. Entahlah siapa, aku tidak mengenalnya. Sengaja aku berhenti diseberang mini market tersebut berharap dia melihatku. Tapi nyatanya, Arya tidak menyadari keberadaan ku disini. Sudahlah, biarkan saja. Aku kembali melanjutkan perjalanan pulang. Sebelum kulitku mulai terbakar matahari karena panas teriknya semakin menyengat.
' masih belum berubah ternyata ' .
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Ditunggu krisan nya 😊🙏
Jangan lupa vote nya ya 😊🌷