
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Tuhan memang merancang apa yang akan kita lalui, tapi yang menentukan bagaimana kita melewatinya.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Seminggu sudah aku bekerja di perusahaan ini. Tak sulit bagi ku untuk beradaptasi dengan lingkungan kantor dan pekerjaan ini. Selama itu juga aku belum menyentuh skripsi ku dan bimbingan ke kampus lagi.
Sudah seminggu pula aku tidak bertemu Arya, setelah aku melihatnya didepan mini market waktu itu, dia tak ada menghubungi ku. Biarlah, bukannya aku sudah terbiasa tanpa nya selama dua tahun kemarin sebelum dia kembali lagi. Jadi aku mencoba untuk bersikap biasa saja.
Aku berniat pergi ke toilet sekedar untuk membasahi wajah dan meluruskan kaki. Duduk terlalu lama membuat pinggang ku sedikit terasa sakit. Tapi setidaknya aku harus merasa bersyukur, banyak orang yang menginginkan pekerjaan yang hanya duduk di ruang ber-AC dan hanya menatap layar komputer. Namun setiap pekerjaan memiliki resikonya masing-masing.
Teringat kembali seminggu yang lalu saat aku bercerita pada kedua orang tua bahwa aku sudah diterima kerja.
" Bagus dong, berarti ada yang bantuin uang listrik sama uang belanja. Terus berarti udah ga dapet jatah uang jajan ya, kan udah bisa cari duit sendiri " ujar ketus ibu. Aku hanya bisa terdiam saat ibu bicara seperti itu. Sudahlah, bukankah tugas seorang anak itu membahagiakan orang tuanya. Aku anggap dengan cara ini bisa meringankan beban mereka.
Aku mengeluarkan ponselku dari dalam saku ketika ku rasa benda itu terasa bergetar. Rupanya ada nama Arya muncul disana. Sempat aku berfikir kalau Arya sudah menghilang dan ga akan muncul di hidupku lagi. Ternyata perkiraan ku salah.
" Ada apa? " Tanya ku menjawab panggilannya.
" waalaikumsalam.. " katanya mengejek, sekaligus mengingatkan bahwa aku lupa mengucap salam.
" Assalamualaikum, ada apa pak? " Tanyaku kesal. Ya kesal, dengan seenaknya saja dia hilang lalu kembali lagi hilang lagi dan kembali lagi begitu saja terus sampai kepala Upin Ipin tumbuh rambut.
" Waalaikumsalam, sudah jam pulang kan? Saya tunggu dibawah ya" jawabnya.
Apa ? Jangan bilang dia datang untuk menjemput ku. Segera aku kembali ke meja kerja ku dan merapihkan lembaran kertas yang masih berserakan. Jam menunjukan pukul 16.20. artinya sudah lewat dua puluh menit jam kerja ku berakhir. Segera aku menemui Arya yang sudah menungguku di bawah.
" Ko tahu kalau aku belum pulang? " Tanyaku padanya.
" Rasya, udah cepet ayo naik" bujuknya.
Aku masuk kedalam mobil Yaris keluaran terbaru warna Citrus Metalic miliknya. Bisa ku tebak dia sengaja menjemputku mau pamer mobil barunya.
" Tadi sebelum kesini saya udah pamit sama ayah ibumu. Saya bilang mau ajak kamu jalan-jalan sebentar. Nanti kalau pulang terus kamu dimarahi bilang saya ya, biar saya yang bicara" ujarnya. " Tapi bisa saya pasti kan ayah dan ibu mu nggak akan marah sih, karena kamu jalannya sama orang ganteng" lanjutnya lagi.
Astaga, mau muntah aku mendengarnya. Lagi-lagi dia narsis.
" Aku mau pulang aja pak, capek" bujuk ku padanya. Aku memang lelah, lelah duduk seharian didepan komputer dan sekarang harus duduk lagi didalam mobil ini.
" Tidur aja dulu, nanti kalau sudah sampai saya bangunkan, tenang aja, nggak akan saya culik"
Andai kamu tahu, aku suka caramu memperlakukan ku. Membuatku selalu merasa istimewa. Satu hati meminta kau untuk jangan lagi pergi. Tapi satu hati lainnya berusaha untuk menolak kedatangan mu kembali.
Aku tidak sadar sudah berapa lama aku terlelap. Aku melihat ke samping Arya masih fokus dengan setirnya. Langit pun telah berubah menjadi gelap. Keadaan jalan diluar cukup ramai. Banyak para pengendara motor dan mobil mencoba saling mendahului. Mataku tertuju pada satu tulisan. Dago, Bandung.
" Bandung? Kita mau ngapain pak kesini?" Tanya ku penasaran.
" Kita berhenti Magrib dulu ya, nanti kita lanjut lagi" katanya tanpa menjawab pertanyaan ku. Ia memarkirkan mobilnya didepan sebuah masjid. Gemas aku melihat tingkahnya.
Lima belas menit kemudian kami sudah kembali ke dalam mobil. Dan aku masih tidak tahu mau kemana tujuan kami.
Triiingg..
[ Assalamualaikum. Bagaimana kabarmu hari ini Sha? Maaf saya baru menghubungi mu. Saya baru selesai mengurus visa dan pasport untuk pulang ke Jakarta ] satu pesan dari mas Tira ku terima.
" Pesan dari siapa?" Tanya Arya padaku. Mungkin dia penasaran karena melihatku senyum-senyum membaca pesan ini.
" Kepo" jawabku sambil meledeknya.
[ Waalaikumsalam. Kapan tepatnya mas akan balik ke sini? ] Aku hanya ingin memastikan
Supaya aku bisa sedikit meluangkan waktu ku untuk bisa mempersiapkan hati bertemu dengannya.
[ Surprise dong. Nanti saya kabari kalau sudah di Jakarta saja ya. ]
" Sudah sampai, yuk turun " ajak Arya sambil merebut ponsel ku dan menonaktifkannya lalu memasukan kembali ke dalam tas ku. Ah ada saja kelakuan lelaki ini. Aku mendengus kesal.
Deretan pohon Pinus berjejer menjulang tinggi. Suasananya remang-remang dan sunyi. Yang terdengar hanya suara binatang-binatang malam. Lampu-lampu kecil yang berjejer di pinggir jalan yang tidak lebar itu cukup memberi penerangan sepanjang jalan.
" Saya tahu otak kamu butuh ketenangan dan udara segar. Makanya saya ajak kesini " ujarnya sambil menaikan resleting jaketnya. Jangan tanya seberapa dinginnya kota Bandung malam hari. Benar-benar suasana yang sulit ditemukan lagi di Jakarta.
Dari atas ketinggian terlihat hamparan lampu-lampu yang berasal dari rumah penduduk di bawah sana. Saat mengadah ke atas, terlihat hamparan ribuan bintang-bintang bertebaran. Puncak Bintang. Tempat ini Sesuai dengan namanya. Masyaallah cantiknya. Tak henti-hentinya aku mengucap asma Nya. Mahakarya terindah dari sang pencipta. Begitu takjub aku melihat keindahan ciptaanMu yang maha sempurna. Menikmati keindahan kota Bandung dari atas Puncak Bintang membuatku sedikit melupakan kepenatan kota Jakarta yang padat.
Terimakasih sudah membawa ku kesini. Lagi-lagi aku suka dengan caramu memperlakukan ku.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Jangan lupa vote nya yaa.. 😊🌷