
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
🌷🌷🌷🌷🌷
Rotterdam, 08.00 pm
Tira kembali kerumahnya setelah lelah seharian bekerja di pelabuhan karena disibukan dengan bongkar muat barang yang masuk dari negara lain. Kehidupan Tira sudah bisa dibilang mapan, dia sudah mandiri dari usia 20 tahun. Kedua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan beruntun ketika ia berumur 18 tahun. Semenjak itu dia merantau ke Belanda supaya bisa melupakan memori-memori indah bersama keluarganya di Jakarta. Dia menitipkan adiknya pada tantenya. Karena pada saat itu adiknya masih sekolah. Rumah peninggalan orang tuanya di Rotterdam ini cukup besar. Di rumah ini dia hanya tinggal bersama para pekerja yang sudah ikut dengannya sejak ia kecil, bahkan sudah ia anggap sebagai keluarganya sendiri. Tapi harta yang melimpah ini merupakan suatu tanggung jawab yang berat baginya.
Tira menggantung kemeja hitamnya dikamar, kemudian ia duduk dan menenggelamkan kepalanya di antara kedua lipatan tangannya yang ia taruh diatas meja. Sekedar melepas penat karena seharian disibukan dengan pekerjaannya. Kemudian tak lama ia bangkit untuk melupakan urusan dunia sejenak. Setelah menggelar sajadah nya dan sholat, Tak lupa ia selalu panjatkan doa untuk kedua orang tua nya dan meminta kepadaNya untuk segera dipertemukan oleh jodohnya.
Jika benar Rachel adalah wanita yang Engkau kirim kan untuk menjadi jodohku, mudahkanlah. Jaga ia untukku, dan ijinkan lah hamba mu ini bertemu dengannya. Tapi jangan biarkan kecintaan ku padaMu pudar karena kehadirannya .
Dilihatnya jam menunjukan pukul 8 malam waktu Rotterdam. Berarti di Indonesia sekitar jam 2 dini hari. Biasanya jam segini Rachel selalu bangun untuk sholat malam.
[ Assalamualaikum.. sudah bangun shalat tahajud? ] Terkirim pesan Tira untuk Rachel.
Dua menit kemudian.
[ Waalaikumsalam, baru bangun mas. Baru pulang ya mas? ]
[ Ya, saya istirahat dulu ya ]
Terimakasih untuk sedikit perhatian ya Rachel, setidaknya itu bisa menjadi kan obat penatku hari ini. Semoga Allah segera mengabulkan doa ku malam ini.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Kubuka jendela kamarku selebar mungkin, dan kubiarkan cahaya pagi masuk kedalamnya. Ku ambil nafas panjang untuk menghirup udara pagi hari yang katanya bagus untuk kesehatan.
Triiingg
[ Pagi Rachel, mau ke kampus hari ini? Aku jemput ya? ] Satu pesan baru ku terima dari Arya.
Oh ya, aku lupa kalau mulai sekarang aku sudah bisa memaafkan dia. Nampaknya sekarang aku lebih lega. Seperti sudah tidak ada yang mengganjal di hatiku.
Belum sempat aku membalasnya. Lagi - lagi handphone ku berdering.
~ Arya Calling ~
" Assalamualaikum. Baru mau di balas " sapa ku pada lelaki diseberang sana.
" Waalaikumsalam. Jam berapa mau ke kampus?" Tanya nya.
Sebenarnya hari ini tak ada jadwal ke kampus, tapi sepertinya kalau aku tetap di rumah pun akan menambah masalah.
" Jam 9 an lah mas, aku mau bantu ibu beberes rumah dulu. Kalau tidak, aku bisa di jutekin seharian. "
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Pukul 09.00
~Mas Tira calling~
"Assalamualaikum " sapa ia dari sebrang sana.
" Waalaikumsalam mas " jawab ku.
" Mau kemana hari ini? "
Rasanya sudah menjadi kewajiban untuk memberi laporan setiap pagi tentang kegiatan ku seharian kepadanya.
" Ke kampus aja mas, ada yang harus diselesaikan , mas gimana? " Tak mungkin aku memberi tahu nya tentang apa yang terjadi padaku dan Arya.
" Saya akan ke kantor agak siangan, sepertinya saya sedikit kurang enak badan" jelasnya.
" Oke, kalo gitu hati-hati ya mas. Jangan lupa makan. Oh iya mas, kapan mau pulang ke Jakarta?" Tanyaku penasaran.
" Sabar, izinkan saya menunggumu dengan baik, agar kita dipertemukan diwaktu yang terbaik " katanya.
" Aamiin. Insyaallah mas " aku hampir lupa kalau Arya sedang menunggu ku. Segera ku akhiri panggilan ini. " Nanti ku telpon lagi mas, Assalamualaikum " ku akhiri dengan salam.
Yang ku tahu, mas Tira ada sosok lelaki idaman yang Sholeh, yang taat dalam ibadahnya. Tapi aku pun belum mengenalnya lebih jauh.
" Hai, Rachel " sapa Arya dari samping mobilnya. " Lama banget si, abis telpon siapa tadi?" Lanjutnya.
" Rahasia " ledek ku sambil menjulurkan lidahku.
" Gimana kabar ibu dan ayah? " Tanya Arya.
" Baik "
" Kalau adik mu?"
" Baik juga " masih ada perasaan canggung ketika harus kembali berbincang dengannya.
" Saya belum pernah merasakan lebih baik dari ini sebelumnya hel, makasih ya " Arya tersenyum sambil menyodorkan setangkai bunga mawar putih. "Untukmu". Masih dengan senyum yang sama seperti dulu. Aku menunduk dan menutup wajahku dengan telapak tangan. Melihat caranya memperlakukan perempuan membuat hati ku semakin tak karuan.
Ya Rabb, Aku tak pernah meminta kepadaMu untuk mengembalikan dia kepadaku, jika Engkau tak mengijinkan dia pergi dari hidupku maka jangan Engkau biarkan rasa itu tumbuh kembali.
Seketika aku teringat dengan mas Tira. Semakin hari aku merasa ada yang berbeda di hati ku setiap menerima pesan atau telpon darinya. Aku tak mampu menghiraukan perasaan ku padanya. Padahal aku pun belum sepenuhnya mengenal dia.
🌷Vote nya jangan lupa ya 🌷