
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Aku duduk melamun dibalkon kamarku, sambil menatap awan malam yang terlihat agak sedikit mendung. Aku berfikir tentang seandainya aku tak pernah bertemu dengan Arya kembali. Jujur kuakui aku masih tak bisa sepenuhnya percaya padanya. Apalagi setelah melihat ia sering bersama wanita yang mungkin kedudukannya sejajar dengannya. Dulu, sewaktu masih berstatus pacarnya, aku memang menjadi bucinnya. Sampai kejadian dia menikah dengan wanita lain, aku sangat-sangat terpuruk. Itu jadi kebodohan yang sangat aku sesali. Dan tak aku tak ingin sampai terulang lagi. Hingga saat ini dia sudah terbilang mapan karena memiliki segalanya, Dia pantas mendapatkan pendamping yang lebih baik dariku. Tapi melihat perlakuannya yang kadang membuatku merasa istimewa dihadapannya sehingga aku kembali berfikir untuk menerimanya kembali. 'Aah siapa tahu memang kesemua wanita dia seperti itu'
Dear Allah, hilangkan rasa yang terlarang ini dan hadirkan laki-laki baik yang akan menjadi jodoh dunia akhirat ku.
Ketika manusia hanya bisa berencana, tapi Allah yang menentukan semuanya. Tidak akan ada yang tahu kemana jodoh akan bermuara.
Malam ini aku ditemani secangkir coffe latte sambil menyicil skripsi yang belum kelar. Awalnya aku selalu merasa kesulitan sejak pertama kali masuk kuliah jurusan Akuntasi,karena di SMA aku anak IPA. Tahu dong identik dengan apa. Bisa dibilang aku sempat merasa salah jurusan. Tapi aku mencoba mendalami ilmu akuntansi itu sendiri, sampai akhirnya aku mulai jatuh cinta dengan laporan-laporan keuangan. Bayangkan saja, kita bisa menghitung uang yang jumlahnya ratusan juta tapi uangnya abstrak, alias ga kelihatan.
Triing..
Aku mengusap layar lockscreen dan melihat dari siapa pesan tersebut.
Satu pesan dari Mas Tira
[Assalamualaikum Sha, maaf baru sempat menghubungi mu. Saya baru sampai di Jakarta sore tadi. Semoga kita bisa secepatnya bertemu ya]
Astaga, berhari-hari tak ada kabar rupanya dia benar serius untuk pulang ke Jakarta. Buyar semua yang ada di otak ku yang sebenarnya ingin ku tumpahkan ke dalam skripsi ini. Tiba-tiba hilang semuanya hanya karena satu pesan itu.
Kursor pada tampilan chat itu masih berkedap kedip. Aku masih membaca pesannya berulangkali. Sebenarnya aku hanya bingung apa yang harus aku tulis untuk membalasnya.
[Waalaikumsalam mas, insyaallah Besok Ahad ya mas, aku masih ada kerjaan yang belum beres ]
Pesan itu terkirim dengan ceklis dua yang menandakan sudah terkirim tapi belum terbaca.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Jumat, 07.15 pagi Arya datang dengan niat ingin menjemputku. Tanpa pemberitahuan sebelumnya, ia datang 10 menit lebih pagi dari jam aku berangkat kerja biasanya.
" Masuk, nanti kesiangan " ucapnya sambil membukakan pintu mobilnya.
" Ga usah dijemput juga ga akan kesiangan lagi ko, malah lama kalau kekantor naik mobil. Belom macetnya, belom lampu merahnya " balasku kesal.
Padatnya jalan raya pada jam berangkat kerja memang sudah tak di ragu kan lagi. Bila ditempuh menggunakan sepeda motor hanya memakan waktu 15-20 menit, itu pun lewat jalan tikus untuk memotong waktu. Lain hal lagi kalau menggunakan mobil, bisa sampai 30-40 menit, itu pun belum dihitung dengan macet dan lampu merah.
" Jarang-jarang kan dijemput pangeran, pangeran yang ini ga punya kuda, punyanya mobil gimana dong? " Jawabnya meledek.
Memang siapa juga yg mengharapkan dijemput naik kuda? Aku bukan salah satu penggemar Lee min ho di film The King yang datang dengan Maximus sang kuda putih kesayangan nya.
Sebentar, kalo diperhatikan ini bukan jalur ke kantor.
" Kekantor bukan lewat sini pak " celetuk ku.
" Hel, mulai sekarang stop panggil saya dengan sebutan pak atau bapak selain di kantor dan kampus"
" Lalu mau nya dipanggil apa? "
" sayang" ucapannya membuat aku melirik jijik.
" Jawab dulu ini mau kemana" tegas ku.
" Mau kerumah saya dulu sebentar, bunda mau ketemu kamu."
" Astaga paak..."
"Rachel! Stop! " Ucapnya dengan nada agak tinggi.
Aku tersenyum melihat wajahnya kesal.
Hingga tiba disebuah rumah mewah bergaya Eropa yang sangat mempesona dan menarik perhatian. Sudah lama sekali rasanya tidak menginjakan kaki kesini lagi. Terakhir waktu awal perkenalan aku dan Arya 6 tahun yang lalu. Dia membawa kesini untuk mengenalkan aku pada keluarganya.
" Bunda kangen sama calon mantu nya" Arya menggenggam tanganku dan melangkahkan kaki kedalam sana.
"Masyaallah Rachel, apa kabar? " Sapa hangat seorang wanita separuh baya dengan balutan gamis syar'i berwarna tosca. Masih terpancar kecantikan nya walaupun umurnya hampir menginjak separuh abad.
Alisha Putri Sastrawijaya.
Aku mencium punggung tangannya, kemudian wanita itu memelukku hangat.
"Alhamdulillah baik Tante. Tante Lisha makin cantik." Puji ku sambil melemparkan senyum padanya.
"Kamu juga makin cantik, pantas saja Arya nggak bisa berpaling dari kamu " puji Tante Lisha.
" Udah dong bun, tuh liat pipi Rachel jadi kayak udang rebus. Merah." Ledek Arya. Lelaki itu memang paling juara kalo masalah ledek meledek.
Andai Tante Lisha tahu kelakuan anak kesayangan diluar masih suka merayu banyak wanita. Arya adalah putra satu-satunya. Papa nya Januar Adi Pratama sudah meninggal sejak Arya umur sepuluh tahun. Tak mudah bagi Tante Lisha membesarkan Arya sendirian sampai ia menjadi sehebat sekarang.
Mungkin itu lah satu alasan kenapa Arya sangat menyayangi bunda nya. Baginya Tante Lisha adalah satu-satunya harta yang paling berharga.
"Kamu sih setiap saya ajak nikah nggak pernah serius. Makanya saya ajak kesini biar bunda aja yang bilang langsung ke kamu" ucap Arya.
" Iya Hel, niat baik ga bagus kalau ditunda" ucap Tante Lisha sambil tersenyum. Sekarang aku tahu dari mana asal senyum manis yang Arya punya, rupanya turunan dari Tante Lisha.
Bagaimana aku bisa melihat keseriusannya kalau kenyataannya saja Arya masih sering mendekati banyak wanita. Bingung, sebenarnya apa yang aku inginkan dari hubungan ini.
Setelah berbincang tentang banyak hal dengan Tante Lisha. Tak terasa sudah hampir setengah hari disini.
" Kamu ga mau kekantor Hel? Rasya nyariin tuh" ucap Arya sambil mencari kunci mobilnya yang lupa ia letakan.
"Astaghfirullah, kenapa nggak ngingetin dari tadi. Ini udah kesiangan banget "
" Kamu si asik banget kalo udah ngobrol sama bunda"
" Iya maaf " aku tertunduk malu. Setelah berpamitan dengan Tante Lisha, aku dan Arya langsung meluncur ke kantor. Aku sudah membayangkan pasti Rasya marah padaku karena aku meninggalkan pekerjaan.
~ Mas Tira Calling~
Suara deringan pada layar handphone membuyarkan lamunanku.
" Assalamualaikum. Ada apa mas? " Tanyaku pada pria diseberang sana.
" Waalaikumsalam, saya mengirim CV ta'aruf kerumah mu ya. Anggap saja kita belum saling mengenal, dan saya ingin secepatnya bertemu dan mengenalmu lebih jauh lagi " jawabnya.
Aku bingung harus menjawab apa. Disampingku ada pria yang pagi tadi secara tak langsung memintaku untuk segera menikah dengannya. Dan sekarang, ada pria lain yang mengirimkan CV ta'aruf nya kerumah. Aku menghembuskan nafas kasar sembari berfikir. Akhirnya ku putuskan untuk mengakhiri panggilan nya sebelum obrolannya semakin berlanjut. Biarlah nanti kalau sudah tiba dirumah, ku cari alasannya kenapa tiba-tiba handphone ku mati.
"Siapa? Ko tadi saya dengar bicara tentang CV ta'aruf?" Tanya nya penasaran.
" Nggak usah kepo" jawabku sambil meledeknya.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Jodoh itu seperti "Alif Lam Mim" pada ayat pertama pada surah Al-Baqarah. Maknanya? Hanya Allah yang tahu.
🌷Jazakumullah Khair 🌷
🌷 Terimakasih sudah menyempatkan membaca 🌷
🌷 Jangan lupa votenya 🌷