SOULMATES

SOULMATES
Tunggu Aku



بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


Ketika takdir mempertemukan kita kembali, aku bisa apa? Dan biarlah takdir pula yang menentukan arah kita selanjutnya.


POV Arya


seminggu yang lalu


Ini hari pertama ku menjadi dosen di Universitas Karya Bakti. Aku tahu Rachel kuliah disini, kalau dihitung dari lamanya kita sudah tak bertemu pasti dia saat ini sedang menyelesaikan skripsinya. Sengaja aku berusaha untuk bisa menjadi dosen disini agar bisa bertemu dengannya. Semoga dengan cara ini aku bisa mendapatkan maaf darinya.


Aku berjalan menyelusuri koridor kampus. Mencoba mencarinya. Entah kenapa semakin masuk kedalam semakin sesak rasanya, seperti ada yang mengganjal namun tak tahu apa. Seketika langkah ku terhenti, seperti terdengar suara tawa yang sangat aku hafal milik siapa itu. Rachel, ya tawa itu miliknya. Terlihat dia sedang asik bercanda dengan ke dua temannya.


Nampaknya dia tak menyadari keberadaan ku disini. Tunggu aku Rachel. Mungkin aku akan menemuinya setelah jam mengajar ku selesai.


Aku membuka pintu kelas dan mengucap salam. Serempak semua mahasiswa menjawab salam itu. Tak ku sangka ternyata sebanyak ini peminat kelas Antropologi.


" Gila, pengganti pak Dito keren abis " terdengar suara bisikan dari salah satu mahasiswa deretan paling depan.


" Perkenalkan saya Arya Mahendra Pratama, saya disini ditugaskan untuk menggantikan pak Dito sebagai dosen Antropologi yang dipindah tugaskan ke universitas lain. Ada yang ingin ditanyakan?"


" Pak, saya dari fakultas matematika mau ikutan belajar Antropologi bisa ga pak? " Tanya salah satu dari mereka. Aku hanya melemparkan senyum padanya. Ada-ada saja kelakuan mahasiswa disini.


" Jangan senyum pak, nanti saya diabetes " cetus salah satu mahasiswa lainnya. Kelas menjadi semakin ricuh. Terserah kalian saja lah.


Setelah kelas selesai, aku mencoba mencari Rachel kembali. Ku telusuri koridor kampus tapi tak ku temui. Hingga akhirnya mata ku menangkap satu sosok yang selama ini menggangu pikiranku. Dia yang ku lihat sedang duduk kantin dan sibuk dengan laptopnya.


Ku hampiri dan berdiri tepat didepannya. Tak lupa ku lemparkan senyum termanis untuknya.


Sedetik


Dua detik


Tiga detik


Dia terdiam cukup lama. Wajah khas Indonesia itu terlihat kaget dan mematung sambil menatapku. Mungkin seakan tak percaya kalau ada lelaki tampan dan mapan ini berdiri didepannya. Kulihat ia menarik nafas dalam-dalam dan memejamkan matanya, hingga akhirnya menunduk dan tak lama bangkit dari tempat duduknya, kemudian dengan cepat ia rapikan buku-bukunya yang sebelumnya tergeletak diatas meja. Bisa ku tebak saat ini dia sedang disibukkan dengan skripsi nya.


" Tunggu hel " aku mencoba menarik tangannya sebelum ia benar-benar pergi. Tapi begitu cepat ia menepisnya dan berlalu begitu saja.


Ketika manusia hanya bisa berencana, selanjutnya Allah lah yang menentukan yang terbaik. Mungkin ini salah satu rencanaNya untuk menyegerakan sesuatu yang sempat tertunda waktu itu.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Triiingg


[ Jangan pulang duluan, tunggu aku] satu pesan ku terima dari Arya. Belum sempat aku membalasnya, Rara datang menghampiriku.


" Hai, rajin amat udah nongkrong disini" Rara menyapa ku.


Aku dan Rara sudah bersahabat sejak SMP. Bahkan teman-teman yang sudah mengenal kami selalu bilang kalau kami ini satu paket. Aku dan Rara kemanapun selalu bersama. Dimana ada Rara disitu pula aku ada.


Ketika SMA pun kami satu kelas, tapi tidak satu bangku ya. Dan sampai kuliah pun kami satu jurusan. Karena aku dan Rara terlalu banyak kesamaan sehingga tak ingin dipisahkan.


" Ko tau gue disini? "


" Bau lu ke cium dari gerbang depan " ledeknya.


" Sialan lu "


" Gimana pak Arya? " Tanya nya penasaran. Aku memang belum sempat menceritakan kejadian kemarin padanya.


"Enaknya gimana?" Tanyaku balik sengaja membuatnya penasaran.


" Enaknya lu terima dia lagi terus cepet nikah, lalu punya bayi kembar lucu-lucu " sambil menggemaskan membayangkan bayi-bayi lucu.


" Gila lu, kawin Mulu pikirannya "


" Bukannya lu yang pengen buru-buru keluar dari rumah, biar lu ga sering diomelin ibu tiri lu lagi? satu-satunya cara ya nikah, terus lu pindah deh dari situ ikut laki lu"


Aku memang punya pikiran seperti itu, untuk menghindari pertengkaran di rumah. Rasanya aku pun tak menemukan kenyamanan di rumah sendiri. Belum lagi kelakuan adik tiri ku yang kadang bikin aku naik darah. Di umur nya yang 17 tahun ini dia tak mau berbagi tugas rumah. Dan pekerjaan rumah itu sendiri harus selesai sebelum aku berangkat kuliah.


" Bentar ya, gue mau Dhuha dulu " ijinku pada Rara. Rara adalah seorang non muslim, dan keyakinan ini lah yang menjadi perbedaan kami.


Aku mempercepat langkahku menuju mushola karena sudah hampir habis waktu Dhuha nya.


Aku membuka pintu dengan perlahan, sambil mengucap Bismillah. Tak lama ku dapati sosok pria yang pagi tadi memberiku mawar putih itu tengah duduk diatasnya sajadahnya.


Aku memandanginya penuh kagum, rupanya dia sudah banyak berubah. Dulu, jangankan untuk mengerjakan Sunnah, yang wajib pun masih sering ditinggalkan. Masyaallah , dia shalat Dhuha dengan khusyuk nya.


🌷Vote nya jangan lupa ya 🌷