Ruby

Ruby
09



Plak.........


sebuah tamparan mendarat mulus di pipi cubby milik Mei Yin. perempuan itu hanya bisa terdiam saat sebuah tamparan keras mendarat di wajahnya.


"apa kau bodoh!!!!!!!."teriak Jin Yi dengan penuh emosi.


"kau tau karena ulah bodohmu itu kita kehilangan Xie Na...!!!!."Jin Yi terus berucap penuh emosi pada Mei Yin.


namun, perempuan yang di beri amarah hanya bisa terdiam dengan kepala yang tertunduk. biar bagaimana pun Mei Yin tidak pernah menyesal telah membiarkan Xie Na sendiri.


"Feng Lin dan Xie Na datang."Jin Yi menatap pintu depan. "bersikaplah sewajarnya."


Mei Yin mendongakan kepalanya. tangannya mengusap pipinya yang memerah. hanya butuh beberapa detik memar di pipinya sudah menghilang. Mei Yin menarik sudut bibirnya saat melihat Feng Lin yang datang dengan tangan memapah Xie Na di sampingnya.


Jin Yi berjalan dengan terburu menghampiri mereka. "Xie Na kau tidak apa-apa?!."


Xie Na menarik sudut bibirnya. "aku baik-baik saja. maaf karena sudah membuat kalian khawatir."


"hmmm syukurlah kalau kau baik-baik saja. kau tau aku sangat khawatir saat tau kau belum datang dan tidak bisa di hubungi."Jin Yi mengusap kedua pipi Xie Na. binar matanya menatap Xie Na dengan khawatir.


"maaf tadi aku ketiduran di taman. "lirih Xie Na penuh penyesalan. "mungkin karena suasananya yang begitu nyaman aku sampai menikmatinya."


Xie Na menggaruk tengkuknya menyesali kekonyolannya yang tidak masuk akal. namun, sepertinya Xie Na lupa bahwa lehernya terluka. membuat Xie Na mengaduh saat jarinya menekan luka yang ada di lehernya.


"aw......."Xie Na segera menjauhkan jarinya dari lehernya.


"Xie Na kau terluka?!."tanya Jin Yi dengan cemas.


"hmmmmmm.........."Xie Na ingin menjawab namun urung saat Feng Lin dengan tiba-tiba membuka suara.


"Xie Na hanya terluka sedikit karena kecerobohannya."jelas Feng Lin sambil melirik Xie Na yang sedang menatapnya. "biarkan Xie Na istirahat dia juga perlu di obati lukanya."


"biar mama saja yang obati."aju Jin Yi.


Feng Lin menggelengkan kepalanya. "biar aku saja."


"tapi, Feng Lin kau harus segera pergi."tiba-tiba Mei Yin menyaut yang langsung mengundang tatapan tajam dari Feng Lin.


"aku bisa membatalkannya."jawab Feng Lin dengan dingin.


Xie Na yang mendengar itu menjadi tidak enak. dengan Cepat Xie Na menahan lengan Feng Lin yang ingin membawanya ke lantai atas untuk beristirahat.


"Gege sebaiknya kau pergi."aju Xie Na dengan tidak enak."lagi pula aku bisa minta tolong Mei Yin untuk mengobati lukaku."


"sekalian aku juga ada yang harus di bicarakan dengan Mei Yin."jelas Xie Na sambil melirik Mei Yin yang juga sedang menatapnya.


Feng Lin sedikit berpikir dengan yang di ajukan Xie Na. pria itu melirik Mei Yin sebelum kembali menatap Xie Na.


"baiklah aku harap kau bisa jaga diri dengan baik."ucap Feng Lin pria itu mendaratkan sebuah kecupan di dahi Xie Na.


"dan........."Feng Lin melirik Mei Yin. "aku tidak akan berbaik hati lagi jika seseorang ingin mencelakakanmu!!!!."


"aku pergi dulu."Feng Lin melangkahkan kakinya meninggalkan ketiga orang di sana dengan suasana hati yang berbeda.


ya jika Jin Yi merasa lega karena Xie Na sudah di temukan tidak dengan Mei Yin perempuan itu mengepalkan tangannya diam-diam.


menunggu adalah hal yang harus Mei Yin lakukan. tapi, menurutnya ini keterlaluan. tidak ada hal seperti ini sebelumnya dalam perjanjian.


ya, yang harus Mei Yin lakukan sekarang adalah menyusul Feng Lin. Dia harus mengajak pria itu untuk menghentikan semuanya. tidak ada apa tidak sepenuhnya yang terpenting mereka baik-baik saja.


namun, baru saja Mei Yin ingin melangkahkan kakinya. tiba-tiba saja suara Jin Yi mengintrupsi membuat Mei Yin urung dengan langkahnya.


"Mei Yin tolong antarkan Xie Na ke kamar."perintah Jin Yi pada Mei Yin. "jangan lupa obati juga lukanya."


"Baik bibi."jawab Mei Yin lirih. ya, untuk saat ini dia tidak boleh gegabah jika tidak ingin berakhir di buang.


"ayo Xie Na biar ku antar."ucap Mei Yin lalu dia memapah Xie Na untuk berjalan bersamanya.


sesampai di kamar hanya ada keheningan yang menemani mereka. jika Mei Yin sibuk dengan luka yang ada di leher Xie Na. sedangkan Xie Na sendiri bingung harus memulai dari mana untuk membuka pembicaraan.


"bukankah ada yang ingin kau bicarakan?!."Mei Yin membuka suara setelah menempelkan plester di luka Mei Yin.


"hmmmmm....."Xie Na memutar pandangannya menghadap Mei Yin.


"Mei Yin maaf......"lirih Xie Na dia menundukkan kepalanya penuh Sesal.


"maaf karena ucapan ku kemarin cukup menyinggung."Xie Na menatap Mei Yin dengan rasa bersalah. "sungguh aku tidak pernah bermaksud untuk itu."


Mei Yin menarik sudut bibirnya. "tidak jadi masalah."


"lagi pula itu memang kenyataannya. aku baik-baik saja."jawab Mei Yin dengan tangan yang sibuk membereskan kotak obatnya. terkesan cuek untuk Xie Na.


"Mei Yin........"Xie Na meraih tangan Mei Yin."tapi, kau marah padaku."


Mei Yin menghembuskan napasnya. berhadapan dengan Xie Na untuk saat ini adalah hal yang paling merepotkan. dengan pelan Mei Yin menurunkan tangan Xie Na.


"sebaiknya kau istirahat Xie Na."jelas Mei Yin lalu beranjak dari duduknya. tanpa berkata-kata lagi Mei Yin berjalan meninggalkan Xie Na.


rasa kecewa penuh dengan rasa bersalah hinggap di hati Xie Na. kepergian Mei Yin yang acuh seperti tadi sungguh menyakiti hati Xie Na.


perempuan itu cukup baik. baru kali ini Mei Yin begitu marah dengan dirinya. dan itu berarti yang Xie Na katakan kemarin cukup keterlaluan.


"apa aku harus meminta bantuan Feng Lin untuk menyampaikan maafku?!."tanya Xie Na pada dirinya.


sebuah hembusan napas berat tersengar begitu melelahkan. Xie Na mengusap luka di lehernya. namun, ada sesuatu lain yang mengganggu indera perabanya.


Xie Na menarik tali yang melingkar di lehernya. "inikan kalung yang di berikan Ruby tadi!!!."


"bukankah tadi sudah tidak ada?!."Xie Na menatap liontin yang di pegangnya dengan bingung."tapi,bagaimana bisa sekarang ada disini?!."


"okh.........."Xie Na cukup terkejut saat tiba-tiba kalung yang ia pegang tadi tiba-tiba menghilang.


berbarengan dengan itu pintu kamar terbuka menampakan Jin Yi dengan satu mangkuk mengepul di atas nampan.


Xie Na menatap tangan kosongnya dengan Jin Yi secara bergantian. " ada apa ini?!......"


"apa yang terjadi sebenarnya?!."


...to be countinue...........