Ruby

Ruby
Orang Tak Dikenal



"Kenapa, memang tidak boleh Hah!" kata Ruby sangat kesal melihat orang yang ada di hadapannya adalah orang yang tadi berbicara dengan pangeran Azlan.


Ia tidak peduli siapa orang yang ada di hadapannya, tapi tadi apa yang ia lakukan di hadapan Pangeran asal sudah benar-benar keterlaluan hingga membuat Ruby sekarang juga tidak bisa menahan amarahnya.


"Kau tak punya sopan santun," kata Orang itu makin bicara dengan nada tinggi.


Ruby yang mendengarkan itu jelas juga terbawa emosi. Ia tidak mengira jika orang itu akan lewat sana dan menghampiri dirinya. Padahal itu merupakan kediaman pangeran dan juga tempat latihan prajurit milik Pangeran Azlan.


Betapa kesalnya Ruby kali ini, Mbah kenapa orang itu malah datang ke sana dan menegurnya. Perkataannya yang begitu sombong dan juga membuat lebih makin merasa geram dibuatnya.


Ruby meletakkan panah dan busur nya, jika tidak ia letakkan maka bisa saja ia kelepasan ingin membidik orang itu dengan anak panah. Jadi untuk amannya, dia taruh terlebih dahulu sebelum menghadapi orang yang tidak tahu sopan santun itu.


"Kau yang tak punya sopan datang langsung menegur, setidaknya aku sudah punya izin memanah," kata Ruby yang tidak mau kalah sama sekali dan juga bicara dengan nada tinggi.


Ia tidak mau disalahkan begitu saja tanpa bukti bahkan dia sudah mendapatkan izin dari pangeran raja dan ratu juga pernah melihat dia latihan di sana, mereka semua tidak ada yang memprotes lebih dan juga mempermasalahkan Ruby bisa memanah atau tidak.


Tapi berbeda dengan orang itu yang sepertinya tidak sopan sama sekali dengan perilaku yang sombong seperti itu, jelas membuat ruby juga tidak tahan untuk menghadapinya.


Amarah yang sudah ia tahan sedari tadi akhirnya pun ia luapkan di hadapan orang itu. Meskipun Ruby tak mengenal siapa orang itu tapi dari perkataannya jelas membuat lebih besar, hal itu membuat Ruby tidak mau diam saja saat orang lain mencoba untuk menindasnya.


"Kau bahkan tak terlihat seperti seorang putri. cara bicara yang tak sopan. Sebenarnya ke apa ada orang seperti di istana ini," kata Orang itu yang benar-benar menghina Ruby, hingga membuat Ruby makin geram dibuatnya.


Leni sudah merasa khawatir dengan keduanya karena tidak ada yang mau mengalah sama sekali. Ruby juga merasa tidak bersalah karena dia sudah mendapatkan izin, orang yang tidak dikenal itu selalu saja membuat emosi ruby naik.


Selain dia terus menegur Ruby dan mengatakan jika sopan hal itu makin membuat lebih merasa kesal pasalnya dia sendiri juga bicara buruk di hadapan Pangeran.


Hal itu membuat Rubi tahu apa yang dikatakan oleh orang tersebut pada pangeran yang membuat Rubi jelas merasa kesal, jadi Ruby sengaja meluapkan rasa kesalahannya tersebut selagi dia bertemu dengan orang itu.


"Mulutmu memang tidak bisa berkata baik, ada orang punya ke ahlian kau hina. Kau ini hidup di mana sebenarnya hah?" Ruby yang benar-benar tidak mau mengalah sama sekali dia benar-benar kesal dengan apa yang dikatakan oleh laki-laki itu yang seakan-akan tidak menghargai dirinya.


Semua itu terus diprotes oleh laki-laki itu dan dianggap tidak pantas. Padahal lebih tidak pantas lagi dia yang datang langsung menegur orang lain tanpa permisi dan tak memperkenalkan diri dulu jelas membuat Ruby juga sangat kesal dibuatnya.


Apalagi Ruby yang merasa berada di kediaman pangeran dan juga sudah merasa, jika itu merupakan kediamannya sendiri pun merasa terganggu dengan kehadiran orang yang tak ia kenal.


Meski berpenampilan bagus layaknya seorang pangeran tapi dari kata-katanya, yang begitu sombong jelas membuat ruby pun semakin geram karena ia tidak suka dengan apa yang diucapkan oleh laki-laki itu selain ia sudah menghina pangeran dan kali ini dia juga datang ke tempat latihan membuat Ruby semakin tidak suka dengan laki-laki tersebut. Walaupun dia seorang pengairan sekalipun tetap saja rugi tidak menghiraukan hal itu.


"Lancang sekali mulut mu, seorang wanita seperti mu tak pantas menggunakan Panah," kata laki-laki tersebut terus menghina rubik dan memperingati Ruby.


Karena memang tidak ada seorang wanita di istana yang bisa menggunakan panah. Hal itu pun hanya Ruby seorang dan hal itu juga membuat suka dengan apa yang dilakukan oleh Ruby, karena pemandangan itu tidak biasa baginya.


"Lalu jika seorang wanita di serang apa dia juga tidak pantas untuk membela diri. Seharusnya kau tahu banyak wanita diluar sana tak bisa bela diri dan akhirnya jadi korban," kata Ruby yang benar-benar merasa kesal juga menunjukkan faktanya jika banyak orang wanita yang tidak bisa membela dirinya.


Karena tidak memiliki kekuatan bela diri dan sekarang Ruby bisa memanah itu juga untuk dirinya sendiri, untuk bisa membela diri setidaknya ia memiliki kekuatan dan tidak tertindas dengan mudah.


Tapi seakan-akan latihan memanah itu disalahkan oleh laki-laki tersebut jelas membuat lebih makin kesal. Padahal dia melakukan itu semua juga karena hobi dan juga karena Iya bisa menggunakan panah mungkin.


Jika ia tidak bisa menggunakan warna bisa saja hal itu diprotes karena memang cara bermainnya buruk, tapi kali ini Ruby tidak terima karena ia dilarang menggunakan tanah yang mana memang di sana jarang sekali seorang wanita yang memiliki keahlian tersebut.


"Itu tak mungkin terjadi, karena wanita tak ikut perang," Kakak laki-laki itu yang memang tidak ada seorang wanita di kerajaan yang ikut berperang.


Jadi memanglah wanita tidak diperbolehkan memegang senjata tajam, apalagi wanita yang memiliki beladiri tentunya sangat jarang di sana dan hal itu jelas membuat terlebih semakin kesal karena jawaban dari laki-laki itu tidak sesuai dengan apa yang seharusnya terjadi. Hal itu membuat Rudi juga tidak mau mengalah sama sekali dan terus berusaha untuk menjawab.


"Hei, kau yang hidup dimedan perang, coba lihat rakyat jelata yang tak berdaya. Mereka butuh kekuatan untuk bertahan agar tidak lagi di tindas. Panah ini bentuk kekuatan," jelas Ruby kesal pada orang yang ada di hadapannya itu.


Ia tidak mengalah sama sekali dan malah terus menyalakan Ruby, hingga membuat Ruby pun terus menjawabnya dengan suara yang bahkan sama tingginya dengan laki-laki tersebut. Ruby juga tidak mau kalah.


"Lanncang sekali kau berbicara seperti itu dengan seorang pangeran," kata Orang itu kesal ia segera memanggil pengawal, "Pengawal tangkap dia karena sudah bicara tidak sopan!"