
"Berani sekali kau menangkap ku." Ruby langsung mengambil anak panah dan busurnya untuk di arahkan ke orang yang ada di hadapannya itu.
Ruby yang sudah cukup sabar menghadapi orang itu, jelas tidak suka dengan cara yang dilakukan oleh orang itu.
"Siapa sebenarnya perempuan ini, berani sekali dia." Orang yang merasa terancam mengambil pedang nya.
Suasan yang makin tegang membuat Leni panik, apalagi Ruby juga tak mau kalah, ia tidak suka di tindas. Bagaimana bisa ada orang seperti itu, yang sombong.
"Kau sangat menyedihkan, mengacungkan pedang pada seorang wanita adalah tidakan pengecut," sindir Ruby yang tidak ada takut-takutnya.
Orang itu benar-benar marah kali ini, memang dia tak kenal Ruby melihatnya saja baru sekali, perkataannya Bahakan terus-terusan membuat nya geram.
"Hentikan Pangeran, apa yang kau lakukan!" Teriak Pangeran Azlan yang saat itu datanga dengan Dion.
Dengan cepat Ruby membuang busur dan panahnya, segera saja ia berlari ke Pangeran Azlan dan langsung duduk didepan Pangeran Azlan.
Sambil membenarkan mukanya di pangkuan Pangeran Azlan, Ruby mengadu padanya.
"Orang itu keterlaluan melarangku bermain panah." Ruby mengadukan Apa yang dilakukan oleh orang itu kepada Pangeran hasil seperti seorang anak kecil meminta dukungan. merasa tak bersalah, dan bersikap baik di hadapan Pangeran Azlan.
Wajah Pangeran Azlan langsung merah, bukan karena marah tapi karena malu melihat Ruby bertingkah seperti anak kecil di pangkuannya.
"Apa ini juga akting," batin Pangeran Azlan yang tahu jika istrinya pandai berakting.
Perasaan Pangeran Azlan yang campur aduk gara-gara Ruby membuat ia lupa pada masalah yang sedang terjadi.
"Siapa dia sebenarnya, kenapa bersikap seperti itu pada mu?" tanya Orang itu masih gerang dan masih memegang Padang di tangannya.
Saat Pangeran Azlan mau menjawab, Ruby menarik baju Pangeran Azlan dengan lembut hingga Pangeran Azlan mengalihkan pandanganya ke arah Ruby dan tidak jadi menjawab pertanyaan orang itu.
"Siapa dia?" tanya Ruby dengan suara manja dihadapan Pangeran Azlan.
"Dia Pangeran Zein, dia baru pulang setelah mendapatkan tugas dari kerajaan. Jadi dia tidak tahu saat kita menikah," jawab Pangeran Azlan yang lebih dulu menjawab pertanyaan ruby daripada pangeran Zein yang mana hal itu membuat Zein makin kesal dibuatnya.
"Dia istriku, bukannya kau masih di kediaman ku, kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Azlan jelas membela Ruby, yang merupakan istrinya.
Jelas hubungan di antara keduanya memang sudah tidak pernah akur dan bahkan tidak baik-baik saja, maka dari itu saat Ruby melihat Pangeran Zein bersama Pangeran Azlan juga terkesan tidak akur.
Mendengar itu Pangeran Zein memasukan kembali pedangnya dan menyimpannya, ia tidak akan mungkin melawan kakak iparnya secara langsung, tapi ia heran dengan kakak iparnya itu yang tidak seperti apa yang diceritakan banyak orang.
Pangeran Zein jadi ragu tentang kebenaran kakak iparnya itu yang jauh dari kata bodoh dan jelek, bahkan ia berani dan canti. meski dari semua yang di lakukan Ruby sangat mencolokk dan berbeda dari Putri lainnya. Tapi selintas Pangeran Zein sepat mengnggumi keberaniannya.
"Bukankah yang menikah denganmu adalah Putri bodoh dan juga jelek kenapa jadi putri barbar seperti ini," kata Pangeran Zein dengan nada menghina membuat Ruby geram dan tidak tahan lagi.
Sedari tadi Ruby sudah menahan emosinya dan bahkan tidak melepaskan busur panahnya karena ia juga masih menghormati Dia seorang manusia. Tapi dari kata-katanya memang tidak ada satupun yang membuat Ruby tenang dan semua perkataannya jelas menjadikan lebih makin kesal.
"Apa kau bilang." Ruby langsung berdiri dengan marahnya ingin memukul Zein.
Ruby sudah tidak tahan lagi, mendengar perkataan dari pangeran Zein yang selalu saja menghinanya. Tak ada satupun perkataan yang benar-benar membuat Ruby, merasa tenang karena semua perkataan di harinya sangat buruk dan tidak ada satupun yang pantas untuk didengar.
Tapi Pangeran Azlan menghentikan Ruby dan memegang tangannya agar tidak marah pada Zein. bukan karena ia mendukung Zein tapi karena pertengkaran di istana bisa saja menarik perhatian orang-orang yang ada di sana.
Pangeran Azlan takut jika ada berita buruk tentang Ruby, jadi ia menghentikan Ruby agar tidak marah dan melakukan tindakan yang bisa saja di anggap salah di kerajaan itu.
Bagi Pangeran Azlan yang sudah terbiasa dengan sikap Ruby pun tidak mempermasalahkan hal itu. tapi orang-orang kerajaan yang belum terbiasa jelas membuat mereka juga akan menyalahkan Ruby.
Pangeran Zein tertawa setelah tahu kenyataannya dan benar-benar melihat Ruby marah malah membuat nya tidak merasa terancam.
"Kakak ipar, kau ini benar-benar pandai berakting. Tadi kau berusaha menyerang ku dan bersikap baik didepan suamimu itu tidak adil kau jadikan aku seperti penjahat," sindir Pangeran Zein yang melihat betapa arogannya Ruby.
Saat tidak ada pangeran Azlan di sana. Tapi setelah Pangeran Azlan datang dia tiba-tiba menjadi seorang putri yang tertindas. Hal itu membuat dirinya benar-benar seperti seorang penjahat, yang membuat Pangeran juga tidak terima diperlakukan seperti itu dan mengadukannya juga kepada Pangeran Azlan.
"Memang kau jahat, tak tahu sopan santun. Apa salahnya aku bersikap baik di depan suamiku sendiri hah," jawab Ruby tidak mau mendapatkan tuduhan seperti itu walaupun itu benar.
"Tidak, aku malah jadi tertarik untuk beradu memanah dengan mu, aku ingin tahu seberapa hebatnya kamu," kata Pangeran Zein yang pengen tahu sejauh mana kau membuat ruby. tapi sekilas melihat Apa yang dilakukan hobi di sana jelas ruby pandai dalam mana, tapi tetap saja saat pertama melihatnya Pangeran tidak suka jika ada seorang wanita memenggang alat perang.
Jadi ia tak melihat keahlian yang dimiliki oleh ruby, malah langsung menilai buruk Ruby, setelah tahu jika Ruby adalah Kakak ipar membuat Pangeran Zein benar-benar ingin tahu seberapa jauh kehebatannya itu.
"Siapa takut," Ruby yang menerima tantangan itu dan ingin maju melawan pangeran Zein.
Tapi Pangeran Azlan masih menegang tangan Ruby jadi membuat Ruby tidak bisa melangkah jaduh dari sana.
"Putri." Pangeran Azlan memanggil nama Ruby dengan lembut penuh arti, membuat Ruby tahu jika ia tidak boleh menerima tantangan Pangeran Zein.
"Tidak jadi," kata Ruby akhirnya tidak jadi menerima tantangan dari Pangeran Zein dan berbalik arah kembali ke sisi Pangeran Azlan.
"Menarik sekali," ucap Pangeran Zein pelan melihat tingkah Ruby yang benar-benar membuat nya tertarik.
"Baiklah Kakak aku pamit." Pangeran Zein berpamitan dan membungkuk memberi hormat. Tidak biasanya Pangeran Zein bersikap seperti itu membuat Pangeran Azlan semakin waspada.