
"kala sepi dunia di situlah kita akan merasa betapa hancurnya hati dan pikiran untuk menghadapi dunia."
satu penggal kata terucap dari bibir tipis milik Xie Na. Perempuan belasteran Korea-China itu sangat suka dengan buku yang berjudul Ruby di depannya. satu tangannya sibuk membuka tutup pemantik yang ia temukan dua jam yang lalu di atas gazebo yang sekarang dia duduki.
menurut gadis itu di dalam buku itu tidak ada kata-kata pembohongan semuanya begitu nyata bagaimana cara hidup di dunia berjalan. Dimana kau akan di hargai jika kaya raya. dan menjadi seonggok sampah jika hanya bermodalkan dua koin dalam genggaman.
seperti Xie Na sekarang. kepalanya kini hanya bisa menengadah ke langit. hitamnya langit seakan mewakili perasaan Xie Na bahwa dirinya saat ini tidak baik-baik saja. Bagaimana bisa Xie Na baik-baik saja. di saat dalam satu hari dirinya seperti di timpa meteor dari langit bertubi-tubi.
pekerjaannya hilang.........
rumahnya hilang.......
bahkan dengan teganya Ren Ji yang pasalnya menjabat sebagai kekasih Xie Na mengambil semua tabungan milik perempuan itu dan menghilang tanpa jejak.
bukankah sempurna?!..........
sungguh sangat sempurna sampai-sampai Xie Na tidak bisa berkata-kata lagi. dunia memang lucu. jika harus di ceritakan. tapi, itu tidak menjadi alasan Xie Na untuk berhenti hidup. dirinya masih punya tuhan. setidaknya Tuhan tidak akan meninggalkan hambanya yang sedang kesusahan seperti dirinya.
"membosankan sekali kenapa tidak ada bintang sama sekali."dumel Xie Na pada akhirnya. bokongnya sudah panas karena sedari tadi hanya duduk di atas gajebo. mantel tebal yang menyelimuti tubuhnya juga semakin terasa dingin.
gadis itu akhirnya memilih untuk meranjakan dirinya. tidak baik jika dia hanya berdiam diri disini. karena semakin malam di dunia luar akan semakin banyak kejahatan. dan Xie Na tidak ingin berakhir seperti itu. sudah cukup untuk hari ini.
"andai saja tuhan mengirimkan ku pangeran dari langit yang mempunyai kekuatan seperti member EKSO mungkin aku tidak akan menderita seperti ini."
"walau dia miskin setidaknya kekuatannya akan mengundang dollar untuk bertahan hidup." Xie Na tersenyum melihat layar Handphonenya yang menampilkan satu Namja yang sedang tersenyum ke arahnya.
"ya, setidaknya Baekhun tidak behenti tersenyum walau beberapa hari ini aku abaikan."ucapnya sambil menutup kembali layar handponenya. gadis itu meletakan kembali benda pipih itu kedalam saku.
namun, saat dia mendongak tiba-tiba lampu taman mati satu persatu. membuat Xie Na berdiri tegak dengan jantung yang berdegup cukup cepat.
"ada apa ini?!."
"apa ini akhir hidupku di dunia?!."
dan............
bruk.........
Xie Na di buat mematung saat api membara jatuh dari langit tepat di depannya. dia sangat terkejut sehingga tidak sempat untuk melakukan gerakan repleks.
mata Xie Na terus mengerjap melihat kobaran api itu. yang anehnya walau jaraknya sangat dekat tapi Xie Na tidak merasakan sedikitpun rasa panas yang membakar kulitnya.
hingga tidak lama kemudian lampu taman kembali menyala dengan api di depannya yang ikut padam.
"apa itu kenapa bentuknya seperti batu ruby yang cukup besar?!."tanya Xie Na begitu penasaran.
perempuan itu berjalan mendekat meletakan bawaannya begitu saja di tanah. dengan tidak takut tangannya meraih batu yang berwarna merah di depannya.
Xie Na mengusap batu itu. dahinya mengernyit karena tidak ada hawa panas di sana. padahal sangat jelas bahwa tadi Xie Na melihat api yang berkobar-kobar disana.
"entahlah barang bawaanku sudah banyak aku tidak ingin membawa apapun yang kemungkinan hanya akan membawa beban untukku."Xie Na memutar tubuhnya meraih tas-tas yang sempat ia tinggalkan sebentar.
namun, baru dua langkah kakinya berpijak di tanah. tiba-tiba tubuhnya menjadi lesu. matanya buram hingga selanjutnya Xie Na tidak tau apa yang terjadi padanya.
...---...
entahlah sudah berapa lama Xie Na tidak sadarkan diri. karena nyatanya sekarang terik matahari yang mengintip lewat jendela mengganggu indera penglihatannya.
dengan tubuh pegal Xie Na bangun dari tidurnya. kedua tangannya meregang mencoba menghalau rasa kaku di area punggungnya.
"hmmmm tumben sekali aku tidur nyenyak seperti ini?!."monolog Xie Na dengan santai.
"syukurlah jika kau tidur nyenyak."
hingga sebuah bariton membuat Xie Na mengerjap. kepalanya menoleh ke arah suara. matanya yang memang sudah tidak mengantuk menjadi awas saat melihat sosok pria dengan paras tampan sedang berjalan ke arahnya dengan nampan yang berisi mangkuk panas di atasnya. terlihat dari asap yang mengepul di atas mangkuk.
"siapa kau?!."tanya Xie Na dengan waspada. kedua tangannya refleks memeluk tubuhnya.
sebisa mungkin Xie Na mencoba mengingat kejadian yang telah ia lewatkan. hingga kilas balik yang terjadi malam itu kembali berputar di dalam pikirannya.
"apa yang kau inginkan?!."
"setidaknya kau masih memiliki tubuhmu."jawab pria itu dengan santai. kakinya yang jenjang melangkah mendekat ke arah Xie Na.
mendengar jawaban prontal yang berasal dari bibir pria itu membuat Xie Na memeriksa tubuhnya. perempuan itu merutuki dirinya. karena bagaimana bisa dia melupakan hal yang seharusnya kemungkinan terjadi.
"tidak usah khawatir aku tidak melakukan apa-apa terhadapmu."jelas pria itu sambil duduk di samping Xie Na.
Xie Na yang memang sedang waspada beringsut mundur. bagaimana bisa dia mempercayai ucapan pria yang bahkan dia tidak kenal.
"jangan takut aku bukan orang jahat."jelas Pria itu. dia meletakan nampan yang ia bawa di atas nakas.
"Key benar gadis manusia memang sangat lucu-lucu."jelasnya yang tentu saja membuat pertanyaan di kepala Xie Na.
gadis manusia?!........
memangnya pria di depannya ini apa?!. atau jangan-jangan pria ini adalah jelmaan pangeran yang di minta olehnya petang kemarin.
"ya, benar aku adalah pangeran yang dikirimkan untukmu malam itu."jawab pria itu dengan cepat seakan dia mendengar monolog Xie Na dalam hati.
"bagaimana kau tau?!."tanya Xie Na cukup terkejut.
pria itu menarik sudut bibirnya menambah kesan manis nan tampan di pahatan sempurna di wajahnya. "matamu yang menjelaskannya."
okh, Xie Na cukup terenyuh dengan kata-kata dan senyuman manis dari pria itu. hingga detik kamudian Xie Na mencoba membuat dirinya sadar. karena bukan saatnya dia terbuai.
ingat prinsip Xie Na bahwa spesies Jantan yang tampan hanyalah penjahat kejam yang tidak punya hati.
"terserah kau saja. tapi aku tidak akan percaya."Xie Na melirik barang bawaannya yang berada di atas sofa di seberang tempat tidur.
"terimakasih karena sudah memberiku tumpangan tadi malam."gadis itu meranjakan dirinya. lalu turun dengan segera dari atas ranjang.
"aku pergi dulu........"Xie Na berjalan mengambil barang miliknya. lalu berjalan meninggalkan pria tampan yang cukup aneh menurutnya.
"mana ada pangeran yang jatuh dari langit. dia kira ini dunia dongeng apa?!."sepanjang perjalanan Xie Na mendumel mengingat perkataan pria itu.
"sudahlah jangan terlalu di pikirkan. mungkin saja pria itu adalah pria baik dari 1000 pria yang di ciptakan di dunia."tambah Xie Na mencoba menghentikan kemungkinan-kemungkinan alasan kenapa pria itu mau menolong Xie Na.
"pasti pria itu bermaksud jahat."ucap Xie Na. "aku tidak tau organ mana yang sedang ia cari. untung aku cepat-cepat keluar tadi."
"maaf........."
Xie Na menghentikan langkahnya saat tiba-tiba tiga orang pria menghadang dirinya dari depan.
"apa benar anda nona Xie Na?!."tanya Salah satu pria yang ada di depan Xie Na.
Xie Na menganggukan kepalanya sebagai jawaban. di lihat dari seragam yang mereka kenalan. sepertinya mereka adalah polisi. tapi, yang jadi pertanyaan kenapa polisi menghadap Xie Na.
polisi itu mengangkat selembar kertas di hadapan Xie Na. terlihat disana bahwa itu adalah surat penangkapan resmi.
"nona Xie Na anda di curigai sudah melakukan membakaran taman tadi malam."
"maka dari itu saya ingin anda ikut bersama kami ke kantor polisi."jelas polisi itu.
dua orang yang tadi hanya terdiam menghampiri Xie Na. salah satu dari mereka mengeluarkan borgol dan memakaikannya pada kedua lengan Xie Na.
"apa ini?!....."
"kalian salah paham. aku tidak melakukan hal yang kalian tuduhkan."sangkal Xie Na membela diri.
"kau bisa menjelaskannya nanti di kantor polisi."saut salah satu polisi.
Dengan pasrah Xie Na melangkah dengan di tuntun polisi tadi. Mata Xie Na menatap rumah besar yang tak jauh dari keberadaannya.
"dasar brengs*k ternyata pria itu menjadikan ku umpan untuk menebus kesalahan nya."dumel Xie Na dalam hati.
"awas saja aku tidak sebodoh itu untuk di tangkap polisi........."
to be countinue