
"maaf Noona tuan Feng Lin tidak ada disini. dia sedang ada pertemuan di luar."jelas sekertaris Nan Xi.
Mei Yin memutar bola matanya jengah. "kau kira aku bodoh?!."
"aku tau Feng Lin belum pergi melakukan perjalanan bisnis. dia ada di jalan!!!!."teriak Mei Yin dengan kesal. "minggir!!!!!."
"atau aku akan membunuhmu!!!!."ancam Mei Yin dengan tatapan nyalangnya membuat sekertaris Nan Xi bergetar ketakutan.
"kau sangat berisik!!!!."tiba-tiba pintu terbuka menampakan Feng Lin dengan setelan jasnya yang sudah tidak bisa di sebut baik-baik saja. rambutnya begitu acak dengan lengan kemeja yang sudah ia lipat hingga siku.
"masuklah!!!."dengan dingin Feng Lin memerintah.
Sekertaris Nan Xi segera bergeser memberikan jalan untuk Mei Yin masuk kedalam ruangan. kepalanya tertunduk saat tidak sengaja berpapasan pandang dengan mata majam milik Mei Yin.
"mereka seperti bukan manusia."lirih Sekertaris Nan Xi saat pintu ruangan di tutup. "bagaimana bisa dia berkata membunuh dengan gampang seperti tadi."
Mei Yin menolehkan kepalanya sebal setelah mendengar dumelan Sekertaris Nan Xi yang cukup jelas ia dengar. itu semua bukan karena sekertaris Nan Xi mengatakannya dengan keras. hanya saja kemampuan mendengar Mei Yin cukup kuat. sehingga dia bisa mendengar orang berbicara dari jarak 100 meter dari keberadaannya jika dia mau.
"Feng Lin.........."Mei Yin berjalan menuju Feng Lin yang sedang terduduk di atas kursi kebesarannya. tanpa permisi Mei Yin melingkarkan tangannya di leher Feng Lin.
"ada apa...?!."tanya Feng lin sambil melepaskan tangan Mei Yin dari lehernya. ucapannya begitu dingin membuat Mei Yin mendengus kesal.
"kau menyukai Xie Na?!."tanya Mei Yin lalu mendaratkan bokongnya di kursi yang ada di seberang meja.
"jangan berfantasi yang tidak-tidak!!!."peringatan Feng Lin sebagai jawaban.
"Heh........"Mei Yin berdecih mendengar jawaban dari Feng Lin."benarkan?!."
"aku tidak menyangka kau bisa jatuh hati pada perempuan itu dengan cepat."Mei Yin menatap Feng Lin dengan tatapan kesalnya.
"kau harus ingat Feng Lin hanya aku yang bisa mengambil batu Ruby itu dengan utuh dari tubuh Xie Na."
"hanya aku yang tersisa di keluarga kalian yang masih mempunyai kekuatan dari semesta!!!!."tekan Mei Yin memperingati. tatapan tajamnya begitu menyorotkan bahwa perempuan itu bisa membunuh siapapun yang mengganggunya.
"kau sedang mengancamku?!."tanya Feng Lin tidak habis pikir.
"tidak, aku hanya sedang mengingatkanmu pada kenyataannya."jawab Mei Yin cepat.
"Feng Lin bukankah semakin cepat akan semakin baik?!."
"kau bisa berkuasa dan membalas dendammu pada ruby."jelas Mei Yin dengan ambisi.
Feng Lin menghembuskan napas beratnya. "kau tidak tau Mei Yin."
"batu itu belum tumbuh sepenuhnya. informasi yang kita dapatkan tidak lengkap."jelas Feng Lin dengan prustasi.
"kau tau yang kau lakukan kemarin hampir mrnghancurkan semua yang kita rencanakan!!!."Feng Lin mengepalkan tangannya.
"maksudmu?!."Mei Yin mengerutkan dahinya.
"batu Ruby itu memang muncul di umur Xie Na yang ke 20. tapi, batu itu juga butuh proses tumbuh di dalam tubuh Xie Na."jelas Feng Lin yang akhirnya membuat Mei Yin mengerti kenapa pria itu dan ibunya sangat marah pada dirinya.
"masalahnya sekarang adalah Ruby sudah bertemu dengan Xie Na."
"aku curiga kemarin dialah yang menyelamatkan Xie Na."ucap Feng Lin sambil mengepalkan tangannya kuat.
"ini semua karena ulahmu Mei Yin!!!!!."Feng Lin mendongakan kepalanya. tatapan tajamnya ia hunuskan pada Mei Yin.
kekuatan yang Feng Lin keluarkan mencekik Mei Yin di lehernya. "kau...... sejak... kapan?!."
Mei Yin mencoba memutus kekuatan Feng Lin dari lehernya. namun, kesulitan terjadi karena Mei Yin tidak bisa pokus untuk mengeluarkan kekuatannya.
"heh......., aku sudah muak dengan kesombonganmu!!!!."Feng Lin menatap pada Mei Yin.
"kau kira selama ini aku lemah?!."sebuah decihan keluar dari bibir Feng Lin. "kau salah besar jika berpikir seperti itu."
"aku tidak pernah lemah aku cukup kuat untuk menghabisi makhluk sepertimu dengan sekejap!!!!."
"Feng... Lin Ku Mo...hon...."dengan napas tercekat Mei Yin mencoba mengeluarkan suaranya.
"aku berjanji akan menuruti apapun yang kau perintahkan.......uhukk....."Mei Yin memandang Feng Lin dengan melas."aku janji tidak akan melakukan hal di luar kendali tanpa seizinmu."
Feng Lin meremas tangannya membuat Mei Yin semakin tercekat. namun, ekspresi melas yang di berikan Mei Yin membuatnya beriba hati. hingga pada akhirnya dia membiarkan Mei Yin terkulai lemas di atas lantai.
"uhukkkk.......uhukkkkk......"Mei Yin tak kuasa menahan batuknya. dengan segera dia meraup oksigen untuk memenuhi paru-parunya.
"untuk kali ini kau aku maafkan."tekan Feng Lin. "tapi, tidak ada lagi kata toleransi lagi untuk nanti."
"maafkan aku Feng Lin aku memang sudah keterlaluan."Sesal Mei Yin dengan tatapan nanarnya.
Feng Lin lebih memilih untuk mengabaikannya. dengan hawa kesal yang masih melekat dia kembali mendudukan dirinya.
pikirannya berputar memikirkan bagaimana mungkin Ruby dengan gampangnya membiarkan Xie Na masuk kedalam genggamannya. bahkan setelah dia menyelamatkannya kemarin Ruby masih membiarkan Xie Na kembali.
Feng Lin tau Xie Na kemarin tidak hanya tertidur di taman. dia sudah mengalami hal yang seharusnya tidak terjadi. namun, Ruby-lah yang menolongnya. karena biar bagaimanapun hanya Ruby yang memiliki kekuatan untuk menghilangkan ingatan manusia.
dan pria itu tidak akan tinggal diam dengan segala rencana Feng Lin. Ruby dia pasti memiliki rencana lain maka dari itu Xie Na ia biarkan bersama Feng Lin.
Feng Lin mengepalkan tangannya di atas meja. apapun yang terjadi Feng Lin tidak akan membiarkan Ruby menang. sudah cukup selama ini penghinaan yang ia berikan pada Feng Lin. dan Feng Lin tidak ingin berakhir seperti itu lagi setelah kekacauan yang telah keluarganya buat. tidak lebih tepatnya dia tidak akan selamat jika Ruby menguasainya kembali.
"Feng Lin...!!!."panggil Mei Yin saat melihat Feng Lin yang sedang mengepalkan tangannya dengan raut muka yang mengeras.
"apa ada yang terjadi?!."tanya Mei Yin.
Feng Lin mendongakan kepalanya. dia menatap Mei Yin yang sedang menatapnya dengan raut muka penuh rasa bersalah.
"hehh......"Feng Lin menghembuskan napasnya. "Mei Yin!!!."
"iyah...?!."Mei Yin menjawab dengan cepat.
"tolong awasi Xie Na untuk saat ini."jelas Feng Lin.
terlihat raut tidak suka saat Feng Lin menyebutkan nama Xie Na di wajah Mei Yin. namun, perempuan itu buru-buru menarik sudut bibirnya.
"apapun itu aku akan lakukan jika itu adalah perintah darimu
"jawab Xie Na.
"baguslah jika kau sudah sadar diri."cibir Feng Lin.
"aku ingin kau selalu bersama Xie Na. awasi dia dan jangan biarkan Xie Na bertemu Ruby."jelas Feng Lin dengan ketegasannya.
"to be countinue......."