Ruby

Ruby
Ruby Yang Sebenarnya



"Iya mau bagaimana lagi, aku juga tidak ingin ibuku meninggal sama seperti anak kecil yang lain, aku juga ingin memiliki keluarga yang sayang padaku." Ruby duduk di bangku dekat Pangeran Azlan sambil membawa beberapa buku.


"Kau tidak perlu khawatir ada aku, jadi apun yang kamu ingin pelajari kita bisa belajar bersama di dini." Pangeran Azlan melihat Ruby yang sedang serius untuk memahami tulisan yang ada di dalam buku, meski ia bilang tidak bisa membaca, tapi ketertarikannya pada buku membuat Pangeran Azlan merasa senang.


Ruby yang benar-benar merasa heran dengan tulisan yang ada di dalam buku tersebut, karena ia tidak tahu hurufnya sama sekali terlihat seperti coretan saja.


Dunia kerajaan yang memang berbeda dengan tempat asalnya mewakili dia harus bisa menyesuaikan diri dan harus mempelajari tata cara menulis dan juga membaca lagi. Bukan hal yang sulit bagi Ruby. Tapi butuh waktu dan perjuangan.


"Benarkah?" tanya Ruby menata Pangeran Iya benar-benar merasa senang saat modern mau mengajarinya belajar.


Karena ia juga merasa jika waktunya akan terbuang sia-sia Jika dia tidak melakukan sesuatu dan kali ini dia sudah memiliki kegiatan yang pastinya akan menyibukkan dirinya yang mana hal itu jelas membuat rugi tidak lagi merasa bosan.


"Tentu saja, kau harus bisa membaca dan menulis karena jika kau tidak bisa itu juga akan jadi masalah besar," kata Pangeran Azlan mulai mengambil kertas kosong di mana ia ingin memberitahu ruby Bagaimana cara menulis serta dia juga bisa membaca Jika dia mengetahui hurufnya.


Padahal itu pun Pangeran ingin memulai semua itu agar lebih cepat mengerti, dan hal itu jelas membuat lubipun memperhatikan Apa yang dilakukan oleh pangeran.


Mengingat kembali Jika ada yang lebih penting, Ia pun tidak bisa menggunakan semua waktunya untuk belajar saja. karena semua Pangeran adalah yang harus diutamakan, maka dari itupun rugi harus bisa membagi waktu dan juga mengaturnya, agar tidak berat sebelah walaupun keduanya penting tapi dia harus bisa membagi waktu dengan tepat.


"Iya, aku mengerti. Jika begitu kita buat jadwal saja bagaimana?" tanya Ruby yang saat itu benar-benar tidak ingin menjadi penghambat ataupun penghalang.


Karena tujuan awalnya adalah untuk menyembuhkan pangeran dan Ruby merasa tidak enak jika harus menggunakan waktu Pangeran untuk belajar, di mana seharusnya Pangeran bisa mendapatkan kesembuhannya dan tidak harus membuatnya merasa kesulitan.


Karena jelas sikap Pangeran sembuh maka maupun belajar menulis ataupun belajar mana dan yang lainnya, bisa Ruby lakukan bersama dengan pangeran Azlan.


Apalagi Ruby juga sangat menantikan dan menunggu saat-saat dia bisa keluar dari istana bersama dengan pangeran di mana hal itu juga membuat lebih benar-benar merasa senang, bisa mendapatkan kesembuhan dan melakukan apa yang ia bisa lakukan dan juga bisa berguna bagi Pangeran Azlan.


Yang tentunya Ruby juga memiliki rencana lain, Jika semua itu tidak dilakukan dengan pelan-pelan maka ia tidak akan mungkin mendapatkan hasil yang luar biasa nanti. Karena balas dan pada kerajinan adalah hal yang besar maka dari itu butuh pengorbanan dan juga perjuangan, di mana kali ini Ruby juga sedang berjuang dari situ pun dia berusaha sebisa mungkin untuk bisa mengatur waktu dengan tepat, agar tidak mengganggu orang lain.


"Tentu saja, aku sampai lupa jika kita kesini untuk menyembuhkan penyakit ku," jawab Pangeran Azlan yang saat itu langsung teringat dengan tujuan mereka datang ke tempat kerja Pangeran Azlan.


Di mana hal itu jelas membuat Pangeran pun bertujuan ingin menyembuhkan penyakitnya berada di tempat kerja malah membuat Ruby tertarik dengan buku-buku yang ada di sana terlihat seperti perpustakaan besar di dalam kerajaan.


Itu semua catatan milik pangeran yang mana memang dipergunakan oleh pangeran, sebagai bahan untuk bisa mengetahui gerak-gerik orang lain dan bisa membuat rencana perang dan membuat Pangeran juga menuliskan buku-buku tersebut, agar dia mudah untuk mempelajarinya.


Maka dari itupun ruang kerja Pangeran penuh dengan buku. Ruby yang tidak tahu itu pun benar-benar melihat ruangan itu seperti perpustakaan, Jadi ia benar-benar merasa tertarik dan penasaran dengan apa yang ada di dalam buku yang ada di kerajaan.


Sebelumnya ia belum pernah melihat sama sekali ataupun mencoba membacanya dan kali ini ia benar-benar tidak tahu sama sekali yang tentunya membutuhkan pengetahuan lebih.


"Ah benar, kita coba dulu menyembuhkan Pangeran, Aku nyakin pasti sekarang bisa," kata Ruby yang benar-benar langsung teringat dengan tujuan awalnya datang ke sana adalah untuk menyembuhkan Pangeran itupun ia berusaha untuk fokus dengan tujuan awalnya tersebut dan juga untuk tidak mengabaikan apa yang harus ia lakukan.


Di mana dia harus belajar tapi sebelum itu ia juga tidak ingin membuang-buang waktu untuk melakukan apa yang ada di pikirannya, karena banyak hal yang sudah mereka coba tapi belum ada yang bisa berhasil.


Hal itu juga membuat Ruby ngerasa kesal Bagaimana bisa dia tidak bisa menyembuhkan kaki Pangeran. Padahal Ia sudah bilang dan juga menjanjikan kepada Pangeran jika rugi bisa menyembuhkannya dengan cepat. Tapi melihat hasilnya yang begitu mengecewakan tentu saja Ruby juga memakai merasa tidak enak hati karena apa yang di rugi untuk bisa beradaptasi di kerajaan.


"Serius, kau mau menggunakan cara apa?" tanya Pangeran Azlan menatap ruby dengan penuh harapan Ia juga Ingin secepatnya sembuh titik mendengar jika Ruby, yakin dengan penyembuhannya itu pun membuat Pangeran juga tidak sabar ingin mengetahui cara yang akan kami gunakan.


"Aku serius dengan perkataanku kali ini dan tidak pernah bercanda. aku juga berharap jika caraku yang ini juga bisa langsung menyembuhkan Pangeran," kata Ruby yang juga memberitahukan Pangeran harapannya begitu tinggi karena dia juga ingin melihat Pangeran bisa sembuh.


Melihat pangeran yang terus berada di atas kursi roda tentunya juga membuat ruby tidaklah senang. Maka dari itu ia sebisa mungkin mengerahkan seluruh tenaga dan pikirannya untuk bisa menyembuhkan kaki Pangeran, agar Pangeran bisa berjalan lagi dan bisa melakukan aktivitas seperti orang normal pada umumnya.


Agar ia juga bisa berjalan dengan mudah dan tidak terganggu dengan adanya kurs roda, yang jelas rugi juga tidak senang jika memandang Pangeran menggunakan kursi roda.


Entah kenapa dari awal ruby juga benar-benar tidak, menyukai hal itu Dan juga merasa kesal Walaupun ada sedikit rasa kasihan.