
Xie Na menikmati makan malam hari ini dengan nikmat. atau lebih tepatnya Xie Na berusaha untuk baik-baik saja. dengan terpaksa Xie Na menikmati kerang di hadapannya. karena sedari tadi Jin Yi terus menyodorkan kepadanya.
"bagaimana tidak ada yang salah dengan masakan mamahkan?!."tanya Jin Yi dengan senyumannya.
Xie Na menarik sudut bibirnya dengan kepala yang mengangguk."ya, masakan mama memang yang terbaik aku sangat menyukainya."
Xie Na mengambil satu kerang yang sudah di kupas lalu kembali mengunyahnya dengan susah payah. Xie Na memang tidak alergi dengan hewan laut satu ini. hanya saja dia sangat tidak menyukai rasanya.
"wah enak sekali.....!!!."tiba-tiba Feng Lin menyahut dengan penampilan khas baru pulang dari kerjanya.Feng Lin mendudukkan dirinya di samping Xie Na.
kedatangan Feng Lin membuat Xie Na senang. Xie Na sudah bersiap menghentikan makan kerangnya. karena Feng Lin pasti akan membantunya menjelaskan bahwa Xie Na sangat tidak suka kerang pada Jin Yi.
"lanjutkan saja makannya Xie Na. jangan hiraukan aku."ucap Feng Lin dengan senyumnya.
namun, Xie Na yang mendengarnya cukup kecewa. hingga tanpa sadar Xie Na tidak bisa menyembunyikan raut kecewanya.
"Xie Na kenapa?!."tanya Feng Lin dengan nada bersalahnya. "apa aku mengatakan hal yang salah?!."
Xie Na menggelengkan kepalanya. "aku tidak apa-apa. hanya saja aku merasa tiba-tiba kepalaku pusing."
dengan refleks Xie Na memegang kepalanya yang berdenyut. Xie Na sendiri tidak tau apa yang terjadi. apa mungkin ini ada hubungannya dengan dia yang terlalu banyak makan kerang.
"bolehkan aku izin ke kamar duluan?!."tanya Xie Na sambil terus memijat kepalanya.
Feng Lin yang melihat itu segera meranjakan diri dari duduknya. tangannya memapah Xie Na agar terbangun dari duduknya.
"mari aku antar."ucap Feng Lin dengan kedua tangan di punya Xie Na.
"istirahatlah Xie Na."jelas Jin Yi dengan perasaan cemasnya.
"nanti biar mama buatkan teh jahe."ucap Jin Yi.
baru saja Feng Lin ingin menghentikan Xie Na.tapi, Jin Yi malah lebih dulu berjalan meninggalkannya.membuat Xie Na harus mendongak menatap Feng Lin.
"maaf aku lupa memberitahu mama jika kau alergi pada teh Jahe."jelas Feng Lin dengan nada bersalahnya.
"sekarang jangan terlalu memikirkannya. kau harus segera istirahat."Feng Lin memapah Xie Na untuk berjalan."untuk mama nanti aku akan bilang."
Xie Na menganggukan kepalanya. entah kenapa sudah dua kali dia di buat kecewa. bagaimana bisa mereka tidak tau makanan dan minuman apa yang Xie Na hindari.
entah memang karena Xie Na yang terlalu pendiam. atau memang ada yang lain yang Xie Na tidak tahu.
Keraguan yang muncul di awal akhirnya kembali menyapa Xie Na. ucapan Ruby tiba-tiba muncul begitu saja di kepalanya. namun, tiba-tiba pikirannya atas keraguan buyar. saat Feng Lin mengeluarkan suaranya.
"istirahatlah......"Feng Lin membiarkan Xie Na tertidur di atas tempat tidur. dengan telaten pria itu menaikan satu selimut untuk menutupi tubuh Xie Na.
"biar ku panggilkan dokter untuk memeriksamu."jelas Feng Lin.
namun, belum sempat Feng Lin memutar tubuhnya. Xie Na sudah mencekalnya dengan meriah lengan Feng Lin.
"aku baik-baik saja.istirahat seperti ini saja sudah cukup."ucap Xie Na dengan pelan.
"kau yakin?!."tanya Feng Lin ragu. namun, sebuah Anggika dari Xie Na membuat Feng Lin mau tidak mau mengurungkan niatnya.
"kalau begitu biar aku temani."jelas Feng Lin lalu duduk di samping Xie Na. dengan pelan mengusap kepala Xie Na.
"Feng Lin......."Xie Na menatap Feng Lin yang juga sedang menatapnya.
"kau bilang aku pernah mengalami kecelakaan."
"bolehkah aku mendengar bagaimana detail kecelakaan itu terjadi?!."tanya Xie Na.
pertanyaan Xie Na membuat pergerakan tangan Feng Lin terhenti. pria itu menatap Xie Na dengan lekat. ada sebuah penyampaian yang Xie Na sendiri tidak tahu artinya.
"kau yakin ingin mendengarnya?!."tanya Feng Lin yang membuat Xie Na menganggukan kepalanya.
"bagaimana jika nanti saja?!."aju Feng Lin yang mengundang raut kecewa dari Xie Na.
"aku tidak ingin terjadi apa-apa denganmu lagi."jelas Feng Lin dengan lirih."kau tau terakhir kali aku menceritakannya kau malah menjerit mengeluh sakit kepala sampai membuatmu pingsan."
Xie Na terdiam mendengarnya. separah itukah trauma yang di berikan oleh kecelakaan itu. Xie Na sendiri menjadi penasaran seberapa parah Kecelakaannya hingga membuatnya tidak mengingat apapun di kehidupan sebelumnya.
atau........
Xie Na menatap Feng Lin lekat. ini hanya akal-akalan Feng Lin saja karena sedari awal yang dia katakan adalah sebuah kebohongan.
jika memang benar Xie Na harus waspada terhadap orang-orang disini. Feng Lin, Jin Yi maupun Mei Yin mereka semua harus Xie Na curigai.
Xie Na menggelengkan kepalanya. "tidak Dage. lagi pula saat ini keadaanku tidak baik-baik saja."
"seperti yang kau bilang nanti aku akan mendengarkan ceritanya jika aku sudah mendingan."Xie Na menarik sudut bibirnya.
"kau harus berjanji Dage."Ucap Xie Na penuh harap.
Feng Lin menganggukan kepalanya. "kalau begitu istirahatlah. aku akan menemanimu disini."
Xie Na memejamkan matanya. terdengar Feng Lin menyanyikan sebuah lagu dengan suara beratnya. menenangkan dan membuat saraf di kepalanya menjadi lebih rileks.
"apa dia tertidur?!."tiba-tiba Xie Na mendengar Jin Yi mengintrupsi.
"iya dia sudah tidur."ucap Feng Lin entah kenapa Xie Na merasa ada yang berbeda dengan nada bicara yang keluar dari bibir Feng Lin.
"aku perlu bicara denganmu!!!!."Feng Lin melirik Xie Na sebentar. "tapi bukan disini."
setelah ucapan Feng Lin Xie Na tidak bisa mendengar apa-apa lagi. sepertinya mereka sudah pergi keluar.
dengan pelan Xie Na membuka kelopak matanya. tanpa suara dia mencoba turun dari tempat tidur. awalnya Xie Na ingin keluar untuk mencari keberadaan Feng Lin dan Jin Yi. tapi, sebuah siluet yang berasal dari luar membuat Xie Na memilih berdiri di balik pintu.
"kenapa kau melakukannya?!."tanya Feng Lin penuh penekanan.
"kau tau dia tidak bisa minum teh jahe dan kerang. tapi, kenapa kau malah terus menyajikan makanan itu?!."sekali lagi Feng Lin berucap penuh penekanan.
"aku sengaja melakukannya....!!!."jawab Jin Yi.
"kau tau Feng Lin jika kita terus menuruti kemauannya maka kita tidak akan mendapatkan apa-apa."
"dia harus sadar Feng Lin. hidupnya sekarang bukanlah untuknya saja!!!."tekan Jin Yi dengan nada emosinya.
Xie Na yang mendengarkan sedari tadi hanya bisa membekap mulutnya agar tidak mengeluarkan suara karena refleks.
"tapi, apa yang kau lakukan salah mama. kau tau itu hanya akan menyakiti Xie Na!!!."jelas Feng Lin tak kalah marah.
"kau mencintainya?!......"
"apa yang selama ini Mei Yin ucapkan benar jika kau sudah jatuh cinta pada Feng Lin?!."pertanyaan sarkas dari Jin Yi membuat keterdiaman dari Feng Lin.
Xie Na yang sedari tadi menguping menunggu jawaban dari Feng Lin. dia ingin tahu apa yang akan Feng Lin berikan sebagai jawaban. apa selama ini Feng Lin tulus padanya. atau Feng Lin melakukannya karena memang ada maksud.
"ya, aku mencintainya!!!!!."jawab Feng Lin dengan mantap.
"untuk apa kau bertanya hal yang tidak jelas seperti itu."ucap Feng Lin kesal.
"jangan terlalu mendengarkan Mei Yin. perempuan itu menyukaiku maka dari itu dia selalu menyebar rumor yang tidak benar."
"Xie Na adalah istriku dan aku tidak mungkin tidak mencintai istriku sendiri."jelas Feng Lin.
"dan satu lagi aku tahu Xie Na dulu memang menyukai kerang dan Teh jahe. tapi tidak sekarang mama."
"kau harus mengerti bahwa sekarang selera nya sudah berbeda. kau harus bisa menerimanya mama. kecelakaan itu kau harus merelakannya. biarkan Xie Na menjalani kehidupannya yang sekarang."
"jangan terus-terusan membuat Xie Na harus mengingat masa lalunya."jelas Feng Lin dengan lirih.
Xie Na terdiam mendengar penjelasan dari Feng Lin. awalnya dia cukup yakin dengan keraguannya. namun, penjelasan akhir yang di utarakan Feng Lin mematahkan semua keraguan itu.
"aku hanya ingin membuatnya kembali mengingat kita."
"kau tau hatiku cukup sakit setiap kali melihat Xie Na menatap kita dengan ragu."lirih Jin Yi.
Xie Na sudah tidak tahan lagi untuk menguping di balik pintu. dengan emosinya Xie Na membuka pintu.
"maafkan aku........."lirih Xie Na membuat Feng Lin dan Jin Yi terkejut.
"maafkan aku karena selama ini aku sudah meragukan kalian."lirih Xie Na penuh sesal.
Feng Lin menghampiri Xie Na lalu membawa perempuan itu kedalam dekapannya."jangan meminta maaf."
"kau tidak bersalah. aku tau kau juga tidak melakukan itu atas kemauanmu."
"semua itu adalah hal yang wajar."Feng mengusap pelan pundak Xie Na.
"jangan terlalu di pikirkan."
...to be countinue...