
Mei Yin mengaduk waper rol yang ada di dalam minumannya. dia sudah membuat janji dengan seseorang. tetapi sudah satu jam orang itu tak kunjung menemuinya.
Mei Yin mengepalkan tangannya marah. dua hari ini dia merasa di hianati oleh orang-orang yang dekat dengannya.
"apa sekesal itu hingga membuatmu harus mengepalkan tangan dengan kuat seperti itu?!."Ruby mendudukkan dirinya dengan santai. seakan kedatangannya yang telat bukanlah apa-apa.
"tenang saja aku bukan tipikal orang yang membuang seseorang hanya karena dia berkhianat."cibir Ruby sebagai sindiran.
Mei Yin hanya memutar bola matanya malas. mendengar ocehan yang berasal dari mantan sahabatnya itu.
"kau memang tidak pernah berubah selalu banyak bicara dan menyebalkan!!!!."tekan Me Yin yang di tanggapi dengan senyuman bangga oleh Ruby.
"aku rasa itu sebuah pujian."ucap Ruby dengan bangga.
Ruby mengambil gelas di hadapannya di sesapnya kopi membiarkan cairan dengan warna hitam pekat itu membasahi tenggorokannya.
"kau juga memakan apa yang manusia makan?!."tanya Mei Yin. manik perempuan itu sedari tadi tak lepas dari pergerakan Ruby.
"setidaknya aku ingin menikmati bagaimana rasanya menjadi manusia."jelas Ruby.
"bagaimana rasanya di manfaatkan oleh keluarga Feng Lin?!."tanya Ruby dengan santai.
Mei Yin yang mendengar itu menghembuskan napasnya. "kau mengawasi ku?!."
"lebih tepatnya aku mengawasi Xie Na."jawab Ruby dengan cepat.
"selalu perempuan itu!!!."Mei Yin mencebik sebal.
"kapan perempuan itu akan mati?!."tanya Mei Yin dengan emosinya. "kau tau lebih cepat akan lebih baik."
Ruby menarik sudut bibirnya. "dari cara bicaramu aku sangat yakin bahwa Feng Lin sangat membuatmu kecewa."
"entahlah bahkan aku tidak berniat mengambilnya dan membiarkan perempuan itu bersama Feng Lin lebih lama."Ruby menatap Mei Yin menunggu tanggapan apa yang akan di perlihatkan oleh wanita licik itu.
"Ruby........!!!!!!."Mei Yin menggebrak meja di depannya. mengundang tatapan mata dari orang-orang disana.
Mei Yin melirik orang-orang yang sedang menatapnya. tanpa meminta maaf atas keributan yang ia buat Mei Yin dengan percaya dirinya kembali mendudukan dirinya.
tatapan tajamnya ia berikan pada Ruby yang sedari tadi hanya tersenyum. Atau lebih tepatnya pria itu tsrsenyum mengejek Mei Yin.
"kau gila maka dunia akan hancur karena itu!!!!."tekan Mei Yin dengan suara yang sengaja ia pelankan.
dengan santai Ruby mengedikan kedua bahunya. "kau melupakan pilihan kedua."
Ruby mencondongkan tubuhnya membiarkan kepalanya lebih dekat dengan Mei Yin. "bukankan akan lebih mengasikan jika aku memilih pilihan kedua?!."
Ruby menyandarkan punggungnya di kursi. sekali lagi dia menyesap kopi yang kini sudah mulai dingin. "melihatmu membuatku yakin bahwa sakit yang sebenarnya bukanlah mati."
"tapi Ruby kau juga harus tau........."Mei Yin menatap Ruby penuh peringatan.
"aku tau kau jangan khawatir."Ruby beranjak dari duduknya. "sebaiknya kau persiapkan kata apa yang bagus untuk menjelaskannya."
Mei Yin menatap punggung Ruby dengan tanda tanya. hingga satu sosok pria yang datang membuatnya mengerti.
pandangan pria itu pun ikut tertuju pada punggung Ruby yang semakin lama semakin menjauh. hingga pria itu menghilang di balik pintu kafe.
"jadi selama ini kau masih menemuinya?!."tanya Feng Lin sambil menatap Mei Yin tajam.
"tidak, aku baru menemuinya lagi."jawab Mei Yin tanpa ragu. Dengan congkak Mei Yin membangunkan badannya.
"kenapa ada masalah?!."tanya Mei Yin dengan berani."kau kira aku wanita lemah?!."
"jangan berkhayal Feng Lin yang kau hadapi adalah aku. Mei Yin perempuan terkuat di bigbang."
"okh iyah....."Mei Yin melepaskan cincin yang ada di jarinya. "mulai hari ini aku mengembalikan apa yang kau berikan dan......"
Mei Yin meraih tangan Feng Lin. di letakan cincin yang ia lepas tadi di atas telapak tangannya. hingga dengan tiba-tiba cincin itu menghilang begitu pula dengan cincin yang ada di jari manis milik Feng Lin.
"aku meminta kembali apa yang aku berikan."
berbarengan dengan akhir dari perkataan dari Mei Yin. Feng Lin di buat lemas sehingga mau tak mau dia harus menyanggah tubuhnya dengan berpegangan pada kursi disana.
"kau..........."Feng Lin menatap tajam pada Mei Yin.
"sejak kapan kau tahu?!."tanya Feng Lin dengan sisa tenaganya.
"sudah ku bilang aku tidak bodoh Feng Lin."Mei Yin menepuk pundak Feng Lin dengan pelan.
"okh iyah mulai hari ini aku minta putus denganmu."ucap Mei Yin lalu dengan santai dia pergi meninggalkan Feng Lin.
"okh iya......."namun, belum jauh melangkah Mei Yin kembali memutar badannya. "sekedar mengingatkan yang kau hadapi bukan hanya Ruby yang baik hati itu. tapi kau juga harus menghadapi aku yang licik ini."
setelah mengatakan hal itu Mei Yin melanjutkan jalannya dengan congkak. hingga sudah sampai di dalam mobil Mei Yin meremas kepalanya kuat.
semua yang ia lakukan hanya sandiwara semata. hatinya terlalu hancur dan berantakan. Feng Lin Mei Yin tidak seharusnya mencintai pria itu. bertemu dengan Ruby hari ini menyadarkan nya bahwa peringatan pria itu tempo dulu memang benar adanya. dan sekarang dengan bahagia Ruby menertawakan kehancurannya.
"sadar Mei Yin.......!!!!!."Mei Yin menghapus air matanya yang sempat keluar. "kau wanita paling kuat dan licik."
"aku tidak boleh kalah!!!."Mei Yin mencoba meyakinkan dirinya.
"mulai sekarang aku akan berdiri sendiri. Feng Lin ataupun Ruby aku tidak akan ada di pihak mereka!!!!."
"Xie Na bersiaplah untuk berakhir di tanganku."Mei Yin mengepalkan tangannya.
"aku akan membuktikan kepada kedua pria itu bahwa mereka menyesal karena sudah menyepelkanku."
Mei Yin menginjak pedal gasnya membelah jalanan beraspal dengan perasaan yang penuh ambisinya.
hingga tak lama Mei Yin sampai di tempat tujuan. dia bisa melihat wanita paruh baya sedang mengkipaskan uang yang cukup banyak di tangannya.
"apa ada orang yang datang lebih dulu dariku?!."
wanita paruh baru itu terkejut bukan main melihat keberadaan Mei Yin. dengan segera wanita itu merapikan uangnya dan menyembunyikan di balik tubuhnya.
"ada perlu apa kau kesini?!."tanya wanita itu.
Mei Yin menarik sudut bibirnya. "aku ingin mengambil kamar kos yang ada di pojok sana."
Mei Yin menunjuk satu kamar yang dulu pernah di tinggali Xie Na sebelum perempuan itu terikat dengan Feng Lin.
"maaf noona kamar itu bukan lagi milikku. kamar itu sudah ada yang membelinya."jelas Wanita itu. "jika memang kau berminat aku akan berikan kamar lain untukmu."
Mei Yin mengepalkan tangannya. dia menatap bibi di depannya dengan penuh amarahnya. "kenapa kau menjualnya?!."
bibi itu cukup terkejut dengan bentakan dari Mei Yin."ya ampun kau mengejutkanku!!!!."
bibi Yuhua menatap Mei Yin dengan sorot yang tak kalah tajam "kamar itu milikku jadi terserah padaku akan ku apakah. apa hak mu untuk marah kepadaku?!."
"dasar orang gila!!!!."Bibi Yuhua mengambil sapu lidi yang ada di samping kursi. "pergi dari sini atau aku akan memukulmu dengan sapu ini."
Mei Yin mencebik sebal mendengarnya. "aku akan pergi. lagi pula aku tidak sudi jika harus tidur di tempat kumuh milikmu ini!!!!!."
bibi Yuhua tidak terima mendengar kata-kata yang merendahkan keluar dari bibir Mei Yin. "dengar ya aku juga tidak ingin menerima orang gila sepertimu untuk tinggal disini!!!."
...'to be countinue'...