Ruby

Ruby
05



"Xie Na............."


sebuah pelukan mendarat pads tubuh Xie Na. perempuan paruh baya namun masih berparas cantik langsung memeluk Xie Na saat Xie Na baru saja menginjakan kakinya di ruang tengah.


"kau tau mama sangat merindukanmu."adu Jing Yi sambil melepaskan pelukannya. dia menatap Xie Na dengan tatapan penuh kekhawatiran.


Xie Na menarik sudut bibirnya kikuk. Jing Yi terkenal dengan sifatnya yang cukup tegas dan bibir tajamnya. perempuan di depannya ini cukup di takuti banyak orang. dan Xie Na juga termasuk kedalamnya.


pernah dulu Xie Na bertemu dengan dia secara tidak sengaja saat bersama Mei Yin. dan setelahnya Xie Na mendapatkan sindiran keras yang cukup menghina dirinya. dan Xie Na sangat sadar mengingatnya sampai sekarang.


"maaf tante."lirih Xie Na pada akhirnya.


"Xie Na......, bagaimana bisa kamu terus menyebutku tante?!."tanya Jin Yi tidak terima.


"kamu itu sudah menjadi menantu mama dan sudah seperti anak mama sendiri. tapi, kenapa kamu bisa dengan tega menyebut ku tante bukan mama."adunya dengan kecewa.


Xie Na menatap Jin Yi dengan tidak enak. dia tidak bermaksud untuk melukai perasaan perempuan di depannya ini. karena nyatanya Xie Na bingung harus menyebut apa padanya.


menantu?!.........


bahkan Xie Na sendiri tidak tau tepatnya kapan dia menjadi menantu dari keluarga Zang. rasanya biar di pikirkan keras berulang kali sangat tidak pantas jika Xie Na tiba-tiba berubah menjadi menantu keluarga terkaya ke 2 di China dalam semalam.


"sudah mama kau membuatnya canggung."tiba-tiba Feng Lin menyaut sambil berjalan menghampiri Xie Na.


dengan tegas dia mencoba melepaskan pelukan Jin Yi di tubuh Xie Na. "dia masih sangat canggung jadi sesekali dia lupa untuk menyebutmu mama."


"bukan begitu Xie Na?!."Feng Lin melirik Xie Na.


dengan cepat Xie Na menganggukan kepalanya. ya, walau tidak tau apa-apa. setidaknya Xie Na mengikuti alurnya dengan cara Natural agar tidak terlalu mencurigakan.


"okh, iya sebenarnya hari ini aku akan tinggal di apartement."jelas Feng Lin memberitahu.


"tapi, ada barang yang harus aku bawa dari sini. jadi aku mampir dulu sebentar." tambah Feng Lin.


"loh kenapa harus tinggal di apartement?!."Jin Yi berucap dengan raut kecewanya. "kenapa tidak disini saja?!. kan mama masih kangen dengan Xie Na."


Feng Lin menarik sudut bibirnya. "hanya hari ini saja. aku akan tinggal disana. besok sudah kembali lagi."


"lagi pula aku terlalu khawatir jika membiarkan Xie Na harus tinggal sendiri disana. karena kemungkinan seminggu ke depan aku ada perjalanan bisnis ke Korea."


"baiklah kalau begitu untuk hari ini aku akan membiarkan kalian tinggal di apartemen."lirih Jin Yi.


"tapi ingat Feng Lin jangan lakukan kesalahan lagi sehingga membuat Xie Na marah besar seperti kemarin."peringat Jin Yi.


"kau tau mama tidak akan tinggal diam jika sampai mendengar Xie Na marah lagi!!!!."mata tajam Jin Yi menghunus menatap Feng Lin.


Feng Lin hanya menarik sudut bibirnya. tangannya melingkar di leher Xie Na membuat Xie Na terjengit karena terlalu tiba-tiba.


"itu tidak akan terjadi. karena di tinggalkan Xie Na walau sebentar saja sungguh membuatku prustasi."dan tanpa di duga Feng Lin mendaratkan kecupan di pipi Xie Na.


dengan refleks Xie Na sedikit bergeser jarak membuat tangan Feng Lin yang sedang bersandar di lehernya terjatuh kebelakang. tangan Xie Na memegang pipinya yang diyakini sudah memerah padam seperti tomat .


"ha..ha.. Xie Na kita sudah menikah hampir tiga bulan tapi kau selalu bersikap malu-malu seperti itu."ledek Feng Lin dengan senyum jenaka.


Jin Yi hanya menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan romansa yang ia lihat secara langsung dari anaknya sendiri.


"kalian sudah pulang?!."hingga sebuah intrupsi membuat ketiga orang disana menoleh ke arahnya.


"okh Mei Yin kau sudah pulang?!."tanya Jin Yi pada mei Yin.


namun, jawaban singkat dari Mei Yin mengundang kerutan di dahi Xie Na. dengan pelan dia mengulang jawaban Mei Yin tadi dengan nada penuh tanya. "tante......?!."


semua orang di buat memandang Mei Yin karena pertanyaan refleks yang keluar dari bibir Xie Na.


"okh,itu aku memang sering menyebutnya seperti itu."jelas Mei Yin dengan cepat.


"seperti yang kau lakukan aku juga sedikit tidak nyaman menyebutnya mama."lirih mei Yin.


"tapi, kenapa?!."tanya Xie Na yang tidak puas dengan jawaban Mei Yin. karena setahunya Mei Yin adalah puteri dari Jin Yi adik dari Feng Lin.


"karena Jin Yi adalah ibu tiriku."lirih mei Yin dengan pelan.


Xie Na yang mendengarnya merasa bersalah. dia sudah salah memilih pertanyaan yang malah membuat semuanya semakin canggung.


"benar kata Xie Na kau tidak seharusnya menyebut ku tante. karena asal kau tahu bahwa kau sudah seperti putriku sendiri."jelas Jin Yi ada nada sedih yang ia utarakan.


"maaf mama aku tidak bermaksud seperti itu."Sesal Mei Yin.


"sudahlah aku tidak ingin membahasnya. yang terpenting sekarang adalah semuanya sudah kembali baik-baik saja."Jin Yin mencoba melerai rasa canggung yang menyelimuti.


"bagaimana sebelum kalian pergi. kalian makan dulu mama sudah menyiapkan makanan kesukaan kamu Xie Na."jelas Jin Yi dengan senang. Tanpa basa-basi Jin Yi menarik Xie Na bersamanya. meninggalkan Feng Lin dan Mei Yin yang terdiam dalam keheningan.


"jangan lakukan itu lagi. dan ini peringatan untukmu."dengan pandangan lurus Feng Lin berucap. lalu pria itu berjalan menyusul Xie Na dan Jin Yi yang sudah sampai di ruang makan.


"wah banyak sekali makanan disini?!."Feng Lin cukup takjub dengan deretan makanan yang cukup banyak di atas meja."apa mama sedang mengadakan pesta?!."


"ha..ha... mama terlalu senang karena mendengar Xie Na mau kembali kesini. jadi beginilah jadinya aku ingin memasakan makanan yang banyak untuk Xie Na."jelas Jin Yi di akhiri kekehan.


Xie Na yang menjadi peran utama disini hanya bisa terdiam dan tersenyum. pikirannya melayang pada sosok sahabatnya. ia sangat merasa bersalah karena pertanyaan tadi.


"Xie Na kenapa diam saja?!."tanya Jin Yi. "kau tidak senang dengan makanannya?!."


Xie Na mengerjap mendengar pertanyaan dari Jin Yi. dengan cepat dia menggelengkan kepala."tidak mama hanya saja aku sedikit bingung harus mulai makan dari banyak."


"karena jujur ini sangat banyak."dengan canggung Xie Na menggaruk tengkuknya.


Jin Yi tersenyum mendengar jawaban dari Xie Na. "kalau begitu bagaimana jika kau mulai dengan supnya dulu."


Jin Yi menyodorkan sup berwarna kuning pucat kehadapan Xie Na. dari bau nya jelas sekali bahwa sup itu adalah sup jagung keju.


"terimakasih mama."ucap Xie Na sambil mengambil mangkuknya. "kalau begitu aku akan memakannya."


dengan canggung Xie Na menyendokan sup jagung itu kemulutnya. perpaduan cita rasa manis dan asin menyerbak di indera perasanya. entahlah, bagaimana bisa ini terjadi. tapi, Xie Na bisa merasakan rasa bahagia tiada tara saat merasakannya.


"hmmm sup-nya sangat enak."ucap Xie Na lalu kembali memasukan supnya kedalam mulut.


terlalut dalam kenikmatan makanannya. Xie Na bisa merasakan bahwa surainya di usap dengan lembut oleh satu tangan. membuat Xie Na terbuai sampai menutup matanya karena saking terlarutnya.


"kenapa aku mengantuk....?!."Xie Na mengucek matanya yang berair.


"mungkin karena terlalu lelah. makanya kau cukup mengantuk. "saut Feng Lin sambil terus mengusap puncak kepala Xie Na.


"bagaimana jika istirahat sebentar sebelum pergi ke apartement."aju Feng Lin yang di jawabi anggukan oleh Xie Na.


......to be countinue..............