Ruby

Ruby
04



Xie Na hanya bisa terdiam saat Feng Lin memilih untuk duduk di sampingnya. sungguh Xie Na belum siap jika harus di hadapkan pada situasi seperti ini.


"maaf ya karena kesalahpahaman itu kau malah memilih pergi."ucapnya dengan lirih.


"aku tau kau masih marah. tapi, ku mohon kembalilah. aku sudah mempublikasikan pernikahan kita seperti yang kau mau."jelas Feng Lin. Xie Na bisa merasakan tangannya di raih dan di genggam.


"tuan........"lirih Xie Na tidak enak.


"Xie Na...!!!!."tiba-tiba Feng Lin meninggikan suaranya membuat Xie Na buru-buru beringsut mundur. membuat tautan tangannya terlepas.


"okh Xie Na maaf."lirih Feng Lin cepat.


"hanya saja aku tidak menyangka kau menyebutku tuan seperti itu. kau tau kau adalah istriku bagaimana bisa kau memanggilku tuan."ucap Feng Lin dengan sebal. "aku tau kau sedang marah tapi bukankah menyebutku seperti itu sangat keterlaluan."


"ekh...... maaf."lirih Xie Na. otaknya sungguh kosong untuk menangkap semua yang terjadi. di tambah Feng Lin sangat tampan untuk sekedar menjadi manusia. dan Xie Na cukup lemah untuk orang-orang tampan.


"akh, tidak-tidak harusnya akulah yang meminta maaf karena sudah membentakmu secara tiba-tiba."sanggah Feng Lin dengan cepat.


Feng Lin menarik sudut bibirnya. ada sarat tulus cukup dalam di manik yang ia pancarkan."maafkan aku."


Xie Na hanya bisa terdiam menanggapinya. lagi pula dirinya tidak tau harus menanggapi apa. dan lagi apa yang harus di maafkan?!.


"Xie Na kau memaafkan ku kan?!."tanya Feng Lin sambil menatap Xie Na dengan penuh.


dengan refleks Xie Na menganggukan kepalanya. sungguh wajah tampan dan senyum manis yang Feng Lin berikan cukup menghipnotis Xie Na.


Feng Lin cukup senang melihat respon Xie Na . "terimakasih."


dan tanpa di duga Feng Lin membawa tubuh Xie Na kedalam pelukannya. membuat Xie Na cukup terjengit kaget. jantungnya bahkan sampai ingin melompat dari tempatnya.


"Feng Lin gege maaf aku tidak bisa bernapas."Dengan gemetar Xie Na mencoba melepaskan pelukannya.


"okh maaf aku terlewat senang karena kau sudah memaafkanku."jelas Feng Lin dengan nada bahagianya.


"kalau begitu mari kita pulang. mama pasti akan senang mendengar kalau kau akan kembali tinggal disana."


Xie Na menatap Feng Lin dengan ragu. sungguh Xie Na memang pernah bermimpi untuk mendapatkan pria tampan kaya raya dan baik. tapi, itu hanya ilusi Xie Na sendiri tidak pernah menyangka akan mendapatkannya dengan nyata.


"kenapa...?!."tanya Feng Lin saat melihat raut ragu yang ketara jelas di mimik wajahnya.


"kenapa kau terlihat tidak senang?!."tanya Feng Lin kembali.


"hmmmmm........"Xie Na menahan kata-katanya. dia masih ragu untuk menerima kenyataannya.


"bagaimana jikalau hari ini kita tinggal pulang dulu."pinta Xie Na pada akhirnya.


Di kebanyakan cerita yang Xie Na baca. di setiap kejadian yang membahagiakan pasti ada antagonis yang akan siap merusak. dan Xie Na belum siap jika harus bertemu dengan antagonis itu. dia harus menata hatinya dan merencanakan sesuatu. takut-takut dia malah akan menjadi lemah di dalam ceritanya. dan Xie Na tidak suka menjadi lemah.


Feng Lin cukup tidak senang mendengar permintaan dari Xie Na. namun, terhitung beberapa detik setelah berpikir. akhirnya Feng Lin menganggukan kepalanya.


tangannya meraih surai cokelat milik Feng Lin. dia mengusap surai itu dengan lembut. "baiklah untuk hari ini kita tinggal di apartement dulu."


"aku tau kau akan meminta seperti ini. kau cukup risih dengan kehidupan mewah yang di berikan mama. tapi, kau harus terbiasa Xie Na karena mulai saat ini kau adalah istriku."jelas Feng Lin.


"ini demi kebaikan mu dan aku hanya akan mengizinkan untuk tinggal di luar hari ini saja."tambahnya yang membuat Xie Na menunduk menyesal.


tolong siapapun yang mengetahui alur mundurnya. tolong bisikan pada Xie Na saat ini juga........


Xie Na menjerit dalam hatinya. dan jika ini mimpi tolong bangunkan Xie Na. karena ini terlalu indah sehingga Xie Na terbuai dan menganggap bahwa ini nyata.


"ayo sebaiknya kita segera pergi."Feng Lin meranjakan dirinya. tangan kanannya terulur kehadapan Xie Na.


dengan ragu Xie Na meraih tangan Feng Lin. rasa panas dan dingin merayap di pembuluh darahnya. ya, ampun seprustasi apa Xie Na sampai bermimpi indah di mimpi tidurnya ini.......


sepanjang berjalanan pulang Xie Na dan Feng Lin sama-sama bungkam. jika Feng Lin mungkin sibuk dengan kemudinya. Xie Na sibuk dengan semua pikirannya. semua hal yang terasa tiba-tiba mengejutkan dan tidak masuk akal.


hingga getar di dalam saku blezzernya membuat Xie Na buru-buru mengambil benda pipih itu. satu panggilan dari nomor tak di kenal masuk disana.


Xie Na memilih melihat panggilan itu sampai berakhir. sambil berpikir nomor siapa yang bisa menghubunginya namun tak ia simpan nomornya. hingga setelah panggilan berkahir dan menampakan satu pesan darinya.


"kau dimana?!....


..aku sudah di cafee dekat kampus. sekertaris Chang Yi bilang kau ingin bertemu dengan ku."


Xie Na menepuk jidatnya. "ya ampun aku melupakannya."


"akh........"Xie Na menoleh ke arah Feng Lin. Xie Na merutuki dirinya karena bagaimana bisa dia melupakan keberadaan Feng Lin tadi.


"akh, aku ada janji temu dengan teman. tapi, aku malah melupakannya."jelas Xie Na dengan senyum kikuknya.


"kalau tidak keberatan bolehkah mampir sebentar ke cafee yang dekat kampus?!. aku tidak akan lama ko hanya sebentar saja."tambah Xie Na.


"temanmu pria atau wanita?!."tanya Feng Lin.


"laki-laki."jawab Xie Na cepat.


tiba-tiba raut Feng Lin berubah jadi muram. tangannya mencengkram pada setir yang sedari tadi ia kemudi.


"Feng Lin bolehkan?!."tanya Xie Na dengan ragu.


"aku tidak enak karena sudah janji dengannya."tambah Xie Na lirih.


Feng Lin terdiam hingga tiba-tiba dia menghentikan mobilnya ke pinggir. membuat rasa takut menyerbak pada perasaan Xie Na.


satu hembusan napas berat terdengar dari Feng Lin. pria itu mengarahkan eksistensi nya penuh pada Xie Na."aku mengizinkan. tapi, aku juga ikut menemuinya."


"bagaimana?!."tanya Feng Lin dengan raut yang tidak bisa di bantah.


Xie Na menganggukan kepalanya. "ia aku tidak keberatan jika kau ikut."


"baiklah......"Feng Lin kembali memutar setirnya untuk melanjutkan tujuannya.


"hemmmm, padahal baru sebentar kau ke luar dari rumah tapi sudah ada laki-laki yang mendekatimu."lirih Feng Lin.


tunggu....., apa Feng Lin sedang cemburu padanya?!.......


Xie Na menoleh ke arah Feng Lin dengan tidak percaya. "he..he.. dia hanya teman ko sungguh."


"ya, dan itu tidak seperti dirimu. karena selama ini kau tidak pernah berteman dengan pria selain diriku."jelas Feng Lin yang membuat Xie Na terdiam.


Xie Na hanya terdiam menanggapi kecemburuan dari Feng Lin. tapi, bukan itu yang membuatnya terdiam. kata-kata yang Feng Lin katakan. mengingatkannya pada sosok pria yang selama ini menjadi kekasihnya. atau ralat sekarang sudah menjadi mantan kekasih.


"apa aku separah itu?!."alih-alih tersinggung Xie Na melempari Feng Lin dengan pertanyaan.


dan anggukan dari Feng Lin membuat Xie Na menyimpulkan bahwa dirinya memang sangat parah pada laki-laki. Xie Na tidak punya alergi yang unik seperti tidak bisa dekat-dekat dengan pria. hanya saja perempuan itu tidak suka berteman dan dekat dengan laki-laki. dan jika sudah nyaman dengan satu laki-laki Xie Na tidak pernah berniat dekat dengan laki-laki lain. dengan dalih untuk menjaga perasaan.


tak terasa Xie Na dan Feng Lin sudah sampai di cafe tujuan. mereka bisa melihat satu orang sedang melambaikan tangan ke arahnya. sedangkan pria yang satunya hanya duduk sambil menatap tajam ke arah Xie Na dan Feng Lin.


"maaf karena sudah membuat menunggu lama."lirih Xie Na dengan penuh Sesal.


"tidak apa-apa kami juga baru sampai ko."ucap Cheng Yi sambil tersenyum.


"hmmmm........"Xie Na menatap pria yang satunya lagi.


"Rubby.....!!!."jawabnya cepat dengan raut dinginnya.


"tuan Rubby aku tau ini mungkin sedikit tidak sopan."


"tapi, aku ingin mengembalikan Card ini. karena menurutku ini terlalu berlebihan."Xie Na menyerahkan black card yang ia keluar kan dari sakunya.


"maaf karena tidak bisa menerimanya.karena jujur aku tidak tau apa yang sudah aku bantu untukmu."jelas Xie Na. "tapi, apapun itu aku tulus melakukannya."


"apa karena dia?!."Rubby menatap tajam pada Feng Lin yang sedari tadi juga sedang menatapnya.


Xie Na mengikuti arah pandang Rubby. "akh bukan ini tidak ada hubungannya dengan Feng Lin Gege."


"aku memang tidak bisa menerimanya."tambah Xie Na sambil tersenyum.


"heh..... dasar penipu."pelan namun cukup jelas di dengar. Xie Na yakin bahwa Rubby mengatakannya.


"baiklah, walau aku sedikit terluka dengan sikap lancang Noona Xie Na. tapi, memaafkan nya karena ketulusan hati anda."jelas Rubby penuh penekanan.


"dan sebagai gantinya aku akan mengabulkan apapun permintaanmu."


"datanglah aku akan mengabulkan apapun yang kau minta."jelas Rubby dengan senyum yang penuh maksud."bukankah banyak pertanyaan yang perlu di jawab."


...to be countinue...