Ruby

Ruby
14



entahlah sudah berapa jam Xie Na habiskan didalam mobil bersama Feng Lin. pagi sekali pria itu mengajak Xie Na keluar. entahlah Feng Lin tidak bilang kemana mereka akan pergi.


"ikut saja......"itulah yang dia ucapkan untuk meyakinkan Xie Na.


Xie Na hanya bisa menurutinya saja. lagi pula tidak mungkin jika Feng Lin membuatnya celaka. dan Xie Na percaya itu.


hingga sebuah tempat dengan latar pepohonan yang menjulang tinggi memanjakan mata Xie Na saat pertama kali Xie Na menurunkan kakinya dari mobil. udara sejuk dari keasrian tanaman membuat Xie Na merasakan sebuah ketenangan.


"apa ini sebuah kejutan?!."tanya Xie Na saat melihat ke sekeliling. dia bisa melihat ke asrian lingkungan disini.


Feng Lin menarik sudut bibirnya. "ya, bisa di bilang ini kejutan."


"tapi, bukan ini yang akan menjadi kejutannya."Feng Lin menarik lengan Xie Na dengan pelan.


membuat Xie Na dengan pasrah mengikuti langkah Feng Lin yang mengajaknya untuk menelusuri hutan pohon pinus lebih dalam.


hingga langkah Feng Lin berhenti di salah satu pohon. pria itu meletakan bunga yang entah sejak kapan ada di tangannya.


"pagi appa..., eomma....."sapa Feng Lin.


Xie Na mengerutkan dahinya. panggilan itu tidak asing untuk Xie Na. bagaimana bisa Feng Lin menyebutkan panggilan orangtua khas negeri gingseng. sedangkan mereka sendiri sudah lama tinggal di china.


"siapa?!."tanya Xie Na penasaran dengan suara pelannya.


Feng Lin lagi-lagi tersenyum menanggapi pertanyaan Xie Na. "sapalah orangtuamu pasti merindukanmu."


Xie Na terdiam saat mendengar penjelasan dari Feng Lin. dengan mata yang berkaca Xie Na menatap pohon yang ada di depannya. dan baru kali ini Xie Na tersadar bahwa ada ukiran nama di pohon itu.


'Kim Naeun dan Zang Xie Ye '


"eomma........."


"appa..........."refleks Xie Na berjalan lebih mendekat.


tiba-tiba saja Xie Na merasakan kakinya lemas. membuat dia tersungkur ke tanah. Feng Lin yang melihat itu refleks membawa Xie Na agar tidak terjatuh.


"eomma..... appa............"akhirnya tangisan Xie Na pecah. sekelibat kecelakaan yang mengerikan berputar di kepalanya. bagaimana bisa Xie Na sekejam itu dengan melupakan kedua orangtuanya.


"maafkan aku........, maafkan aku yang dengan tidak tau dirinya malah melupakan kalian dan hidup dengan baik."lirih Xie Na dengan pilu.


"bagaimana bisa aku melupakan kalian?!."tangis Xie Na semakin pecah.


namun,Feng Lin hanya terdiam sambil menatap Xie Na yang menangis dengan sendu. sudah saatnya Xie Na tahu dimana kedua orangtuanya. selama ini perempuan itu cukup menderita setidaknya hanya ini yang bisa Feng Lin berikan untuk Xie Na.


"aku harap kalian disana baik-baik saja."Xie Na mencoba menghentikan tangisnya. dengan kasar dia mengusap air matanya. "karena aku juga baik-baik saja disini."


Xie Na mendongak melihat Feng Lin yang sedang menatapnya. lalu kembali menatap pohon di depannya. "kehidupanku baik karena ada Feng Lin Dage."


"aku berharap kalian juga bisa menikmati hidup kalian lebih baik disana."harap Xie Na. "karena mulai saat ini aku tidak akan lupa mengirimkan doa untuk kalian."


"terimakasih dan maaf......."lagi air mata Xie Na tidak bisa di tahan. "maaf kan aku eomma appa........"


Feng Lin yang sudah tahan lagi melihat kepiluan Xie Na akhirnya lebih memilih mendekat. "sebaiknya kita kembali."


"aku masih ingin disini Feng Lin......"dengan pelan Xie Na menghempaskan kedua tangan Feng Lin di pundaknya.


"tapi, sepertinya akan turun hujan. aku janji setelah ini kita akan sering-sering kesini."bujuk Feng Lin.


Xie Na yang mendengar gemuruh yang berasal dari langit. mau tak mau akhirnya memanjakan dirinya. "maaf eomma appa aku tidak bisa lama-lama disini."


"lain kali aku akan disini lebih lama lagi dan menceritakan semua kehidupanku."jelas Xie Na.


"kenapa baru Sekarang?!."tanya Xie Na setelah mendudukkan dirinya di atas kursi mobil.


"maaf......."lirih Feng Lin.


"dulu aku terlalu takut membayangkan bagaimana kamu prustasinya menghadapi kenyataan. maka dari itu aku lebih memilih membiarkan semuanya berjalan dengan lancar."


"namun, karena beberapa hari ini ingatanmu kembali. menyadarkan ku bahwa kau lebih menderita jika harus melupakan kenangan itu sekalipun kenangan itu adalah sebuah luka untukku."jelas Feng Lin dengan nada lirihnya.


"terimakasih.........."ucap Xie Na dia menatap Feng Lin dengan penuh.


"terimakasih karena sudah menjagaku selama ini." Xie Na menundukan kepalanya."dan maaf karena sudah melupakan bahkan mencurigaimu selama ini."


"tidak apa-apa......."jawab Feng Lin sambil tersenyum."yang terpenting sekarang kau sudah mempercayaiku."


setelah percakapan itu Xie Na lebih memilih menikmati pemandangan yang mereka lewati lewat kaca mobil. hingga tiba-tiba saja Feng Lin mempercepat kendali mobilnya.


"Xie Na berpeganganlah........."Feng Lin melirik kaca spion yang ada si sebelah kirinya. "sepertinya ada yang mengikuti kita!!!!."


Xie Na memutar badannya hingga sebuah tembakan meluncur begitu mulus ke arah mobilnya. untung saja mobil yang di kendarai Feng Lin adalah mobil anti peluru. sehingga tembakan itu bisa di sangkal dengan cepat.


"a...........!!!!."dengan cepat Xie Na memutar tubuhnya ke posisi yang lebih baik.


"apa yang terjadi Feng Lin?!."tanya Xie Na dengan panik.


"siapa yang mengikuti kita?!." Xie Na meringis saat kembali mendengar suara tembakan yang begitu kencang."kenapa mereka melakukannya?!."


"aku takut Feng Lin.........."lirih Xie Na dengan cemas.


"tenanglah kau tidak akan kenapa-napa. aku dan kamu akan baik-baik saja."ucap Feng Lin sambil terus meliuk-liuk arah mobilnya agar terhindar dari kegilaan orang yang entah dia sendiri tidak tau siapa pelakunya.


Xie Na menganggukan kepalanya. bibirnya terkatup karena saking takutnya. apalagi dengan jarak mereka yang semakin mendekat. membuat Xie Na merapalkan doa kuat-kuat dalam hatinya.


"a...........!!!!!."Xie Na menjerit saat dengan tiba-tiba mobilnya di dorong kepinggir oleh mobil yang mengejarnya tadi.


"Sial........!!!."teriak Feng Ling prustasi sebisa mungkin dia mempertahankan keseimbangan mobilnya. dia terus menahan agar mobilnya tidak terjatuh ke jurang yang kini ada di sampingnya.


siapapun yang melakukan hal gila ini aku tidak akan membiarkan mereka............


Feng Lin melirik Xie Na yang begitu ketakutan. prioritasnya sekarang adalah perempuan ini. biar bagaimanapun perempuan itu harus baik-baik saja.


Feng Lin mempokuskan dirinya sambil berpikir bagaimana cara melepaskan diri dari mobil di sampingnya yang terus-terusan membuatnya terpojok.


hingga pemandangan dua jalur di depan membuat Feng Lin menarik sudut bibirnya. "oke kawan mari kita lihat siapa yang sebenarnya kau hadapi!!!!."tekan Feng Lin dengan smirk yang cukup menakutkan.


Xie Na sendiri yang melihatnya hanya memilih diam. baru kali ini Xie Na melihat sosok Feng Lin yang begitu menyeramkan.


Feng Lin terus menekan pedal gas nya. mencoba menghindari mobil yang ada disampingnya. dengan sekuat tenaga dia juga mencoba mendorong mobil itu ke samping.


sepertinya keberuntungan sedang berpihak Feng Lin karena usahanya membuahkan hasil membuat mobil yang tadi mengejarnya kehilangan kendali karena harus menyerempet pada pepohonan yang tumbuh menjulang tinggi sebagai pembatas jalan.


Feng Lin lagi-lagi menarik sudut bibirnya. dengan sengaja Feng Lin memasuki lorong yang sudah lama tidak di tempati. sehingga tidak ada penerangan yang membuat lorong itu gelap.


"Dage mobil itu sudah mengejar kita lagi!!!!."peringat Xie Na saat melihat sebuah cahaya yang sudah menyorot ke arah mobilnya.


"tenanglah......., semua ini akan segera berakhir. Feng Lin semakin menekan pedal gasnya. tak peduli bahwa di depannya ada peringatan yang memperingati bahwa di depannya adalah jalan buntu.


"Dage..............!!!!."Xie Na berteriak saat mobilnya akan terjun pada jurang di depannya.


'to be countinue..........'