
"*wah indah sekali bagaimana bisa kamu menggambarnya Xie Na?!."perempuan cantik itu tersenyum pada Xie Na kecil.
"ha..ha. aku menggambar sambil mengingat wajah cantikmu mama. maka dari itu aku bisa menggambar dengan indah seperti ini."jawab Xie Na dengan senyum manisnya.
"ya, ampun kau seperti ayahmu sangat pintar berbicara manis."perempuan itu mengacak rambut Xie Na dengan gemas.
membuat Xie Na terkekeh dengan jenaka di buatnya. Xie Na sangat senang memandangi paras cantik wanita itu. sehingga menurutnya mengedipkan matanya akan membuatnya sangat rugi.
"tapi, Xie Na mama harus meminta maaf padamu."lirih perempuan itu dengan raut bersalahnya.
"kenapa mama meminta maaf?!."tanya Xie Na sambil mengerjap khas anak kecil.
"maaf karena mulai saat ini mama harus melepaskanmu. kamu harus tinggal disini agar selamat dan tidak celaka."jelas perempuan itu ada bulir bening yang jatuh di sudut matanya.
"bersembunyilah jangan temui orang-orang yang akan mencelakakanmu."jelasnya dengan tegas namun penuh dengan kepedihan.
Xie Na yang memang masih anak kecil tidak mengerti dengan apa yang di katakan perempuan di depannya. hingga secara tiba-tiba semuanya menjadi gelap hingga perempuan itu harus tenggelam dalam kegelapan dan membuat Xie Na tidak bisa melihatnya sama sekali.
"pergi Xie Na.........!!!!!."hingga sebuah teriakan penuh peringatan terdengar nyaring di telinga Xie Na.
"Xie Na cepat lari........!!!!!!."teriaknya lagi.
Xie Na yang mendengarnya jadi ketakutan. "mama........."
"mama kau dimana?!.........."teriak Xie Na ketakutan.
"mama........!!!!!!."teriak Xie Na*.
"mama.........!!!!!!."Xie Na membuka matanya. keringat dingin bercucur di dahinya. matanya memutar melihat ke sekeliling. asing......., itulah yang Xie Na rasakan sekarang.
"Xie Na kamu tidak apa-apa?!."sebuah pertanyaan membuat Xie Na menoleh.
"Feng Lin.......?!."lirih Xie Na dengan napas yang masih menggebu.
"kau mimpi buruk?!."tanya Feng Lin dengan raut cemasnya yang di jawabi anggukan oleh Xie Na.
Feng Lin membawa Xie Na dalam pelukannya. "tenanglah itu hanya mimpi saja."
tangis Xie Na pecah saat mendengar suara lembut yang keluar dari bibir Feng Lin. mimpinya entah kenapa sangat terasa menakutkan untuknya. walau hanya gelap tapi Xie Na merasa tubuhnya di makan oleh kegelapan itu. dan itulah alasan yang membuat perempuan cantik itu menghilang dan hanya bisa terdengar suaranya.
"tenanglah Xie Na kau baik-baik saja. tidak ada yang terjadi padamu."ucap Feng Lin lagi sambil mengusap puncak kepala Xie Na dengan lembut.
"aku takut Feng Lin.........."lirih Xie Na."mimpi itu sangat terasa nyata."
"mimpi itu seakan ingin memakanku. aku tidak tau apa itu. tapi kegelapan itu seakan ingin menghabisiku dan memakanku."jelas Xie Na dengan ketakutan.
"tidak Xie Na itu hanya mimpi. itu tidak akan terjadi. "jelas Feng Lin mencoba membuat Xie Na lebih tenang.
"lagi pula itu tidak akan terjadi karena akan ada aku yang akan melindungimu."ucap Feng Lin meyakinkan.
Xie Na melepaskan pelukannya. dia mendongak dan menatap Feng Lin. dia melihat raut khawatir dari binar matanya. membuat Xie Na sedikit merasa tenang. "terimakasih."
"hemmmm kau sudah merasa tenang?!."tanya Feng Lin yang di jawabi anggukan oleh Xie Na.
Feng Lin cukup senang mendengarnya. dengan telaten Feng Lin merapikan surai Xie Na yang berantakan menutupi wajahnya.
Tanpa suara Xie Na meraih gelas itu dan menegak isinya hingga sisa setengah. lalu, setelahnya dia memberikan kembali pada Feng Lin.
"Feng Lin aku ingin bertanya padamu boleh?!."aju Xie Na dengan ragu.
Feng Lin menarik sudut bibirnya. dia menganggukan kepalanya sebagai jawaban. " setidaknya aku akan mendengarkan mu jika memang tidak bisa menjawabnya."
"apa aku pernah kecelakaan sebelumnya?!."tanya Xie Na."karena jujur aku merasa ada yang hilang dalam hidupku."
"dan akupun merasa bahwa semuanya berjalan tidak masuk akal untukku."ucap Xie Na dengan jujur.
Feng Lin terdiam mendengar pertanyaan dari Xie Na. hingga akhirnya dia menarik sudut bibirnya. namun, bukan raut senang yang ia tunjukan. melainkan sendu penuh kesedihan.
"sebenarnya aku tidak ingin menceritakan hal ini padamu."lirih Feng Lin. "tapi, karena kau menanyakannya. maka aku tidak bisa lagi tidak memberitahumu."
"sebenarnya satu bulan lalu kau mengalami kecelakaan yang mengakibatkan dirimu kehilangan ingatanmu."jelas Feng Lin dengan lirih.
"kau tidak mengingat semuanya bahkan kau pun melupakan diriku sebagai suamimu."
"kau menganggap kami orang asing. dan jujur itu sangat menyakitkan untukku."lirih Feng Lin dengan sendu.
"awalnya aku memilih menunggu. namun, waktu berlalu tapi kamu tidak kunjung membaik."
"aku prustasi maka dari itu aku mempublikasikan pernikahan kita ke publik agar setidaknya aku bisa tinggal bersamamu walau kamu tidak mengingat apapun."lirihnya pilu dengan mulusnya air mata Feng Lin membasahi pipinya.
"padahal aku tahu sendiri kamu paling tidak ingin pernikahan ini di publikasikan karena kamu tidak ingin menjadi sorotan orang-orang. kamu paling ingin hidup sederhana dengan statusmu yang apa adanya."
"maaf Xie Na karena telah melakukan hal yang paling kamu larang."ucapnya penuh sesal. "dan maaf juga karena sudah mengarang cerita yang tidak-tidak dan berakhir membuatmu bingung."
Xie Na terdiam mendengar penjelasan dari Feng Lin. semuanya terasa masuk akal namun entah kenapa Xie Na ingin sekali menyangkalnya. menurut Xie Na semuanya terasa mimpi dan terlalu mendadak untuk Xie Na.
"maaf Feng Lin.........."dan pada akhirnya hanya kata maaf yang bisa Xie Na ucapkan.
"tidak apa-apa Xie Na ini bukan kemauanmu."ucap Feng Lin sambil menghapus air matanya. dengan tulus pria itu menarik sudut bibirnya.
"Xie Na bolehkah aku meminta satu permintaan untukmu?!."tanya Feng Lin dengan serius. dan Xie Na mengangguk menyanggupinya.
"mau kah kamu mempercayai apapun yang aku ucapkan. dan mengabaikan apapun itu di luar sana." Feng Lin berucap dengan penuh permohonan.
Xie Na kembali mengangguk. "ya aku akan mempercayai mu Feng Lin."
"dan maaf karena selama ini karena aku sudah melupakan hal yang seharusnya tidak aku lupakan."lirih Xie Na.
"Feng Lin........."panggil Xie Na.
pria yang di panggil namanya itu menatap Xie Na dengan tatapan penuh. "kenapa?!...."
"aku minta tolong padamu. mulai sekarang bantu aku untuk mengingat semuanya. secara pelan-pelan sampai aku mengingat semuanya."pinta Xie Na penuh permohonan.
Feng Lin menarik sudut bibirnya bahagia. kepalanya mengangguk cukup antusias. "kamu jangan khawatir Xie Na. aku akan membantumu untuk mengingatnya."
"walaupun pada akhirnya kamu tidak bisa mengingat sepenuhnya. aku tidak peduli. karena nyatanya melihatmu ada di depanku seperti ini sudah cukup untuk membuat ku sangat bahagia."jelas Feng Lin lalu dia membawa tubuh Xie Na kedalam pelukannya.
...to be countinue...........