Ruby

Ruby
08



"aw.........."Xie Na mengaduh saat kepalanya terantuk pada gazebo yang ia duduki.


"aduh bagaimana bisa aku tertidur disini."Xie Na meraih dahinya yang berdenyut. namun, urung saat merasakan ada sesuatu di tangannya.


perempuan itu bisa melihat pemantik yang sedang ia genggam. "punya siapa?!....."


Xie Na melihat ke sekeliling. bagaimana bisa dia menggenggam pemantik sedangkan dia bukan type perempuan yang menikmati asap nikotin.


"entahlah........"Xie Na meletakan pemantik itu di atas gazebo. lalu beranjak dari duduknya. perempuan itu mengamati barang bawaannya.


"sebentar apa aku sedang di usir kembali?!."tanya Xie Na bermonolog.


"oke sebentar, mari tarik napas dulu."Xie Na menarik napasnya dan mengeluarkan lewat mulutnya secara bertahap. "ayo Xie Na ingat kembali apa yang kau lupakan saat ini?!."


Xie Na memejamkan matanya. yang ia ingat adalah dia adalah istri dari Feng Lin dia yang mengalami kecelakaan sehingga hilang ingatan. Mei Yin yang marah dan berakhir terbangun di gazebo taman.


"akh, kepalaku sakit......."Xie Na merintih memegangi kepalanya.


"heh, dasar bodoh......."tiba-tiba sebuah suara sarkas membuat Xie Na menoleh ke arahnya.


"tuan Ruby.......?!."Xie Na menatap pria itu penuh tanya. "bagaimana bisa kau ada disini?!."


"heh, ini taman siapapun bisa ada disini..."jawabnya dengan cepat.


"seharusnya aku yang bertanya disini. bagaimana bisa istri seorang CEO terkaya bisa tidur di gazebo dengan barang bawaan yang sebanyak itu."cibir Ruby sambil melipat tangannya di depan dada.


Xie Na terdiam dia sendiri bingung bagaimana bisa dia berakhir si gazebo seperti ini. terlebih barang yang ia bawa seperti mau pindahan.


"tapi,......."Xie Na menghentikan ucapannya saat sebuah kalung menggantung di hadapannya.


"pakailah........."


Xie Na mendongak dan mendapati Ruby yang sedang mengulurkan sebuah kalung ke hadapannya. "untukku......?!."


"lebih tepatnya untuk sesuatu yang ada di dalam tubuhmu."jelas Ruby yang sontak membuat Xie Na melingkarkan kakinya mundur.


Awalnya Xie Na ingin mengunpat namun urung saat sekelibat ingatan tiba-tiba berputar di otaknya. tubuh Xie Na melemas dan jatuh ke tanah. ingatannya tidak begitu jelas. tapi, refleks tubuhnya mengatakan bahwa Xie Na baru saja melalui hal yang menyeramkan.


"a.....da a...pa de..ngan ku?!."tanya Xie Na dengan terbata. tubuhnya bergetar hebat.


Xie Na mendongak mendapati Ruby yang memandangnya dengan tatapan yang sulit di artikan. pria itu berjalan ke arah Xie Na. dengan sengaja Ruby mensejajarkan tubuhnya dengan Xie Na.


"kenakan ini...., karena aku tidak suka kau lemah. kau harus kuat agar aku tidak merasa bersalah."jelas Ruby lalu mengapungkan kalungnya di leher Xie Na.


"si...siapa kau sebenarnya?!."tanya Xie Na masih terbata.


Ruby hanya menarik sudut bibir miring. tanpa menanggapi ucapan Xie Na Ruby berjalan meninggalkan perempuan itu dengan segala kebingungannya.


drtttt.....drrttt......


tiba-tiba sebuah panggilan mengalihkan Xie Na pada punggung yang sudah berjalan jauh di hadapannya. Feng Lin adalah nama yang tertera di atas layar.


"hallo....."ucap Xie Na setelah mengatur napasnya ulang.


"*Xie Na kau dimana?!."


"kenapa kau sangat sulit dihubungi?!."tanya Feng Lin dengan nada khawatirnya*.


"okh, maafkan aku."ucap Xie Na penuh sesal."aku tadi ketiduran di taman kota."


terdengar suara napas lega di seberang sana." ya sudah jangan kemana-mana. aku akan segera menjemputmu."


setelahnya telepon di tutup secara sepihak. Xie Na beranjak dari duduknya. dia membersihkan debu-debu yang menempel pakaian yang ia kenakan.


tangannya terulur memegangi lehernya bermaksud untuk mengambil kalung yang di beri Ruby tadi. tapi, sayang disana hanya ada kulitnya yang kosong. tidak ada kalung yang tersisa hanya ada luka bekas cakaran yang memang terus berdenyut sedari tadi.


"Xie Na.......!."panggil Feng Lin yang baru saja sampai di taman.


"kau baik-baik saja?!."tanya Feng Lin setelah kakinya tepat tiga langkah dari Xie Na.


Xie Na menganggukan kepalanya. "iyah aku baik-baik saja."


"maaf karena sudah membuatmu khawatir."lirih Xie Na penuh Sesal.


"untunglah......"ucap Feng Lin lega. "kau tau aku sangat khawatir saat mendengar Berita kau menghilang. "


"di tambah aku tidak bisa menghubungimu sedari tadi."ucap Feng Lin penuh kekhawatiran.


"maaf........."lirih Xie Na.


"aku tidak menyangka aku bisa terbangun di sini."jelas Xie Na penuh Sesal.


"dan aku pun tidak tahu bagaimana aku berjalan disini. tiba-tiba saja aku terbangun dari tidur dan memiliki barang bawaan yang cukup banyak."Xie Na melirik barang bawaannya yang menumpuk di tanah.


"apa mungkin ini efek dari amnesia-ku?!."


Feng Lin terdiam tidak menanggapi ucapan Xie Na. tatapannya lurus pada barang bawaan milik perempuan itu.


"kau bertemu siapa sebelum aku datang?!."tanya Feng Lin dengan nada seriusnya.


"aku bertemu Ruby dengan tidak sengaja."jawab Xie Na jelas sekali wajah dingin dan menyebalkan Ruby tergambar di pikirannya.


"kau sungguh baik-baik saja?!."tanya Feng Lin penuh penekanan.


Xie Na mengerjit cukup terkejut dengan nada bicara Feng Lin yang begitu tiba-tiba. Xie Na melirik tangan Feng Lin yang mengepal. membuat Xie Na menjadi gugup seketika.


Xie Na menelan ludahnya sebelum mengangguk menanggapi pertanyaan dari Feng Lin. "ya aku baik -baik saja."


"tapi........."ragu Xie Na meletakan tangannya di atas luka yang ada di leher.


"sepertinya leherku tergores punggung gazebo saat tertidur tadi." jelas Xie Na"karena ada lecet yang cukup perih disini."


Feng Lin yang mendengarnya langsung di buat menghampiri Xie Na. dengan cepat dia menyingkirkan tangan Xie Na dari lehernya. dan melihat luka goresan yang cukup dalam disana.


Feng Lin mengepalkan tangannya kuat. dia cukup marah saat melihat 4 goresan pajang yang ada di lehernya. dan pria itu tidak begitu bodoh untuk menyadari luka itu berasal dari mana.


"kau yakin tidak menemui orang lain lagi selain aku dan Ruby?!."tanya Feng Lin sekali lagi.


Xie Na menganggukan kepalanya. perempuan itu merasa bingung dengan pertanyaan berulang yang keluar dari bibir Feng Lin. memangnya siapa yang Xie Na temui sebelumnya.


Feng Lin menghembuskan napas beratnya. dia menatap Xie Na dengan penuh seakan ada hal yang ingin dia sampaikan.


"kenapa?!."tanya Xie Na begitu gugup.


"sebaiknya kau berhenti kuliah dan tinggal di rumah saja."jelas Feng Lin dengan tegas.


Xie Na mengerjap terkejut. "kenapa?!."


"kenapa aku harus berhenti kuliah?!."tanya Xie Na tidak percaya.


"sungguh Gege aku tidak menemui siapapun selain Ruby. lagi pula aku baik-baik saja hanya saja aku ketiduran di taman."jelas Xie Na cepat.


"ini tidak ada hubungannya dengan kuliahku. jangan suruh aku untuk berhenti!!!."


"kuliah adalah salah satu cita-cintaku yang terwujud. aku tidak ingin kehilangan itu."mohon Xie Na yang membuat Feng Lin terdiam.


"aku akan memikirkannya nanti."jawab Feng Lin cepat.


"tapi untuk tujuh hari ke depan kau harus tetap di rumah selama aku tidak ada di sampingmu."perintah Feng Lin dengan nada tak ingin di bantah.


"tapi Feng Lin.........." baru saja Xie Na ingin melanjutkan penolakannya. namun, tatapan tajam dari Feng Lin membuatnya bungkam dan mengunci mulut.


...to be countinue...........