Ruby

Ruby
15



"Xie Na......."


Xie Na segera membuka matanya. dia bisa melihat mobilnya yang sudah di ujung jurang. membuat Xie Na menghembuskan napas nya lega.


"kita sudah tidak ada waktu lagi!!!."ucap Feng Lin sambil membuka sabuk pengaman yang di kenapa Xie Na.


"cepat keluar dan tunggu aku di balik pembatas sana."jelas Feng Lin.


"tapi......,"Xie Na menatap Feng Lin ragu. dia tidak tau apa yang pria itu rencanakan. dia tidak ingin jika laki-lakinya itu mencelakakan dirinya hanya untuk Xie Na.


"cepat Xie Na mereka pasti akan menyusul kita."tekan Feng Lin penuh perintah.


dengan ragu Xie Na menuruti perintah Feng Lin. namun, belum sempat perempuan itu turun dari mobil. tiba-tiba saja mobil yang mengejarnya tadi menghantam mobil milik Feng Lin dengan kuat. sehingga membuat Feng Lin dan Xie Na terjun dengan bebas kedalam jurang.


Xie Na sungguh sudah pasrah dengan ke adannya. dia tidak akan menuntut atau merutuki apapun. tapi, dia memiliki satu permintaan untuk Feng Lin. biarkan laki-laki itu selamat.


mobil yang mereka tumpangi menggelinding membuat Xie Na dan Feng Lin terantuk-antuk dengan kuat di dalam mobil.


bau anyir keluar menyerbak tercium oleh indera penciuman Xie Na. dengan lemas perempuan itu menoleh pada Feng Lin yang sudah tidak sadarkan diri. dahinya berdarah begitupun dengan beberapa luka di tubuhnya terlihat dari darah yang mengotori kemeja putih yang ia kenakan.


mobilnya sudah mendarat di jurang dengan posisi terbalik. Dengan sisa tenaganya Xie Na mencoba meraih tubuh Feng Lin. namun, Xie Na sendiri tidak kuasa. dirinya juga terluka membuatnya tidak bisa melakukan apapun. hingga gelap menghampirinya dan menelan kesadarannya.


namun, sebelum itu Xie Na bisa merasakan seseorang menarik dirinya keluar dari mobil. namun, karena kurangnya kesadaran Xie Na tidak bisa memastikan siapa yang melakukannya.


Siapapun yang melakukannya Xie Na berharap bahwa dia adalah orang baik yang di kirimkan tuhan untuk menyelamatkan dirinya dan Feng Lin.


"Noona bertahanlah kau harus tetap tersadar."Xie Na bisa merasakan seseorang menepuk pipinya.


"keduanya terluka parah."intrupsinya entah kepada siapa.


"..............


"baiklah saya akan melakukannya." setelah berucap seperti itu Xie Na bisa merasakan tubuhnya di angkat.


entahlah sekuat apa tubuh Xie Na. walau dia tidak bisa membuka kedua kelopak matanya. tapi, pendengarannya masih bisa bertahan dan bisa mendengar suara deru mobil yang kini membawanya.


tak lama Xie Na bisa merasakan mobilnya berhenti. tubuhnya di angkat dan di tidurkan yang Xie Na yakini adalah sebuah berangkar.


"bertahanlah Xie Na belum saatnya kau mati."


Xie Na terkejut saat mendengar suara itu. suara yang cukup pamiliar untuknya. dia adalah sosok pria yang ia temui secara tidak sengaja dan terus menjadi misterius untuk Xie Na.


"pindahkan mereka ke ruang perawatan."jelas suara itu lagi.


"tapi,biarkan perempuan itu disini dulu."


Xie Na mencoba membuka kelopak matanya sebisa mungkin untuk memastikan dugaannya benar adanya.


"baik tuan........"


Xie Na bisa merasakan hembusan napas menerpa pipinya. "aku tau kau mendengarkannya."


"bukankah permainannya menyenangkan?!."tanyanya dengan penuh seringai.


"ini baru permulaan. akan banyak permainan-permainan lain yang lebih menyenangkan dari ini." jelasnya sambil menyingkirkan rambut Xie Na yang menempel pada pipi."dan mungkin nanti aku akan membiarkannya saja. dan itu adalah akhir dari hidupmu. karena pada akhirnya kau tidak akan di izinkan untuk berengkarnasi."


Xie Na membuka kelopak matanya. dia bisa melihat Ruby sedang menatapnya dengan sendu. ada pancaran luka disana tapi, Xie Na tidak mengerti kenapa pria itu melakukannya.


"ruby.........."lirih Xie Na hampir tidak bisa di dengar.


namun, Ruby terlalu peka untuk menyadarinya. sehingga tatapan sendunya kini berubah menjadi tatapan tajam yang cukup menyebalkan untuk Xie Na.


"matilah dengan baik."ucap Ruby lalu berjalan meninggalkan Xie Na.


Xie Na hanya bisa menatap punggung Ruby dengan baik sebelum kesadarannya benar-benar hilang.


......******......


"ku mohon sadarlah bukankan sangat membosankan karena seminggu ini kau hanya tertidur?!."tanya Feng Lin dengan lirih.


"Feng Lin........"panggil Xie Na dengan lirih.


"Xie Na kau sudah sadar?!."tanya Feng Lin dengan senang.


"sebentar biar aku panggilkan dokter." Feng Lin beranjak dari duduknya lalu berjalan pergi.


Xie Na hanya membiarkannya. tenaganya belum pulih sehingga tubuhnya masih tidak bisa ia gerakan.


hanya butuh beberapa detik Feng Lin sudah kembali dengan dokter di sampingnya. dengan teliti dokter itu memeriksa keadaan Xie Na.


"Pasien sudah membaik. hanya saja dia butuh pemulihan untuk dua hari kedepan."jelas Dokter tadi lalu pamit mengundurkan diri.


dengan senang Feng Lin berjalan menghampiri Xie Na. lagi Feng Lin membawa tangan Xie Na kedalam genggamannya. "terimakasih karena sudah menempati janjimu."


"terimakasih karena sudah kembali."jelas Feng Lin penuh haru.


Xie Na menarik sudut bibirnya. dengan lemah dia mencoba meraih tangan Feng Lin yang menggenggam satu tangannya.


"Dage........"lirih Xie Na.


"iyah kenapa apa ada yang sakit?!."tanya Feng Lin dengan cemas.


Xie Na menggelengkan kepalanya. "aku baik-baik saja."


"aku senang melihatmu juga baik-baik saja."jelas Xie Na dengan suara pelan nya.


"terimakasih karena sudah baik-baik saja."jelas Xie Na.


Feng Lin menarik sudut bibirnya dia mengusap surai Xie Na dengan lembut. "aku yang seharusnya berterimakasih padamu."


"maaf karena selama ini aku malah ragu."lanjut Feng Lin. Xie Na terdiam mendengarkan ucapan pria itu.


"seharusnya aku percaya dan yakin bahwa kau memang dia. aku seharusnya percaya kau akan menempati janjimu."


"Xie Na..........."Feng Lin menatap Xie Na dengan dalam."mulai saat ini aku berjanji tidak akan ada yang bisa mencelakakanmu lagi."


"aku akan menyelamatkanmu bahkan nyawaku sendiri taruhannya."jelas Feng Lin.


sebenarnya Xie Na tidak mengerti dengan arah pembicaraan Feng Lin. mungkin karena rasa paniknya sehingga Feng Lin mengeluarkan semua isi perasaanya. dan Xie Na mencoba mengertikan itu.


"terimakasih."dan pada akhirnya Xie Na hanya bisa mengucapkan rasa terimakasihnya sambil menarik sudut bibirnya.


"okh iya Feng Lin.........."tiba-tiba Xie Na teringat hal yang ia dengar terakhir kalinya.


"kenapa?!."tanya Feng Lin.


Xie Na memutar arah pandangnya. namun, tidak ada siapa-siapa disana kecuali dirinya dan Feng Lin.


"siapa yang kau cari?!."tanya Feng Lin.


"jika kau mencari mama dan Mei Yin. mereka tidak ku beritahu bahwa kita mengalami kecelakaan."jelas Feng Lin yang membuat dahi Xie Na mengkrut.


"kenapa?!."tanya Xie Na sebenarnya bukan mereka yang Xie Na cari. tapi, Xie Na sendiri penasaran kenapa Feng Lin tidak memberitahu Jin Yi tentang kecelakaan ini.


"hanya saja aku tidak ingin membuatnya khawatir."jelas Feng Lin dengan lirih.


"lagi pula kita sudah baik-baik saja. jadi aku berniat memberitahu mereka bahwa kita sudah melakukan liburan untuk beberapa hari ini."


"kita akan kembali setelah kamu pulih."


...'to be countinue'...