Ruby

Ruby
02



"kau masih tidak ingin mengaku!!!!!!."kepala Jang membanting meja yang ada di depannya.


Xie Na yang tepat berada di depan sana terkejut bukan main. lagi pula apa-apaan ini. dia disini untuk di mintai penjelasan tentang kejadian. tapi kenapa mereka menuntut Xie Na agar mengaku bahwa dirinya-lah yang melakukan semua itu.


"sudah ku bilang aku saja tidak tau jika terjadi kebakaran disana. semalam aku hanya duduk-duduk saja dan tiba-tiba lampu-lampu disana mati!!!."jelas Xie Na tidak kalau sengit.


"Xie Na aku tau kepergianku membuatmu prustasi. tapi, aku tidak pernah menyangka bahwa kau akan berbuat sejauh itu."tiba-tiba seorang pria menyaut.


Xie Na membuang pandangannya. sungguh perempuan itu cukup muak dengan pria munafik seperti itu. dia berlisensi sebagai pelindung masyarakat. tapi, kenyataannya dia lah yang meresahkan masyarakat.


"tutup mulutmu Zang Yi!!!!." Xie Na menatap tajam pada pria berseragam itu.


"dengar ya aku malah bersyukur kau meminta putus semalam. sehingga aku tidak akan menyesalinta di masa depan nanti."


"terimakasih karena sudah mau menunjukan perangai aslimu."ucap Xie Na dengan Sinis. tatapan tajamnya tak pernah lepas dari Zang Yi seakan dua sangat ingin memakannya hidup-hidup.


"maaf Xie Na aku cukup mengerti dirimu. tapi, untuk saat ini mengakulah.aku berjanji akan membantumu meringankan hukuman jika kau mengatakan iya."lirihnya.


jelas sekali pria jangkung berparas putih itu sangat ingin menjatuhkan Xie Na. dengan marah Xie Na meranjakan dirinya. dengan bengis dia menatap ke empat pria yang sedari radi mencecarnya agar mengatakan iya.


"dengar ya kalian semua. aku tidak melakukan hal itu. pemantik itu aku hanya menemukannya asal. aku tidak pernah membakar taman. bahkan aku juga tidak tau jika terjadi kebakaran disana semalam."


"ini memang terdengar tidak masuk akal. tapi semalam ada..........."belum sempat Xie Na melanjutkan kata-katanya. tiba-tiba pintu terbuka menampakan satu orang pria berseragam dengan satu orang pria dengan setelan jas hitam di belakangnya.


pria berseragam yang baru masuk berjalan mendekati pada Zang Yi dimana dia adalah detektif untuk penanggung jawab kasus yang sekarang malah di limpahkan pada Xie Na ini.


pria itu berbisik membuat perubahan raut pada Zang Yi yang mendengarnya. dengan jelas Zang Yi melirik Xie Na sebelum mengangguk dan membiarkan pria berseragam itu mundur dan berjalan pergi.


"lepaskan dia. dia tidak bersalah."ucap Zang Yi dengan tidak ikhlas.


Xie Na yang mendengarnya cukup senang. bagaimana tidak akhirnya dia terlepas dari tuduhan-tuduhan yang sungguh tidak bisa ia bantah. padahal bukti yang mereka tunjukan juga tidak begitu bagus.


dengan congkak Xie Na beranjak dari duduknya. sengaja kedua tangannya ia bantingkan pada meja dengan keras.


aduh aku terlalu keras memukulkannya.......


Xie Na mencoba menahan rasa sakit di tangannya dan mempertahankan raut congkaknya. "bukankah sudah ku bilang aku tidak bersalah!!!!!."


"untung aku baik. kalau tidak aku akan menuntut kalian atas pencemaran nama baik!!!."peringat Xie Na dengan kesal.


tanpa di duga Zang Yi malah berdecih meremehkan membuat aliran darah Xie Na yang naik.


"dan kau.....!!!!!!."Xie Na menunjuk Zang Yi dengan marah.


"urusan kita belum berakhir. aku akan menuntutmu atas kasus penipuan!!!."


"dan tenang saja aku punya bukti kuat bukan hanya sekedar fitnah semata."Xie Na menatap orang disana satu persatu.


tanpa salam lagi Xie Na berjalan meninggalkan orang-orang disana. dia masih cukup kesal karena di sudutkan hanya karena dia tidak punya siapa-siapa. dan yang tidak tau dirinya bagaimana bisa Zang Yi melakukan hal itu padanya.


sungguh Xie Na menyesal karena pernah menyukai pria itu dengan sepenuh hatinya. bahkan dengan bodohnya dia begitu percaya hingga pada akhirnya dia hanya di jadikan kambing dungu yang bisa di tipu habis-habisan.


tentang bukti yang Xie Na katakan tadi sebenarnya itu tidak pernah ada. dia tidak pernah memiliki bukti kuat bahwa Zang Yi telah menipunya. karena Xie Na terlalu bodog untuk percaya. dimana dia mempercayai uang yang selama ini sebagai imbalan keringatnya di rekening atas nama Zang Yi. sehingga biar bagaimanapun dia tidak bisa di sebut penipu. walau kenyataannya dia lebih parah dari pada seorang penipu.


Xie Na menghentikan langkahnya. dia memutar tubuhnya dengan tatapan tajamnya. pasalnya sedari tadi Xie Na merasa dirinya di ikuti. dan benar saja saat berbalik Xie Na bisa melihat pria yang bersetelan jas hitam ada di belakangnya.


"sebentar kenapa kau memperkenalkan diri?!."Xie Na menatap bingung pada pria itu.


"aku tidak pernah menanyakannya dan memang tidak pernah berniat untuk bertanya."Xie Na melipat tangannya di sepan dada."aku peringati untuk tidak mengikutiku."


"sekedar informasi hari ini aku sangat emosi. dan kau tau aku belum melampiaskan amarah itu. jadi, lebih baik kau pergi dari pada harus menjadi samsak dadakan untukku."jelas Xie Na memperingati.


bukannya menjauh pria itu malah tersenyum."maka dari itu saya menerima untuk menjadi samsak dadakan itu."


Xie Na mengernyit. apa pria ini gila?!...


"sudahlah pergi saja aku sedang tidak ingin bercanda."ucap Xie Na pada akhirnya. perempuan lebih memilih untuk berjalan meninggalkan pria aneh itu.


"Noona Xie Na......."


Xie Na menghentikan langkahnya. dia kembali berbalik dengan tatapan tidak percaya. "kau mengetahui namaku?!."


"jangan bilang kau penguntit?!."tega Xie Na tidak percaya. dengan berjaga-jaga dia melangkahkan kakinya mundur menjauh dari pria itu.


Chang Yi melebarkan bibirnya. dia berjalan mendekat ke arah Xie Na walau dengan jelas Perempuan itu menjaga jarak dengannya.


"tidak usah takut Noona Xie Na. saya disini hanya menjalankan perintah saja."jelas Chang Yi dia mengeluarkan kartu pipih berwarna hitam dari saku jasnya.


"tolong terima ini sebagai ucapan terimakasih."jelas Chang Yi.


Xie Na masih tidak mengerti dengan alur cerita. "tunggu terimakasih untuk apa?!."


"lalu kenapa aku harus menerima black card itu?!."tanya Xie Na matanya sempat melirik kartu tanpa limit di tangan Chang Yi. itu sungguh menggiurkan apa lagi di saat Xie Na yang masih memiliki segudang cita-cita. tentu saja uang adalah hal yang harus ia punya untuk mewujudkan cit-cita itu.


"tuan sangat berterimakasih karena Noona Xie Na sudah menyelamatkan tuan pada malam itu."jelas Chang Yi.


"aku......."Xie Na menunjuk dirinya sendiri dengan bingung. "siapa yang aku tolong?!."


"ya, pagi ini Noona sudah menolong tuan muda. maka dari itu Noona terbangun di sana tadi pagi."jelas Chang Yi.


Xie Na mencoba mengingat kejadian tadi malam. tapi, dia masih saja tidak bisa mengingatnya. yang dia ingat dia hanya melihat lampu taman mati lalu kembali hidup dan dia tidak ingat apa yang terjadi selanjutnya.


"tolong terima Noona. saya akan dapat masalah jika tidak dapat memberikan kartu ini pada Noona."Chang Yi menyodorkan kartu itu kehadapan Xie Na.


melihat tatapan memelas dari Chang Yi membuat Xie Na tak sampai hati untuk menerimanya. dengan berat hati Xie Na mengambil kartu itu.


walau dia cukup membutuhkan uang itu. tapi, Xie Na tidak cukup gila untuk memakai uang yang bahkan dia tidak tau asal usulnya itu. dia harus belajar dari pengalaman. dengan bukti lemah saja dia tidak bisa melepaskan diri dari tuduhan. apalagi jika bukti sejelas ini mungkin dia akan di anggap dalang sebenarnya.


"baiklah aku akan menerimanya."jelas Xie Na.


"tapi, tolong sampaikan pada tuanmu untuk bertemu denganku di cafe dekat kampus A. karena ada hal yang harus aku sampaikan padanya."jelas Xie Na.


"baiklah saya akan sampaikan pesan dari Noona Xie Na."sanggup Chang Yi.


"kalau begitu saya pamit undur diri."Chang Yi menunjukan kepalanya. lalu berjalan pergi meninggalkan Xie Na dengan kebingungannya.


...^^^to be coutinue........^^^...