Ruby

Ruby
11



Xie Na menggantungkan kakinya membiarkan setengahnya tenggelam di dalam kolam. udara malam saat ini sangat menyejukkan. tidak dingin ataupun tidak membuatnya gerah.


entah kenapa dari dia terbangun di pagi hari sampai matahari sudah berganti bulan. Xie Na di buat memikirkan hal yang sama. dimana dia merasa ada yang hilang dalam dirinya. tapi, dia sendiri tidak tau apa gerangan yang hilang.


apa mungkin ini ada hubungannya dengan Feng Lin yang belum ia temui selama satu minggu ini?!.


ya, mungkin saja dia merindukan prianya itu........


asik dengan pemikirannya sendiri. hingga Xie Na tidak tau jika sekarang ada sosok lain yang sudah menjongkokan dirinya di samping Xie Na.


"serius sekali."bisiknya tepat di telinga kanan Xie Na.


"ya ampun!!!!!!!."Xie Na terlonjak saat mendengar suara dengan tiba-tiba. tanpa bisa di kendalikan kaki Xie Na tergelincir membuat Feng Lin dengan gesit menangkap tubuh Xie Na.


namun, karena posisinya yang sedang tidak bagus. bukannya menyelamatkan Xie Na. Feng Lin malah di buat ikut terjun kedalam kolam.


Feng Lin dan Xie Na sama-sama keluar dari genangan air di kolam. mereka sama-sama mengatur napas karena kejutan air yang tiba-tiba menyapa indera penciumannya.


awalnya Xie Na dan Feng Lin sama-sama di buat saling pandang. hingga detik kemudian mereka tertawa dengan begitu lepas.


"ya ampun Gege sejak kapan kamu ada di sampingku?!."tanya Xie Na tak habis pikir."kau tau aku sangat terkejut dengan keberadaanmu yang tiba-tiba."


"ha......ha....... lagian apa yang di pikirkan wanita kesayanganku ini sih. sampai-sampai aku yang sudah duduk di sampingnya tidak di hiraukan."Feng Lin mengusap surai Xie Na yang basah.


Xie Na mencoba menyembunyikan pipinya yang memerah. "hmmmm , aku sedang memikirkanmu. aku kira aku merindukanmu."


"atau lebih tepatnya aku merindukanmu."jelas Xie Na dengan malu-malu.


Feng Lin di buat terdiam dengan pengakuan yang utarakan Xie Na. perempuan itu pendiam namun tak ayal cukup mengejutkan dengan sikap blak-blakannya.


Feng Lin menarik sudut bibirnya. dengan cepat dia membawa Xie Na kedalam dekapannya. "aku juga merindukanmu Xie Na."


Xie Na melingkarkan tangannya di tubuh Feng Lin. "lagi pula kenapa pergi tapi tidak mengabari?!."


"maaf pekerjaanku membuat ku sibuk sehingga tidak bisa membiarkanku beristirahat barang sedikitpun."jelas Feng Lin penuh sesal.


Xie Na yang mendengarnya menatap Feng Lin dengan iba. "jangan bilang kau juga melupakan makan dan tidurmu?!."


"lihat pantas saja badanmu terasa lebih kurus."Xie Na melepaskan tangannya yang masih melingkar di pinggang Feng Lin.


"ayo ikut aku........"dengan cepat Xie Na menarik tangan Feng Lin agar ikut bersamanya.


"heh.......!!!."Feng Lin cukup terkejut dengan tarikan di tangannya. dengan pasta Feng Lin mengikuti Xie Na dari belakang. tanpa Feng Lin sadari kini ia sedang tersenyum dengan mata yang fokus pada Xie Na.


"ekhh..........."Xie Na berusaha menaiki kolam. tapi, karena tubuhnya yang cukup pendek membuat Xie Na kesulitan.


Xie Na berniat mencari tangga yang ada di sekitarnya. namun, baru saja dia ingin memutar pandangannya. tiba-tiba Xie Na merasa tubuhnya terbang.


Xie Na tidak bisa menahan senyumnya saat merasakan kedua tangannya Feng Lin mebantunya untuk naik ke atas. Karena Feng Lin Xie Na akhirnya bisa menduduki dirinya di atas lantai.


dengan segera Xie Na mengulurkan tangannya untuk membantu Feng Lin. namun, bukannya meraih tangan Xie Na Feng Lin malah lebih memilih bersanggah pada lantai.


"aku tidak ingin kita kembali berakhir jatuh kedalam kolam."ucap Feng Lin saat sudah mendudukkan dirinya di atas lantai."Sekedar informasi aku masih cukup berat walau sedikit agak kurusan."


Xie Na hanya memajukan bibirnya sebagai respon. tanpa bicara Xie Na melenggang pergi. namun, detik.kemudian dia sudah kembali dengan dua bathroom di tangannya.


Feng Lin menarik sudut bibirnya sambil meraih bathroom yang ada di tangan Xie Na. dia kira Xie Na akan marah dengan tindakannya tadi.


"maaf........."tiba-tiba seorang pelayan mengintrupsi membuat Xie Na dan Feng Lin menoleh ke arahnya.


"ada apa?!."tanya Feng Lin dengan nada dinginnya.


pelayan tadi menundukkan kepalanya dalam."saya di suruh nyonya Jin Yi untuk mengantarkan minuman ini."


Xie Na mengambil nampan yang di sodorkan pelayan tadi. membuat sang pelayan terkejut dengan tindakan Xie Na yang tiba-tiba.


"terimakasih."Xie Na menatap sang pelayan yang memasang raut terkejutnya. "teh jahe seperti ini memang saat enak di santap saat dingin seperti ini."


"kalau boleh tahu siapa namamu?!."tanya Xie Na.


Feng Lin yang ada disana memilih untuk memperhatikan. dia membiarkan Xie Na melanjutkan kata-katanya. karena Feng Lin yakin ada yang ingin wanita itu katakan pada pelayan yang ada di depannya ini. karena menanyakan nama pelayan adalah salah satu kebiasaan Xie Na saat mempunyai hal yang iya ingin utarakan. walau beberapa hari ini Feng Lin tidak bersama Xie Na. tapi informasi tentang kegiatan yang di lakukan perempuan itu selalu sampai ke telinganya.


"Mei Mei Noona..........."dengan ragu-ragu pelayan itu menyebutkan namanya.


"hmmmm Mei-Mei kau yakin teh ini Mama yang menyuruh?!."tanya Xie Na ada raut kecewa yang ia sembunyikan di balik senyumnya.


pelayan Mei Mei menganggukan kepalanya. membuat Xie Na mendengus napasnya berat.


"kau boleh pergi."ucap Xie Na dengan nada Kecewa.


tentu saja semua yang Xie Na lakukan cukup membuat perhatian Feng Lin tertuju padanya. "apa ada yang salah?!."


Xie Na meletakan nampan tadi di lantai. dengan sopan dia memberikan satu gelas pada Feng Lin. "gege kau bisa meminum dua gelas itu sampai habis?!."


Feng Lin mengerutkan dahinya. "kenapa?!."


Xie Na awalnya terdiam mendengar pertanyaan dari Feng Lin. matanya menelisik seakan mencari jawaban. membuat Feng Lin semakin di buat penasaran.


hingga sebuah gelengan Xie Na berikan sebagai jawaban. "aku tidak enak pada Mama jika tidak mengosongkannya."


"sepertinya mama lupa kalau aku alergi Jahe."lanjut Xie Na yang tentu saja membuat Feng Lin sedikit terkejut.


"ya ampun maaf sayang banyaknya pekerjaan membuatku sering lupa dengan beberapa hal?!."Feng Lin menatap Xie Na dengan rasa bersalah.


"bagaimana jikalau permintaan maafnya gege menghabiskan semua minumannya?!."Xie Na memasang wajah inocentnya.


dengan gemas Feng Lin mengusap kepala Xie Na pelan. "baiklah tuan putri aku akan menghabiskannya sebagai permintaan maaf."


"hmmm kau memang pangeran yang baik."Xie Na mengacungkan kedua jempolnya.


Feng Lin dan Xie Na sama-sama di buat tertawa dengan gurauan yang mereka buat. hingga tanpa sadar dua pasang mata sedari tadi memperhatikan mereka dengan kemarahan.


"biar bagaimanapun kau ditakdirkan untuk mati."


"aku tidak akan membiarkan kau hidup merebut semuanya."


"to be countinue........."