Ruby

Ruby
Orang Asing



"Maaf putri saya tidak tahu," kata Leni yang benar-benar tidak tahu sama sekali orang yang berbicara dengan pangeran. Pasalnya dia biasa melayani Putri dan tidak melayani Pangeran Azlan.


Jadi membuat Leni tidak tahu. Apalagi tidak ada kabar apapun tentang tamu yang datang ke kerajaan hingga jelas membuat lain juga tidak tahu apa-apa.


"Iya, kau saja tidak tahu apalagi aku," kata Ruby yang jelas juga tidak tahu karena dia juga baru beberapa hari di kerajaan Lion yang tentunya dia belum tahu anggota keluarga secara keseluruhan.


Apalagi Pangeran juga belum memperkenalkan sumber dan belum memperkenalkan beberapa yang harus diwaspadai. Hal itu membuat tubuh juga tidak paham satu demi satu anggota keluarga Kerajaan yang ada di sana.


Ruby ingin melupakan apa yang sudah ia dengar tadi, ia berusaha untuk membidik sasarannya dengan menggunakan benda Ia benar-benar berusaha sebisa mungkin untuk melupakan kejadian tadi, agar tidak ikut kesal karena perkataan dari orang tersebut benar-benar tidak menyenangkan.


Apalagi perkataan itu ditunjukkan kepada Pangeran Azlan. Padahal Pangeran selama ini sudah sabar dan Ruby juga jadi merasa bersalah karena tidak secepatnya mengobati Pangeran Azlan. Coba saja jika pangeran sudah sembuh pasti tidak akan ada hinaan seperti itu.


"Saya baru di sini dan belum lama jadi tidak begitu kenal para Pangeran," kata Leni merasa bersalah karena tidak kenal dengan para pangeran dan hal itu tidak bisa memberikan informasi lengkap kepada Ruby.


"Pangeran yah, kenapa kau menebak jika itu Pangeran?" tanya Ruby yang tidak tahu sama sekali.


Jika pangeran yang berbicara dengan pangeran asli dan hal itu jelas meluki tidak tahu bagaimana cara membedakan jika mereka Pangeran atau bukan hal itu juga harus menyesuaikan diri lagi, mungkin orang-orang yang ada di sana sudah paham tapi tidak untuk Ruby yang baru berada di kerajaan itu.


"Karena seperti yang putri kata orang itu memanggil Pangeran Azlan dengan sebutan kakak, dan pakaiannya juga mewah seperti seorang pangeran," jelas Leni yang saat itu tahu jika seorang pangeran pasti identik dengan pakaian yang mewah hal itu terlihat jelas dari pakaiannya dan juga dari kata-katanya.


"Benar, jadi bisa disimpulkan kalau dia juga seorang Pangeran, iya kau benar. Kira-kira Pangeran siapa ya?" hanya Rubi yang tidak kenal dengan anggota keluarga keseluruhan dan dia juga belum pernah melihat orang tersebut dalam pesta sekalipun.


Benar-benar merasa penasaran dan ingin secepatnya bertemu dengan pangeran Azlan dan menanyakan semua itu kepada Pangeran, tapi sepertinya orang yang ada di sana tadi belum selesai menemui pangeran Azlan.


Membuat Ruby tidak bisa langsung datang secara tiba-tiba menemui Pangeran Azlan. Apalagi mereka berdua sedang bermasalah. Hal itu membuat lebih takut akan memperkeruh suasana di mana dia juga berusaha sebisa mungkin untuk menahan diri.


"Putri sebaiknya kembali ke kediaman dulu biar tenang," saran Leni melihat Ruby yang bermain dengan cepat dan terlihat begitu marah meski bidikannya banyak yang tidak tepat sasaran. Tapi sepertinya lebih benar-benar mengeluarkan seluruh tenaganya, hingga Leni juga merasa khawatir pada Sang Putri.


Terlebih lagi seorang putri memang tidak disarankan untuk memandang, hanya saja Ruby yang sudah pernah mendapatkan izin sekali dari pangeran tentunya ia tahu tempat latihan memanahan itu membuat dia berada di sana.


Walaupun tak banyak orang yang menggunakan tempat itu setidaknya tempat itu benar-benar tenang untuk bisa meluapkan amarah, ditemani oleh Leni yang selalu setia yang merupakan daya yang pribadinya tentu juga membuat Ruby lebih tenang karena tidak banyak orang di sana.


Ruby yang mencoba untuk menenangkan diri dengan melupakan masalah yang ada di hadapannya, ia tidak terlalu pusing dengan apa yang dilakukan Pangeran Azlan. Tapi ia merasa tidak enak dengan Pangeran.


Kini Ruby harus fokus dengan kesembuhan Pangeran Azlan, ia tidak ingin lagi Pangeran dihina oleh orang lain. dan hal itu jelas membuat ruby juga merasa sakit hati saat orang lain menghina kekurangan Pangeran.


Walaupun mereka sadari awal juga tidak akur dan sering kali berselisih paham dan bahkan sekarang juga mereka sedang berjauhan. Tapi tetap saja saat ada yang menghina Pangeran Azlan Ruby benar-benar tidak terima dengan hal itu dan jika dia memiliki kekuasaan tentunya ia ingin mengalahkan orang yang sudah menghina Pangeran Azlan.


Tapi sayang sekali ia tidak memiliki kekuasaan di kerajaan Lion, Ia hanya bisa mungkin bersikap baik di kerajaan Lion dan tidak menimbulkan masalah selama pangeran belum sembuh.


Di mana hal itu bisa saja membuat Pangeran Azlan, digantikan oleh orang lain untuk menjadi putra mahkota karena selama beberapa bulan ini orang-orang sedang mengawasi Pangeran Azlan.


Ruby sadar dan tahu akan hal itu maka dari itu ya berusaha sebisa mungkin untuk bisa melupakan semua emosinya, ia benar-benar ingin membantu Pangeran kali ini dan ia juga tidak boleh terbawa emosi.


Jika dia berada di depan Pangeran. Melihat Apa yang dilakukan oleh pangeran tadi Sepertinya ia sudah terbiasa mendapatkan perkataan buruk hingga membuat Pangeran Azlan bisa lebih santai mengadakan menghadapi orang yang ada di depannya.


Padahal orang tadi berbicara sangat buruk di hadapan pangeran yang mana membuat tubuh juga jadi ikut kesal dan geram walau hanya mendengarnya dari jauh. Maka dari itu pun ruby memegang pakan emosinya di tempat latihan menggunakan semua kemampuan yang ia miliki untuk memberikan panah.


Walaupun tak ada yang tepat sasaran tapi setidaknya dia sudah meluapkan emosinya dan bisa menjadi lebih tenang lagi. Daripada tadi dia benar-benar kesal dan marah, tapi tidak bisa menyalurkan amalannya hingga membuat terlebih juga pergi dari sana sebelum mengocokkan semuanya.


Leni hanya bisa pasrah menunggu sampai Ruby selesai, tiba-tiba ada seseorang datang yang langsung menghampiri Ruby.


Leni yang kaget tak sempat bereaksi, ia yang tak bisa berbuat apa-apa mencoba untuk berada di samping Ruby. Merasa jika orang yang datang itu bukan orang yang biasa.


"Kau seorang wanita? kenapa ada di sini?"


Ruby segara berbalik badan dan melihat orang yang menegur nyata itu, melihatnya saja sudah langsung membuat Ruby merasa kesal.


Padahal dia hampir saja merasa tenang dan lebih baik, tapi ternyata ada saja halangan yang harus ia lewati orang yang tiba-tiba datang membuat mood-nya kembali hancur.