
Ruby berjalan ke tempat kerja Pangeran di temani Leni dan dayang lainnnya. Tidak di sangka di tengah jalan Ruby melihat Pangeran bersama seseorang.
Ruby menghentikan langkahnya berniat ingin kembali saja karena mungkin Pangeran Azlan sedang sibuk.
"Kakak, mau sampai kapan kau duduk di kursi roda ini?" tanya orang terlihat menghini Pangeran Azlan.
"Kakak? siapa dia sebenarnya?" batin Ruby yang hanya bisa mendengar suara mereka dari luar. Bahkan Ruby tak berani masuk.
Ruby sendiri tidak tahu siapa laki-laki yang sedang bersama Pangeran Azlan, karena Ruby juga baru melihat laki-laki itu. Jadi ia hanya bisa mendengar percakapan mereka dari luar
Memang rasa nya tidak enak mendengar percakapan dari luar saja, ia ingin masuk tapi sepertinya sulit
"Aku akan segera sembuh jadi kau tidak perlu khawatir," ucap Pangeran Azlan penuh dengan kenyakinan.
Ruby yang tersenyum mendengar ucapan pangeran Azlan yang tidak merasa gentar dan takut sama sekali.
"Kau memang percaya diri sekali Kakak, oh ya aku belum sempat mengucapkan selamat atas pernikahanmu,"
"Terima kasih, sepertinya lebih baik jika kau tidak datang." Pangeran Azlan yang sudah mulai kesal.
"Iya aku tahu jika istrimu banyak kekurangannya semoga kalian bahagia,"
"Kurang ajar dia menghinaku." Ruby yang marah hampir saja masuk dan ingin menampar orang itu. Tapi Leni memegang tangan Ruby, ia tidak ingin melihat Ruby melakukan ke salahan lagi didepan Pangeran.
Ruby memang tidak suka dengan laki-laki yang tidak dikenal itu, tiba-tiba datang dan mengatakan hal seperti itu tapi nyatanya orang itu memanggil Pangeran Kakak.
"Kita pergi saja," kata Ruby kesal dan akhirnya, ia perdi dari sana dari dari pada emosi.
Hal itu membuat Ruby memutuskan untuk kembali ke kamarnya, karena mungkin Pangeran sedang menghadapi orang penting juga. Selain itu dia juga ada di sana membuat Putri merasa tenang.
Ruby yang melangkahkan kakinya ia ingin kembali ke kamarnya dan tidak ingin mengganggu pangeran, tiba-tiba ia teringat dengan tempat latihan kemarin. Yang akhirnya dari pada bosan ia menuju tempat latihan memanah.
"Putri mau kemana?" tanya Leni yang tahu jika arah yang dituju oleh putri bukan arah untuk kembali ke kediamannya. Hal itu membuat Leni pun bertanya pada Ruby.
"Aku ingin latihan sebentar, daripada aku bosan di kediaman dan tidak melakukan apapun lebih baik aku berlatih," kata Ruby yang berniat untuk berlatih memanah.
Seperti apa yang dilakukannya kemarin. Yang benar-benar tidak suka berdiam diri di kediamannya dan mencoba untuk mencari kegiatan.
"Kenapa Putri sangat tertarik dengan latihan memanah? padahal seorang putri tidak disarankan untuk berperang?" tanya Leni saat itu yang memiliki seorang putri memang beda daripada yang lainnya.
Selama ia menjadi dayang dan melihat putri-putri yang ada di kerajaan, tidak ada yang seperti Ruby. Yang bahkan suka memandang hal itu juga membuat tertarik, untuk terus melayani Ruby, selain sikapnya yang begitu baik dan tidak memandang rendah seorang pelayan.
Sering terjadi peperangan tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi kedepannya nanti. Hal itu membuat Leni paham dan menganggukkan kepala melihat putrinya begitu hebat dan bahkan memikirkan masa depan.
Ruby berbeda dari yang lainnya, tidak seperti para putri yang suka berdandan dan bahkan suka menarik perhatian orang lain. Hal itu jelas membuat Leni pun lebih nyaman bisa bersama dengan Ruby. Ia merasa bersyukur bisa melayani Ruby Karena Ruby merupakan Putri yang tidak banyak maunya.
Hanya saja Ruby yang lebih cepat bosan kadang melakukan hal-hal di luar dugaan, hingga membuatnya Lebih juga merasa khawatir.
"tapi Putri tidak berniat untuk ikut perang bukan?" tanya Leni khawatir jika Ruby malah akan memiliki pemikiran lain.
Karena Ruby biasanya suka ide-ide yang aneh dan beda. Jadi sebelum itu dia menanyakan terlebih dahulu kepada Ruby, ia jelas tidak ingin kehilangan Ruby apalagi sampai ikut berperang.
"Jelas aku tidak ingin ikut berperang, Pangeran sendiri juga sudah hebat dalam perang di aku tak perlu repot untuk itu. ini hanya hobi," jawab Ruby yang percaya jika peperangan akan dilakukan oleh pangeran.
Walaupun Ruby menginginkan sebuah peperangan untuk menyerang kerajaannya sendiri dan membalaskan dendamnya, tapi tentunya ia meminta bantuan kepada orang lain dan bukan baju sendiri dalam perang.
"Apa tidak sebaiknya Putri minta izin dulu pada pangeran?" tanya Leni yang saat itu melihat Ruby yang begitu antusias berarti di tempat latihan.
Yang sepertinya akan lama dan hal itu jelas membuat Leni pun menyarankan untuk meminta izin terlebih dahulu pada Pangeran.
Kemarin juga pangeran enggan untuk mengizinkan dan terasa sangat terpaksa, tapi karena melihat Ruby yang itu hebat dalam memanah membuat Pangeran juga merasa senang.
Apalagi raja dan ratu juga ternyata melihat Apa yang dilakukan oleh Ruby di tempat latihan, jelas menjadi nilai lebih. Yang mana ia terkenal ahli sosial dan juga pemalu bahkan terkenal jelek, tapi ternyata di luar dugaan yang berbeda dari apa yang dirumuskan memiliki daya tarik tersendiri.
"Kau lihat sendiri kan tadi Pangeran sedang sibuk dan sedang menemui seseorang yang kelihatannya menyebalkan, jadi aku akan menemui Pangeran nanti," kata Ruby yang kesal dengan orang yang menemui Pangeran ia benar-benar tidak tahu siapa dia tapi tidak bisa bertanya kepada Pangeran langsung.
Ruby yang akhirnya dia juga menumpahkan kekesalahannya dalam latihan. Walaupun anak panahnya tidak dapat sasaran, tapi setidaknya ia merasa lebih lega.
"Oh ya, apa kau tahu orang yang menemui pangeran tadi? aku dengar dia memanggil Pangeran dengan sebutan kakak?" tanya Ruby saat itu kepada Leni.
Karena Ruby sendiri tidak pernah melihat orang tersebut dan tidak tahu orang itu. Apalagi saat di pesta dia juga tidak datang dan Pangeran tidak memperkenalkan orang itu kepada Ruby.
Jadi Ruby berusaha bertanya kepada Leni, karena mungkin saja Leni tahu siapa orang yang menemui pangeran dan bahkan menghina pangeran di depannya.
Hal itu jelas membuat Ruby kesalahan untung saja Ruby tidak lepas kendali dan menyerang orang itu, karena menghina orang yang lemah di hadapannya.
Ruby sadar dan tahu jika Pangeran memang tidak bisa berjalan, tapi tidak seharusnya dia berkata demikian di depan Pangeran apalagi dengan memanggil Pangeran kakak yang tentunya dia merupakan keluarga Kerajaan.
Rasa penasarannya itu membuat ruby pun bertanya kepada Leni berharap Leni tahu siapa orang itu.