Remember Me Husband

Remember Me Husband
Enam tahun lalu part. 2



"Tu-tuan, kau sudah bangun?" Ucap Aran kaget melihat pria itu tiba-tiba muncul.


"Aku sudah dengar semua obrolan kalian. Aku rasa  kalian tidak ada kewajiban untuk merawatku. Dengan kalian menolongku saja itu sudah lebih dari cukup."


"Tuan apa kau—"


"Aku akan segera pergi dari sini."


"Ta- tapi kau kan masih—"


"Aku tahu, tapi aku tidak mau membebani kalian berdua, jadi aku sudah putuskan akan pergi sekarang juga," ucap pemuda itu dengan yakin.


Pria itu akhirnya pamit pada Aran dan nenek Shuri. Sebelum pergi ia mengucapkan terima kasih pada Aran dan Shuri.


"Sekali lagi terima kasih sudah menyelamatkan nyawaku. Kalau tidak ada kalian aku mungkin sudah tidak bisa lihat dunia lagi."


"Nak, aku tidak keberatan jika kau masih mau tinggal disini beberapa hari sampai tubuhmu pulih."


"Tidak usah nek, anda terlalu baik padaku."


Berbeda dengan neneknya, entah kenapa Aran tampak murung. Sejatinya Aran ingin sekali jika pria itu tinggal lebih lama lagi.


"Aran, ada yang mau kau katakan pada tuan ini?"


"Tidak Nek, kalau dia mau pergi silakan saja," ucap Aran tak mau melihat kearah pria itu.


"Nona Arana..."


Aran menoleh saat dengar pertama kali pria itu memanggil namanya.


"Nona kau itu cantik, tapi akan lebih cantik lagi jika kau mau beri aku sedikit senyuman manismu sebelum aku pergi. Bagaimanapun kau kan dewi penolongku, jadi tolong jangan cemberut padaku."


Aran seketika tersipu malu dibilang begitu, dan ia pun tersenyum kecil.


"Nah, benar kan kau sangat cantik kalau tersenyum," ucap pemuda itu kemudian pamit pergi.


Pada akhirnya pemuda tampan itu pergi juga. Dan entah kenapa sejak pemuda itu pergi Aran jadi merasa sedih rasanya, padahal ia baru saja kenal dengannya.


"Jangan-jangan aku sungguhan suka padanya?" ucapnya dalam lamunan.


"Aran cepat sini kau bantu nenek memotong sayur!" Seru sang nenek memecah lamunan Aran.


"Iya nek...!"


Saat tengah sibuk memasak untuk makan siang, tiba-tiba saja terdengar suara orang berteriak-teriak di depan rumah. Dari suaranya Aran sudah bisa menenbak kalau itu pasti orang suruhan tuan Angli saudagar kaya yang datang untuk menagih hutang.


"Padahal ini belum tanggalnya tapi kenapa mereka sudah menagih saja!" Kesal Aran yang kemudian bergegas menemui orang-orang itu.


Aran pun keluar dan marah kepada para pria berwajah seram suruhan Angli itu karena menagih hutang terlalu cepat.


"Aku bosan dengan janji-janji terus. Aku mau sekarang juga kau bayar hutangmu bibi Shuri!" Seru Angli pria berusia 40 an yang baru saja keluar dari dalam mobilnya. Pria itu mendesak nenek Shuri segera membayar hutangnya atau jika tidak, sebagai gantinya Angli minta Shuri agar menyerahkan Aran kepadanya.


"Tidak! Jangan pernah kau berani menyentuh cucuku! Sampai matipun aku tak akan menjual cucuku!"


"Kalau begitu cepat bayar wanita tua!" Bentak Angli lalu mendorong nenek Shuri.


"Nenek!" Melihat neneknya disakiti Aran tak bisa tinggal diam, gadis itu pun meminta waktu pada Angli, dia janji akan segera melunasinya dalam waktu tiga hari. Sayangnya Angli tak mau, sejak awal ia memang bukan ingin menagih uangnya, melainkan karena menginginkan Aran untuk ia jadikan koleksi wanitanya.


"Apa maksudmu?!"


Angli mendekati Aran dan mentatapnya dengan tatapannya yang terlihat cabul.


"Jangan mendekat!"


"Aran, kau sangat cantik dan masih muda, aku ingin kau jadi wanitaku. Kau tenang saja, kalau kau jadi wanitaku aku akan memanjakanmu dengan semua hartaku."


"Tidak, aku tidak sudi menjadi wanitamu! Cuih!" Aran meludah ke arah Angli.


Hal itu seketika mematik kemarahan Angli, ia pun naik pitam dan langsung menyuruh para anak buahnya menghancurkan tempat tinggal Aran dan neneknya.


"Tuan Angli jangan hancurkan rumah ini kumohon...!" Pinta nenek Shuri dengan tergopoh-gopoh. Namun hal itu sia-sia saja, Angli malah dengan teganya memukul Shuri hingga terjungkal.


"Nenek!" Aran menangis dan langsung berniat menghampiri sang nenek, sayangnya tangan Aran malah ditarik oleh Angli dan memaksannya agar ikut dengannya.


"Tidak mau, lepaskan aku! Nenek tolong aku tidak mau dibawa pergi!" Aran menangis sambil memberontak sekuat tenaga karena tak mau dibawa pergi.


"Aran cucuku! Uhuk... Uhuk!"


"Lepaskan aku pria jelek!" Aran menggigit tangan Angli.


"Arggh gadis sialan, beraninya kau menggigitku! Terima ini..."


BUGH!


Aran yang mengira akan kena pukul Angli seketika membuka matanya. Ia pun heran melihat Angli yang tiba-tiba saja melepaskannya dan jatuh tersungkur.


"Ka- kau kembali?"


Aran seketika terkejut, saat tahu kalau pria yang barusan memukul Angli sampai terjatuh adalah pemuda amnesia yang ditolongnya kemarin.


Pemuda itu pun melawan semua anak buah Angli dengan tangan kosong. Bahkan ia mengancam anak buah Angli dengan cara menyandera bos mereka. "Jika kalian berani menyerang, aku akan patahkan kepala bos kalian ini!" Alhasil semua anak buahnya pun mundur tak berani maju.


"Ughhh... a- aku, aku hanya menagih hakku. Me- mereka meminjam uang padaku!" jawab Angli dengan leher tercekik.


Pria itu lalu melepaskan Angli dan mendorongnya ke tanah.


"Aku tidak akan pergi sebelum hutang mereka lunas!" Tegas Angli sambil terbatuk-batuk.


"Berapa hutang mereka?" Tanya si pemuda.


"Lima ratus ribu dolar beserta bunganya."


Pria itu lalu melepaskan jam tangannya dan memberikannya pada Angli. "Jam itu harganya sekitar dua juta dolar, ambil itu dan jangan pernahberani kembali kesini!"


"Cih! Darimana kau yakin jam tanganmu ini asli!"


"Periksa saja di toko jam tangan mewah! Jika aku bohong kau temui aku, tapi jika kau berani bohong jam tangaku palsu, akan kupotong lidahmu!"


"Cih! Ayo pergi!" Angli mengajak anak buahnya yang babak belur pergi.


Pemuda itu pun langsung menghampiri Aran dan neneknya.


"Kalian baik-baik saja?"


"Iya, tapi nenek?"


"Biar aku bawa nenek Shuri ke kamar," tandas pria itu langsung menggendong nenek dan membawanya ke kamar.


Setelah diperiksa dokter dan diberi obat, akhirnya nenek Shuri dibiarkan tidur. Karena tidak mau mengganggunya, Aran pun keluar dari kamar sang nenek. Di ruang tamu Aran merasa kesal dan kecewa pada dirinya karena merasa tak berguna, dan tak bisa berbuat banyak untuk neneknya.


Melihat Aran yang tengah bersedih pemuda itu pun langsung menghampirinya. "Nona Arana apa kau uh—"


Belum selesai bicara Aran tiba-tiba saja langsung memeluk pria itu dan menangis dengan kencang.


Melihat Aran yang menangis dgemetar membuatnya iba, pundaknya yang kurus dan rapuh membuat pria itu tak bisa bayangkan seberat apa penderitaan hidup gadis yang memeluknya ini. Pria itu pun pada akhirnya memeluk balik dan mengusap punggung Aran untuk menenangkannya.


"Tidak apa-apa Aran, menangislah sekeras mungkin jika itu bisa membuatmu lebih baik."


Siang pun berganti malam. Setelah memberi makan malam neneknya Aran pun kembali membiarkan neneknya beristirahat di kamar. Di teras rumahnya yang sangat sederhana Aran terlihat sedang termenung sendirian menatap langit yang dipenuhi bintang. Meskipun ini masih musim semi, namun suhu udara di Kelvari kalau malam sangatlah dingin.


Tiba-tiba saja dari belakang Aran muncul seseorang yang datang dan menyelimuti tubuhnya.


"Tuan...?"


"Diluar sangat dingin, jadi aku bawakan saja selimut dari kamarmu."


Aran tersenyum dan berterima kasih. "Oh iya tuan, sekali lagi terima kasih ya sudah datang menyelamatkan kami tadi siang. Entah apa yang akan terjadi padaku dan nenek kalau kau tidak datang menyelamatkan. Mungkin saja aku sudah—"


"Sudahlah, lagipula kau kan juga sudah menyelamatkan nyawaku, jadi kita impas bukan?"


"Ya kau benar." Aran tersenyum. "Tapi aku penasaran, kenapa tiba-tiba kau kembali lagi tadi?"


"Entahlah mungkin takdir, soalnya tiba-tiba saja intuisiku mengatakan agar aku segera kembali ke tempatmu. Mungkin itu pertanda agar aku bisa menolongmu dari pria baj¡ngan tadi."


Aran hanya tersenyum.


"Oh iya nona Aran, kau dan nenekmu sudah berapa lama tinggal disini?"


"Sejak aku masih sangat kecil. Dari kecil aku tidak tahu seperti orang tuaku, dan yang aku ingat sejak dulu aku sudah dirawat oleh nenek dan kakek, tapi sayangnya kakek sudah meninggal duluan saat aku berusia tujuh tahun. Sejak itu nenek jadi bekerja keras sendirian untuk membiayai hidup kami selama bertahun-tahun. Soalnya tunjangan pensiunan kakek yang seorang marinir kelas bawah tak seberapa."


"Apa kau sekolah?"


"Ya, tahun lalu aku baru saja lulus SMA."


"Kau tidak kuliah?"


Aran tertawa, "Aku mana ada biaya untuk kuliah tuan, bisa lulus SMA saja sudah bagus. Tapi walau aku tidak kuliah aku bisa bicara beberapa bahasa asing dengan cukup baik lho. Kadang kalau ada turis mancanegara yang datang kesin,i aku suka diminta jadi pemandu wisatanya dan setelah itu aku dibayar."


Mendengar cerita Aran pria itu jadi semakin merasa kalau Aran anak yang menarik.


"Oh iya tuan, kau dan aku kan sama-sama tidak tahu namamu. Tapi bagaimanapun kau butuh nama, lalu sebaiknya aku memanggilmu dengan sebutan—"


"Yuka! Panggil saja aku Yuka. Tidak tahu kenapa tapi aku rasa namaku pengucapannya seperti itu."


"Yuka ya, baiklah mulai hari ini aku akan memanggilmu tuan Yuka."


"Panggil Yuka saja, atau kakak Yuka."


"Aku tidak mau kau jadi kakakku!" Gerutu Aran.


"Lalu kau mau aku jadi apa, nona Arana Haurin?" Bisik Yuka seraya menggoda Aran.


"Aku tidak—" wajah Aran seketika memerah dan salah tingkah dibuatnya. Ia pun tiba-tiba saja langsung pamit untuk pergi tidur. "Selamat malam Yuka!" Ujar gadis itu lalu pergi terburu-buru.


"Selamat malam Arana," balas Yuka diikuti seringai senyum kecil di bibirnya.


Bersambung...


...🌸🌸🌸...


JANGAN LUPA DILIKE, COMMENT, VOTE JUGA KALAU SUKA MAKASIH...