Remember Me Husband

Remember Me Husband
Sang Pendonor.



Dengan wajah panik ketakutan, Aran berlari tergesa-gesa di lorong rumah sakit. Perasaannya sebagai seorang ibu saat ini diselimuti kekhawatiran yang mendera, memikirkan bagaimana keadaan putranya saat ini. Kecemasan Aran sudah membuncah sejak pertama kali Risa menelepon dan memberitahukan kalau Theo putranya mengalami kecelakaan.


Di dalam hatinya ia tak berhenti menguntai harapan seraya berdoa agar putranya baik-baik.


Sesampainya di depan ruang IGD, Aran langsung melihat Risa berada di depan ruangan tersebut sedang memeluk Jia yang menangis dengan histeris.


Melihat Aran muncul, Jia yang menangis keras langsung berlari memeluk dirinya. Ia bisa merasakan betapa putrinya saat ini sedang bersedih dan ketakutan.


"Mama... Maafkan Jia ma... karena gara-gara Jia kakak jadi seperti ini huhu..."


Mengetahui hal itu Aran langsung berusaha menenangkannya.


Apa yang sebenarnya terjadi pada Theo? Kenapa Jia meminta maaf dan menyalahkan dirinya sampai seperti ini? Apa mungkin...?


Raut wajah Aran seketika menampakan kekhawatiran atas hal yang ia takuti saat ini.


Apa mungkin ini ulah nyonya Lusi? Namun Aran masih mencoba tetap berpikiran positif mengingat ia tidak punya bukti untuk menuduhnya. Akhirnya ia pun bertanya Risa tentang kronologis yang terjadi hingga ada insiden yang menyebabkan luka parah pada Theo.


"Soal itu—" Risa merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Theo dan Jia hingga terjadi kecelakaan. Ia berkata saat sedang mengajak Theo dan Jia berjalan-jalan ke area bermain, tiba-tiba ia mengalami kram perut alhasil ia izin pergi membeli menuman herbal sebentar, dan saat ia kembali yang ia lihat justru keramaian orang-orang yang melihat Jia menangis disebelah Theo yang sudah tak sadarkan diri tertimpa billboard.


"Aran maafkan aku, aku sungguh ceroboh. Seharusnya aku tak meninggalkan anak-anak." Risa terlihat sangat menyesal atas kejadian itu. Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah terlanjur menjadi bubur. Aran sendiri tidak ingin menyalahkan Risa, karena bagaimana pun kecelakaan ini juga pasti bukan atas keinginannya.


"Ini semua salah Jia ma... Kakak yang datang menolong Jia yang hampir tertipada akhirnya malah yang terluka. Huhu... Jia takut kakak tidak bisa bangun lagi mama..."


Tidak ingin putrinya dihinggapi rasa bersalah yang lebih mendalam, Aran pun langsung memeluknya dan mengatakan hal-hal yang bisa menenangkan gadis kecilnya tersebut.


"Jia tidak perlu menyalahkan diri sendiri, ini semua kecelakaan yang tidak pernah disangka. Sekarang lebih baik kita doakan kakak Theo saja oke?"


Jia mengangguk paham.


Dibalik rasa cemasnya pada Thep yang begitu luar biasa ia rasakan, Aran merasa harus bisa kuat di depan putrinya. Aku tidak boleh menunjukan aku lemah, meskipun aku juga ingin sekali menangis karena takut terjadi sesuatu pada Theo.


Tak lama kemudian, dokter dan tim yang menangani Theo keluar dari ruangan. Aran pun segera merundung dokter tersebut dengan segala macam pertanyaan tentang kondisi putranya saat ini.


"Nyonya tenangkan diri anda dulu, dan dengarkan penjelasanku." Dokter kemudian menjelaskan kepada Aran kalau saat ini Theo masih dalam keadaan kritis, dimana itu disebabkan oleh benturan di beberapa bagian tubuh dan kepalanya.


"Lalu Theo, apa dia akan baik-baik saja? Putraku akan sembuh kan dokter?!" Saking cemasnya Aran dengan putranya ia sampai seolah memaksa dokter untuk memberikan penjelasan dengan tergesa-gesa.


"Saat ini aku belum bisa bicara banyak. Karena masiu banyak pemerikasaan yang harus dilakukan. Tapi melihat lukanya yang cukup parah, sepertinya harus dilakukan skrining untuk mendiagnosa apakah ada luka di dalam akibat benturan dikepalanya."


"Lalu bagaimana selanjutnya dokter, kumohon sembuhkan Theo..." Aran memohon sambil menangis.


"Sebagai dokter aku akan lakukan yang terbaik. Hanya saja yang jadi masalah saat ini adalah— putra anda mengalami pendarahan, dan memerlukan banyak transfusi darah segera."


"Lakukan saja dokter!"


"Tentu itu akan aku lakukan, hanya saja kendalanya adalah persediaan golongan darah putra anda sedang tidak ada."


"Kalau begitu ambil saja darahku!" Seru Risa yang merasa bertanggung jawab dengan kecelakaan Theo.


Dokter menghela nafas dan kemudian bertanya golongan darah Risa.


"Golongan darahku B positif."


Sayangnya dokter itu malah menggeleng seraya kecewa, dan dari reaksinya itu pun Risa sudah bisa menebak kalau golongan darahnya dengan Theo pasti berbeda.


"Nyonya, apa golongan darah anda sama dengan putra anda?"


Aran menampakan raut wajah kecewa, pasalnya golongan darah Aran yang AB positif berbeda dengan putranya yang bergolongan darah A negatif


"Lalu, bagaimana ini dokter? Apa rumah sakit tidak menyediakan kantong darah?" Tanya Risa yang ikut merasakan kecemasan Aran saat ini.


"Rumah sakit ini menyediakan banyak kantung darah. Hanya saja golongan darah A resus negatif itu termasuk langka dan di negeri ini pun tercatat tidak sampai 3% yang orang yang memiliknya."


Aran benar-benar takut dan bingung saat ini. Aku harus bagaimana sekarang?


"Nyonya, apa Theo masih punya ayah?"


Mendengar pertanyaan itu Aran seperti tercekik. Tentu saja Theo punya ayah dan Aran tahu itu, hanya saja...


"Sebagai dokter, aku sarankan anda meminta ayah kandung dari putra anda untuk mendonorkan darahnya. Karena dari semua kemungkinan, yang sudah pasti punya darah yang sama hanyalah ayah kandungnya."


Aran terdiam seolah kehabisan kata. Bagaimana caranya aku minta Ruka untuk mendonorkan darahnya?


Perasaan Aran saat ini seperti tengah ditawan diantara ribuan pedang yang siap menghunusnya di tengah arena pertaruhan. Ia harus memilih, dan menetukan sesuatu yang begitu sulit. Aku ingin menemui Ruka tapi bagaimana jika nyonya Lusi tahu? Itu sama saja aku membiarkan anakku masuk ke dalam bahaya baru.


...🌸🌸🌸...


Di perjalanan pulang ke kota Renstone, Ruka diselimuti banyak banyak pertanyaan dibenaknya. Ia terus kepikiran tentang apa yang sebenarnya terjadi enam tahun lalu.


Siapa dirinya enam tahun lalu? Dan kenapa Aran tidak mengatakan apapun hingga saat ini? Kenapa ia menyembunyikan semuanya?


Sebenarnya apa yang wanita itu pikirkan saat ini? Ruka memijat pelipisnya.


Sementara itu, Rowen yang duduk di kursi kemudi pun nampaknya masih percaya tak percaya kalau ternyata Aran dan Ruka memiliki hubungan dimasa lalu. Tak jauh berbeda dengan Ruka, Rowen pun ikut dibuat bertanya-tanya oleh sikap Aran yang tidak mau jujur. Padahal jelas-jelas ia memang memiliki hubungan serius dengan tuan Ruka dimasa lalu.


Dan bodohnya, kenapa aku tidak menyadari sejak awal? Padahal aku yang peka ini pernah melihat sendiri bagaimana Aran yang beberapa kali tampak canggung, dan bersikap aneh setiap kali membahas Ruka denganku.


"Sepertinya aku memang jatuh cinta padanya? Tapi setelah tahu semua ini aku jadi semaki sadar kalau, sekeras apapun aku berusaha, tidak mungkin aku bisa mendapatkannya," gumam Rowen diikuti senyum getirnya.


Rowen lalu mengintip Ruka lewat kaca spion di depannya. Ia paham kalau saat ini bosnya itu pasti tengah syok dan kepikiran dengan semua kenyataan mengejutkan ini. Sebagai yang sudah lama mengenal Ruka, Rowen paham betul seperti apa Ruka, meski tampak tenang namun saat ini ia pasti gelisah.


"Tuan Ruka, kita pulang atau—"


"Ke kantor!"


Aku harus menemui Arana untuk meminta penjelasan darinya.


"Baiklah tuan."


...🌸🌸🌸...


Saat ini Aran benar-benar dibuat kelimpungan dan panik. Ia tidak tahu lagi harus bagaimana mendapatkan donor darah untuk putranya yang tengah kritis saat ini.


Melihat mamanya panik begitu, Jia jadi semakin merasa bersalah. Ia pun berkata kalau ia rela darahnya diambil asalkan kakaknya sembuh. "Ini semua salah Jia yang bermain sembarangan sehingga membuat kakak tertimpa besi itu..."


"Jia tolong berhenti menyalahkan dirimu nak..." Aran memeluk putrinya sambil menangis.


"Tapi melihat mama seperti ini membuat Jia sedih... Huhu..." Gadis kecil itu menangis tersedu-sedu.


"Jia sayang sekali sama mama dan kakak, Jia tidak mau melihat kalian sakit... Kalau bisa biar Jia saja yang terluka jangan kakak...!"


"Tidak sayang, jangan bilang begitu. Maafkan mama ya..." Aran yang panik dan takut sampai-sampai lupa kalau sikapnya ini malah semakin membuat Jia tertekan.


Setelah menangis beberapa saat, Jia yang kelelahan akhirnya tertidur di pelukan Aran. Saat itu ia melihat jam digital di rumah sakit dimana jam itu menunjukan kalau waktu Aran untuk mendapatkan donor darah hanya kurang dari dua jam.


Aran yang mulai putus asa pun tak kuasa menahan tangisnya. "Aku harus bagaimana Risa, aku harus apa sekarang?"


Risa sadar temannya yang malang itu tengah mengalami dilema yang luar biasa. Mengingat ia berada di bawah ancaman Lusi, tapi disisi lain ia merasa harus memberitahu mantan suaminya.


"Kenapa aku selemah ini? Kenapa hidupku selalu saja dalam tekanan?!"


"Aran, apa kau sudah menghubungi Sean? Mungkin saja dengan koneksinya, tuan Sean bisa menolongmu mencarikan donor."


"Aku sudah menghubunginya tadi dan, ya dia bilang akan membantuku. Tapi aku tidak bisa bergantung padanya."


Risa sungguh kasihan melihat temannya saat ini. Tapi saat ini yang terpenting adalah nyawa Theo, ia harus memaksa Aran memberitahu Ruka.


"Aran, aku rasa kau memang harus segera memberi tahu tuan Ruka. Kau tidak bisa diam saja dan ketakutan dengan ancaman Lusi! Bagaimana pun nyawa anakmu saat ini taruhannya."


Aran tertampar ucapan Risa. Sebagai ibu seharusnya bukan begini sikap Aran, ia harus berani mengambil resiko demi putranya.


"Risa kau benar! Aku tidak bisa begini."


Aran pun akhirnya memutuskan untuk menemui Ruka.


"Kalau begitu sekarang juga aku akan menemui Ruka!"


"Tidak perlu, aku sudah disini."


Aran terperanjat mendengar suara Ruka muncul yang muncul tiba-tiba.


...🌸🌸🌸...