
Rowen dengan sesegera mungkin menemui Ruka yang kini tengah duduk di kursinya dengan semburat wajah yang menunjukan rasa tidak senang.
"Permisi tuan, ada apa anda memanggilku kemari buru-buru?"
Dilihat dari raut wajah Ruka saat ini, sepertinya akan terjadi hal tak menyenangkan.
"Aku memintamu agar segera menyeret pegawai bersih-bersih bagian dapur bernama Arana Haurin ke hadapanku segera!"
"Apa?!" Rowen syok. Arana Haurin itu bukankah namanya Aran? Ada apa ini, kenapa tiba-tiba tuan Ruka ingin bertemu dengannya? Gawat! Dari nada suaranya aku yakin tuan Ruka sedang marah.
"Tuan, maaf sebelumnya. Tapi kenapa anda tiba-tiba menyuruhku memanggil pegawai itu. Apa anda ada masalah dengannya?"
Sorot mata Ruka yang seperti serigala itu menatap ke arah Rowen, seolah tanda peringatan untuk Rowen agar ia tak banyak bicara.
"Aku menyuruhmu memanggil wanita itu bukan malah banyak tanya."
Paham bosnya tidak sedang dalam suasana hati yang baik, Rowen pun pasrah dan akhirnya pergi ke pantry untuk memanggil Aran.
"Kenapa masih diam, kau tidak dengar perintahku!?"
"Baik tuan Ruka, aku akan segera memanggilkan pegawai yang anda maksud."
Di sepanjang jalan menuju pantry, Rowen benar-benar cemas rasanya. Ia khawatir kalau Aran akan dapat masalah dengan tuan Ruka. "Aku harus bagaimana ini?"
Setibanya di pantry, semua pegawai yang ad disana kaget melihat Rowen yang tiba-tiba saja masuk ke pantry. Semua pegawai dapur pun memberi salam pada Rowen. Sayangnya pria itu sama sekali tak peduli dengan salam pegawai lain, yang ia soroti saat itu hanyalah satu wanita yakni Aran yang berdiri di dekat mesin kopi.
Aran maafkan aku, tapi aku harus melakukannya, sesal Rowen yang kemudian mengatakan maksud kedatangannya.
"Aku datangmemaggil pegawai bernama Arana Haurin untuk ikut denganku menghadap tuan Ruka."
Firasat Aran tiba-tiba kurang baik.
Semua pegawai disana pun dibuat ikut penasaran termasuk Aran. Tapi melihat nada bicara Rowen, Aran merasa sepertinya ia akan kena masalah baru lagi.
Akhirnya Aran pun menghampiri Rowen dan bertanya, "Tuan Rowen ada apa sebenarnya tuan Ruka menyuruhmu memanggilku?"
"Lebih baik kau ikut saja dulu," jawab Rowen dengan tampang serius.
Aran pun mengikuti Rowen menuju ke ruangan Ruka. Disepanjang jalan Rowen tak bicara apa-apa, ia hanya diam saja dan terus jalan. Membuat Aran jadi semakin takut saja rasanya.
Setibanya di depan ruangan Ruka, Rowen berhenti tiba-tiba.
"Eh, ada apa tuan?"
Sebelum masuk menemui Ruka, Rowen mengingatkan Aran agar ia tenang.
"Aran, apapun yang terjadi nanti di dalam, percayalah aku akan selalu mendukungmu."
Mendengar ucapan Rowen barusan Aran malah jadi semakin gugup dan takut untuk menemui Ruka.
Namun pada akhirnya Rowen pun masuk menemui Ruka diikuti Aran yang berjalan dibelakangnya.
"Tuan aku sudah datang bersama nona Aran."
Dan tanpa berlama-lama, Ruka pun dengan auranya yang dominan langsung berjalan mendekati Aran. Ini benar-benar buruk, hanya dengan melihat sorot mata Ruka saat ini saja, sudah bisa membuat Aran bergidik ngeri rasanya. Begitu dingin dan mengintimidasi.
Di hadapan Aran, Ruka langsung menatap gadis itu dengan penuh rasa amarah. Aran pun seketika seperti tak punya kebernian untuk berkata apapun, bahkan sekedar mengalihkan pandangan saja tak berani.
"Tu- tuan Ruka, ada apa memanggilku?"
Ruka langsung menyeringai seolah tertawa mengejek. "Masih berani bertanya dengan raut wajah tak bersalah, wow! Nona Arana kau sungguh aktris yang mahir berdrama!"
Baik Aran dan Rowen sama-sama tidak paham dengan maksud ucapan Ruka barusan.
"Su- sungguh aku tak tahu maksud anda tuan."
"Yakin tidak tah? Lalu apa maksudnya memberiku makanan yang sudah kau berikan obat pencahar, jawab!?"
Seketika Aran tersentak kaget dan gemetar, bahkan Rowen pun sampai mengepalkan tangannya saking tak tega menyaksikan Aran dibentak sekeras itu oleh Ruka, tapi disisi lain ia tak bisa lakukan apa-apa untuknya saat ini.
"Tuan Ruka, anda salah. Aku tidak memasukan apapun ke makanan itu. Aku- aku sungguh berani bersumpah tuan..."
"Oh... Jadi kau pikir saat ini aku sedang memfitnahmu begitu?"
"Ti- tidak- tuan bukan begitu maksudku.. Aku berani bersumpah aku tak memasukan obat apapun di makanan itu," jelas Aran dengan sejujur-jujurnya.
"Lalu siapa kalau bukan kau?"
"Aku— tidak tahu," jawab Aran lirih.
Ruka memicingkan matanya. Ia merasa yang dikatakan Rowen memang bisa saja terjadi, tapi bisa jadi juga Aran yang memang melakukannya karena dendam dengan dirinya yang telah menyuruhnya melaundry pakaiannya.
Ruka tersenyum kecil. "Sepertinya tuan Rowen membela sekali nona Arana, apa kau pacarnya kah?"
"I- it- itu... Tuan aku..."
"Begini saja, aku beri waktu sampai besok." Ruka menatap Aran. "Kalau kau bisa beri bukti kalau memang bukan dirimu yang melakunnya, aku akan tarik kata-kataku dan minta maaf padamu. Tapi jika tidak, kau harus enyah dari perusahaanku ini!"
Aran bisa merasakan kalau ucapan Ruka tampaknya tidaklah main-main. Dan meskipun merasa takut dan sedih Aran pun pada akhirnya menyanggupinya.
"Oke, aku tunggu sampai besok pagi. Sekarang pergi dari ruanganku!"
"Baik tuan, aku permisi..." Dengan kepala tertunduk pilu Arana yang tak bisa menutupi wajah sedihnya karena rambutnya diikat ponytail itu pun pergi meninggalkan ruangan Ruka.
Disisi lain, Rowen yang juga ada disana langsung menatap kearah Aran yang berjalah keluar dari ruangan dengan tatapan nanar. Rowen sungguh merasa tidak berguna saat ini. Maafkan aku Aran, aku tak bisa membelamu saat ini...
"Kalau kau ingin segera menghiburnya pergi saja dari sini dan ikuti dia!" Tegas Ruka yang bisa melihat jelas kalau asistennya itu memiliki perasaan pada Aran.
"Maaf tuan, Aku..."
"Rowen, jawab jujur. Apakah kau menyukai wanita itu?"
Ruka tercengang dengan pertanyaan bosnya tersebut. "Tuan Ruka, sebenarnya aku..."
"Kau tak perlu menjelaskanya. Dari sorot matamu aku sudah paham. Tapi Rowen kau harus ingat, aku bukan nenekku yang mudah iba atau penuh belas kasih. Sekalipun kau asisten yang paling aku percayai aku tak akan pilih kasih hanya karena kau menyukai wanita itu."
"Aku mengerti tuan Ruka, kalau begitu aku permisi..."
...----------------...
Aran yang tengah bersedih duduk meringkuk di bangku taman sendirian, terlihat menangis sesenggukan menahan perih di dalam dadanya. Ia begitu hancur, dituduh oleh pria yang ia cintai benar-benar membuat batinnya seperti tercekik kawat duri, sesak dan menyakitkan. "Kenapa kau lakukan ini padaku? Kenapa kau berubah Ruka...? Kenapa sedikitpun kau tak ingat perasaanmu padaku? Apakah kau benar-benar sudah membuang semua memori tentangku, bahkan perasaan cintamu?" Tangis Aran semakin pecah.
"Dan bodohnya, kenapa aku masih tetap berharap kau akan mengingat dan mencintaiku lagi, padahal jelas-jelas kau saja sudah membenciku?"
Saat tertunduk menangis, tiba-tiba Rowen menghampiri Aran dan mengusap kepalanya. Aran yang menyadari kehadiran pria itu pun segera mengusap air matanya. Namun Rowen berkata kalau Aran tak perlu malu kalau mau menangis saat ini.
"Maaf ya Aran, aku tadi sama sekali tak bisa menolongmu. Aku memang tak berguna," sesal Rowen.
Aran langsung menggeleng. Ia bilang Rowen sudah cukup membantunya tadi. "Kalau kau tak mengatakan tentang ada yang mau mengerjaiku kepada tuan Ruka, mungkin aku sudah dipecat hari ini."
Setelah tangisnya mulai mereda, Aran pun angsung berterima kasih kepada Rowen, dan mengatakan ia akan mencari tahu siapa yang telah sengaja memasukan obat ke makanan yang ia bawa untuk tuan Ruka.
"Aku pun akan membantumu!" Tandas Rowen seraya memberi semangat.
"Terima kasih banyak tuan Rowen."
"Panggil saja Rowen, aku— ingin bisa lebih akrab denganmu."
"Tapi..."
"Panggil Rowen kalau diluar kantor saja, oke?"
Aran mengangguk dan sedikit tersenyum.
Rowen senang setidaknya Aran masih bisa terlihat optimis saat ini. Ia pun bertekad untuk membantu Aran mencaritahu siapa orang usil yang sudah berani mengerjainya.
"Rowen, tapi kenapa kau bisa percaya sekali kalau bukan aku pelakunya?"
Pria itu tertawa kecil. "Karena aku tahu sejak pertama kali kita bertemu kau adalah gadis yang baik, jadi tidak mungkin kau berbuat begitu apalagi pada bosmu."
Mendengarnya Aran senang.
"Tapi Aran, aku penasaran kenapa kau tiba-tiba saja memberi tuan Ruka makanan?"
"Soal itu..." Aran pun menceritakan alasan kenapa sampai ia bisa memberi makanan pada Ruka.
"Oh jadi begitu." Tapi kalau dilihat dari sifat Ruka yang tak mudah memaafkan, Rowen merasa wajar saja saja kalau Ruka marah dan berpikir kalau Aran mengerjainya lewat makanan karena dendam padanya karena sudah menyuruhnya melaundry.
"Ini semua memang awalnya salahku, coba saja aku tak menyiramnya waktu itu," sesal Aran.
Rowen menepuk pundak Aran."Sudahlah itu semua kan sudah terjadi, sekarang yang terpenting adalah kita cari pelaku sebenarnya. Bagaimanapun orang itu harus dihukum karena telah membuatmu jadi kena masalah."
"Iya kau benar Rowen.
...🌸🌸🌸...