Remember Me Husband

Remember Me Husband
Masih merasa bersalah



Saat tengah mengantar Ruka pulang ke apartemennya. Dari spion di depannya, Rowen yang tengah menyetir beberapa kali telah memergoki bosnya itu seolah sedang menatap tajam ke arahnya.


Ah kenapa rasanya sejak tadi, bos terus menatapku begitu? Membuatku takut saja.


Di kursi belakang tempatnya duduk, Ruka sebenarnya sejak tadi sedang memutar otak mencari-cari alasan, bagaimana caranya supaya ia dapat topik untuk membahas soal Aran dengan Rowen.


Topik apa yang harus aku bahas agar tidak terlalu mencolok? Argh sialan, kenapa ini membuatku stres, padahal aku tinggal bilang saja tapi...


Sebenarnya alasan Ruka sampai begitu adalah, ia hanya tidak mau asistennya itu berpikiran kalau ia sengaja ingin membicarakan tentang Aran.


"Rowen, soal makanan dikatin perusahaan. Apa kau sering makan disana?"


Eh kenapa tiba-tiba bahas makanan?


"Uhm— bagaimana ya tuan. Dibilang sering tentu saja tidak, tapi aku beberapa kali pernah makan disana."


"Begitu ya?" Ruka megosok-gosokan jemarinya di dagu, dan lantas tiba-tiba saja malah mengakatakan kalau, makanan yang dibuat Aran untuknya beberapa hari lalu itu enak.


"Eh?"" Ada apa? Ruka malah jadi terkesiap sendiri saat menyadari dia sendirilah yang tanpa sadar malah membahas Aran.


"Jadi makanan buatan Aran seenak itu ya tuan...?" Sambil mengemudi Rowen terdengar seperti sedang menelisik Ruka dengan nada meledek.


"Ya, kalau dibanding makanan di kantin tadi. Harus kuakui makanan yang dibawa wanita itu lebih enak." Ruka bicara seolah acuh dan tanpa maksud, hal itu ia lakukan sengaja agar Rowen tidak berpikir kalau dirinya terdengar terlalu memuji Aran.


"Wah, aku jadi iri padamu bos!"


"Iri?"


Ruka yang awalnya mengernyitkan kening karena heran, seketika berubah jadi menampakan seringai orang yang tengah berjumawa. Ya, entah kenapa kupu-kupu di dada Ruka seolah tengah berterbangan saat ini. Ada perasaan senang dan bangga yang tiba-tiba muncul di dalam dirinya saat mengetahui kalau dia sudah lebih dulu pernah makan masakan Aran dibanding Rowen. Memang aneh tapi itulah yang Ruka rasakan saat ini.


"Oh iya, kudengar nona Arana itu sudah ditindas sejak pertama kali masuk kerja, apa itu benar?" Ruka dengan spontan menlontarkan pertanyaan itu.


"Yang aku dengar dari Chika sih begitu. Tapi setiap kali aku tanya Aran, dia hanya bilang. 'Sudahlah itu bukan apa-apa.' Jujur, aku sangat marah saat tahu Aran difitnah oleh mantan pegawai menyebalkan itu!" Rowen mendadak terdengar emosional.


Dari nada bicaranya saja Ruka bisa membayangkan raut wajah Rowen yang kini seperti tengah menunjukan betapa pudulinya ia pada Aran.


Dan jujur saja Ruka tak suka itu. Ia merasa tidak senang melihat Rowen yang terlalu peduli pada Aran. Bukan tidak suka melihat Aran diperlakukan baik oleh orang lain, melainkan ada gemericik rasa yang membuatnya Ruka kesal melihat Rowen yang bisa dengan leluasa memperlihatkan langsung rasa pedulinya kepada Aran, sementara dirinya tidak bisa.


"Tapi sekarang sudah tidak akan ada yang berani menjahatinya lagi bukan?" gumam Ruka menatap keluar jendela mobil.


"Ya kurasa begitu. Tapi bos, kenapa anda tiba-tiba membahas Aran? Bukankah setahuku kau paling malas membahas terlalu detail pegawaimu? Apalagi pegawai level bawah."


"Apa anda masih merasa bersalah padanya makanya kepikiran. Dan satu lagi, saat kau ajak aku makan dikantin, apa dari awal tujuanmu memang mentraktir Aran sebagai salah satu bentuk penebusan rasa bersalahmu?"


"Anggap saja begitu." Sial kau Rowen, sebagian tebakamu tepat kali ini.


"Kalau memang begitu, kenapa tidak kau tanya saja bos pada Aran?"


"... Apa maksudmu?" Ruka mengerutkan alisnya.


"Maksudku, tuan tanyakan saja pada Aran langsung bagaimana dia. Apa dia sungguh sudah memaafkanmu atau belum?"


Sorot mata Ruka menajam, ia berpikir apa yang barusan dikatakan asistennya itu ada benarnya juga. Hmm... Mungkin aku memang harus mencoba bicara dengannya langsung.


"Bos, tapi aku heran kenapa kau seperti sangat peduli pada Aran? Biasanya kau mana mau peduli dengan orang yang kau tidak kenal betul."


Ruka medadak diam, namu ia tidak mau Rowen berpikir macam-macam tentangnya terhadap Aran. "Berisik! Sudah menyetir saja yang benar!"


"Ba- baik bos." Rowen pun akhirnya tak lagi berani lagi buka mulut


Ia hanya berani samar-samar memperhatikan Ruka yang kini diam saja, lewat kaca spion di depan kelapanya. Sebenarnya bosku ini lagi kenapa sih!? Aku ingin tak peduli tapi kalau menyangkut soal Aran aku tidak mungkin tak peduli.


Sebenarnya Ruka sendiri memang tidak peduli ia mau dianggap bagaimana oleh para karywannya yang lain. Tapi kali ini berbeda, ia seperti tidak mau dianggap jahat oleh Aran.


Sepertinya aku semakin tidak paham dengan konsep hidup dan ikiranku sendiri...


Saat tengah sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba ponsel disaku celana Ruka berderap. Ia pun segera mengangkatnya.


"Iya ada apa?"


....


"Oke, aku akan kembali." Ruka tiba-tiba saja langsung menyuruh Rowen putar balik arah.


"Lho tidak kita jadi pulang ke apartemenmu?"


"Tidak, kita ke mansion!"


"Baik tuan."


...🌸🌸🌸...