Remember Me Husband

Remember Me Husband
Bekal Harian



"Kenapa harus aku sih!" Keluh Aran saat tengah membawakan kopi untuk Ruka ke ruangannya.


Entah kenapa, hari ini tiba-tiba saja Ruka meminta langsung Aran untuk membawakan kopi ke ruangannya. Padahal, ada nona Maya sekretaris Ruka yang biasa membawakan kopi untuknya.


Aran menghela nafas tanda kepasrahan dirinya yang hari ini harus berhadapan lagi dengan Ruka, setelah beberapa hari ini tidak pernah bertemu dengannya sejak kejadian antara dirinya dan Ruka di ruangannya waktu itu.


Setelah berada di depan ruangan CEO, Aran lekas menekan bel dan Ruka pun mempersilakannya masuk.


Di dalam, Aran melihat Ruka yang saat ini tengah duduk dibelakang meja kerjanya. Disana ia tampak begitu serius menggenggam lembar kerja sambil sesekali menghadap ke layar laptopnya. Dan jujur saja, ini kali pertamanya Aran melihat Ruka yang benar-benar menunjukan kalau ia memanglah CEO dari perusahaan kelas dunia. Karena di Kelvari dulu, mustahil bagi Aran melihat mantan suaminya itu seperti saat ini. Dulu saat masih di Kelvari, Aran hanya bisa melihat seorang Ruka yang gagah dengan balutan pakaian menyelamnya ataupun saat berlayar sebagai nelayan. Tapi disini, Aran benar-benar melihat sendiri pesona Ruka sebagai seorang pebisnis berkelas yang sangat dihormati.


Tentu saja Ruka tampak sangat tampan dan mempesona. Tidak heran jika banyak wanita memujanya layaknya don juan di era moderen. Dan hal itu semakin membuat Aran sadar kalau betapa luar biasanya Ruka, sampai Aran sendiri seperti dihantam pertanyaan. Selama ini apa dirinya yang bukan siapa-siapa pantas untuk menjadi pendampingnya? Hal itu mengingatkan Aran pada nyonya Lusi yang pernah mengatakan, kalau orang rendahan sepertinya tidak pantas untuk diterima di keluarga Arshavin.


"Ehem! Nona Aran kenapa kau malah berdiri bengong disana? Bukankah aku memintamu membawakanku kopi?"


"Oh iya maaf..." Karena terlalu fokus dengan pikirannya sendiri Aran sampai lupa meletakan kopi itu di meja Ruka.


"Ini kopi anda tuan. Kalau begitu aku permisi..."


"Tunggu dulu!" Seru Ruka.


Aran yang baru saja mau melangkah pergi pun reflek mundur lalu berbalik badan dan berdiri di dekat meja sang bos.


"Ada apa tuan?"


Tatapan Aran terlihat seperti menghindari menatap Ruka langsung. Hal itu ia lakukan karena ia takut salah tingkah, apalagi saat berada di ruangan Ruka dan hanya berdua saja, hal itu langsung membuat Aran teringat akan ciuman yang terjadi diantara mereka beberapa hari yang lalu.


Berbanding terbalik dengan Aran, Ruka malah telihat santai dan seolah tak terjadi apa-apa. Pria itu malah menyesap kopi hitamnya setelah itu menatap Aran.


Ruka langsung memicingkan matanya dan bertanya-tanya, kenapa Aran seperti enggan menatap dirinya? Hal itu pun membuat Ruka tidak nyaman, lantas ia meminta Aran segera menatapnya saat ia mengajaknya bicara.


Setelah ditegur, Aran akhirnya maubmenatap Ruka dengan lebih tenang.


"Apa kau tidak ingin melihatku karena ingat kejadian itu (ciuman)?"


"Huh?" Wajah Aran tiba-tiba tersipu mendengar Ruka yang dengan santainya bicara begitu. Ia pun erus menatap Aran yang kini malu-malu. Dan disaat itu juga muncul ide usil Ruka untuk menjahili.


"Nona Arana. Yang waktu itu aku tidak membencinya kok! Skill ciumanmu juga bagus, apa kau berpengalaman ya?"


Saking panasnya rasnya kepala Aran seperti ada uap yang mengepul. Ia benar-benar malu, entah Ruka memuji atau meledeknya yang jelas ia malu sekali rasanya.


"Tuan, jika tidak ada lagi perlu denganku. Tolong izinkan aku pergi." Sungguh! Aran benar-benar ingin keluar dari ruangan ini segera.


Tiba-tiba Ruka malah bediri di hadapan Aran dan mengangkat dagunya dengan jemari panjangnya mendongak ke arahnya.


Aran bisa membayangkan betapa malunya ia menatap Ruka saat ini. Rasanya ingin aku mengubur diri hidup-hidup!


Pria itu menyeringai dan berkata, "Nona Arana, kalau kau mau kita bisa melakukan lagi disini."


Aran pun langsung menarik diri dan mengomel saat itu juga. "Tuan tolong jangan menggodaku terus! Aku memang bawahanmu tapi—" Aran tak meneruskan ucapannya saat ia sadar melihat Ruka yang malah tertawa geli melihatnya.


"Kenapa anda malah tertawa?!" Tanya Aran kesal becampur heran.


"Soalnya kau itu lucu sekali saat mengomel. Lagipula usiamu bukan belasan lagi, kenapa  sampai semalu itu hanya karena membahas soal ciuman?"


"Yasudah aku tidak akan menggodamu lagi. Tapi, aku mau tanya sesuatu padamu. Makanan yang pernah kau berikan padaku waktu itu apa kau memasaknya sendiri?"


Aran mengangguk kecil. "Memang ada apa tuan bertanya?"


"Begini, aku punya permintaan."


"Permintaan apa?" Aran menatap dengan penuh penasaran.


"Aku minta kau setiap hari buatkan aku bekal makan siang."


"Eh?" Aran tidak kaget tapi juga tidak menyangka mendengarnya. Tapi kenapa tiba-tiba minta dibuatkan bekal olehku?


"Jawab mau atau tidak?"


"Um i- itu..."


"Kau tenang saja, satu bekal aku hargai sepuluh ribu dolar?"


"Benarkah?" Seketika Aran jadi sangat bersemangat setelah mendengar nominal yang disebutkan. Otaknya pun otomatis bekerja menghitung keuntungan yang ia dapat.


Wah kalau sebulan saja aku bisa dapat hampir empat kali gajiku!


"Jadi—"


"Aku bersedia!" Seru Aran tanpa ragu.


Dasar, mendengar uang saja langsung semangat.


"Oke mulai besok kau bawakan aku makan siang."


"Baik!"


Akhirnya kesepakatan pun terjadi, mulai besok Aran akan membuatkan makan siang untuk Ruka.


"Kalau begitu aku permisi dulu ya tuan."


"Tunggu!"


"Apa lagi tuan...?"


"Masaknya dengan sungguh-sungguh dan ingat...!" Ruka mendadak jadi serius.


"...Ingat apa tuan?" Aran jadi khawatir.


"Ingat, jangan sampai ada obat pencahar jilid dua," ucapnya lagi-lagi menggoda Aran diikuti gelak tawa.


Huh! Menyebalkan!


Aran yang lantas kesal pun hanya mencebikan bibirnya, kemudian benar-benar pergi meninggalkan ruangan itu. Sementara Ruka malah masih dibuat terkekeh lucu melihat wajah lucu Aran yang sedang kesal.


...🌸🌸🌸...