
Di dapur Aran terlihat sedang memantau isi lemari esnya. Karena kemarin Aran baru saja belanja bahan masakan jadi isi kulkasnya pun masih cukup banyak bahan-bahan makanan dan sayuran yang bisa diolah.
"Aku masak apa ya besok?"
Aran tengah memikirkan menu apa yang sebaiknya ia buat untuk bekal besok. Karena Ruka minta dibuatkan bekal, otomatis besok dan kedepannya harus menambah porsi masaknya, mengingat porsi makan Ruka pasti lebih banyak dibanding kedua anaknya.
"Baiklah sudah aku putuskan!" Aran akhirnya memutuskan untuk bekal besok ia akan memasak karage ayam dan dengan acar lobak sebagai pendampingnya.
"Iya aku akan masak itu saja!"
Saat Aran menutup lemari pendingin, dirinya malah dibuat kaget dengan kehadiran putranya Theo yang tiba-tiba saja sudah berada berdiri disamping lemari pendingin.
"Theo, kau membuatku kaget saja!"
"Mama sedang apa?" Tanya pria kecil itu sambil memegang gelas kosong bekasnya minum.
"Oh itu— mama hanya memeriksa bahan makanan untuk dibuat bekal besok saja kok."
Kening Theo seketika mengerut seraya heran, melihat tumben sekali mamanya sudah memikirkan mau masak apa untuk bekal besok. Pasalnya sepengetahuan Theo, mamanya itu tipe yang akan spontan masak apa saja saat mau memulai. Tapi jika tiba-tiba sampai memikirkan menu sejak semalam, sontak alaram kecurigaan Theo pun berbunyi.
"Mama mau buat makanan untuk siapa? Apa untuk orang yang sama seperti waktu itu?"
Aran ingin berkilah tapi kalau dengan putranya pasti dia akan kesulitan untuk beralasan macam-macam. Maka dari itu ia memutuskan untuk berkata sesuai fakta yang ada.
"Iya, mama ingin membuatkan bekal makanan untuk bos mama."
"Kenapa mama harus membuatkan bekal makanan untuknya?" Raut wajah Theo menunjukan betapa penasaran dirinya.
"Itu— karena.... bos di tempat mama bekerja,
suka sekali dengan rasa masakan mama, jadi dia minta dibuatkan lagi. Dan kau tahu Theo— kali ini mama dibayar atas setiap bekal yang mama buatkan lho...!" Aran sengaja membahas soal bayaran supaya Theo tidak tanya terlalu banyak bertanya lagi dan berpikir kalau, apa yang dilakukan ini murni karena ia ingin mendapatkan uang dari bosnya.
"Hem... begitu ya?" Theo meletakan telunjuk dan ibu jarinya di dagu seraya berpikir. "Bos mama itu seorang pria kan?"
Aran terkesiap sejenak, namun segera mengiyakannya.
"Memang kenapa kalau pria?" Sebenarnya Aran tahu kalau putranya ini cukup protektif padanya jika menyangkut dirinya dengan seorang pria. Tapi kali ini andai dia tahu kalau bosnya ini nyatanya adalah ayah kandungnya, mungkin dia tidak akan se protektif ini menanyakan pria itu.
"Mama, aku bukan mau mengatur mama. Tapi... Bos mama itu bukan orang sembarangan, jadi aku harap mama hati-hati dan jangan terlalu dekat dengannya."
Theo bicara begitu karena dirinya hanya takut kalau mamanya dimanfaatkan. Apalagi pengalaman saat di Kelvari dulu, dimana ia menyaksikan sendiri saat mamanya sering dijadikan sasaran tidak menyenangkan pria-pria kaya. Hal itu sungguh membuatnya khawatir kalau ibunya akan disakiti.
Aran membelai pipi putranya dan memberitahunya kalau ia tidak perlu khawatir.
"Tentu aku saja khawatir! Mama itu kadang saking semangatnya mengejar uang sampai lalai menjaga diri sendiri!" Omel sang putra. "Ingat ya ma, kata buku yang pernah kubaca. Pria itu bisa jadi lebih licik daripada serigala kelaparan kalau sama perempuan, apalagi perempuannya cantik."
"Jadi maksudmu— mama ini cantik ya...?" Gurau Aran sambil memegangi kedua pipinya.
"Bukankah mama sadar hal itu?" Gerutu sang putra.
"Tentu saja aku cantik, tapi aku ini juga pintar! Jadi anakku, tolong jangan remehkan mama cantikmu ini ya Theo kecil!" Aran mencubit kedua pipi putranya itu hingga membuatnya kesal.
Theo menatap sang mama dengan tatapan meyakinkan. "Mama tenang saja kalau aku sudah besar nanti aku tidak akan biarkan mama kerja terlalu keras lagi."
Karena bagi Theo Aran adalah segalanya, ia pun berjanji pada sang mama kalau ia akan segera tumbuh besar dan memiliki banyak uang supaya mamanya tidak direndahkan lagi.
Aran tersenyum pada sang putra lalu memeluknya. "Theo memang anak baik kebanggaan mama..."
Seandainya ada laki-laki yang sungguh bisa melindungi dan membahagiakan mamaku saat ini?
...🌸🌸🌸...
Di apartemennya yang mewah, Ruka yang baru saja selesai mandi dan masih mengenakan bathrobe, terlihat sedang menikmati segelas wine sambil menerima telepon dari kakeknya. Di percakapan mereka, Jura sang kakek bertanya pada cucunya tersebut, apa keputusannya menerima bertunangan dengan Bianca itu serius?
"Tentu saja, memang kapan cucumu ini kalau bicara main-main kakek?"
Sambil tersenyum tipis Ruka menatap permukaan gelas winenya yang bening seperti kristal.
"Ternyata kau sudah paham. Baiklah biar ku persingkat, aku mau kakek memberikan dua puluh persen saham yang kau miliki padaku."
^^^Sudah kuduga, apapun yang kau lakukan pasti ada harga yang harus dibayar.^^^
"Bukankah itu yang kau ajarkan padaku Kakek?"
^^^Baiklah kalau begitu. Setelah kau resmi bertunangan dengan Bianca, aku akan langsung mengalihkan semua saham kepemilikanku padamu.^^^
"Kau memang patner negosiasi favoritku kek... Walau cerewet!"
^^^Dasar anak kurang ajar!^^^
"Yasudah, ini sudah malam. Istirahatkanlah tubuhmu yang sudah tua itu. Oh iya tolong titipkan salamku buat nenekku yang cantik. Katakan padanya, aku merindukannya."
^^^Aku akan sampaikan pada Hani nanti! ^^^
"Oke jaga dirimu kek, selamat malam..."
^^^Malam.^^^
Ruka menutup percakapan via teleponnya dengan sang kakek. Namun tak berselang lama, Ruka malah kembali mendapati panggilan. Dan kali ini dari Lucas salah satu teman baiknya.
"Halo, bagaimana?"
^^^Pertama-tama aku mau minta maaf dan merasa menyesal.^^^
Dari raut wajahnya Ruka terlihat sudah paham dengan apa yang akan dikatan Lucas selanjutnya.
"Jadi kau tidak berhasil mendapatkan petunjuk soal kapal yang menyebabkan kecelakaanku enam tahun lalu kan?"
^^^Begitulah... Apalagi itu kejadian yang sudah cukup lama. Ditambah para awak kapal yang menyerangmu, mereka pun ikut mati tenggelam ditengah lautan. Jadi kurasa agak sulit untuk menemukan petunjuk dari bangkai kapal.^^^
Ruka pikir yang dikatan Lucas memang ada benarnya. Tapi...
"Bukankah kita bisa mencari saksi hidup dikejadian itu? Meski sepi tapi aku yakin saat itu disana pasti masih ada segelintir orang yang setidaknya lihat."
^^^Itu mungkin, tapi Ruka... Kau harus tahu, kejadian kecelakaanmu itu bertepatan dengan terjadinya badai, dimana hal itu semakin membuat sulit para tim penyelidik untuk menyelidiki kemungkinan penyerangan. Ditambah lagi, sejak kau dinyatakan menghilang, tiga bulan kemudian berita tragedi itu seolah hilang ditelan masa, seolah seperti ada orang yang memang sengaja membuat berita tentang hilanganya dirimu itu lenyap waktu itu.^^^
Ruka menajamkan pandangannya. Ia pun seketika memiliki keyakinan kalau semua kecelakaannya dulu sudah direncanakan dengan sedemikian rupa, bahkan keluarganya sendiri pun seperti tak ada yang sadar. Ruka pun jadi semakin yakin, semua yang terjadi padanya dulu adalah upaya untuk melenyapkannya namun sayangnya gagal. Lalu ia membuat skenario yang lain. Kalau memang iya, ini gila! Orang itu pasti bukan orang sembarangan, setidaknya dia pasti cukup mengenal keluarga Arshavin. Tapi siapa? Apa mungkin— dia?
...Ruka!...
"Ah ya Lucas sorry, kalau begitu terima kasih atas semua informasimu. "
^^^Sama-sama, tapi apa kau tetap akan terus menyelidikinya?^^^
"Itu sudah pasti."
^^^Kalau memang itu keputusanmu maka aku hanya bisa mendukung. Tapi maaf, aku tak bisa membantumu banyak, mengingat aku yang tidak berada di TKP saat itu membuatku minim mendapatkan petunjuk.^^^
"Tidak masalah Lucas."
^^^Baiklah kalau begitu aku sudahi teleponnya.^^^
"Ya!"
Raut wajah Ruka mendadak serius. Matanya yang berwarna gelap menatap dengan penuh emosi yang sulit diutarakan. Ia lalu menggengam sebuah pada jemarinya dan seketika mematahkannya.
"Bagaimana pun caranya, aku akan mencaritahu apa yang sebenarnya terjadi. Karena aku Ruka Arshavin, takdirku sejak lahir adalah berperan sebagai pemain utama bukan pion!"
...🌸🌸🌸...